TITANIC, FIR’AUN DAN CHINA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 05 Februari 2020

TITANIC, FIR’AUN DAN CHINA



Oleh : Ahmad Sastra

Wabah coronavirus yang sedang menyerang negara china telah menjadi pelajaran berharga bagi negara manapun di dunia, bahwa kesombongan hanya akan berakhir kepada kehancuran dirinya sendiri. kini ekonomi china terancam hancur karena isolasi dunia atas produk china. Sejarah tenggelamnya Titanic juga diawali oleh kesombongan. Begitupun kesombongan fir’aun telah mengantarkan kepada kematiannya digulung ombak.

Siapa tak kenal kapal laut legendaris Titanic ?. Meski telah tenggelam lebih dari satu abad, kisah tentang Titanic tak pernah usang ditelan waktu. Titanic masih sangat baru saat mulai berlayar pada 10 April 1912, bahkan cat di beberapa badan kapal masih belum kering.

Perusahaan pembuatnya telah dengan bangga dan sombong memamerkan Titanic yang menyandang gelar kapal terbesar dan termegah di dunia. Akibatnya, keselamatan penumpang luput dari pantauan perusahaan. Namun kesombongan itu hanya berumur sangat pendek.

Peringatan akan adanya gunungan es yang telah dikirimkan berkali-kali diabaikan para awak kapal Titanic. Sampai akhirnya tabrakan maut itu tak terelakan. Kapal raksasa itu terbelah dua sebelum benar-benar tenggelam. Konon katanya, saking sombongnya, bahkan tuhanpun tak akan mampu menenggelamkan kapal Tetanic.

Senin dini hari, 15 April 1912 merupakan akhir perjalanan yang baru ditempuh salah satu mahakarya dunia, Titanic. Kapal tersebut tenggelam dan lebih dari 1500 penumpangnya tewas di tempat.

Kapal pesiar Royal Mail Steamer (RMS) Titanic merupakan produk yang lahir dari persaingan ketat antar jalur pelayaran pada paruh pertama abad 20. White Star Line merupakan perusahaan yang berupaya menyaingi Cunard, perusahaan Inggris yang telah memiliki dua kapal laut paling canggih dan mewah.

Pada 31 Maret 1909, White Star Line memulai pembangunan kapal super besar Titanic bersama dengan kapal canggih lainnya, Olympic. Sebanyak 15 ribu pekerja dikerahkan untuk bekerja tanpa henti membangun dua kapal raksasa kembar tersebut.

Kapal Olympic rampung lebih dulu pada 1910 dan diluncurkan pada 20 Oktober tanpa insiden apapun. Sementara adik kembarnya, Titanic baru rampung dibangun pada 31 Mei 1911 dan siap diluncurkan ke depan masyarakat umum.

Ambisi Direktur Pelaksana White Star Line memang membangun kapal yang lebih besar dari yang pernah ada. Benar saja, Titanic lahir sebagai kapal uap terbesar dan termegah di dunia. Tak heran, peluncurannya mampu menarik lebih dari 100 ribu orang yang berbondong-bondong datang menyaksikannya.

Namun apalah daya manusia, tetap tak akan mungkin bisa menandingi kemahakuasaan dan kemahabesaran Allah. Kesombongan akan kekuatan Titanic justru menjadi titik terlemah manusia di mata Tuhan. Kesombongan bukan menjadikan manusia kuat, tapi justru lemah dan hancur berkeping-keping. Kesombongan Titanic berakhir dengan tenggelam di dasar laut, bahkan terbelah dua pasca menabrak gunung es.

Sementara manusia sombong lainnya yang juga ditenggelamkan oleh Allah adalah fir’aun. Temuan-temuan dari para arkeolog modern mengkonfirmasi tentang adanya kisah fir’aun yang diceritakan oleh Al-Qur’an. Maurice Bucaille seorang egyptologis mempublikasikan bukunya yang berjudul “The Bible, The Qur’an and Science”.

Dalam bukunya itu ia mengatakan bahwa tidak ada pernyataan dalam al-Qur’an yang bertentangan dengan fakta ilmiah. Kesimpulan Maurice Bucaille tersebut ia buat setelah ia melakukan kajian terhadap mummy Ramesses II yang diperkirakan hidup pada zaman Nabi Musa. Ia menemukan ada sisa garam pada mummy tersebut.

Mummy yang ada di Mesir baru ditemukan sekitar tahun 1898 M. Sementara cerita tentang fir’aun telah diketahui oleh muslim sebagaimana diinformasikan al-Qur’an jauh sebelum itu. Hal inilah yang membuat Maurice Bucaille terheran-heran.

Hasil temuan arkeologi tentang peradaban Mesir kuno termasuk Pharaoh memang sangat menarik. Telah banyak publikasi ilmiah dan film fiksi tentang hal itu. Selaku orang yang beriman, kita patut mengambil pelajaran berharga dari kisah fir’aun ini.

Penggambaran al-Qur’an terhadap Fir’aun ini adalah “manusia yang paling sombong”. Kesombongan terbesar fir’aun adalah ia mengaku dirinya sebagai tuhan. Lalu akibat kesombongannya tersebut, Allah menghukum fir’aun bersama bala tentaranya. Mereka ditenggelamkan di laut.

Kisah Fir’aun ini dapat dilihat pada Surat al-Qashas: 38-42). Dosa besar lain dari fir’aun adalah menindas umat Nabi Musa. Ia melakukan penganiayaan dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Selain sombong dengan kekuasaan, fir’aun juga berbuat zolim kepada rakyat kecil. Rezim manapun yang sombong dan zolim, maka akan terjungkal, cepat atau lambat.

Wabah coronavirus yang telah membunuh satu perrsatu rakyat china bisa jadi karena kesombongan presidennya. Jika mundur lagi ke belakang, tepatnya Oktober 2019 lalu, dengan angkuhnya Presiden China, Xi Jinping pernah berpidato dalam Peringatan 70 Tahun berdirinya negara China.

Dalam pidatonya itu, ia menegaskan bahwa tak ada kekuatan yang lebih dahsyat yang bisa menghentikan mereka untuk terus maju. “Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan rakyat China dan negara China untuk terus maju,” ujar pemimpin China yang paling berpengaruh setelah Mao Zedong ini.

Namun, hanya berselang tiga bulan, di Januari 2020, mereka harus menerima kenyatan pahit. Dengan begitu cepatnya, virus corona menyebar ke China. Mungkinkah ini merupakan cara Allah menegur mereka atas keangkuhannya ?.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Tak butuh lama bagi Allah untuk menegur kesombongan manusia. Meskipun mereka mengatakan, tidak ada kekuatan yang dapat menghentikannya. Namun, Allah telah membuktikan kekuasaan dan kekuataannya melalui sebuah wabah penyakit yang mematikan.

Kekuasaan memang sering kali menjerat manusia kepada kesombongan dan kecongkakan. Mestinya kisah terjungkalnya fir’aun dan namrud cukup menjadi pelajaran, bahwa sekuat apapun kekuasaan manusia yang sombong dan zolim, maka hanya akan berakhir kepada kehancuran dan kehinaan.

Jika kematian telah mengancam setiap saat, maka apalah arti harta dan tahta yang selama ini dipuja-puja. Apalah artinya kemewahan kapal Titanic jika akhirnya tenggelam. Begitupun di negeri ini, sebagai penguasa, jangan sombong, apalagi zolim dan curang, jika tidak ingin terjungkal dan terhina.

Untuk para penguasa, kembalilah kepada Allah dan RasulNya. Merunduklah untuk tunduk kepada syariah Allah. Jangan pernah sombong dan congkak menentang hukum dan aturan Allah dan RasulNya, jika tidak ingin bernasib sama seperti fir’aun, namrud, china dan titanic.

(AhmadSastra,KotaHujan,05/02/20 : 09.20 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar