DASAR PERADABAN ITU ILMU, BUKAN MAKAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Setiap bangsa mendambakan kemajuan. Berbagai negara berlomba meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas pembangunan infrastruktur, memperkuat teknologi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah upaya tersebut muncul pertanyaan yang sangat mendasar: apakah fondasi utama sebuah peradaban adalah terpenuhinya kebutuhan pangan, ataukah berkembangnya ilmu pengetahuan?

 

Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan akademik, melainkan menyangkut arah kebijakan pembangunan suatu negara. Tidak dapat disangkal bahwa pangan merupakan kebutuhan biologis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

 

Namun, sejarah menunjukkan bahwa makanan memungkinkan manusia bertahan hidup, sedangkan ilmu pengetahuan memungkinkan manusia membangun peradaban. Bangsa-bangsa besar dikenang bukan karena program konsumsi pangannya, tetapi karena universitasnya, ilmuwannya, sistem pendidikannya, penemuan ilmiahnya, dan tradisi intelektual yang mereka bangun selama berabad-abad.

 

Sejarah membuktikan bahwa setiap lompatan besar dalam peradaban manusia selalu diawali oleh revolusi ilmu pengetahuan. Yunani Kuno melahirkan filsafat yang membentuk dasar pemikiran Barat. Peradaban Islam mencapai masa keemasan melalui lahirnya ilmuwan seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Farabi, dan Ibnu Khaldun.

 

Kebangkitan Eropa melalui Renaisans dan Revolusi Ilmiah juga bertumpu pada perkembangan universitas, riset, dan inovasi. Karena itu, berbagai teori pembangunan modern menempatkan human capital, pendidikan, penelitian, dan inovasi sebagai penggerak utama kemajuan ekonomi dan sosial (Schultz, 1961; Becker, 1993; Romer, 1990).

 

Ilmu sebagai Fondasi Peradaban

 

Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah menjelaskan bahwa kemajuan suatu masyarakat berkaitan erat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kualitas institusi, pembagian kerja, dan kekuatan solidaritas sosial ('ashabiyyah). Baginya, ilmu merupakan salah satu indikator utama tingkat kemajuan sebuah peradaban.

 

Ketika ilmu berkembang, maka administrasi negara membaik, ekonomi menjadi produktif, teknologi berkembang, dan kebudayaan mencapai puncaknya. Sebaliknya, ketika tradisi keilmuan melemah, kemunduran peradaban biasanya segera menyusul.

 

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurutnya, kemunduran umat bukan pertama-tama disebabkan oleh kemiskinan material, tetapi oleh krisis ilmu (loss of adab), yaitu hilangnya kemampuan menempatkan ilmu sesuai hakikatnya.

 

Dalam perspektif ini, pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, tetapi proses pembentukan manusia yang berilmu, beradab, dan bertanggung jawab. Peradaban lahir dari kualitas manusia, sedangkan kualitas manusia dibentuk melalui pendidikan.

 

Ekonom Theodore Schultz dan Gary Becker kemudian mengembangkan teori human capital, yaitu bahwa pendidikan merupakan investasi paling produktif dalam pembangunan bangsa. Negara yang berhasil meningkatkan kualitas pendidikan akan memperoleh produktivitas ekonomi yang lebih tinggi, inovasi yang lebih cepat, serta kesejahteraan yang lebih berkelanjutan dibandingkan negara yang hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam.

 

Makanan Menopang Kehidupan, Ilmu Menggerakkan Peradaban

 

Pangan memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Tubuh manusia membutuhkan nutrisi agar dapat tumbuh, belajar, dan bekerja secara optimal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa kanak-kanak dapat mengganggu perkembangan fisik maupun kognitif. Karena itu, banyak negara menjalankan program pemenuhan gizi sebagai bagian dari kebijakan kesehatan masyarakat.

 

Namun demikian, pemenuhan kebutuhan pangan merupakan prasyarat bagi berkembangnya manusia, bukan tujuan akhir pembangunan peradaban. Masyarakat yang memperoleh asupan gizi baik tetapi tidak memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, riset, teknologi, dan kebebasan berpikir akan sulit menjadi masyarakat yang memimpin peradaban.

 

Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang menginvestasikan sumber daya secara konsisten pada pendidikan, penelitian, dan inovasi mampu menghasilkan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Dengan demikian, terdapat hubungan yang saling melengkapi antara gizi dan pendidikan. Gizi mendukung kemampuan belajar, sedangkan pendidikan mengembangkan potensi manusia sehingga mampu menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan sosial. Karena itu, literatur pembangunan umumnya tidak mempertentangkan keduanya, tetapi menempatkan keduanya sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

 

Laporan-laporan UNESCO, World Bank, dan UNDP secara konsisten menunjukkan bahwa kualitas pendidikan memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, produktivitas tenaga kerja, inovasi, serta daya saing nasional. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Finlandia, dan Singapura tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi mampu menjadi negara maju melalui investasi yang besar pada pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi.

 

Dalam perspektif ini, pembangunan pendidikan tidak cukup berhenti pada peningkatan angka partisipasi sekolah. Yang jauh lebih penting adalah kualitas guru, kurikulum, budaya literasi, penelitian ilmiah, kebebasan akademik, dan keterhubungan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Universitas bukan sekadar tempat memperoleh ijazah, melainkan pusat lahirnya gagasan-gagasan baru yang akan menentukan arah masa depan bangsa.

 

Perspektif Islam : Wahyu Pertama Adalah Perintah Membaca

 

Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah makan, melainkan perintah membaca. "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq [96]: 1). Ayat ini menjadi fondasi epistemologi Islam bahwa kebangkitan manusia dimulai dari ilmu.

 

Allah SWT juga berfirman: "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar [39]: 9). Dalam ayat lain Allah menegaskan: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

 

Rasulullah SAW bersabda: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah). Hadis lain menyebutkan: "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Keseluruhan nash tersebut menunjukkan bahwa Islam memandang ilmu sebagai fondasi pembangunan individu, masyarakat, dan peradaban.

 

Negara, Keluarga, dan Pembangunan Manusia

 

Dalam teori negara modern, pemerintah memiliki berbagai fungsi yang saling melengkapi, antara lain menyediakan pelayanan publik, menjaga keamanan, membangun sistem pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, serta menciptakan kondisi ekonomi yang mendukung kesempatan kerja.

 

Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran utama dalam pengasuhan, pendidikan awal, dan pemenuhan kebutuhan anak. Karena itu, pembangunan manusia yang efektif memerlukan sinergi antara negara, masyarakat, dan keluarga.

 

Dalam perspektif Islam, kepala keluarga memikul tanggung jawab utama dalam menafkahi keluarganya, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan hadis. Negara berkewajiban menciptakan tata kelola yang adil, menyediakan kesempatan ekonomi, menegakkan hukum, dan memastikan warga memiliki akses terhadap pendidikan serta layanan dasar.

 

Dengan tersedianya lapangan kerja yang produktif dan sistem pendidikan yang bermutu, keluarga memiliki kemampuan lebih besar untuk menjalankan fungsi pengasuhan dan pendidikan generasi berikutnya.

 

Peradaban besar tidak lahir dari kenyangnya perut semata, tetapi dari tercerahkannya akal. Makanan menjaga keberlangsungan hidup manusia, sedangkan ilmu pengetahuan mengubah manusia menjadi pencipta peradaban. Sejarah dunia menunjukkan bahwa universitas, perpustakaan, pusat riset, tradisi ilmiah, dan budaya literasi merupakan penanda utama kemajuan suatu bangsa.

 

Pembangunan yang berorientasi jangka panjang perlu terus memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan pembentukan karakter, di samping memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

 

Bagi umat Islam, wahyu pertama "Iqra'" merupakan pengingat bahwa kebangkitan dimulai dari ilmu. Bangsa yang ingin membangun masa depan tidak cukup hanya membangun gedung, jalan, atau memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga harus membangun manusia yang berilmu, berintegritas, kreatif, dan berakhlak.

 

Di situlah ilmu menjadi landasan peradaban—sebuah fondasi yang memungkinkan kesejahteraan material dan kemajuan moral tumbuh secara berkelanjutan. Sebab, makanan mempertahankan kehidupan, tetapi ilmu pengetahuan mengangkat martabat manusia dan membangun sejarah.

 

REFERENSI

 

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Al-Faruqi, I. R. (1982). Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life. International Institute of Islamic Thought (IIIT).

Al-Ghazali, A. H. M. (2013). Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn. Dār al-Minhāj.

Becker, G. S. (1993). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education (3rd ed.). The University of Chicago Press.

Bloom, D. E., Canning, D., & Chan, K. (2006). Higher education and economic development in Africa. World Bank Working Paper.

Drucker, P. F. (1993). Post-Capitalist Society. Harper Business.

Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A Brief History of Humankind. Harper.

Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Simon & Schuster.

Ibn Khaldūn, A. R. (2005). Al-Muqaddimah (A. Chejne, Trans.). Princeton University Press. (Karya asli diterbitkan 1377).

North, D. C. (1990). Institutions, Institutional Change and Economic Performance. Cambridge University Press.

Romer, P. M. (1990). Endogenous technological change. Journal of Political Economy, 98(5), S71–S102.

Schultz, T. W. (1961). Investment in human capital. The American Economic Review, 51(1), 1–17.

Toynbee, A. J. (1972). A Study of History. Oxford University Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1427/18/08/26 : 11.12 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad