KNOWLEDGE BIAS, SUPPORTING BIAS DAN NARRATIVE TRANSPORTATION



 

Oleh : Ahmad Sastra  

 

Knowledge Bias

 

Knowledge bias (bias pengetahuan) adalah kecenderungan seseorang untuk membuat penilaian, keputusan, atau kesimpulan yang dipengaruhi oleh keterbatasan, ketidakseimbangan, atau dominasi pengetahuan tertentu, sehingga mengabaikan informasi lain yang relevan.

 

Bias ini dapat menyebabkan seseorang merasa telah memahami suatu persoalan secara utuh, padahal pengetahuannya hanya berasal dari satu perspektif, sumber, atau disiplin ilmu. Dalam psikologi kognitif dan epistemologi, knowledge bias berkaitan dengan kecenderungan manusia menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki (prior knowledge) sebagai kerangka utama dalam memahami realitas.

 

Pengetahuan sebelumnya memang membantu proses berpikir, tetapi juga dapat menjadi penghalang ketika seseorang menolak informasi baru yang bertentangan dengan keyakinan atau kerangka berpikir yang telah dimilikinya. Akibatnya, individu dapat mengalami confirmation bias, yaitu hanya menerima bukti yang mendukung keyakinannya dan mengabaikan bukti yang berlawanan.

 

Dalam penelitian ilmiah, knowledge bias dapat muncul ketika peneliti hanya menggunakan teori atau literatur yang mendukung hipotesisnya, mengabaikan temuan yang berbeda, atau menafsirkan data sesuai dengan paradigma yang dianut. Metodologi penelitian menuntut sikap objektif, keterbukaan terhadap kritik, triangulasi data, dan penggunaan berbagai perspektif agar kesimpulan yang dihasilkan memiliki validitas yang lebih tinggi.

 

Dalam konteks pendidikan, knowledge bias sering terjadi ketika proses pembelajaran hanya menekankan satu paradigma ilmu sehingga peserta didik kehilangan kemampuan berpikir kritis dan komparatif. Misalnya, apabila pendidikan hukum hanya berlandaskan positivisme hukum tanpa memperkenalkan perspektif filsafat hukum, sosiologi hukum, hukum Islam, maupun teori keadilan, maka lulusan berpotensi memiliki pemahaman yang sempit terhadap hakikat hukum.

 

Dari perspektif Islamic Worldview, knowledge bias dapat dipahami sebagai ketimpangan epistemologis yang muncul ketika sumber pengetahuan dibatasi hanya pada akal atau pengalaman empiris, sementara wahyu dikesampingkan. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis peradaban modern berakar pada loss of adab, yaitu hilangnya kemampuan menempatkan ilmu pada kedudukan yang benar.

 

Menurutnya, ilmu yang terpisah dari wahyu akan menghasilkan kekeliruan dalam memahami hakikat manusia, alam, dan tujuan kehidupan. Ismail Raji al-Faruqi juga mengkritik dikotomi ilmu yang memisahkan agama dari sains sehingga melahirkan krisis moral dalam pembangunan peradaban.

 

Dengan demikian, knowledge bias bukan sekadar kekurangan informasi, melainkan penyimpangan cara berpikir yang disebabkan oleh keterbatasan perspektif, dominasi paradigma tertentu, atau penggunaan sumber pengetahuan yang tidak seimbang. Dalam tradisi akademik, bias ini diatasi melalui keterbukaan intelektual, dialog antar-disiplin, penggunaan berbagai sumber yang kredibel, serta kesediaan merevisi pandangan berdasarkan bukti yang lebih kuat.

 

Dalam perspektif Islam, keseimbangan tersebut dicapai dengan mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih utuh (holistic knowledge) dan berorientasi pada kebenaran (al-ḥaqq).

 

Supporting Bias

 

Supporting bias bukanlah istilah baku yang umum digunakan dalam literatur psikologi kognitif atau metodologi penelitian. Dalam banyak konteks, istilah ini dipakai secara informal untuk menggambarkan kecenderungan seseorang lebih menerima, mencari, atau menonjolkan informasi yang mendukung posisi, keyakinan, atau hipotesis yang telah dimilikinya. Dalam literatur ilmiah, fenomena tersebut lebih tepat disebut sebagai confirmation bias, myside bias, atau selective exposure, tergantung konteksnya.

 

Secara konseptual, supporting bias dapat didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk lebih memperhatikan, mempercayai, dan menggunakan bukti-bukti yang mendukung pandangan atau keputusan yang telah diambil, sambil mengabaikan atau memberi bobot yang lebih kecil terhadap informasi yang bertentangan. Bias ini menyebabkan proses penalaran menjadi kurang objektif karena evaluasi bukti tidak dilakukan secara seimbang.

 

Dalam penelitian akademik, supporting bias dapat muncul ketika peneliti: (1) hanya memilih referensi yang mendukung hipotesis penelitiannya; (2) mengabaikan hasil penelitian yang bertentangan (contradictory evidence); (3) menafsirkan data agar sesuai dengan teori yang dianut; (4) menyajikan data secara selektif (selective reporting).  Akibatnya, validitas dan objektivitas penelitian menjadi menurun.

 

Dalam pemerintahan atau organisasi, supporting bias dapat menyebabkan pengambil keputusan hanya mendengarkan kelompok yang sejalan dengan pandangannya (echo chamber), sementara kritik dan masukan alternatif diabaikan. Kondisi ini meningkatkan risiko kesalahan kebijakan karena keputusan tidak didasarkan pada keseluruhan bukti yang tersedia.

 

Dalam Islam, kecenderungan memilih hanya informasi yang menguntungkan diri sendiri bertentangan dengan prinsip al-'adl (keadilan) dan al-amānah (kejujuran ilmiah). Al-Qur'an memerintahkan agar setiap informasi diverifikasi dan setiap keputusan didasarkan pada keadilan, bukan pada hawa nafsu.

 

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Mā'idah [5]: 8).

 

Demikian pula, Allah memerintahkan tabayyun (verifikasi informasi): "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6).

 

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim dituntut untuk mengevaluasi seluruh bukti secara adil, tidak hanya bukti yang mendukung kepentingan atau keyakinannya.

 

Beberapa pendekatan yang direkomendasikan dalam metodologi penelitian dan pengambilan keputusan adalah: (1) Mencari secara aktif bukti yang bertentangan dengan hipotesis. (2) Menggunakan systematic literature review yang mencakup berbagai sudut pandang. (3) Melakukan triangulasi data, metode, dan sumber. (4) Mengundang peer review atau kritik ilmiah. Dan (5) Menerapkan prinsip objektivitas, keterbukaan, dan falsifikasi terhadap setiap kesimpulan.

 

Narrative Transportation

 

Narrative transportation adalah konsep dalam psikologi komunikasi dan ilmu persuasi yang menjelaskan keadaan ketika seseorang terhanyut secara kognitif, emosional, dan imajinatif ke dalam sebuah cerita, sehingga perhatian terhadap dunia nyata sementara berkurang dan individu menjadi lebih mudah menerima pesan, nilai, atau perspektif yang terkandung dalam narasi tersebut.

 

Secara teoritis, konsep ini pertama kali dikembangkan secara sistematis oleh Melanie C. Green dan Timothy C. Brock melalui Transportation-Imagery Model. Mereka mendefinisikan narrative transportation sebagai proses mental ketika pembaca atau pendengar "dibawa masuk" (transported) ke dalam dunia cerita, sehingga terjadi keterlibatan emosional, visualisasi yang kuat, dan identifikasi dengan tokoh atau alur cerita. Semakin tinggi tingkat transportation, semakin besar kemungkinan narasi tersebut memengaruhi keyakinan, sikap, maupun perilaku individu (Green & Brock, 2000).

 

Dari perspektif psikologi komunikasi, narrative transportation bekerja melalui tiga dimensi utama. Pertama, keterlibatan kognitif (cognitive engagement), yaitu perhatian yang terpusat pada cerita sehingga individu mengurangi evaluasi kritis terhadap pesan yang disampaikan.

 

Kedua, keterlibatan emosional (emotional engagement), yaitu munculnya empati terhadap tokoh, simpati terhadap konflik, atau kegembiraan terhadap penyelesaian cerita. Ketiga, imajinasi mental (mental imagery), yaitu kemampuan seseorang membangun gambaran yang hidup mengenai peristiwa dalam narasi. Kombinasi ketiga aspek tersebut menjadikan cerita lebih persuasif dibandingkan penyampaian data atau argumen yang bersifat abstrak.

 

Dalam ilmu komunikasi, teori ini banyak digunakan untuk menjelaskan efektivitas kampanye kesehatan, iklan, komunikasi politik, film, ceramah, hingga dakwah. Sebuah narasi yang kuat sering kali lebih mudah mengubah sikap daripada sekadar penyajian statistik, karena manusia secara alami lebih mudah mengingat cerita daripada angka. Oleh sebab itu, banyak strategi komunikasi publik menggunakan kisah nyata (storytelling) untuk membangun empati, meningkatkan kepercayaan, dan memengaruhi perilaku audiens.

 

Dalam perspektif Islamic Worldview, penggunaan narasi sebagai media pendidikan dan transformasi karakter memiliki landasan yang kuat. Al-Qur'an sendiri menggunakan metode qasas al-Qur'an (kisah-kisah Al-Qur'an) sebagai sarana membangun keimanan, hikmah, dan keteguhan hati. Allah SWT berfirman: "Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal."

(QS. Yusuf [12]: 111).

 

Demikian pula firman Allah: "Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu agar dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Hud [11]: 120).

 

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa narasi dalam Islam bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen pendidikan, pembentukan karakter, dan internalisasi nilai. Namun, berbeda dengan pendekatan komunikasi yang semata-mata berorientasi pada efektivitas persuasi, Islam menegaskan bahwa narasi harus dibangun di atas kebenaran (al-haqq), kejujuran, dan kemaslahatan.

 

Karena itu, narrative transportation dalam perspektif Islam bukan hanya bertujuan membuat audiens larut dalam cerita, tetapi juga mengarahkan mereka kepada refleksi, peningkatan iman, dan perubahan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai syariat.

 

Dalam penelitian komunikasi, narrative transportation banyak digunakan untuk menjelaskan bagaimana cerita memengaruhi sikap (attitude), niat berperilaku (behavioral intention), kepercayaan (beliefs), dan identifikasi dengan tokoh (character identification).

 

Semakin tinggi tingkat keterhanyutan seseorang ke dalam narasi, semakin besar potensi perubahan sikap yang terjadi. Namun, karena narasi juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang keliru atau propaganda, kemampuan berpikir kritis dan verifikasi informasi tetap menjadi faktor penting agar individu tidak menerima suatu pesan hanya karena dikemas dalam cerita yang menarik.

 

REFERENSI

 

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Al Tawhid: Its implications for thought and life. International Institute of Islamic Thought.

Al-Qur'an al-Karim.

Baron, J. (2008). Thinking and deciding (4th ed.). Cambridge University Press.

Bruner, J. (1991). The narrative construction of reality. Critical Inquiry, 18(1), 1–21.

Green, M. C., Strange, J. J., & Brock, T. C. (Eds.). (2002). Narrative impact: Social and cognitive foundations. Lawrence Erlbaum Associates.

Ibn Kathīr, I. (1999). Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm. Dār Ṭayyibah.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.

Popper, K. R. (2002). The logic of scientific discovery. Routledge. (Original work published 1934).

Slater, M. D., & Rouner, D. (2002). Entertainment-education and elaboration likelihood: Understanding the processing of narrative persuasion. Communication Theory, 12(2), 173–191.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1413/10/08/26 : 05.44 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad