ULAMA JANGAN GAGAL PAHAM SOAL NARASI RADIKALISME - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 18 Desember 2019

ULAMA JANGAN GAGAL PAHAM SOAL NARASI RADIKALISME

Oleh : Ahmad Sastra

Ulama adalah panutan bagi umatnya, sebab ulama adalah pewaris para Nabi. Ulama adalah orang yang sejatinya paling memahami persoalan keumatan dan mencarikan solusinya dengan metode ijtihad. Ulama adalah mereka yang hanya takut dan mengabdi kepada Allah, bukan yang mengabdi kepada rezim penguasa.

Ulama yang takut kepada penguasa atau yang mengetuk pintu-pintu istana adalah ulama yang dikecam oleh Islam. Sebab semestinya para penguasalah yang mendatangi pintu rumah atau masjid para ulama untuk menanyakan berbagai persoalan. Ulama yang mempermainkan agama dan fatwa demi mendapat dunia rezim adalah bentuk menjual agama dengan harga yang murah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah : janganlah kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga yang rendah, dan kepada Akulah kamu harus bertaqwa… (QS Al Baqarah : 41). Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit (QS Al Maidah : 44).

Karena itu antara ilmu (pemahaman) dan ulama adalah dua kata yang saling berkaitan. Ulama adalah orang berilmu yang dengan ilmunya menjadi pencerah dan solusi atas persoalan keumatan. Secara garis besar ulama terbagi tiga (1) yang mengenal Allah; (2) yang memahami perintah Allah; (3) yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya. Ulama yang mengenal Allah adalah mereka yang takut kepada Allah, namun tidak memahami Sunnah.

Ulama yang memahami perintah Allah adalah mereka yang memahami Sunnah, tetapi tidak takut kepada Allah. Adapun ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya adalah mereka yang memahami Sunnah dan takut kepada Allah. Inilah orang yang disebut-sebut dengan kebesaran di Kerajaan Langit (HR al-Baihaqi, Syu’âb al-Imân).

Dalam perspektif Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw., tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu yang bersumber dari wahyu. Siapa saja yang menguasai ilmu syar’i serta menghiasi keyakinan dan amal perbuatannya dengan ilmu tersebut layak disebut sebagai ulama pewaris para nabi.

Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud).

Agama Islam bukan saja menghargai ilmu tetapi meletakkan ilmu dengan posisi yang sangat istimewa. Allah berfirman dalam banyak ayat al-Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu. Keistimewaan tersebut tampak sekali dari banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang memerintahkan supaya mendalami ilmu.

Allah berfirman : Apakah sama, orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang bisa mengambil pelajaran. (QS Az Zumar : 9). Allah mengangkat orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. (QS Al Mujaadilah : 11) dalam Surat Ali Imran Allah berfirman hendaklah kalian jadi generasi rabbani [orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Rasulullah saw juga bersabda : Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalan-jalan surga, dan sesungguhnya malaikat benar-benar merendahkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benar-benar akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud).

Ali bin Abi Talib ra. berkata : “Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasa-jasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”

Ulama pewaris nabi adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi saw., baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah. Mereka pun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan beliau dengan ilmu yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah Islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Ulama pewaris nabi adalah mereka yang rela menerima celaan, hinaan, intimidasi, pengusiran bahkan pembunuhan demi mempertahankan kemurniaan Islam dan membela kepentingan kaum Muslim. Ulama pewaris nabi bukanlah mereka yang plintat-plintut dalam berfatwa, menyembunyikan kebenaran, menukar kebenaran dengan kebatilan, serta mengubah pendirian hanya karena iming-iming dunia atau mendapat ancaman dari penguasa zalim. Mereka rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran dan menentang kebatilan.

Ulama pewaris nabi menyadari sepenuhnya bahwa dunia tidaklah kekal abadi. Dunia adalah permainan, tipudaya dan cobaan bagi dirinya. Cinta dunia akan memalingkan dirinya dari akhirat yang kekal abadi. Bahkan cinta dunia merupakan sebab kehancuran jatidiri ulama. Seorang ulama tidak akan mengambil dunia kecuali sekadar yang ia butuhkan untuk menopang kehidupan dirinya dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sebaliknya, ia berusaha meraih ilmu sebanyak-banyaknya, dan menghabiskan waktunya untuk kepentingan kaum Muslim.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menyatakan, “Ulama terdiri dari tiga kelompok. Pertama: Ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang dengan terang-terangan mencari dunia dan rakus terhadap dunia. Kedua: Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang menyeru manusia kepada Allah lahir dan batin. Ketiga: Ulama yang membinasakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain. Mereka adalah ulama yang mengajak ke jalan akhirat dan menolak dunia secara lahir, tetapi dalam batinnya ingin dihormati manusia dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Karena itu perhatikan pada golongan mana Anda berada.” (Al-Ghzali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Juz III).

Oleh karena itu, sebagai ulama yang menjadi rujukan umat, jangan sampai gagal paham soal narasi radikalisme dan moderatisme yang digaungkan Barat kafir. Ulama jangan justru larut dalam genderang ghozwul fikr yang ditabuh musuh-musuh Islam. Mestinya ulama justru melakukan serangan balik kepada Barat (kontra narasi), jangan malah ikut membenci dan menyalahkan kaum muslimin, apalagi menyalahkan Islam.
Salah satu postulat yang kini tengah gencar ditebarkan oleh Barat melalui berbagai corong media mereka adalah atribut Islam radikal atau istilah radikalisme. Sebagai strategi adu domba sesama muslim, maka Baratpun membuat istilah tandingan kontra radikalisme yang disebut dengan islam moderat. Baik Islam radikal maupun Islam moderat, keduanya adalah istilah yang diproklamirkan Barat untuk menyerang Islam itu sendiri.

Islam moderat beberapa waktu yang lalu menjelma menjadi Islam Nusantara yang sempat menyulut polemik. Pengikut Islam moderat mengklaim dirinya sebagai penebar Islam washatiyah, padahal secara epistemologis, istilah washatiyah tidaklah sama dengan kata moderat. Islam moderat justru lebih banyak mempropagandakan nilai-nilai Barat dibandingkan Islam itu sendiri.

Sekali lagi, secara epistemologi, istilah radikal dan moderat adalah istilah yang datang dari filsafat Barat, sementara istilah washatiyah dan kaffah adalah istilah yang berasal dari terminologi al Qur’an. Karena itu tidak mungkin memiliki kesamaan makna antara istilah dari Barat dengan istilah yang datang dari Al Qur’an. Begitupun istilah Islam rahmatan lil’alamin yang berasal dari al Qur’an, sementara term Islam Nusantara tidak ditemukan dengan jelas asal-muasalnya.

Namun ironisnya proxy war Barat dengan langkah hegemoni wacana yang jelas-jelas sebagai cara menyerang Islam justru diamini oleh negara-negara muslim di dunia, termasuk di Indonesia, Saudi dan Mesir. Hal ini sejatinya bisa dipahami, sebab Indonesia dan negara-negara muslim adalah negara yang menerapkan ideologi kapitalisme sekuler yang secara diametral bertentangan dengan ideologi Islam.

Maka untuk melanggengkan kekuasaan dan ideologi ini, mereka melakukan langkah monsterisasi ajaran Islam dengan memberikan stigma radikal kepada muslim yang ingin menerapkan Islam secara kaffah dan memuji muslim yang pro ideologi kapitalisme sekuler sebagai Islam moderat.

Sebab faktanya pengikut Islam moderat biasanya menolak formalisasi syariah oleh negara atau dengan kata lain anti khilafah. Padahal konsep khilafah merupakan ajaran Islam, sebagaimana ajaran Islam lainnya seperti aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah. Menyamakan istilah washatiyah dengan moderat akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat.


Strategi Barat untuk menyerang Islam ini merupakan propaganda busuk yang harus disadari oleh seluruh kaum muslimin. Hal ini sejalan dengan firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [QS Al Baqarah [2] : 208]

Seiring menguatnya hegemoni wacana dengan serbuan istilah-istilah Barat disertai melemahnya kemampuan Bahasa Arab di kalangan kaum muslimin, maka propaganda serangngan Barat terhadap Islam melalui isu radikalisme ini justru mendapat sambutan positif dari negeri-negeri muslim.

Prof. Dr. Soheir Ahmad as-Sokari, ahli linguistik di berbagai universitas besar, di antaranya Georgetown University mengutarakan bahwa Barat telah melakukan penghancuran kemampuan bahasa Arab generasi muslim, yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan umat Islam.

Padahal kalau kita cermati, siapa sesungguhnya yang radikal, Islam atau barat. Siapa sesungguhnya yang jahat dan zolim, barat kafir atau Islam. Para ulama mestinya membuka mata atas tragedi kezoliman China atas muslim Uighur, Myanmar atas muslim Rohingya, Israel atas muslim Palestina, Rusia atas muslim Tatar dan India atas muslim Kashmir.

Lebih hina lagi jika ada seorang muslim justru menyatakan muslim Uighur sama dengan separatis Papua. Ini adalah pernyataan menjijikkan dan bentuk penghianatan atas Allah dan RasulNya. Sebab pernyataan itu bentuk pengakuan atas penyiksaan muslim Uighur oleh Cina komunis, namun bukannya membelanya, malah justru mendukung kaum komunis ateis, semoga Allah melaknatnya.

Maka, oleh karena itu, ulama janganlah justru menjadi orang-orang yang menghamba dan membudak kepada rezim penguasa dan mengkhianati Allah dan RasulNya. Takutlah hanya kepada Allah, jangan takut kepada dunia, cintailah ilmu dan agama, jauhkan dari cinta kepada harta dan tahta dunia. Sebab keburukan dan kejahatan ulama akan menjadi bencana kehidupan bagi suatu bangsa dan peradabannya.

(AhmadSastra,KotaHujan,18/12/19 : 13.00 WIB) 
__________________________________________
Website : https://www.ahmadsastra.com
Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1
Facebook : https://facebook.com/sastraahmad
FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76
Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial
Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar