TENTANG EPISTEMOLOGI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 04 Februari 2020

TENTANG EPISTEMOLOGI



Oleh : Ahmad Sastra

Makna filsafat secara umum telah dijelaskan, makna dan masa depannya. Obyek filsafat secara umum ada empat: manusia, alam semesta, kehidupan dan Tuhan. Keempat obyek filsafat tentu masih menyimpan banyak perincian sebagai derivasinya yang kelak akan melahirkan cabang-cabang filsafat. Jika dikaitkan dengan pengembaraan manusia untuk mampu memahami hakekat Tuhan, maka lahirlah filsafat ketuhanan.

Pengembaraan manusia untuk mengenal dan mendalami hakekat alam akan melahirkan filsafat alam. Begitu juga dengan filsafat manusia sereta kehidupan. Keterarahan pengembaraan manusia untuk menemukan hakekat realitas agar bisa berjalan dengan baik akan melahirkan filsafat etika. Filsafat etika fokus pada perilaku manusia yang ideal. Meskipun begitu, pembagian cabang filsafat ini belum selesai, karena sorotan dan pembatasan atas manusia, alam, Tuhan dan kehidupan harus benar, yakni sesuai dengan kenyataan.

Dari paradigma inilah lahir cabang filsafat ilmu pengetahuan atau filsafat ilmu. Tugas pokok filsafat ilmu adalah menyoroti gejala pengetahuan manusia berdasarkan sudut sebab musabab pertama. Pokok kajiannya misalnya: apakah suatu pengatahuan itu benar, tepat dan karenanya terpercaya, tidak berubah atau malah berubah-ubah terus, bergerak dan berkembang, dan jika berkembang, kemanakah arah perkembangannya? ilmu pengetahuan dalam kontek ini dimaknai sebagai pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoritis.

Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005). Termasuk di dalamnya kajian tentang ilmu.

Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.

Istilah ilmu dalam Oxford English Dictionary (tentu ini mewakili ilmu dalam pandangan Barat) memiliki tiga pengertian, (i) Informasi dan kecakapan yang diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, (ii) Keseluruhan dari apa yang diketahui, (iii) kesadaran atau kebiasaan yang didapat melalui pengalaman akan suatu fakta atau keadaan.

Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme – positivisme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika (Kartanegara, 2003).

Pandangan Kertanegara adalah pandangan umum terhadap ilmu. Ilmu dalam pandangan lebih khusus tentu memiliki berbagai perbedaan. Ilmu menurut filsafat Barat tentu berbeda dengan pandangan Islam. Al Qur’an menurut penelitian Franz Rosental dalam Knowledge Triumphant : The Concept of Knowledge in Medieval Islam terdapat 750 kata yang berkaitan dengan akar kata ilmu. Kata ilmu dalam Al Qur’an menempati peringkat ketiga setelah kata Allah dan Rabb yang masing-masing diulang sebanyak 2800 dan 950.

Ilmu dalam perspektif Islam bisa ditelusuri dari berbagai pendapat dari para ulama. Akhmad Alim menuturkan beberapa definisi ilmu dari para ulama. Muhammad ibn Shalih al Utsaimin dalam al Ushul min Ushul Fiqh yang mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan terhadap sesuatu dengan apa adanya (sesuai dengan yang sebenarnya) dengan penuh kepastian dan keyakinan.

Ibn Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mendefinisikan ilmu secara istilah dengan pengetahuan yang didasarkan oleh dalil. Dalil yang dimaksud oleh Ibn Taimiyyah bisa berdasarkan wahyu Al Qur’an ( al naql al mushaddad) dan bisa juga berupa hasil penelitian ilmiah (al bahts al muhaqqaq). Ilmu yang memberi manfaat dalam pandangan Ibn Taimiyyah adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah. Karenanya sesuatu bisa dikatakan ilmu jika dari proses penukilan yang benar dan penelitian yang benar.

Bagi Ibn Taimiyyah ilmu juga berkaitan erat dengan keyakinan. Jika seseorang yakin berarti menunjukkan bahwa ilmu telah bersemayam dalam dirinya. Dengan kata lain, kalau pemikiran-pemikiran filosofis seperti yang berlaku dalam metafisika tidak mendatangkan keyakinan, itu berarti pemikiran-pemikiran itu belum bisa dikatakan sebagai ilmu. Sebab jika pemikiran-pemikiran semacam itu berstatus ilmu, pasti akan mendatangkan keyakinan.

Ibn Qayyim dalam Madarik al Salikin baina manazil iyyakana’budu wa iyyakanasta’in, mendefinisikan ilmu hakiki sebagai pengetahuan yang dihasilkan dengan syawahid (empiris) melalui panca indera dan adillah (dalil syar’i) melalui keyakinan. Ilmu yang diperoleh tidak berdasarkan dimensi empirik dan dalil syar’i, maka tidak ada jalan untuk mempercayainya atau dengan kata lain bukan ilmu.

Ibn Qayyim melanjutkan bahwa memang benar terkadang ilmu yang diperoleh melalui syawahid akan menjadi kuat dan bertambah kekuatannya, hingga sampai dimana sesuatu yang diketahui itu seakan-akan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, atau sesuatu yang ghaib seakan-akan menjadi sesuatu yang tampak oleh mata, ilmu yakin seakan-akan menjadi ‘ain al yakin. Jadi, permasalahannya terjadi melalui perasaan terlebih dahulu, kemudian beralih kepada kiasan, kemudian dugaan, kemudian ilmu, kemudian ma’rifah, kemudian ilmu yakin, kemudian haqq al yakin, hingga setiap tingkatan akan melebur kepada tingkatan yang lebih tinggi darinya. Pada tingkatan tersebut kendali hukum ada padanya, tanpa yang lain. Maka inilah yang benar.

Sekarang kita akan mencoba mendalami filsafat ilmu dalam sudut pandang umum atau Barat. Kenapa ini penting, sebab filsafat itu sendiri adalah istilah yang datang dari Barat, bukan Islam. Sedangkan ilmu adalah istilah yang masih umum. Karena itu istilah filsafat ilmu secara umum sebenarnya menjadi bagian dari produk pemikiran Barat. Ilmu pada utamanya didapat dari proses berfikir. Yang sering jadi masalah adalah definisi berfikir itu sendiri. Banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama maupun ilmuwan Barat tentang apa itu berfikir. Masalah ini dikaji mendalam dalam sub bab khusus.

Konstruksi filsafat ilmu mencakup ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui, seberapa jauh ingin diketahui atau dengan perkataan lain membicarakan tentang teori ‘ada’. Epistemologi mengkaji tentang bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai obyek tertentu. Dengan kata lain epistemologi adalah teori pengetahuan. Adapaun aksiologi membahas tentang nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan atau dengan kata lain aksiologi adalah teori tentang nilai. Setiap bentuk buah pemikiran harus dikembalikan kepada prinsip-prinsip ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Secara ontologis, filsafat menjadikan obyek pengetahaun hanya yang bersifat empiris, sebab yang tidak empiris berada diluar jangkauan pengalaman dan pengetahuan manusia. Misalnya apa yang terjadi di alam kubur. Karena pertanyaan ini berada di luar jangkauan pengalaman manusia, maka filsafat tidak mampu menjawabnya. Fakta empiris adalah fakta yang dapat dialami langsungoleh manusia dengan mempergunakan panca inderanya. Ruang lingkup kemampuan panca indera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu panca indera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris. Ilmu dengan demikian berorientasi pada empirisme.

Secara epistemologis, ilmu bisa didapatkan melalui proses yang dinamakan metode keilmuwan. Ilmu didapat berdasarkan metode keilmuwan yang akan menjadikan ilmu berbeda dengan yang lain. Ilmu (science) merupakan bagian dari pengetahuan (knowledge). Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun, selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuwan, maka sah untuk disebut keilmuwan.

Orang bisa membahas kejadian sehari-hari secara keilmuwan dengan syarat dia menempuh jalan keilmuwan yang telah digariskan. Sebaliknya tidak semua yang diasosiasikan sebagai dengan eksistensi ilmu adalah keilmuwan. Artinya seorang yang menyandang jubah kesarjanaan dan memiliki bidang ilmu belum tentu mendekati masalah ilmunya secara keilmuwan. Hakekat ilmu tidak berhubungan dengan gelar akademik, profesi dan kedudukan. Hakekat keilmuwan ditentukan oleh taraf dan cara berfikir menurut persyaratan keilmuwan. Setidaknya ada empat komponen utama berfikir : otak, panca indera, fakta dan pengetahuan yang benar sebelumnya tentang realitas tersebut.

Pola fikir manusia secara umum dalam mencari ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua yakni rasionalisme dan empirisme. Keduanya merupakan pola berfikir yang sangat berbeda. Rasionalisme berpijak pada postulat bahwa idea kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia bisa mengetahui idea tersebut, namun tidak menciptakannya dan tidak pula mempelajarinya melalui pengalaman empiris. Dengan perkataan lain, idea tentang kebenaran yang menjadi dasar pengetahuannya, diperoleh lewat berfikir secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia. Sistem pengetahuan dibangun secara koheren di atas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti.

Permasalahannya adalah bagaiaman mendapatkan kebenaran dengan pasti jika tercerai dengan pengalaman manusia yang nyata. Dari problem inilah kaum rasionalis mulai mengalami kesulitan mendapatkan konsensus yang dapat dijadikan landasan bagi aktivitas berfikir bersama. Sebab yang muncul adalah klaim kebenaran berdasarkan pandangan masing-masing orang secara subyektif. Subyektifitas rasionalisme akan menyulitkan sebuah konsensus makna atas sebuah realitas tertentu. Benar bagi A belum tentu dalam pandangan B, malah bisa jadi kontradiksi secara diametral. Setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda atas realitas yang sama sekalipun.

Kondisi akan mengantarkan pada jebakan solipsisme yakni kebenaran diukur oleh subyektifitas semata dari masing-masing orang. Dari jebakan solipsisme inilah muncul metode berfikir lain yang dikenal dengan nama empirisme yang sangat berbeda dengan metode berfikir rasionalisme. Kelelahan perdebatan rasionalisme menggugah kaum empiris untuk mengajak kepada alam empirik untuk mendapatkan pengetahuan.

Pengetahuan dalam pandangan kaum empirisme tidaklah bersifat apriori di benak manusia, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Empirisme inilah yang kelak memunculkan ideologi pragmatisme dalam berbagai masalah kehidupan. Apakah empirisme lebih mendekatkan pada kebenaran, tentu saja tidak. Justru dalam empirisme juga masih terdapat unsur subyektifitas dan bahkan telah melahirkan pragmatisme yang kelak menghancurkan sendi-sendi dasar hakekat kebenaran.

Pragmatisme politik melahirkan orientasi kekuasaan yang korup, kotor, jahat, menghalalkan segala cara dan dan semata-mata untuk meraih kekayaan sendiri. Pragmatisme politik telah melahirkan kehancuran sendi-dendi berbangsa dan bernegara. Rakyat tambah miskin karena pragmatisme para pemimpin, sementara para pemimpin bergelimang kemewahan tak ubahnya qorun. Pragmatisme politik telah melahirkan kerakusan dan ketamakan kekuasaan seperti fir’aun. Pragmatisme politik telah melahirkan fir’aun dan qorun masa kini.

Pragmatisme dunia pendidikan telah melahirkan sosok-sosok guru yang otaknya hanya bagaimana mendapatkan uang lebih banyak dari proses pengajaran yang dia lakukan. Pragmatism telah melahirkan sosok guru yang materialisme dan mengabaikan esensi pendidikan itu sendiri. Akhirnya lahirlah siswa yang hobbynya hanya tawuran, seks bebas, main game, hura-hura, melawan guru, dan sederetan perilaku keji lainnya. Pragmatisme pendidikan hanya akan melahirkan kapitalisasi dunia pendidikan. Rakyat miskin tak berhak sekolah karena biaya pendidikan melangit namun minus kualitas. Pemerintah telah mengkapitalisasi dunia pendidikan yang akan semakin menyengsarakan dan menghancurkan masa depan generasi bangsa ini.

Dengan demikian empirisme bukanlah jalan untuk mendapatkan kebenaran. Sebab realitas tetap harus diberikan makna berdasarkan subyektifitas. Realitas bendawi tidak pernah memaknai dirinya sendiri kecuali hasil penafsiran manusia. Bagaimana bisa dijamin kebenaran atas tafsir dan interpretasi atas realitas. Bagaimana bisa dijamin bahwa pemaknaan atas realitas itu adalah kebenaran. Dari mana pula sumber pengetahuan atas realitas tertentu dari setipa manusia.

Empirisme bukan saja tidak akan sampai pada pengetahuan dan kebenaran melainkan telah menjadikan kehidupan manusia carut marut di berbagai bidang kehidupan. Politik macievalisme, ekonomi kapitalisme, budaya hedonisme permisivisme, kehidupan individualistik, pendidikan sekulerisme dan kehidupan ateistik adalah buah dari empirisme pragmatis ini. Inilah salah satu kondisi kehidupan jika manusia merujuk kepada pandangan hidup produk filsafat semata-mata dan mengabaikan wahyu.

Meskipun pada akhirnya kaum rasionalis dan empiris mencoba untuk berkompromi dengan cara menggabungkan keduanya untuk mendapatkan kebenaran. Penggabungan rasionalisme dan empirisme menghasilkan metode berfikir yang dikenal dengan istilah metode keilmuwan atau metode ilmiah. Asumsi metode ilmiah ini adalah bahwa rasionalisme berkontribusi memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis, sedangkan empirisme berkontribusi memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.

Dari sini nampaknya sudah agak terang bahwa metode ilmiah mulai bisa dipahami akan lebih mendekatkan pada kebenaran pengetahuan. Namun rasionalitas membutuhkan informasi sebelumnya (ma’lumah sabiqah) yang falid dalam sebuah kerangka teoritis. Kerangka teoritis ini bersifat deduktif dan pada dasarnya merupakan suatu proses berfikir yang logis dan sistematis. Sifat inilah yang merupakan ciri pokok ilmu dalam pandangan filsafat.

Masalahnya adalah bagaimana bisa menjamin kebenaran atas kerangka teori yang dibangun. Kerangka teori adalah refleksi subyektifitas juga, yang sangat mungkin mengalami penyempitan dan kesalahan serta berbedaan. Inilah kelemahan fatal dari berfikir filsafat yang menjadikan otak, panca indera, realitas dan pengetahuan sebelumnya. Namun bangunan pengetahuan sebelumnya tidak dari sumber yang pasti benar.

Berbeda dengan berfikir Islam. Proses berfikir dalam pandangan Islam (akal) dimulai dari otak, indera, realitas dan menjadikan al Qur’an sebagai sumber informasi yang falid karena merupakan wahyu Allah SWT. Karena itu kemungkinan salah sangat kecil. Interpretasi makna ayat-ayat wahyu diserahkan kepada otoritasnya yakni mufassir, tidak oleh sembarang orang.

Jika ada orang mengaku prof berhaluan liberal kemudian menafsirkan al Qur’an tentu tidak patut dipercaya, sebab mereka tidak sedang menafsirkan al Qur’an secara benar, melainkan karena nafsunya untuk mendapatkan sebongkah materi dari tuannya yang selama ini telah menyekolahkan mereka yang nota bene orang-orang kafir. Kaum liberal adalah pelacur dan penjilat atas nama intelektualisme yang menyengaja ingin menghancurkan Islam demi menyenangkan kaum kafir yang selama ini telah menjamin kehidupannya.

Status ilmu sangat menentukan benarnya suatu tindakan dan setiap tindakan pasti mempunyai tujuan tertentu. Allah swt telah menentukan ilmu, ada yang di ajarkan kepada manusia dan ada yang memang hanya khusus untuk diri-Nya. Ketentuan Allah itu ada yang bersifat kauniyah dan ada yang bersifat syariat yang turunkan melalui para NabiNya. Manusia hanya diwajibkan untuk mengikuti para nabi-Nya.

Dalam pandangan ideolog Ibnu Taimiyah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah dasar kehidupan yang mulia lagi utama, dan beramal dengan ilmu ini tegaklah kehidupan ini dan yang mempertahankan keesensian dan keberlangsungannya. Tanpa ilmu perjalanan kehidupan manusia akan tersesat. Beramal tanpa ilmu dan melampaui batas disebabkan karena mengikuti hawa napsunya dan tidak berdasarkan ilmu. Beramal tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan. Segala sesuatu jika dikerjakan bukan oleh ahlinya (baca: orang yang memiliki ilmu tentang perkara tersebut), maka akan mengalami kerusakan dan kehancuran. Menuntut ilmu adalah ibadah, mengenalnya adalah khosyah, membahasnya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahuinya shodaqoh, dan mengulang- ulanginya adalah tasbih.

Ibn Taimiyah memandang kebodohan ( al Jahlu ) sebagai sebuah penyebab kejelekan. Kejelekan tumbuh karena kebodohan dan kedholiman. Manusia tidak akan melakukan suatu keburukan kecuali dia tidak mengetahui keburukan tersebut atau karena mengikuti hawa nafsunya atau kecenderungan terhadapnya. Seseorang tidak akan meninggalkan kebaikan yang diwajibkan baginya kecuali karena tidak tahu atau karena ia membencinya. Yang jelas semua kejahatan kembali disebabkan karena kebodohan, dan jika ada seorang yang alim dan ilmunya bermanfaat pasti ia meninggalkan hal –hal yang buruk, dan keadaanya seperti orang jatuh dari tempat yang tinggi atau orang yang menenggelamkan dirinya, atau seperti orang yang masuk kedalam api. (Al hasanah wa sayi’at : 50)

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fathir : 28)

(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar : 9)

Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (Qs Al Anbiyaa’ : 28)

Filsafat ilmu dalam pandangan ilmuwan Barat bisa didentifikasi menjadi tiga klasifikasi dasar : Ontologi Ilmu, Epistemologi Ilmu dan Aksiologi Ilmu. Ilmuwan Barat sebagai kaum rasionalis dan empiris memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan pandangan Islam tentang ilmu.

Dasar ontologi ilmu menjawab beberapa pertanyaan : apakah yang ingin diketahui ilmu ? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telaah ilmu. Ilmu dalam pandangan barat dibatasi oleh rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mendasarkan pada proses berfikir manusia, selama mampu dijangkau oleh akal pikiran, maka masih bisa dikatan sebagai ilmu. Empirisme memberikan batasan pengalaman manusia. Agama sebagai kumpulan dogma dan kejadian yang berada diluar jangkauan pengalaman manusia tidak bisa dikategorikan sebagai ilmu. Fakta empiris adalah fakta yang dapat langsung dialami oleh manusia dengan menggunakan panca inderanya.

Ruang lingkup panca indera manusia dan peralatan yang dikembangkan untuk membantu panca indera manusia akan membentuk apa yang dikenal sebagai dunia empiris. Ilmu hanya dibatas oleh dunia empiris dan yang terjangkau oleh aktifitas panca indera dan meliputi semua aspek kehidupan selama masih bisa diindera. Hal ini tentu berbeda dengan agama yang bersifat non empiris. Ontologi Barat tentang ilmu bertentangan dengan pandangan Islam. Konsep ilmu dalam Islam tidak sama dengan konsep ilmu Barat. Barat dalam konteks ini jelas anti agama.

Dasar epistemologi ilmu membahasa secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha manusia dalam rangka memperoleh ilmu. Ilmu lebih bersifat kegiatan dari pada sekedar sebuah produk yang siap dikonsumsikan. Kegiatan ilmu juga bersifat dinamis dan tidak statis. Dasar epistemologi ini memberikan pengertian bahwa ilmu-ilmu yang akan lahir adalah ilmu-ilmu duniawi semata. Sebab Barat tidak menjadikan agama sebagai bagian dari ilmu itu sendiri. Dalam Islam dibedakan mana yang disebut ilmu (sains dan tsaqafah).

Dasar aksiologi ilmu Barat bertumpu pada manfaat ilmu bagi manusia, namun tidak jarang oleh orang-orang Barat penemuan senjata justru disalahgunakan untuk melakukan pembunuhan manusia. Hal ini memberikan penjelasan bahwa ilmu yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai agama akan bisa berdampak negatif bagi kemanusiaan. Aksiologi ilmu bagi Barat hanya bertumpu pada manfaat subyektif tanpoa mengindahkan nilai-nilai agama.

Perkembangan ilmu di barat tidak bisa dilepaskan dari pandangan hidup (worldview) mereka yang sekuleristik, liberalistik dan pragmatisme yang ujungnya menjauhkan ilmu dari akar agama. Jadinya adalah sebuah tata kehidupan yang karut marut sebagaimana kita saksikan hari ini. Barat maju dari sisi sains dan teknologi tapi hancur secara moral. Manusia Barat memiliki otak yang ‘cerdas’ tapi bermoral lebih rendah dibanding binatang.

(AhmadSastra,2020)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar