PSBB : PENERAPAN SYARIAH BERSKALA BESAR - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 18 April 2020

PSBB : PENERAPAN SYARIAH BERSKALA BESAR



Oleh : Ahmad Sastra

Syariah Islam adalah hukum terbaik yang datang dari Allah Yang Maha Adil. Islam hadir untuk memberikan rahmat bagi alam semesta. Rasulullah hadir untuk segenap umat manusia sedunia. Ketika syariah tak lagi diterapkan di muka bumi, maka kehidupan dunia menjadi carut marut. Saatnya umat Islam sedunia andil dalam perjuangan penerapan syariah Islam berskala besar (PSBB) yakni di seluruh dunia.

Islam adalah jalan hidup yang tidak hanya berdimensi ritual, Islam juga memiliki dimensi ilmu dan peradaban. Karena itu kemajuan Islam bukan hanya ditimbang dari sisi ritualistik semata, melainkan juga ditimbang sejauh mana Islam memancarkan rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Kemuliaan Islam bukan hanya untuk dirasakan oleh individu tapi untuk seluruh manusia di dunia. ” Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa : 107).

Islam mengumumkan dengan jelas akan kesatuan manusia dalam skala dunia antara seluruh penduduk dan masyarakat. Semua itu dalam satu lembah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Karena itu Islam telah menaklukkan berbagai macam penduduk, memberikan asas yang mengandung pokok-pokok dasar universal yang menghimpun secara nyata.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujurat : 13).

Dalam perspektif historis, pengetahuan dari berbagai bidang keahlian, peradaban ilmiah dengan berbagai macam bentuknya dapat dirasakan oleh penduduk dunia dalam bentuk peradaban Islam. Peradaban Islam punya andil besar dalam membina peradaban kemanusiaan yang manusia dan mulia. Kecintaan muslim kepada agama dan ilmu telah memberikan sumbangsih dalam pergerakan ilmiah, dalam karya-karya mereka bahkan hingga mencapai puncak kecermelangannya. Peradaban Islam hadir dengan memberikan manfaat universal.

Sejarah tradisi keilmuwan dalam Islam sesungguhnya dimulai dari lahirnya Islam itu sendiri. Rasulullah, sahabat dan para ulama pendahulu telah menancapkan tradisi ilmu. Al Quran mengandung banyak ayat yang menganjurkan umat Islam untuk senantiasa menggali ilmu dengan cara berfikir atau bertafakur. Biasanya Allah menyebut orang-orang beriman yang mau berfikir tentang segala penciptaan Allah dengan istilah Ulil Albab.

Ibnu Sina pernah berkata, " Jika ada persoalan yang terlalu sulit bagiku, aku pergi ke masjid dan berdoa, memohon kepada Yang Maha Pencipta agar pintu yang telah tertutup bagiku dibukakan dan apa yang tampaknya sulit menjadi sederhana. Biasanya, saat malam tiba, aku kembali ke rumah, menghidupkan lampu dan menenggelamkan diri dalam bacaan dan tulisan". Hal ini menandaskan bahwa tradisi keilmuwan dan semangat pembelajaran telah lama berlangsung.

Ibn Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mendefinisikan ilmu secara istilah dengan pengetahuan yang didasarkan oleh dalil. Dalil yang dimaksud oleh Ibn Taimiyyah bisa berdasarkan wahyu Al Qur’an ( al naql al mushaddad) dan bisa juga berupa hasil penelitian ilmiah (al bahts al muhaqqaq). Ilmu yang memberi manfaat dalam pandangan Ibn Taimiyyah adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah. Karenanya sesuatu bisa dikatakan ilmu jika dari proses penukilan yang benar dan penelitian yang benar.

Bagi Ibn Taimiyyah ilmu juga berkaitan erat dengan keyakinan. Jika seseorang yakin berarti menunjukkan bahwa ilmu telah bersemayam dalam dirinya. Dengan kata lain, kalau pemikiran-pemikiran filosofis seperti yang berlaku dalam metafisika tidak mendatangkan keyakinan, itu berarti pemikiran-pemikiran itu belum bisa dikatakan sebagai ilmu. Sebab jika pemikiran-pemikiran semacam itu berstatus ilmu, pasti akan mendatangkan keyakinan.

Ilmu secara umum berbeda dengan Ilmu dalam pandangan Islam. Ada basis nilai dalam keilmuwan Islam atau yang sering disebut sebagai tsaqafah Islam. Tsaqafah Islam adalah pengetahuan-pengetahuan yang menjadikan akidah Islam sebagai sebab dalam pembahasannya. Pengetahuan tersebut bisa mengandung akidah Islam dan membahas tentang akidah, seperti ilmu tauhid.

Bisa juga pengetahuan yang bertumpu kepada akidah Islam, seperti fiqih, tafsir dan hadits. Juga pengetahuan yang terkait dengan pemahaman yang terpancar dari akidah Islam barupa hukum-hukum, seperti pengetahuan-pengetahuan yang mengharuskan ijtihad dalam Islam, seperti ilmu-ilmu bahasa Arab, musthalah hadits dan ilmu ushul. Semuanya termasuk tsaqafah Islam, karena akidah Islam menjadi sebab dalam pembahasannya.

Tsaqafah Islam seluruhnya kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Dari keduanya, dengan memahami keduanya, dan yang mengharuskan keduanya, muncul seluruh cabang tsaqafah Islam. Keduanya termasuk juga dalam tsaqafah Islam, karena akidah Islam mengharuskan meng-ambil keduanya, dan terkait dengan apa yang dibawa oleh keduanya. Al-Quran telah turun kepada Rasulullah saw agar beliau menjelaskannya kepada manusia.

Allah Swt berfirman: Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia. (TQS. an-Nahl [16]: 44). Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)

Pemikiran Islam telah mengubah bangsa Arab dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran Islam juga telah melahirkan revolusi radikal di dalam kehidupan mereka secara keseluruhan. Sebelumnya, mereka menyembah patung -dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah- kemudian beralih pada penyembahan kepada Allah semata.

Demikian pula, sebelumnya ikatan kesukuan (ar rabithah al qabiliyyah) menjadi pengikat satu dengan yang lain. Kemudian ikatan itu berubah, yakni dengan menjadikan aqidah Islam sebagai pengikat yang kokoh di antara mereka. Demikian juga sebelumnya, kepentingan pribadi dan suku menjadi tolak ukur di dalam kehidupan mereka. Kemudian tolok ukut itu berubah, yakni dengan menjadikan halal dan haram sebagai satu-satunya tolok ukur bagi mereka. Pemikiran Islam telah memberikan sifat kepada mereka dengan sifat-sifat akhlaq yang terpuji, seperti jujur dalam bertutur, menyambung shilaturrahim, dan berbuat baik pada tetangga.

Pemikiran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan, dan akhlaq. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam aqidah dan ibadah. Sedangkan aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian, dan akhlaq. Selebihnya adalah aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, semisal, masalah mu’amalah, ‘uqubaat, dan politik luar negeri.

Optimisme akan hadirnya kembali kegemilangan peradaban Islam dinyatakan oleh Ahmad Y al- Hasan, "Marilah kita meletakkan skenario hipotesis: jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan dan jika ekonomi negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam waktu 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Copernicur, Galileo, kepler dan Newton?. Model-model planetarium Ibn al-Shatir dan astronomer-astronomer muslim yang sekualitas Copernicus dan yang telah mendahului mereka 200 tahun membuktikan bahwa system Heliosentris dapat diproklamirkan oleh saintis muslim, jika komunitas mereka terus eksis dibawah skenario hipotesis ini".

Landasan ilmu dan peradaban Islam yang dulu pernah berjaya adalah konsep yang ada dalam al-Qur'an dan sunnah. Konsep itu kemudian ditafsirkan, dijelaskan dan dikembangkan menjadi berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Keseluruhan kandungan al-Qur'an dan Sunnah itu direfleksikan oleh para ulama menjadi berbagai bidang ilmu sebagai pandangan hidup Islam. Semua bidang ilmu saat itu mengandung ruh dan nilai Islam.

Dengan demikian, Islam adalah agama wahyu sekaligus agama peradaban. Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Islam telah memancar dari kesadaran satu bangsa yang begitu bersahaja, tidak bersentuhan dengan kebudayaan lama yang manapun juga dan menduduki suatu daerah geografis tempat tiga benua bertemu bersama-sama.

Kebudayaan (baca : peradaban) baru itu telah menemukan suatu dasar kesatuan dunia dalam prinsip Tauhid. Islam sebagai suatu lembaga merupakan suatu cara praktis yang akan membuat prinsip itu sebagai faktor yang hidup dalam pikiran dan perasaan manusia. Islam menetapkan kesetiaan itu kepada Tuhan, bukan kepada mahkota. Dan selama Tuhan itu yang menjadi dasar rohaniah terakhir segala hidup, maka hakekat kesetiaan kepada Tuhan merupakan kesetiaan terhadap cita-citanya sendiri.

Penghambaan kepada Tuhan bersifat kekal dalam kondisi dan perubahan apapun. Karenanya Islam mestinya menjadi dasar dan prinsip-prinsip yang abadi untuk mengatur kehidupan secara kolektif, sebab keabadian itu memberikan tempat yang aman bagi kita dalam suatu dunia dengan kondisi yang terus berubah-ubah secara terus menerus.

Dengan landasan syariah, sebuah peradaban bangsa akan bermartabat dan mensejahterakan, dengan catatan syariah Islam diterapkan di seluruh dunia. Nilai-nilai universal dan mulia Islam akan mampu memberikan pondasi kuat bagi tegaknya peradaban dalam jangka panjang. Secara historis, syariah telah mengantarkan kejayaan peradaban Islam selama berabad-abad. Upaya mengembalikan martabat peradaban bangsa dengan landasan syariah bukan hanya soal urgensitas dan mendesak, melainkan soal keimanan dan perjuangan umat. Nasib masa depan peradaban Islam ada di pundak kita hari ini.

(AhmadSastra,KotaHujan,18/04/20 : 22.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

1 komentar: