DILEMA PARTAI ISLAM DALAM PUSARAN DEMOKRASI SEKULER - Ahmad Sastra.com

Breaking

Jumat, 31 Januari 2020

DILEMA PARTAI ISLAM DALAM PUSARAN DEMOKRASI SEKULER



Oleh : Ahmad Sastra

“Dan hendaklahada di antara kalian sekumpulan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran : 104).

Partai Islam adalah partai yang berlandaskan Islam, memperjuangkan Islam dan hanya menggunakan jalan Islam. Partai sekuler adalah kebalikan dari partai Islam. Anggota Partai Islam adalah sekumpulan umat yang membangun konsensus politik untuk ikut andil dalam memperbaiki kondisi bangsa dengan menawarkan solusi Islam. jika ada partai Islam di Indonesia yang bertekad menjadi partai dakwah yang berkhidmat untuk rakyat adalah tekad yang penuh nilai dan makna.

Jika ada partai Islam di Indonesia yang ingin mengembalikan muruah partai yang bersih, peduli dan professional adalah niat yang mulia di tengah hiruk pikuk sistem dan budaya korupsi di negeri ini. Menjadi partai Islam yang modern dan berkarakter adalah pilihan yang berat dan penuh resiko.

Dakwah adalah istilah yang diambil dari terminologi Islam yang memiliki makna mengajak kepada jalan Allah. Mengajak kepada jalan Allah artinya meluruskan, mengingatkan, mengarahkan dan mengawal sistem dan praktek berbangsa dan bernegara agar sejalan dengan prinsip-prinsip kemuliaan dan kebenaran Islam. Dengan begitu, partai ini akan digolongkan sebagai sekumpulan umat yang beruntung.

Secara historis, negeri ini telah mencapai kemerdekaan fisik berkat rahmat dari Allah SWT dengan perantara perjuangan segenap kaum muslimin. Namun, secara empirik negeri ini belum benar-benar merdeka dalam arti terlepas dari berbagai bentuk belenggu intervensi sistemik. Intervensi sistemik telah melahirkan pola pengelolaan bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya, kemanan dan sosial yang cenderung sekuleristik.

Peta tantangan berbangsa ini harus menjadi kesadaran kolektif bagi kader-kader partai Islam. Peta tantangan di atas harus menjadi pemahaman dan basis perjuangan oleh partai Islam. Setidaknya ada empat agenda besar partai Islam.

Pertama, partai Islam harus memiliki visi yang jelas sebagai sebagai kontributor tegaknya peradaban Islam. Kedua, partai harus memiliki metode yang jelas untuk merealisasikan visi. Keempat, partai Islam harus beranggotakan kader-kader muslim yang konsisten sebagai pejuang Islam. jangan sampai ada kader sekuler menjadi anggota partai Islam, apalagi kafir dan munafik. Keempat partai Islam harus memiliki ikatan aqidah diantara anggota partai, bukan sekedar ikatan organisasi belaka.

Dalam perspektif Islam, politik memiliki makna kepengurusan dan pengelolaan urusan masyarakat. Politik Islam dengan demikian bermakna upaya pengelolaan berbangsa dan bernegara sesuai dengan prinsip nilai Islam dalam rangka mewujudkan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan dan keberkahan masyarakat dibawah ridho Allah.

Peradaban adalah seperangkat sistem kehidupan baik politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial yang menjadi dasar dan hukum berperilaku masyarakat berbangsa dan bernegara. Peradaban sebuah bangsa dengan demikian dilandasi oleh sebuah nilai dan ideologi yang menopangnya. Barat mewakili peradaban sekuler kapitalistik yang mengabaikan nilai-nilai agama dalam perilaku dan hukum pemerintah dan rakyatnya, meski agama diakui eksistensinya. Soviet dan China mewakili peradaban sosialis atheis yang meniadaskan sama sekali peran nilai agama dalam perilaku dan hukum pemerintah dan rakyatnya.

Dalam konteks inilah partai Islam mesti tegas mengambil sikap ideologi politiknya. Sebab dalam perspektif Islam, berpolitik bukan hanya soal kekuasaan dan kepentingan, namun lebih jauh adalah soal ibadah dan pengabdian. Dalam pandangan Sayyid Qutb, manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi sang pengabdi Tuhan.

Dalam pusaran arus demokrasi sekuler, partai Islam harus tetap tegas dan istiqomah menjaga jati diri sebagai partai yang berasas Islam. Partai Islam harus terus memperkuat memperkuat basis kader yang bersih, tidak terkontaminasi oleh pragmatisme politik apalagi terlibat masalah-masalah pelanggaran hukum seperti korupsi dan grativikasi.

Dalam pusaran demokrasi sekuler, jika ada partai masuk parlemen, maka sesungguhnya perati itu telah menjerumuskan diri dalam pusaran sekulerisme itu. Jika sudah terlanjur, maka hanya ada dua pilihan, mewarnai atau diwarnai. Mempertahankan jati diri sebagai partai Islam dalam pusaran parlemen demokrasi sekuler adalah sebuah paradok.

Tugas partai Islam itu berat. Setidaknya ada empat hal yang mesti dilakukan oleh partai Islam. Pertama, partai Islam hendaknya melihat berbagai permasalahan bangsa dengan sudut pandang Islam. Islam harus dijadikan sebagai tolok ukur dalam menganalisa, menimbang, menilai dan memandang setiap hukum dan praktek bernegara, baik bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, budaya dan sosial. Dengan cara ini, upaya meneguhkan sebagai partai Islam dan partai dakwah, bukan sekedar pencitraan melainkan sebuah cita-cita dan perjuangan.

Kedua, Partai Islam hendaknya menawarkan solusi Islam untuk mengatasi seluruh permasalahan bangsa ini. Hendaknya kader-kader partai Islam memiliki kapasitas keilmuwan dan hukum Islam yang berkualitas. Bukan sekedar bersih, peduli dan professional, namun lebih dari itu juga pakar di bidang hukum dan politik Islam, serta bidang-bidang lainnya. Sebab tak perlu diragukan lagi bahwa Islam adalah solusi yang memberikan rahmat bagi alam semesta (QS Al Anbiyaa : 107).

Ketiga, hendaknya partai Islam mempelopori gerakan islamisasi politik di Indonesia dan membuang jauh-jauh politik demokrasi sekuler. Sebab arah politik di negeri ini nampaknya lebih mengarah pada pragmatisme materialisme yang seringkali justru bertentangan dengan kehendak rakyat banyak. Demokrasi dimaknai sebagai kebebasan yang kebablasan tanpa mengindahkan nilai dan norma agama.

Keempat, partai Islam harus lantang menyuarakan anti penjajahan atas negeri ini oleh negara-negara korporasi. Penguasaan terhadap hampir seluruh sumber energi dan sumber daya alam telah oleh kaum kapitalis terbukti menyengsarakan rakyat dan tidak sejalan dengan syariah Islam. Kebijakan privatisasi selain menyalahi syariah Islam. Islam menganjurkan SDA untuk dikelola negara, bukan untuk dijual kepada asing. Kekayaan yang sangat melimpah sebagai anugerah Allah atas bumi Indonesia berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya. Penerapan kapitalisme demokrasi sekuler telah mengakibatkan kesengsaraan rakyatnya sendiri.

Karena itu Partai Islam harus terus mendorong agar negeri ini menerapkan syariah Islam secara kaffah, mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia serta menyatukan umat Islam seluruh dunia. Jika keempat catatan penting diatas bisa dilakukan oleh siapapun yang mengaku sebagai partai Islam, maka rakyat insyaallah percaya dan mendukung partai Islam yang ingin berkontribusi terhadap peradaban bangsa demi berkhidmat bagi kesejahteraan rakyat dibawah ridho Allah swt. Semoga Allah segera menurunkan pertolongan atas bangsa ini dan seluruh kaum muslimin di dunia.

_________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar