ULAMA DAN TRADISI LITERASI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 12 Maret 2020

ULAMA DAN TRADISI LITERASI



Oleh : Ahmad Sastra

Islam adalah sains dan peradaban, spiritual dan ideologi sekaligus. Karena itu paradigma ilmu dalam Islam tidak bisa dipisahkan dengan iman dan adab. Islam bersifat holistik dan tidak sekuleristik.

Inilah mengapa agama ini juga dipandang sebagai ideologi [worldview] yang telah melahirkan peradaban agung dalam sejarah. Agama yang terakhir dan dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW ini kemudian oleh Allah diperuntukkan untuk seluruh manusia di dunia, tidak hanya sebatas untuk kaum, suku dan bangsa tertentu.

Allah mengutus Rasulullah agar menjadi rahmat bagi alam semesta melalui ilmu dan dakwah. Usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas bagi seorang muslim, pertama kali harus diorientasikan untuk membangun masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan manhaj Allah.

Rasulullah diutus dalam konteks sosiologis yang telah mengalami kerusakan total, saat paradigma jahiliyah telah merajalela, saat masyarakat dibangun dengan selain manhaj Allah. Islam hadir ketika masyarakat mengalami kegelapan peradaban. Dengan cahaya ilmu dan iman, Rasulullah berhasil mengubah masyarakat jahiliyah kepada masyarakat berperadaban mulia.

Menebarkan ajaran Islam memerlukan keimanan dan pemahaman tentang realitas sebagai hakekat keimanan dan wilayahnya dalam sistem kehidupan. Keimanan dan tataran inilah yang akan menjadikan kebergantungan secara total kepada Allah, serta keyakinan bulat akan pertolonganNya kepada kebaikan serta perhitungan akan pahala di sisiNya, sekalipun jalannya sangat jauh.

Rasulullah sejak awal telah meletakkan pengajaran Islam yang dimulai dari rumah al Arqom. Berbagai ilmu diberikan kepada para sahabat sebagai bentuk pemahaman dan kesadaran hingga kelak melahirkan peradaban agung yang bertahan 15 abad lamanya. Pantaslah jika Allah memberikan predikat Rasulullah dan umatnya sebagai umat terbaik yang dilahirkan di dunia ini.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran : 110).

Terkait kontribusi muslim terhadap peradaban Islam, Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa jika karya seorang muslim tidak lebih baik dibandingkan non muslim, maka seluruh kaum muslim harus bertanggungjawab di hadapan Allah kelak. Maka sejarah peradaban Islam adalah fragmen kontribusi para ilmuwan dan ulama dengan berbagai bidang ilmunya.

Dengan berbagai karya literasi para ilmuwan dan ulama terdahulu telah menjadi Islam sebagai mercusuar peradaban dunia sepanjang masa. Selama Islam dijadikan sebagai sumber epistemologi, maka selama itu pula peradaban ISlam akan terus tegak berdiri. Sebaliknya, ketika muslim telah meninggalkan Islam [sekuler], disaat yang sama peradaban Islam akan runtuh berkeping. Selain tentu saja adanya ghozwul fikr yang terus dihembuskan oleh epistemologi Barat.

Berbagai karya besar para ilmuwan ulama terdahulu telah mewarnai peradaban agung ini. Ilmu-ilmu seperti kedokteran, matematika, astronomi, teknik, arsitektur, seni, musik, politik, hukum, pendidikan, sosiologi, geografi, spasial, optik dan bidang keilmuwan lainnya. Karya-karya literasi mereka telah ratusan tahun menjadi mutiara peradaban yang bahkan telah menginspirasi kemajuan Barat hari ini.

Karena itu kedudukan ulama dalam pandangan Islam sangat istimewa. Allah memberikan kedudukan mulia kepada para ulama dan ilmuwan yang senantiasa berfikir bagi kemajuan peradaban. Derajat kemuliaan ulama dikarenakan kontribusinya bagi kebajikan manusia dan kehidupan dengan landasan ilmu dan iman.

Seorang ilmuwan muslim, selain mengasaskan kepada wahyu juga selalu fokus kepada kaedah scientific base yang obyektif yang mampu memberikan lentera bagi gelapnya kompleksitas permasalahan sosial politik bangsa yang kadang lahir dari interpretatif base. Menjaga dan merawat ilmuwan adalah menjaga lentera untuk tetap menyala. Matinya ilmuwan dan ulama adalah kegelapan bagi sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seorang ulama dan ilmuwan muslim tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan membawa kebahagian dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit. Imam al Ghazali misalnya, pernah menyatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Inilah karakter dan cermin adab seorang ulama.

Menjaga dan merawat spirit ilmu adalah sebuah pertanda akan kemajuan peradaban sebuah bangsa. Membonsai dan mengebiri peran ulama dan ilmuwan adalah upaya sengaja untuk menghancurkan peradaban sebuah bangsa. Biarkan ilmuwan bekerja dengan dunianya, negara hanya berkewajiban merawat, menjaga dan memberikan penghargaan tinggi bagi peran dan urgensitasnya.

Apalah jadinya kehidupan sebuah bangsa tanpa cahaya ilmu para ulamanya. Kerusakan epistemologi telah membawa bangsa Arab pada kubangan jahiliah sebelum datangnya cahaya ilmu Islam. Kerancuan epistemologi di dunia Barat hari ini, juga telah menghasilkan fenomena sosial budaya yang destruktif bagi manusia adan kehidupan modern.

Seorang ilmuwan dan ulama akan terus berfikir fundamental dan holistik, suatu cara berfikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Tak satu hal yang bagaimanapun kecilnya yang luput dari pemikiran seorang ilmuwan sesuai bidang kajiannya. Tak ada suatu pernyataan (postulat) yang bagaimanapun sederhananya yang diterima begitu saja tanpa pengkajian yang seksama.

Karena itu, ilmuwan dan ulama tidak bisa dipisahkan dengan budaya literasi. Namun justru mutiara inilah yang kini hampir hilang di kalangan kaum muslimin. Jika ilmuwan dan ulama muslim bangkit lagi dengan tradisi literasi, maka lentera peradaban mulia akan kembali menerangi gulita peradaban modern yang sekuleristik.

[AhmadSastra,KotaHujan,12/03/20 : 17.17 WIB]

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar