Oleh : Ahmad Sastra
"Jumlah
yang besar tidak selalu melahirkan kekuatan. Kekuatan lahir ketika jumlah yang
besar memiliki iman, tujuan, kepemimpinan, disiplin, dan pengorbanan."
Dunia Islam
saat ini dihuni lebih dari dua miliar manusia yang tersebar di berbagai benua.
Secara kuantitas, umat Islam merupakan salah satu komunitas agama terbesar di
dunia. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa jumlah yang besar belum
otomatis menjadi kekuatan yang besar? Mengapa banyak negeri Muslim masih
menghadapi konflik internal, ketergantungan ekonomi, keterbelakangan ilmu
pengetahuan, serta lemahnya posisi tawar dalam percaturan global?.
Jauh sebelum fenomena ini terjadi, Rasulullah ï·º telah memberikan peringatan yang sangat
mendalam. Beliau menggambarkan suatu masa ketika umat Islam tidak lagi
disegani, bukan karena jumlah mereka sedikit, melainkan karena mereka
kehilangan kualitas yang menyatukan.
Dalam sebuah
hadis dari Tsauban, Rasulullah ï·º bersabda bahwa akan
datang suatu masa ketika bangsa-bangsa mengerumuni umat Islam seperti
orang-orang mengerumuni hidangan makanan. Ketika para sahabat bertanya apakah
hal itu terjadi karena jumlah kaum Muslim sedikit, Rasulullah menjawab,
"Bahkan kalian pada hari itu banyak, tetapi kalian seperti buih di atas
arus banjir." Ketika ditanya apa penyebabnya, beliau menjawab, "al-wahn",
yaitu cinta dunia dan takut mati.
Hadis
tersebut menghadirkan sebuah metafora yang sangat kuat. Buih tampak besar,
memenuhi permukaan air, tetapi sesungguhnya ringan, rapuh, mudah
tercerai-berai, dan sepenuhnya mengikuti arah arus. Buih tidak memiliki daya
dorong, tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan tidak mampu mengubah
arah gelombang.
Sebaliknya,
Al-Qur'an tidak menggambarkan umat Islam sebagai buih, melainkan sebagai barisan
yang kokoh. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan
mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash-Shaff [61]:
4).
Ayat ini
bukan sekadar berbicara tentang strategi peperangan, tetapi menghadirkan
filosofi besar tentang peradaban. Barisan melambangkan keteraturan, visi yang
sama, disiplin, kepemimpinan, pembagian peran, dan kesediaan mengorbankan
kepentingan pribadi demi tujuan bersama. Sebuah bangunan kokoh berdiri bukan
karena banyaknya batu, melainkan karena setiap batu berada pada tempatnya dan
saling menopang. Demikian pula umat Islam; kekuatan mereka tidak lahir dari
jumlah, tetapi dari persatuan tujuan dan kesatuan arah.
Al-Qur'an
berulang kali menegaskan bahwa umat Islam sesungguhnya adalah umat yang satu.
Allah berfirman: "Sesungguhnya umat ini adalah umat kamu yang satu, dan
Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' [21]: 92).
Pada ayat
lain Allah menyatakan: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk
manusia; kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran [3]: 110).
Predikat khaira
ummah (umat terbaik) bukanlah gelar yang diberikan karena identitas,
melainkan karena fungsi sejarah. Umat Islam menjadi terbaik ketika menjalankan
misi moral: menegakkan kebajikan, mencegah kemungkaran, dan menjaga keimanan.
Ketika fungsi tersebut melemah, jumlah yang besar tidak lagi memiliki makna
strategis. Sebuah kerumunan yang kehilangan arah akan mudah dipengaruhi oleh
kepentingan politik, ekonomi, maupun budaya yang datang dari luar.
Dalam
perspektif sosiologi, terdapat perbedaan mendasar antara kerumunan (crowd) dan organisasi
sosial yang terstruktur. Gustave Le Bon menjelaskan bahwa kerumunan mudah
digerakkan oleh emosi sesaat, tidak stabil, dan kehilangan kemampuan berpikir
rasional secara kolektif. Sebaliknya, organisasi yang memiliki kepemimpinan,
norma, dan tujuan bersama akan melahirkan tindakan yang lebih terarah.
Pemikiran
Ibn Khaldun dalam Al-Muqaddimah juga relevan. Ia memperkenalkan konsep 'asabiyyah,
yaitu solidaritas sosial yang menjadi fondasi lahir dan tegaknya sebuah
peradaban. Menurutnya, ketika solidaritas melemah akibat kemewahan, perebutan
kepentingan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia, maka sebuah peradaban
akan memasuki fase kemunduran.
Analisis Ibn
Khaldun ini sejalan dengan peringatan Rasulullah tentang penyakit al-wahn: cinta
dunia dan takut menghadapi risiko demi mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Penyakit
al-wahn bukan berarti Islam melarang umatnya mencintai dunia. Al-Qur'an justru
memerintahkan manusia untuk memanfaatkan dunia sebagai ladang amal.
Allah
berfirman: "Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di
dunia." (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Masalahnya
bukan pada dunia, melainkan ketika dunia menjadi tujuan tertinggi kehidupan.
Ketika jabatan lebih dicintai daripada amanah, harta lebih dicintai daripada
keadilan, popularitas lebih dicintai daripada kebenaran, dan keselamatan
pribadi lebih diprioritaskan daripada kemaslahatan umat, saat itulah al-wahn
mulai menguasai hati.
Penyakit ini
melahirkan egoisme kolektif, fanatisme sempit, korupsi, oportunisme, dan
hilangnya keberanian moral. Rasulullah tidak mengatakan umat Islam akan kalah
karena senjata yang lemah, tetapi karena hati yang lemah.
Salah satu
ciri utama barisan adalah adanya kepemimpinan yang dihormati dan ditaati dalam
perkara yang benar. Al-Qur'an memerintahkan: "Wahai orang-orang yang
beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu." (QS.
An-Nisa' [4]: 59).
Kepemimpinan
dalam Islam bukanlah kultus individu, melainkan instrumen untuk menjaga
keteraturan, keadilan, dan persatuan. Sejarah membuktikan bahwa ketika umat
Islam memiliki visi bersama, tradisi ilmu yang kuat, dan kepemimpinan yang
efektif dalam naungan khilafah dibawah kepemimpinan seorang khalifah, mereka
mampu membangun salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia.
Dari
Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Cordoba, lahir ilmuwan-ilmuwan seperti Ibn
Sina, Al-Khwarizmi, Ibn al-Haytham, dan Al-Biruni yang memberikan kontribusi
besar bagi ilmu pengetahuan dunia. Kejayaan itu tidak lahir semata-mata karena
jumlah umat, tetapi karena mereka menjadi barisan ilmu, barisan akhlak, dan barisan
peradaban.
Realitas
kontemporer menunjukkan tantangan yang berbeda. Perpecahan politik, konflik
sektarian, ketimpangan ekonomi, rendahnya investasi pada riset, serta
polarisasi yang dipicu media sosial sering kali membuat energi umat habis untuk
pertentangan internal. Kerumunan mudah diprovokasi, sedangkan barisan dibangun
melalui pendidikan.
Kerumunan
sibuk bereaksi terhadap setiap isu, sedangkan barisan memiliki agenda jangka
panjang. Kerumunan bergantung pada figur sesaat, sedangkan barisan dibangun
oleh sistem, institusi, dan kaderisasi. Karena itu, kebangkitan umat Islam
tidak cukup hanya dengan retorika persatuan. Persatuan membutuhkan fondasi yang
kokoh berupa akidah yang benar, ilmu pengetahuan, keadilan, amanah, budaya
musyawarah, serta kemampuan bekerja sama dalam menghadapi tantangan zaman.
Allah telah
memberikan resep kebangkitan yang sangat sederhana namun mendalam: "Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu
bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran [3]: 103).
Ayat ini
menunjukkan bahwa persatuan bukan dibangun di atas kesamaan suku, bangsa,
bahasa, organisasi, atau kepentingan politik, melainkan di atas komitmen
bersama terhadap petunjuk Allah. Persatuan yang tidak berlandaskan nilai akan
mudah retak ketika kepentingan berubah. Sebaliknya, persatuan yang dibangun di
atas iman dan akhlak akan mampu bertahan menghadapi berbagai ujian sejarah.
Penting untuk
direnungkan bahwa persoalan terbesar umat Islam hari ini mungkin bukan terletak
pada sedikitnya jumlah, tetapi pada pilihan antara menjadi kerumunan atau
menjadi barisan. Kerumunan hanya memenuhi ruang, sedangkan barisan mengubah
sejarah. Kerumunan mudah diombang-ambingkan oleh arus kepentingan dunia,
sedangkan barisan berdiri tegak karena memiliki arah, pemimpin, dan cita-cita.
Hadis
tentang "buih" bukanlah ramalan yang harus diterima sebagai takdir,
melainkan peringatan agar umat melakukan muhasabah. Ketika penyakit al-wahn
digantikan oleh keikhlasan, ketika ego digantikan oleh ukhuwah, ketika cinta
dunia dikendalikan oleh orientasi akhirat, dan ketika ilmu kembali menjadi
fondasi peradaban, maka umat Islam tidak lagi menjadi buih yang mengikuti
gelombang, tetapi menjadi barisan kokoh yang mampu memberi arah bagi dunia.
Itulah
hakikat khaira ummah: bukan umat yang paling banyak, melainkan umat yang
paling mampu menghadirkan rahmat, keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemuliaan
bagi seluruh manusia. Karena itu taka da pilihan lain, sebelum kita semua umat
Islam menyesal di akhirat, saatnya menyadari akan kelemahan ini. Saatnya umat Islam
melepaskan diri dari belenggu dan penjajahan negeri-negeri kafir. Saatnya umat
Islam membangun kembali barisan kokoh sebagai umat terbaik untuk mewujudkan
peradaban Islam masa depan.
REFERENSI
Al-Mawardi.
(1996). Al-Ahkam al-Sultaniyyah. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Al-Qur'an
al-Karim.
Esposito, J.
L. (Ed.). (2009). The Oxford encyclopedia of the Islamic world. Oxford
University Press.
Ibn Khaldun.
(2005). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal,
Trans.). Princeton University Press.
Le Bon, G.
(2001). The crowd: A study of the popular mind. Batoche Books. (Karya
asli diterbitkan 1895).
Musnad Ahmad
dan Sunan Abu Dawud (Hadis Tsauban tentang al-wahn).
(Ahmad
Sastra, Kota Hujan,No.1418/14/08/26 : 05.40 WIB)

