WASPADA CORONA, TUNTASKAN JIWASRAYA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 14 Maret 2020

WASPADA CORONA, TUNTASKAN JIWASRAYA



Oleh : Ahmad Sastra

Ketika wabah telah menyebar pada suatu negeri, maka negara harus secara serius menanganinya. Negara mesti hadir dalam menangani coronavirus ini secara serius komprehensif dan profesional. Negara tidak boleh abai atas kondisi rakyat dan cuci tangan atas penanganan wabah coronavirus. Jangan menyerahkan solusinya kepada rakyat disaat rakyat menghadapi musibah. Itu artinya pemerintah lepas tangan.

Indonesia harus mengambil pelajaran atas rakyat china yang telah menjadi korban akibat terinfeksi coronavirus. Virus Corona yang dikenal sebagai 2019-nCoV atau Covid-19 hingga Senin (17/02/19) telah menewaskan 1.864 ditambah yang terinfeksi virus sebanyak 73.243 orang.

Virus yang muncul pertama kali di Wuhan China ini sebenarnya telah diprediksi jauh-jauh hari. Sebuah artikel berjudul, “Bat Coronavirus in China” dimuat di jurnal virus 2 Maret 2019. Dalam abstraknya, ilmuwan dari laboratorium kunci CAS untuk Patogen khusus dan keamanan hayati dari Institut Virologi Wuhan China dan University of Chinese Academy of Sciences, Beijing, China, menjelaskan tentang tiga jenis virus corona zoonosis yang menimbulkan wabah berskala besar.

Tiga penyakit itu adalah sindrom pernafasan akut parah (SARS), sindrom pernafasan timur tengah (MERS) dan sindrom diare akut babi (SADS). Ketiga jenis virus ini sangat patogen terhadap manusia dan binatang ternak. Babi dan kelelawar adalah dua diantara binatang yang agen penularan coronavirus. Penularan coronavirus ini memang tergolong sangat cepat.

Munculnya coronavirus awal tahun 2020 ini telah menggegerkan dunia. Ribuan manusia telah tewas akibat terinfeksi coronavirus. Banyak kajian terkait munculnya coronavirus, baik perspektif teologis, ideologis, politis hingga ekologis. Padahal dalam Islam bencana terbesar bukanlah kematian manusia, melainkan kematian agama.

Manusia mati itu biasa, jika ajal telah tiba, sementara kematian agama adalah bencana. Coronavirus menjadi ancaman bagi kematian manusia, sementara virus sekulerisme telah membunuh agama. Sekulerisme adalah pintu menuju ateisme. Ateisme adalah puncak kesombongan manusia karena tak lagi percaya Tuhan dan agama. Jika coronavirus telah menelan ribuan manusia, maka secularvirus telah membunuh jutaan muslim di dunia.

Dari secularvirus inilah muncul berbagai perilaku manusia yang menjauhi agama dan dan mendekati berbagai perilaku melawan agama. Secularvirus ini telah menjalar ke hampir semua dimensi manusia seperti pendidikan, politik, ekonomi, budaya, hukum dan sosial.

Dari sinilah muncul berbagai tindak amoral (fasat) suatu bangsa dan ini pulalah yang sesungguhnya telah mendatangkan berbagai musibah kepada bangsa tersebut. Di bidang ekonomi telah melahirkan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Di bidang budaya lahirlah amoralitas seperti LGBT, seks bebas dan prostitusi.

Virus sekuler juga telah melahirkan pemimpin yang selalu mendustakan agama yang akan memporak-porandakan kehidupan suatu bangsa. Hukum sekuler bahkan telah melegitimasi perilaku menyimpang atas nama kebebasan dan hak asasi manusia. Sekularvirus inilah yang sesungguhnya menjadi sebab datangnya berbagai musibah pada bangsa ini.

Negeri ini memang harus waspada atas coronavirus, tapi janga lupa menuntaskan berbagai kasus besar seperti korupsi Jiwasraya, Asabri, Pertamina, KPU, BPJS, Inalum, Bumiputra, PTPN, Pelindo dan Migas, serta kaburnya para koruptor. Inilah kasus-kasus besar yang telah menjadi musibah bagi bangsa ini. Sebab dengan mendiamkan kemungkaran, maka Allah akan mendatangnya musibah.

Segala sesuatu yang menimpa manusia yang sebenarnya tidak diharapkan disebut sebagai musibah. Musibah menghampiri manusia bisa sebagai pertanda kekuasaan Allah semata, namun juga bisa karena akibat ulah dan perilaku manusia. Berbagai kerusakan di bumi banyak yang diakibatkan oleh manusia sendiri.

Hal ini sangat relevan dengan firman Allah dalam Al Qur’an surat Ar Ruum : 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30).

Maka, tidak ada jalan lain dalam menyikapi segala bencana yang bertubi menimpa negeri ini kecuali melakukan tobat nasional, sambil terus melakukan usaha profesional dalam menanganinya. Contohlah Khalifah Umar Bin Khathab saat negaranya mengalami gempa, maka pertama-tama yang disadari adalah telah adanya kemaksiatan di negaranya, lantas menghimbau rakyatnya untuk bertobat.

Nah, segala musibah harus disadari sebagai akibat dari pola tingkah manusia itu sendiri. Allah sangat mudah untuk mencabut bencana, semudah mendatangkan. Allah ingin menunjukkan kemahakuasanya jika telah menghendaki sesuatu. Tinggal manusia, apakah mau sadar dan bertobat atau tetap dengan kezoliman dan keangkuhannya.

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An Nisaa’ : 17)

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang (QS Al Baqarah : 160)

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At Tahrim : 8)

(AhmadSastra,KotaHujan,14/03/20 : 19.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar