UMAT ISLAM WAJIB BERSATU MENGHADAPI HEGEMONI NEGARA KAFIR PENJAJAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap kondisi umat Islam di tingkat global. Dalam banyak khutbah dan tulisan keislaman, Ramadhan sering dipandang sebagai bulan solidaritas umat, ketika kesadaran kolektif tentang penderitaan sesama Muslim di berbagai belahan dunia semakin menguat.

 

Realitas politik global menunjukkan bahwa berbagai kawasan Muslim masih menghadapi konflik, intervensi kekuatan besar, dan ketidakadilan struktural dalam sistem internasional. Dalam konteks ini, seruan persatuan umat sering muncul sebagai respons moral dan spiritual terhadap berbagai bentuk penindasan dan penjajahan modern.

 

Dalam ajaran Islam, persatuan umat merupakan prinsip fundamental. Al-Qur’an menegaskan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali Imran: 103).

 

Ayat ini menjadi landasan teologis bagi pentingnya solidaritas dan kesatuan umat Islam.

Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tali Allah” adalah ajaran Islam yang mempersatukan umat dalam akidah, nilai, dan tujuan hidup yang sama (Ibn Kathir, 2003). Dengan demikian, persatuan bukan sekadar konsep politik, melainkan juga kewajiban spiritual yang berakar pada keimanan.

 

Sejarah Islam menunjukkan bahwa persatuan merupakan faktor penting dalam kekuatan umat. Pada masa Nabi Muhammad SAW, masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai suku berhasil dipersatukan melalui prinsip ukhuwah Islamiyah.

 

Nabi SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai fondasi sosial dan politik masyarakat Islam. Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada solidaritas dan kerja sama di antara sesama Muslim (Al-Bukhari, 2002; Muslim, 2006).

 

Namun demikian, realitas umat Islam dewasa ini menunjukkan adanya fragmentasi yang cukup tajam, baik dalam bentuk konflik internal, perbedaan kepentingan politik antarnegara, maupun rivalitas geopolitik di kawasan Muslim. Banyak pengamat hubungan internasional menilai bahwa perpecahan ini melemahkan posisi negara-negara Muslim dalam sistem global yang didominasi oleh kekuatan besar (Esposito, 2011). Akibatnya, ketika terjadi konflik atau krisis di dunia Islam, respons kolektif umat sering kali tidak sekuat yang diharapkan.

 

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai konflik di dunia Islam—seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan wilayah lainnya—sering dikaitkan dengan dinamika geopolitik global. Para peneliti menyebut bahwa kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi sering menjadi faktor yang memengaruhi kebijakan luar negeri negara-negara besar di kawasan tersebut (Chomsky, 2003).

 

Dalam perspektif kritis hubungan internasional, intervensi militer dan tekanan politik sering dipandang sebagai bagian dari upaya mempertahankan pengaruh strategis dan akses terhadap sumber daya alam.

 

Al-Qur’an sendiri memberikan peringatan keras terhadap segala bentuk penindasan dan kezaliman. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk ketidakadilan, baik yang dilakukan oleh individu maupun oleh kekuatan politik yang lebih besar. Prinsip keadilan dalam Islam bersifat universal dan tidak terbatas pada kelompok tertentu saja (Al-Qur’an, QS. Al-Ma’idah:8).

 

Di sisi lain, Al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk membela kaum yang tertindas. Allah berfirman: “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim’” (QS. An-Nisa: 75). Ayat ini sering dipahami oleh para ulama sebagai legitimasi moral bagi upaya melindungi masyarakat yang mengalami penindasan dan ketidakadilan (Al-Qur’an, QS. An-Nisa:75).

 

Meski demikian, Islam juga mengajarkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan harus dilakukan dengan prinsip moral dan etika yang tinggi. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menjaga nilai kemanusiaan bahkan dalam situasi konflik.

 

Dalam berbagai hadis tentang etika perang, Nabi melarang pembunuhan terhadap non-kombatan, perempuan, anak-anak, dan orang tua, serta melarang perusakan lingkungan dan tempat ibadah (Abu Dawud, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa konsep perjuangan dalam Islam tidak identik dengan kekerasan tanpa batas, melainkan tetap berada dalam kerangka etika yang ketat.

 

Dalam konteks global saat ini, banyak cendekiawan Muslim menekankan pentingnya memperkuat kerja sama antarnegara Muslim melalui diplomasi, ekonomi, pendidikan, dan solidaritas kemanusiaan.

 

Persatuan umat tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk struktur politik tunggal, tetapi dapat dimulai melalui penguatan institusi kerja sama regional dan internasional di dunia Islam (Kamali, 2017). Pendekatan ini dinilai lebih realistis dalam menghadapi kompleksitas sistem politik modern. Sementara menurut Sheikh Taqiuddin An Nabhani, persatuan Islam mutlak harus dalam bentuk institusi negara bernama khilafah Islam.

 

Selain itu, tantangan terbesar umat Islam sebenarnya bukan hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dari persoalan internal seperti korupsi, konflik sektarian, lemahnya tata kelola pemerintahan, serta ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Banyak sarjana Muslim menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam harus dimulai dari reformasi internal yang mencakup pendidikan, ekonomi, dan pembangunan institusi yang kuat (Esposito, 2011).

 

Dalam sejarah peradaban Islam, kemajuan umat justru tercapai ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan inovasi. Pada masa keemasan Islam, kota-kota seperti Baghdad, Kairo, dan Cordoba menjadi pusat intelektual dunia.

 

Para ilmuwan Muslim berkontribusi besar dalam bidang matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat. Kemajuan ini menunjukkan bahwa kekuatan umat tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Saliba, 2007).

 

Karena itu, seruan persatuan umat Islam seharusnya dipahami dalam kerangka yang lebih luas: memperkuat solidaritas spiritual, meningkatkan kerja sama politik dan ekonomi, serta membangun peradaban yang berlandaskan keadilan dan ilmu pengetahuan.

 

Al-Qur’an mengingatkan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha dari umat itu sendiri: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).

 

Ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan kembali kesadaran kolektif tersebut. Puasa mengajarkan disiplin, kesabaran, dan solidaritas sosial. Melalui zakat dan sedekah, umat Islam dilatih untuk peduli terhadap penderitaan orang lain. Nilai-nilai ini sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi kebangkitan moral dan sosial umat Islam di tingkat global.

 

Pada akhirnya, persatuan umat Islam bukan hanya soal strategi geopolitik, tetapi juga tentang komitmen moral terhadap keadilan dan kemanusiaan. Islam mengajarkan bahwa kekuatan sejati umat terletak pada iman, akhlak, dan kemampuan untuk bekerja sama demi kebaikan bersama.

 

Jika nilai-nilai ini dapat diwujudkan dalam kehidupan umat, maka dunia Islam memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan peradaban yang memberikan kontribusi positif bagi perdamaian dan keadilan global.

 

Ramadhan mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari transformasi spiritual individu. Ketika individu-individu Muslim memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan kepedulian sosial, maka pada saat yang sama fondasi kebangkitan umat juga sedang dibangun.

 

Karena itu, umat Islam wajib bersatu menghadapi negara kafir penjajah, seperti Amerika dan Israel. Kedua negara ini layak disebut sebagai gembong penjajah pada abda ini. Kecongkakan kedua pemimpin negara ini mengingatkan kita pada kesombongan fir’aun dan namrud.

 

Telah banyak negara yang diinvasi militer oleh keduanya. Dengan berbagai apologi, padahal tujuan utama adalah untuk motif politik dan ekonomi. Motif ekonominya, AS ingin menguasai sumber daya alam negara yang dijajah.

 

Motif politiknya, mereka ingin pemimpin yang mau menjadi budaknya. Tak terkecuali negeri-negeri muslimpun menjadi sasaran kezoliman dan penjajahan. Sampai kapan negeri muslim akan terus dijajah AS ?. selama negeri muslim terus terpacah belah, maka selamanya akan terus dijajah dan dijadikan antek oleh AS.

 

Maka taka ada jalan lain, kecuali negeri muslim bersatu dalam satu kepemimpinan khilafah dibawah komando seorang khalifah yang akan mempu melawan hegemoni AS dengan jihad fi sabilillah. Dengan potensi SDA, SDM dan keimanan, maka khilafah akan dengan mudah menumbangkan dominasi AS di kancah global. Dengan demikian, persatuan umat bukan sekadar slogan politik, tetapi sebuah proyek peradaban yang membutuhkan kesadaran spiritual, kerja keras, dan komitmen kolektif dengan mewujudkan tegaknya khilafah Islam.

 

REFERENSI

 

Abu Dawud, S. (2009). Sunan Abi Dawud. Riyadh: Darussalam.

Al-Bukhari, M. I. (2002). Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.

Al-Qur’an al-Karim.

Chomsky, N. (2003). Hegemony or Survival: America’s Quest for Global Dominance. New York: Metropolitan Books.

Esposito, J. L. (2011). What Everyone Needs to Know about Islam. Oxford: Oxford University Press.

Ibn Kathir, I. (2003). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Kamali, M. H. (2017). The Middle Path of Moderation in Islam. Oxford: Oxford University Press.

Muslim, I. (2006). Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi.

Saliba, G. (2007). Islamic Science and the Making of the European Renaissance. MIT Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1290/10/03/26 : 20.42 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad