SENJAKALA FILSAFAT - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 04 Februari 2020

SENJAKALA FILSAFAT



Oleh : Ahmad Sastra

Jika Sir Isacc Newton, seorang ilmuwan dan filosof berani menggugat kebenaran ilmu hasil sebuah penyelidikan. Baginya tidak ada ilmu yang sempurna selama hal itu masih berasal dari pikiran manusia, sekalipun itu hasil kajian ilmiah dan eksperimen berupa penemuan-penemuan. Jika demikian, bolehlah penulis bertanya dan mencoba menggugat: apakah berfikir filsafat itu benar? apakah filsafat bisa mengetahui segala sesuatu? apakah berfikir filsafat itu akan menemukan kebenaran? benarkan filsafat bisa menemukan hakekat kebenaran? benarkah filsafat itu bisa menemukan hakekat kebahagiaan? adakah filsafat bisa menjangkau realitas metafisis? apakah ilmu filsafat itu satu saat nanti bisa mati dan berakhir ?.

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (QS Al An’am : 57).

Maksudnya Nabi Muhammad SAW mempunyai bukti yang nyata atas kebenarannya. Allah juga berfirman, “ Alif laam miin, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.

Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad SAW semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib yaitu mengi'tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

Tentu saja kebenaran hakiki itu hanya milik Allah. Rasulullah merepresentasikan kebenaran itu dengan memahami makna setiap postulat atau ayat Al Qur’an serta mengejawantahkan pada setiap realitas hidup dan sikapnya terhadap kehidupan. Wajib bagi Rasulullah mewakili kebenaran hakiki itu, sebab pada dirinya akan dijadikan sebagai teladan bagi manusia dalam memahami dan menyikapi setiap realitas. Jika Rasulullah salah tentu manusia tak akan percaya kepada kebenaran Allah. Allah wajib benar, Rasulullah wajib benar dan manusia wajib percaya akan kebenaran itu. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab : 21).

Filsafat melandaskan kebenaran atas logika. Logika manusia dibatasi oleh keterbatasan panca indera dan pengetahuan atas realitas. Tidak setiap realitas bisa dijangkau oleh akal dan logika manusia. Keterbatasan ini melahirkan ragam definisi tentang realitas. Realitas filsafat bukanlah kebenaran, namun interpretasi dan spekulasi. Spekulasi dan kebenaran adalah dua hal yang sangat berbeda. Bagaiamana mungkin sebuah interpretasi dan spekulasi bisa menemukan kebenaran.

Hanya kebenaran yang bisa menemukan kebenaran. Spekulasi tidak akan menemukan kebenaran, jika benar itu disebut kebetulan. Spekulasi dukun (ramalan) hanya akan menemukan kebetulan bukan kebenaran. Dalam konteks ini penulis tidak hendak mengajak pembaca untuk antipati terhadap filsafat. Justru filsafat ini harus dikaji secara mendalam untuk menemukan titik ketidakbenaran agar manusia tidak terjerumus pada ketidakbenaran filsafat. Menemukan ketidakbenaran filsafat adalah kebenaran.

Sebelum kita menjawab pertanyaan bisakah ilmu filsafat satu saat mati dan berakhir? Terlebih dahulu kita kita memaknai kematian. Apa itu mati? apakah makna kematian sekedar ‘ tidak ada lagi ‘ atau ketiadaan. Ataukah kematian justru menyiratkan sebuah permulaan barubahkan kelahiran baru. Disini kita sampai pada persoalan ontologis dan spistemologis yang serius tentang makna kematian. Kematian, pertama-tama, dipahami sebagai meninggalkan sebuah (atau beberapa) kondisi, untuk berpindah ke kondisi berikutnya. Kematian dilihat sebagai ditinggalkannya sebuah prinsip, kondisi, realitas (prinsip ekonomi, kondisi kehidupan, realitas sosial), untuk beralih pada prinsip, kondisi, atau realitas lain.

Adakah orang Barat yang menuhankan filsafat mengalami pesimisme atas eksistensi filsafat ini. Heidegger, dalam the End of Philosophy, menggambarkan ‘akhir filsafat’ bukan dalam pengertian tidak ada lagi filsafat namun memiliki makna berakhirnya filsafat sebagai jalan metafisik. Akhir metafisis dimulai ketika klaim ontologi sebagai pondasi dunia realitas mengalami kemerosotan sehingga dunia realitas tidak lagi menggantungkan pendefinisian dirinya pada model-model kebenaran metafisik tersebut – logos, eidos, substansi, esensi Tuhan – melainakn oleh kebenaran dalam dunia itu sendiri.

Metafisika bekahir bukan karena kesempurnaannya (completion) melainkan karena kehabisan tenaga (exhaustion). Dengan habisnya bahan bakar metafisika, berlangsunglah proses keterputusan dari pondasi-pondasi metafisika tersebut, sehingga dunia menyandarkan pe,mbentukan realitasnya pada yang ‘ada di dalam dunia’ itu sendiri (being in the world), yang melaluinya makna eksistensi dapat ditafsirkan, bukan makna-makna yang disediakan oleh sumber-sumber metafisik. Inilah makna kematian atau ‘akhir filsafat’ itu bagi Heidegger.

Michel Foucault melihat ‘kematian’ dalam berbagai wacana (discourse) sebagai sebuah diskontinuitas (discontiunity). Foucault berbicara tentang kematian subyek (death of subject) sebagai akibat diskontiunitas dari wacana modernitas ke arah wacana lain, yang didalamnya peran subyek manusia menjadi minimalis. Peralihan manusia sebagai penguasa dunia menjadi pengguna semata dari wacana, menggiring pada kematian manusia dalam pengertian antropomorfisme Descartes untuk diganti dengan konsep manusia wacana yaitu manusia yang dibentuk di dalam dan oleh wacana.

Dalam kematian manusia, yang ada adalah kedaulatan wacana (sovereignity of discourse) dalam merepresentasikan (manusia), yang di dalamnya subyek manusia tidak lagi memiliki kekuasaan atas dunia wacana itu. ‘manusia’ yang merupakan penemuan filsafat modern itu, tukas Foulcault, kini telah berada dalam senjakala kematian.

Postulat akan matinya filsafat Heidegger yang notabene orang Barat ini sejalan dengan pandangan filosofis Wittgenstein sebagai pendahulunya. Wittgenstein mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi juga diteruskan di Polandia. Filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau metafisik”.

Filsafat analitik menyerupai ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria yang berlaku dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat. Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, prinsip. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari, maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.

Imanuel Kant juga merupakan filosof anti metafisika. Ia mempunyai aliran atau filsafat ″kritik” yang tidak mau melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Rasionalisme dan empirisme ingin disintesakannya. Untuk itu ia membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman inderawi. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman indrawi yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori. Struktur pengetahuan harus kita teliti.

Kant terkenal karena tiga tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang saya dapat ketahui. Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui. Manusiahanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal terus ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu. Kemudian diperinci lagi misalnya menurut kategori sebab dan akibat dst. Seluruh pengetahuan kita berkiblat pada Tuhan, jiwa, dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang harus saya buat. Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga postulat: kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3) Kritik atas daya pertimbangan.

Di sini Kant membicarakan peranan perasaan dan fantasi, jembatan antara yang umum dan yang khusus. Rene Descartes. Berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek. Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyangsikan segala sesuatu. Hanya satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir, jadi aku ada. Dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia dilahirkan, dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai adanya Tuhan dan dalil-dalil matematika. Pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan kuantitatif. Kenyataan dibaginya menjadi dua yaitu: “res extensa dan res copgitans”.

Apa yang diungkapkan oleh John Horgan dalam bukunya yang berjudul The End of Science dalam sub judul senjakala filsafat menarik untuk dinikmati. Dengan tegas dia katakan bahwa ilmu filsafat akan mati karena sikap skeptis para filosof. Skeptisisme para filosof mengandaikan jika ada teori baru yang membatalkan teori lama menimbulkan sebuah pertanyaan kritis, bagaimana bisa ada teori yang benar. Ilmu pengetahuan dalam pandangan Karl Popper, Imre lakatos, Thomas Kuhn dan paul Feyerabend tidak akan pernah mampu memperoleh kebenaran obyektif.

Menurut penulis mungkin dalam pikiran mereka telah mendapat semacam ‘pencerahan’ bahwa keterbatan akal manusia akan menghasilkan keterbatasan pula dalam hal ilmu pengetahuan. Skeptisisme para filosof telah membawa pada jurang pesimisme terhadap masa depan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Meskipun penilaian Morgan terhadap skeptisisme keempat filofos tadi didasari oleh anggapan bahwa skeptisisme mereka muncul hanya takut kalau ilmu pengetahuan akan memusnahkan keingintahuan kita, sehingga dengan begitu membawa ilmu pengetahuan itu sendiri – dan semua bentuk pencarian pengetahuan – pada kematiannya.

Horgan dalam penilaian penulis tidaklah berlebihan, sebab sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa bagi penulis keterbatasan manusia hany akan melahirkan keterbatasan pula. Tidaklah logis sebuah keterbatasan akan menghasilkan ketidakterbatasan. Keterbatasn tentu mengandung kekurangan atau kesalahan. Buktinya sejumlah kajian filsafat Pierce hanya mampu mendefinisikan kebenaran absolut dengan mengajukan postulat : ilmuwan bisa mengatakan apa saja ketika mereka telah sampai pada akhir pekerjaannya.

Sejumlah filsafat pasca – Pierce hanya mampu mengelaborasi pemikirannya. Filsafat yang dominan di Eropa pada awal abad ini adalah positivisme, yang menyatakan bahwa kita hanya bisa mengetahui sesuatu itu benar jika bisa dibuktikan secara logis dan empiris. Kaum positivitis menganggap matematika dan ilmu pengetahuan sebagai sumber utama kebenaran. Popper, Kuhn dan Feyerabend dengan metode dan argumen masing-masing berusaha menentang sikap menjilat terhadap ilmu pengetahuan ini.

Bagi Popper kebanyakan filosof mengalami tekanan hidup, sebab mereka telah menghasilkan sesuatu yang tidak berguna bagi kehidupan yang hakiki. Terkait ilmu pengetahuan Kuhn menyimpulkan bahwa para ilmuwan betul-betul tidak akan pernah bisa memahami dunia nyata atau sesama mereka sendiri. Seseorang bukanlah sejarahwan bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang psikoanalisis bagi dirinya sendiri, ujar Kuhn. Pengetahuan Kuhn mendorongnya mengambil posisi yang tidak bisa dipertahankan bahwa karena semua teori ilmiah jatuh pada kebenaran absolut dan mistik yang picik, maka semuanya menjadi tidak benar, karena kita tidak bisa menemukan jawaban, ungkap Kuhn membeberkan pengalaman spiritualnya.

Bagi Feyerabend filsafat tidak bisa menyajikan metodologi atau rasio bagi ilmu pengetahuan, karena memang tidak ada rasio yang bisa menjelaskannya, tidak ada logika bagi ilmu pengetahuan. Para ilmuwan bagi Feyerabend yang kebanyakan mencipta dan memuja teori-teori ilmiah karena alasan-alasan subyektif bahkan irasional. Ketiga filosof ini begitu pesimistik terhadap ilmu pengetahuan dan atau filsafat, sekalipun mereka masing-masing mendorong gagasan mereka terlalu jauh, dan menganggapnya terlalu serius, namun berakhir pada kekaburan, sebuah posisi yang inkonsisten dalam dirinya sendiri. Orang harus sadar bahwa skeptisisme adalah latihan yang perlu, tetapi ia adalah percobaan yang tidak mungkin. Jika masih ada orang yang menganggap filsafat adalah ilmu yang membingungkan, itu manusiawi belaka untuk tidak hendak mengatakan sebuah bentuk ketidakpahaman.

Sampai disini nampaknya bisa disimpulkan bahwa filsafat itu secara genetis anti agama. Sebab filsafat hanya mampu memberikan interpretasi realitas kebenaran sebatas empirisme fisika, padahal dalam Islam kebenaran juga bersifat metafisika. Metafiska telah ditolak untuk bergabung dengan filsafat. Manusia pada dasarnya memiliki tujuan hidup. Meminjam bahasa Plato bahwa penciptaan manusia itu ada tujuan spiritual yang hendak dicapai oleh Tuhan.

Dalam terminologi Islam jelas bahwa penciptaan manusia ini bertujuan untuk menjadi hamba Allah dalam semua gerak dan aktivitas hidupnya sebagaimana bunyi ayat dalam Al Qur’an bahwa dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Az Zariyat : 56). Tujuan tertinggi manusia sesungguhnya adalah kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan hidup. Ketiga istilah ini tidaklah bersifat empiris namun bersifat metafisik.

Ketiga berkaitan erat manusia sebagai makhluk religius. Hendak kemana manusia berjalan dalam kehidupan ini adalah wilayah kajian agama dan ketuhanan, bukan filsafat empirik. Tentu saja bisa disimpulkan bahwa filsafat tidak akan pernah bisa membawa manusia kepada kebahagiaan, ketenteraman dan keselamatan hidup manusia. Inilah tujuan hakiki manusia.

Jika ketiga tujuan hakiki itu tidak bisa diwujudkan oleh filsafat, apakah filsafat masih akan digunakan oleh manusia. Otak yang masih normal tentu akan mengatakan bahwa filsafat hendaknya ditinggalkan jauh-jauh sebab hanya akan membawa manusia kepada kebingungan, kerumitan, keduniawian, ketertekanan dan keresahan. Sebab filsafat telah menghasilkan sesuatu yang tidak berguna. Kesadaran manusia akan kehampaan hidup secara perlahan akan masuk ke alam spiritual dan akan meninggalkan filsafat, membuang dan menguburnya dalam kelamnya sejarah. Dalam konteks inilah senjakala atau kematian filsafat adalah sebuah keniscayaan.

(AhmadSastra,2020)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar