JAHE : DARI RAMUAN AWET MUDA HINGGA PENANGKAL VIRUS CORONA ? - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 03 Maret 2020

JAHE : DARI RAMUAN AWET MUDA HINGGA PENANGKAL VIRUS CORONA ?



Oleh : Ahmad Sastra

Di tengah hebohnya virus corona, jahe merah disebut-sebut dapat menangkal virus corona. Hal itu dikarenakan kandungan di dalamnya dapat menguatkan sistem imun tubuh sehingga tidak mudah terinfeksi oleh bakteri atau virus. Tapi benarkan jahe bisa menjadi penangkal virus corona ?

Paasca pengumuman presiden bahwa ada 2 pasien di Depok dinyatakan positif terinfeksi virus corona, maka masyarakat mencari jahe merah sebagai penangkalnya. Parno (50), penjual bumbu dapur di pasar ini mengaku hampir menghabiskan 50 kilogram (kg) jahe merah hari ini yang dijualnya seharga Rp 50 ribu/kg. Menurutnya, sejak satu minggu ini banyak yang mencari jahe merah untuk menangkal virus corona.

Pedagang jahe merah lainnya, Wati (52), juga mengaku kebanjiran pesanan jahe merah. Jahe merah dagangannya selalu habis sejak Jumat (28/2/2020) kemarin. "Dagangan (jahe merah) saya selalu habis dari Jumat. Anti corona ini (jahe merah)," ucapnya.

Jahe adalah tumbuhan ciptaan Allah, maka dipastikan mengandung manfaat dan khasiat. Sebab tidaklah ada yang sia-sia dari apa yang diciptakan oleh Allah. “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS Al Anbiyaa : 16)

Jahe (Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Jahe termasuk suku Zingiberaceae (temu-temuan). Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dari kata Yunani zingiberi, dari Bahasa Sanskerta, singaberi.

Jahe dikenal dengan nama umum (Inggris) ginger atau garden ginger. Nama ginger berasal dari bahasa Prancis: gingembre, bahasa Inggris lama: gingifere, Latin: ginginer, Yunani (Greek): zingiberis (ζιγγίβερις). Namun, kata asli dari zingiber berasal dari bahasa Tamil inji ver. Istilah botani untuk akar dalam bahasa Tamil adalah ver, jadi akar inji adalah inji ver.

Di Indonesia jahe memiliki berbagai nama daerah. Di Sumatra disebut halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Karo), pege (Toba), sipode (Mandailing), lahia (Nias), sipodeh (Minangkabau), page (Lubu), dan jahi (Lampung). Di Jawa, jahe dikenal dengan jahe (Sunda), jae (Jawa), jhai (Madura), dan jae (Kangean). Di Sulawesi, jahe dikenal dengan nama layu (Mongondow), moyuman (Poros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Baree), laia (Makassar), dan pace (Bugis). Di Nusa Tenggara, disebut jae (Bali), reja (Bima), alia (Sumba), dan lea (Flores). Di Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan lai, di Banjarmasin disebut tipakan. Di Maluku, jahe disebut hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi (Ambon), sehi (Hila), sehil (Nusalaut), siwew (Buns), garaka (Ternate), gora (Tidore), dan laian (Aru). Di Papua, jahe disebut tali (Kalanapat) dan marman (Kapaur). Adanya nama daerah jahe di berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan penyebaran jahe meliputi seluruh wilayah Indonesia.

Jahe adalah sumber vitamin, mikronutrien, dan minyak esensial yang dapat memperkuat, menyegarkan, serta menjadi anti-inflamasi pada tubuh. Dilansir dari Bright Side, berikut 12 manfaat jahe : 1). Menghilangkan Selulit, Mempercepat proses metabolisme dan menghilangkan rasa mual. 3) Merangsang kerja otak. 4) Menghalau proses penuaan. 5) Membantu dengan penurunan berat badan. 6). Kulit bercahaya. 7) Antitumor. 8) Membantu menghilangkan jerawat. 9) Menormalkan komposisi darah. 10) Merangsang pertumbuhan rambut dan mencegah ketombe serta kerontokan rambut. 11) Membantu meningkatkan kesuburan pria. 12) Membantu mengatasi radang otot. 13 ) Mengatasi masalah pencernaan. 14) Membantu proses detoksifikasi dan mencegah penyakit kulit.

Namun ditegaskan oleh Dr. Handrawan Nadesul dengan judul Virus Corona Bukan Virus Dengue bahwa virus corona adalah satu dari ribuan jenis virus yang masing-masing memiliki tabiat dan cara penularannya tersendiri.

Vurus corona menular lewat percikan ludah (droplet infection). Artinya virus keluar dari tubauh penderita (saluran nafas) lewat percikan ludah sewaktu batuk, bersin dan bercakap-cakap. Ini serupa dengan penularan basil TBC. Virus corona akan menular dalam jarak sekitar 2 meter, itupun jika batuk dan bersin. Memang percikan ludah akibat batuk itu bisa melekat di berbagai tempat seperti lantai, kursi, pintu dan lainnya.

Jahatnya virus corona adalah karena daya tularnya yang tinggi dibanding sekerabat corona lainnya. Namun, untungnya, angka kematian corona virus tetap hanya 2 persen saja dibanding SARS yang bisa 15 persen. Maka, melakukan upaya pencegahan itu lebih penting.

Menyinggung soal viralnya kabar bahwa jahe bisa menjadi penangkal corona, Handrawan menyatakan tidak mungkin jahe bisa menyembuhkan corona, sebab tidak masuk akal secara medis. Bahwa Jahe dan kunir berfungsi sebagai penguat daya tahan tubuh memang benar. Maka, kekebalan tubuh adalah upaya pencegahan, bukan pengobatan.

Namun ada yang unik dari manfaat jahe yang tertulis pada point 4 dan 6 diatas, yakni manfaat jahe berkaitan dengan kulit dan proses penuaan. Ternyata jahe juga berkhasiat untuk menghalau proses penuaan dan bisa menjadikan kulit lebih bercahaya. Apakah ini ada hubungannya dengan awet mudanya para penghuni surga ?. Sebab jahe adalah salah satu minuman para penghuni surga. Wallahua’lam, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah dari rasulullah SAW yang bersabda, “ Penyeru memanggil,” Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wa alfiat dan tidak menderita sakit selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang senang dan tidak sengsara selama lamanya.” (HR Muslim)

Jahe adalah tumbuhan/tanaman yang namanya disebut-sebut Al-Quran dan juga digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai pengobatan. Dari Abu Sa’id Al Khudri dia menceritakan: “Raja Romawi pernah menghadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam satu karung jahe. Beliau memberikan kepada setiap orang satu potong untuk dimakan dan aku juga mendapatkan satu potong untuk kumakan.” (HR: Abu Nuaim).

Sementara Allah berfirman : “Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.“ (QS: Al Insan (76 ) : 17 )

Para ulama berpendapat bahwa yang dimaksud di dalam ayat ini adalah minuman surga yang di campur zanjabil (jahe). Dalam Tafsir Nurul Qur’an oleh Sayyid Kalam Faqih, beliau mengutip dari perkataan Ibnu Abbas bahwa: “Kenikmatan – kenikmatan yang telah disebutkan Allah dalam al Qur’an adalah yang namanya kita kenal. Misalnya, Dia menyebutkan “minuman segar di campur zanjabil”, zanjabil adalah nama untuk jahe, yaitu tanaman akar – akaran yang aromanya sangat disukai oleh orang Arab (Faqih, 2006 : 52).

Jadi terjawab sudah bahwa jahe dan kunyit hanya berfungsi sebagai penguat daya tahan tubuh yang bisa berfungsi sebagai penangkal berbagai penyakit, bukan sebagai obat bagi yang terinfeksi virus corona. Jahe juga sebagai minuman para ahli surga juga bukan bermakna ramuan awet muda di surga. Sebab meski segala penyakit ada obatnya, namun Allah juga Yang Maha Penyembuh. Sementara awet mudanya penghuni surga, tentu bukan karena jahe, namun karena kehendak Allah semata.

(AhmadSastra,KotaHujan,03/03/20 : 11.30 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar