HADIRMU DI UJUNG SENJA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 12 Maret 2020

HADIRMU DI UJUNG SENJA



Karya : Ahmad Sastra

Sebagaimana anak-anak sebayaku, aku hidup normal dan penuh suka cita. Lahir dari seorang ayah PNS dan ibu rumah tangga yang semangat dan baik hati, akupun tumbuh penuh kegembiraan, begitupun dengan kehidupan ketiga adikku. Lahir sebagai anak pertama di kota gudeg Yogyakarta, aku diberi nama Sekarwati Siswanto. Nama belakang adalah nama ayahku.

Kota Yogyakarta yang damai dan menyimpan sejuta inspirasi telah menumbuhkembangkan raga dan jiwaku. Sebagai anak perempuan pertama, aku cepat tumbuh dewasa, berhati lembut, ramah dan berparas cantik. Itu kata sahabat-sahabatku saat aku di bangku SMA.

Rambut yang lurus panjang dengan hidung mancung dan badan tinggi semampai serta kulit putih bersih membuatku banyak di sukai laki-laki di sekolahku. Namun tak satupun dari perasaan mereka yang berhasil menjerat hatiku. Bahkan saat itu aku tidak begitu bisa memahami makna perasaan itu. Yang aku tahu hanya rasa cinta ayah ibuku begitu dalam mengisi relung jiwaku.

Bahkan karena keluguanku, saat kakak kelas SMA ku mengutarakan rasa sayang kepadaku, aku justru marah dan membencinya tanpa alasan yang jelas. Ketika kakak kelas itu justru nekad mendatangi rumahku, aku justru bersembunyi di bawah kolong meja. Saat itu ibunya hanya bilang bahwa sekar tidak ada, mungkin sedang di masjid bersama temen-temen pengajiaanya. Kakak kelas itupun lantas pergi dan tidak pernah mendapatkan kesempatan dariku. Begitu lucu ketika mengingat masa-masa itu.

Masa SMA kujalani dengan penuh kegembiraan. Bahkan selain mengambil ekstrakulikuler menari, akupun sangat gemar bermanin basket. Di kampungku, aku selalu terpilih menjadi peserta menari ketika ada peringatan hari-hari besar Nasional. Penampilanku saat hari besar nasional di kampung itulah yang mengantarkan aku menjadi penari dan bahkan model fashion profesional di Yogyakarta. Bermula dari seorang wartawan yang menawarkan aku untuk bergabung di rumah model profesional sesaat seetelah melihat penampilanku di panggung kampung.

Meski berangkat dari model lokal, namun dengan cepat aku menjadi model favorit yang mengantarkanku manggung di Bali, Surabaya, Solo dan kota-kota besar di Jawa dan Bali. Meski tidak banyak kuhasilkan uang dari profesi itu, namun masa itu begitu indah aku rasakan. Saat manggung, rasanya diri ini menjadi seorang putri yang diperhatikan banyak orang. Suasana itu tentu banyak diinginkan oleh remaja perempuan seusiaku.

Hari begitu cepat berlalu dan ruang begitu cepat berganti. Tak terasa, aku telah memasuki usia dewasa. Beruntung kedua orang tuanya mampu membiayai aku untuk terus menuntut ilmu. Kini aku telah duduk di bangku kuliah. Tidak ada yang berubah dari diriku, kecuali bertambah matang jiwaku. Aku tetap sekarwati yang dulu yang lembut, ceria, cantik dan selalu menjadi perhatian lawan jenis di mana aku singgah. Kali ini aku mulai bisa merasakan perhatian orang-orang disekelilingku. Aku mulai memahami makna cinta dan kehidupan. Akupun sering membatin agar bisa merajut masa depanku yang penuh kebahagiaan dan kesuksesan, sebagaimana ayah ibuku.

Keceriaan dan keluwesanku menjadikan aku sebagai sosok mahasiswi memiliki banyak teman. Bahkan hobby menariku saat SMA berkembang terus saat aku telah menjadi seorang mahasiswi. Karena parasku yang ayu menyeret aku untuk menjadi seorang model, meski masih berskala lokal. Lumayan sekedar untuk bisa menraktir temen-teman mahasiwa yang lain di kampus. Semua berjalan normal tanpa hambatan, sebab selain menghasilkan uang, menari dan model adalah kesenanganku. Kedua orang tuakupun mendukungnya.

Hingga tibalah satu saat yang akan mengubah seluruh kisah hidupku. Saat di mana seorang mahasiswa favorit memilihku untuk menjadi kekasihnya. Dialah Anton Susanto, seorang mahasiswa yang sangat tampan, berkulit putih bersih dan selalu murah senyum kepada siapa saja. Bahkan hampir seluruh mahasiswi di kelasku menaruh harapan untuk sekedar disapa, apalagi jika bisa mendapatkan cintanya. Namun harapan mereka hampa, sebab Anton memilihku untuk menjadi kekasihnya, ya aku, Sekarwati.

Dadaku berdegup kencang saat cinta itu menyapaku, dari seorang yang menjadi rebutan banyak mahasiswi di kampusku. Saat kutanya mengapa aku yang dia pilih, hanya sunggingan senyum yang menelusup tajam dalam relung jiwaku. Entahlah, sulit membayangkan perasaanku saat itu. Akupun menerima perasaan dia untuk menjadi bagian dari perasaanku. Kamipun menjalin hubungan kisah hidup yang indah itu.

Ternyata sosok Anton yang kini telah menjadi kekasihku tidaklah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Dia begitu ramah, baik hati dan selalu mengistimewakanku dalam setiap kesempatan. Aku begitu istimewa dalam hidupnya, bahkan aku seperti seorang permaisuri di matanya. Sebagai orang Yogyakarta, aku teringat seorang seorang istri raja Jawa bernama Sekar Kedaton. Tidak salah ayahku memberiku nama sekarwati, mungkin agar aku kelak diperlakukan seperti istri seorang raja. Dan mimpi ayahkupun kini kurasakan. Hingga suatu saat, kedua orang Tua Anton mendatangi rumah orang tuaku, meminta aku untuk bersedia menjadi istrinya.

Terbayang kisah yang lebih indah, jika aku menjadi istri Anton. Enam bulan bersamanya, aku diperlakukan seperti putri raja, apalagi jika telah resmi menjadi istrinya, pasti akan lebih indah dari itu. Pernah suatu saat, ketika aku hendak turun dari mobil Anton, dia melarang saya untuk membuka pintu mobil. Dia segera turun dan membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku turun denan penuh kelembutan. Saat mobilnya mengalami bocor ban, akupun tidak boleh keluar dari mobil hingga ban mobil itu kembali seperti semula. Itu kejadian dulu, saat dia belum menjadi suamiku.

Ketampanan Anton serta merta meluluhkan hatiku. Saat itu dalam hatiku hanya ada dia seorang. Tanpa pikir panjang, akupun menerima lamaran dia di hadapan kedua orang tuaku. Meski saat itu aku masih di bangku kuliah semester 3 dan usiaku saat itu 22 tahun, namun harapan untuk bisa hidup bahagia bersamanya kurelakan bangku kuliah untuk ditinggalkan. Untuk kembali kuliah masih ada waktu, namun untuk hidup bersamanya, mungkin hanya akan datang sekali seumur hidup, begitu batinku saat itu.

Tibalah waktu yang paling membahagiakan dan bersejarah sepanjang hidupku. Akhirnya Anton menikahiku di kantor KUA terdekat. Ada rasa yang sulit digambarkan saat itu. Kebahagiaan begitu membuncah dapat berdampingan secara sah dengan lelaki yang sejak awal begitu kucintai. Dialah cinta pertama dalam kehidupanku dan mungkin untuk yang terakhir.

Dihadiri seluruh keluarga, kamipun direstui untuk melangkah menuju kehidupan baru kami. Antonlah lelaki tempat aku menyandarkan tubuh saat fisik ini lelah, menyandarkan harapan hidup saat kesusahan menyapa. Meski aku sempat mendengar kabar burung bahwa pernikahan Anton karena desakan orang tuanya, namun aku mengabaikannya.

Sebulan pascapernikahan, Anton mengajakku pindah rumah ke kontrakan baru di perumahan Kalasan, sebuah daerah terpencil dan masih sepi. Dikelilingi perkebunan dan persawahan, aku memulai kehidupan baru bersama Anton. Meski Anton belum memiliki pekerjaan tetap, namun usaha yang diwariskan dari orang tuanya, kami tetap bisa memenuhi segala kebutuhan keluarga. Aku terus mencoba mensyukurinya, terlebih aku juga bukan dari keluarga berada.

Kesempurnaan kebahagiaan kami adalah saat aku dinyatakan positif hamil. Rasa bahagia begitu menyelimuti kehidupan kami. Kujaga dengan sempurna calon anak kami yang pertama. Meski aku tidak jarang harus dalam kesendirian, karena Anton keluar rumah untuk urusan bisnis dengan teman-temannya. Hingga satu saat aku dalam kesendirian, sementara kehamilan telah berjalan 9 bulan. Tiba-tiba ada rasa takut yang menyergapku, sebab telah hampir dua minggu Anton pergi dari rumah, sementara perutku telah terasa sangat sakit. Namun akhirnya Anton bisa hadir dalam persalinan anak kami yang pertama.

Halilintar menggelegar di dalam rumah tanggaku, kecurigaanku kini terbukti. Anton tidak pernah jujur saat meninggalkan rumah selama ini. Selama perjalanan pernikahan, sebenarnya ada banyak perubahan yang aku lihat dalam diri Anton. Kabar burung selama ini tentang kelainan Anton kini terbukti, Anton adalah seorang Gay yang menjalin hubungan dengan teman kencannya sesama lelaki saat dia tidak di rumah, bahkan dia mengakui menjalin kasih sesama jenis dengan banyak laki-laki. Pernikahan dengan diriku dan pindah di tempat terpencil adalah cara kedua orang tuanya agar aku bisa menutupi aib ini.

Kini rumah tanggaku berubah seperti neraka. Sehari-hari bukan lagi kebahagiaan, namun tekanan dan cacian yang aku dapati. Kedua orang tuanya justru menjadikan aku sebagai pihak yang bersalah. Setiap hari aku mendapat tekanan batih yang menyiksa. Badanku kurus kering menahan perihnya duka batin ini. Aku sempat mengalami depresi berat. Bahkan pernah aku pinsan terjatuh di depan anakku, tak kuat menahan duka. Saat tak lagi kuat menanggung beban batin, akupun memutuskan untuk pisah ranjang dengan anton sejak anakku masih bayi.

Saat itu anakku berusia 9 bulan, tanpa keduga Anton hadir kembali untuk hidup kembali beersamaku. Dia akui dirinya telah bertobat. Sambil meminta maaf dan mencium kakiku, hatikupun tak mampu menolaknya. Kembali aku hidup bersamanya, bahkan aku hamil anak kedua. Namun halilintar keduapun kembali menggelegar di rumahku, saat suatu waktu aku melihat dengan mata kepala sendiri, Anton sedang memadu kasih dengan lelaki kencannya. Akupun memutuskan untuk bercerai dengan Anton dan tak akan bersamanya lagi untuk selamanya.

Perjalanan panjang hidupku kujalani seorang diri. Waktu berjalan begitu cepat hingga kedua anakku kini telah tumbuh dewasa. Bahkan kini aku sudah memiliki seorang cucu. Tak terasa kini usiaku telah mencapai setengah abad. Dengan tegar kubesarkan anak-anak hingga mencapai usia dewasa. Namun dalam kesendirian, kadang kesunyian itu tiba-tiba menyergabku.

Entah sudah berapa banyak tawaran untuk menikah lagi, namun selalu kutolak demi anak-anakku. Hingga satu saat waktunya tiba bahwa manusia ternyata ada batasnya. Kesendirian adalah kesunyian dan akupun kini sering merasakan itu. Batin ini selalu berteriak mengadu kepada Allah, meski kadang sulit untuk diungkapkan. Aku begitu yakin Allah Maha Tahu atas rintihan suara batinku...

Tanpa kuduga, ada seorang lelaki yang ingin hadir menjadi sandaran hidupku. Meski usinya lebih muda, namun ketulusan hatinya telah meluluhkan hatiku. Sebagaiman saat masih belia, rasa takut, rindu dan suka cita kembali hadir mewarnai kehidupanku. Kegalaun kini yang menggantikan batinku, mungkinkah seusiaku kini akan memulai kebersamaan dengan lelaki yang jauh lebih muda dariku.

Tak dipungkiri, aku membutuhkan sandaran harapan, namun ada yang tak mungkin dengan kehidupan baru ini jika bisa menjadi kenyataan. Akankah kehidupan baru ini aku jalani atau segera kuakhiri. Dalam kesendirian aku membatin, kenapa dia hadir di ujung senja usiaku. Entahlah......

Mungkin satu saat akan aku ceritakan kembali

(AhmadSastra,KotaHujan, 2017)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

4 komentar:

  1. Kisah ini sangat memotivasi. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam menjalankan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Kisah ini pun mengajarkan banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik seperti Sekar yang pernah mengetahui bahwa suaminya tidak pulang kerja selama 2 minggu dan ternyata suaminya berkencan dengan laki-laki (sesama jenis), kemudian suaminya bilang kalo dia sudah bertaubat hingga membuat hati Sekar luluh untuk menerima kembali suaminya hingga hamil anak kedua, dan terulang kembali kejadian dimana sang suami ketahuan berkencan dengan sesama jenis lagi atau gay. Hingga Sekar memutuskan untuk bercerai dari sang suaminya. Nilai yang didapat adalah Sekar jatuh ke lubang yang sama dalam artian bahwa ada masalah yang belum terselesaikan hingga membuat Sekar kembali jatuh ke lubang tersebut.
    Pesan yang saya dapat adalah "Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya".
    Karena Allah tahu Sekar seorang wanita yang kuat, sabar dan tangguh walaupun ia pernah depresi karena masalah yang dihadapi tapi ia bisa melewatinya bahkan sampai anak-anaknya beranjak dewasa.
    Dan juga kita harus berhati-hati dalam setiap mengambil keputusan jangan sampai salah langkah. Dan selalu libatkan Allah didalamnya.

    BalasHapus
  2. Kisah ini sangat memotivasi. Kisah yang mengajarkan bahwa hidup itu penuh dengan lika-liku. Sekar yang mengajarkan ia pernah jatuh kedua kalinya ke lubang yang sama yang artinya masih ada masalah yang belum terselesaikan sehingga ia kembali jatuh ke lubang tersebut untuk memperbaikinya meski pada akhirnya diluar dari apa yang diinginkan.
    Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya. Kita juga bisa memetik hikmah dari sini bahwa setiap mengambil keputusan harus berhati-hati, harus dipikirkan dengan matang, jangan sampai kita salah mengambil langkah. Dan juga selalu libatkan Allah didalamnya.

    BalasHapus
  3. Kisah ini sangat memotivasi. Banyak hal yang bisa didapat dari kehidupan Sekar yang penuh lika-liku. Ia harus jatuh tuk kedua kalinya ke lubang yang sama dengan memberikan kesempatan kepada sang suami yang ternyata seorang gay. Dalam artian Sekar masih memiliki masalah yang belum terselesaikan dan harus memperbaikinya walaupun pada akhirnya Sekar dan suami harus berpisah.
    Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya. Sekar adalah wanita yang kuat, sabar, dan tangguh. Meski ia pernah di fase depresi namun itu bisa terlewati dengan baik hingga bisa merawat anak-anaknya seorang diri hingga beranjak dewasa. Itulah mungkin Allah memberi ujian kepada Sekar.
    Kita pun bisa belajar dari Sekar bahwa setiap mengambil keputusan harus hati-hati dan matang, jangan sampai salah mengambil langkah. Dan juga selalu libatkan Allah di dalamnya.

    BalasHapus
  4. Masya Allah
    Sosok wanitanya sungguh penyabar dan tabah. Tangisannya bagaikan air mata surga. Allah pun menguji hamba Nya, karena Allah tau bahwa hamba itu kuat. Dan Allah takkan menguji diluar batas kemampuan hamba Nya.

    Tanggapan perempuan itupun sngat tepat bahwa Allah maha mengetahui segala pengaduannya.

    BalasHapus