HARAM HUKUMNYA : MEMATA-MATAI MUSLIM DI MASJID - Ahmad Sastra.com

Breaking

Minggu, 01 Desember 2019

HARAM HUKUMNYA : MEMATA-MATAI MUSLIM DI MASJID

Oleh : Ahmad Sastra

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhoaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam ?. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim (QS At Taubah : 107-109) 

Ayat di atas menegaskan kepada kaum muslimin bahwa masjid sebagai tempat untuk menyembah Allah mesti didirikan atas landasan taqwa. Esensi taqwa menurut jumhur ulama adalah komitmen untuk menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Maka, orang-orang yang sedang menyembah Allah di masjid adalah manifestasi keimanan dan ketaqwaan. 

Meskipun asbabun nuzul ayat itu terkait dengan masjid Madinah yang disebutkan Rasulullah sebagai masjid yang didirikan atas dasar taqwa. Hal ini ditegaskan Rasulullah atas pertanyaan yang diajukan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud terkait ayat diatas, lantas Rasulullah menjawab “Ya masjidmu ini, Masjid Madinah”. 

Maka, masjid idealnya adalah tempat yang paling menentramkan jiwa diantara semua tempat di dunia ini. Dari dalam masjid inilah jiwa seorang muslim secara total terkoneksi dengan Allah. Sebab aktivitas sholat dari berdiri hingga sujud adalah komunikasi seorang hamba penciptanya. Saat sholat di masjid inilah seorang muslim melupakan sejenak urusan duniawi. 

Oleh karena itu idealnya masjid dibangun atas dasar taqwa sekaligus juga dikondisikan senyaman mungkin, baik secara fisik maupun dari perilaku orang lain. Jangan pernah membuat kegaduhan yang bisa mengganggu orang-orang yang sedang beribadah di rumah Allah. 

Jika benar, maka berita adanya polisi yang diperintahkan untuk mengawasi rumah-rumah Allah dengan alasan untuk memantau masjid yang terpapar paham radikalisme, maka tindakan ini adalah perbuatan keji dan telah melampaui batas. Sebab Allah mengharamkan seorang muslim memata-matai saudaranya muslim. 

Apakah wapres yang notabene adalah seorang ulama belum paham juga bahwa narasi radikalisme adalah buatan barat kafir untuk memusuhi Islam dan kaum muslimin. Wapres memang belum tahu kalau narasi radikalisme adalah jebakan barat untuk memecah belah kaum muslimin. Mestinya seorang ulama tahu akan hal itu. 
Wapres juga mestinya tahu bahwa memata-matai sesama muslim untuk mencari kesalahan adalah perbuatan haram. Adalah mustahil wapres yang ulama tidak memahami larangan dari Al Kitab dan As Sunnah tentang aktivitas memata-matai untuk mencari kesalahan ini.

Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sebagai tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (QS Al Hujurat : 12). 

Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (Diriwayatkan oleh Al Bukhari hadis No 6064 dan Muslim hadis No 2563). 

Khalifah Umar Bin Khathab  pernah berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik… (Rifqan Ahlu as Sunnah : 10) 

Sekali lagi, istilah radikalisme adalah narasi Barat untuk melumpuhkan ajaran Islam, mengadu domba sesama muslim, menimbulkan saling curiga dan tentu saja memecah belah kaum muslimin. Narasi radikalisme adalah proyek orang kafir yang harus disadari oleh kaum muslimin. 

Istilah terpapar radikalisme adalah narasi absurd yang bisa menjebak kaum muslimin jika tidak memahami konstalasi politik dan ideologi dunia. Ideologi kapitalisme sekuler dan komunisme ateis akan terus melakukan hegemoninya di dunia Islam dan tidak akan pernah ridho akan persatuan dan kebangkitan kaum muslimin. 

Sebagai muslim jangan pernah latah menyuarakan radikalisme yang dituduhkan kepada Islam dan kaum muslimin, sebab hal ini bisa menjerumuskan pelakunya terjebak dalam sifat kemunafikan yang keji dan akan mendapat siksa pedih dari Allah kelak di akherat. 

(AhmadSastra,KotaHujan,01/112/19 : 09.20 WIB)

__________________________________________
Website : www.ahmadsastra.com  | Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 | 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar