KETIKA NEGARA MEWARISKAN UTANG KEPADA RAKYATNYA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 24 Juni 2020

KETIKA NEGARA MEWARISKAN UTANG KEPADA RAKYATNYA



Oleh : Ahmad Sastra

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS An Nisaa’ : 9)

Ayat diatas menurut Tafsir An Nur karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy berkaitan dengan anak yatim yang mesti dipelihara sebagaimana anak sendiri, sebab anak yatim jika tidak dipelihara dengan sempurna, maka akan terlantar hidupnya. Islam, sangat memperhatikan anak-anak yatim, bahkan Rasulullah dijuluki sebagai abu al yatama, karena kasih sayangnya kepada anak yatim.

Negara yang berdasarkan syariah Islam pun sangat menjaga anak yatim agar tidak terlantar. Anak-anak yatim dan fakir miskin bahkan dijamin kehidupan ekonominya oleh negara Islam. Pada masa kekhilafahan Harun Al Rasyid bahkan tidak lagi bisa ditemui orang yang berhak menerima zakat. Ini membuktikan betapa negara Islam yang berlandasakan syariah sebagai sebagai negara ideal dalam mengurus urusan rakyat.

Meskipun ayat di atas, lebih cenderung kepada kesejahteraan ekonomi, namun negara Islam yang berbasis syariah memiliki maqosid al syariah (tujuan syariah). Secara umum tujuan ditegakkannya syariah adalah untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat dengan mengambil yang baik dan mencegah yang munkar.

Agar kebahagiaan dan keselamatan itu tercapai, maka syariah Islam yang diterapkan secara kaffah oleh negara bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kelima tujuan hukum Islam ini secara ideal hanya bisa dijalankan oleh negara Islam (khilafah), bukan negara sekuler.

Menjaga agama dalam khilafah maknanya adalah menjaga aqidah, ibadah dan akhlak rakyat agar tetap berjalan sesuai perintah Allah. Berbagai aqidah yang datang dari luar Islam, akan dicegah dengan tegas karena bisa membahayakan aqidah Islam. Jika aqidahnya tidak terjaga, maka ibadah dan akhlaknya otomatis juga akan rusak dan merusak.

Sementara negara sekuler justru merusak aqidah rakyatnya. Lihatlah berbagai negara demokrasi sekuler dimana kebebasan beragama tak dibatasi, bahkan tak beragama juga dibolehkan. Akibatnya adalah munculnya masyarakat yang destruktif karena telah memisahkan antara agama dengan kehidupan mereka, bahkan ada yang menjadi agnistik dan ateis Hampir semua bentuk kemungkaran ditumbuhsuburkan di negeri-negeri sekuler.

Negara sekuler dengan demikian adalah negara yang meninggalkan generasi yang lemah secara aqidah, bahkan rusak aqidahnya. Negara sekuler adalah negara yang mewariskan rakyat yang tidak menjadikan agama sebagai timbangan pola pikir dan pola sikapnya. Negara sekuler adalah negara yang mewariskan generasi yang jauh dari agama.

Implikasi sekulerisme bukan hanya sebatas soalnya lemahnya aqidah, namun akan meluas hingga kelemahan jiwa, akal dan keturunan. Manusia sekuler secara kejiwaan mengalami abnormalitas disebabkan jauhnya dia dari Tuhan. Akibatnya segala perbuatannya didasarkan oleh nafsu duniawi yang kemudian menimbulkan kegunjangan kejiwaan dan tidak pernah mencapai kebahagiaan hakiki.

Keguncangan kejiwaan menimbulkan depresi dan rasa tidak bahagia hidup di dunia karena kehilangan esensi tujuan hidupnya. Manusia sekuler kehilangan arah dalam hidupnya di dunia. Manusia sekuler adalah manusia yang jiwa dan akalnya tidak dibimbing oleh agama. Ketika jiwa dan akal tidak terbimbing oleh agama, maka jadilah manusia seperti binatang. Allah telah menyinggung manusia ‘tak berakal’ dengan mengibaratkan seperti binatang ternak.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf : 179).

Ayat diatas menunjukkan sebuah kondisi masyarakat sekuler liberal dimana pragmatisme duniawi menjadi pertimbangan dalam menjalani kehidupan, tanpa diatur oleh syariah Allah. Akibatnya lahirlah masyarakat yang selalu menyimpang dari hukum Allah dan menjalani kehidupan hedonistik liberal. Kehidupan amoralitas menjadi tontonan sehari-hari, sementara kebaikan justru dikriminalisasi.

Amoralitas dalam aspek keturunan berupa pergaulan bebas, seks bebas dan bahkan hubungan sejenis telah merusak secara total aspek keturunan. Perilaku menyimpang homoseksual dan lesbianisme justru dilegitimasi dalam hukum sekuler sebagai hak asasi manusia. Padahal perilaku ini sangat dilaknat oleh Allah karena merusak keturunan manusia. Kisah penyimpangan seksual kaum Nabi Luth mestinya menjadi pelajaran berharga bagi manusia hari ini.

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (QS Al A’raf : 80-81)

Dari sisi kesejahteraan rakyat, negara sekuler kapitalisme demokrasi justru mencekik kehidupan rakyat. Boro-boro mensejahterakan rakyatnya, negara sekuler justru mewariskan ribuan triliun hutang ribawi yang harus dibayar oleh rakyat. Sementara biaya kehidupan sehari-hari justru makin tinggi dan mencekik. Negara kapitalisme hanya mewariskan utang menggunung kepada rakyat yang sudah sengsara. Padahal utang ribawi sangat dilarang oleh Allah, sebab riba diharamkan dalam pandangan Islam. Pelaku riba seperti orang kerasukan setan karena tekanan penyakit gila.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS Al Baqarah : 275-276)

Sementara negara dikuasai oleh oligarki yang rakus terhadap dunia dengan menjarah seluruh sumber daya alam demi menumpuk kekayaan. Tak hanya sampai disitu, sumber daya alam milik rakyat justru dijual kepada penjajah asing dan aseng. Para begundal sekuler hanya menjadi jongos demi duniawi dengan mengorbankan rakyatnya sendiri. Mereka adalah pengkhianat nyata bagi agama dan rakyat.

Dengan demikian, sistem sekuler terbukti telah meninggalkan generasi lemah di semua aspeknya baik agama, ibadah, akhlak, akal, jiwa, harta dan keturunan. Sistem transnasional dari Barat ini telah nyata gagal dalam membangun masyarakat yang beriman, bertaqwa, sejahtera, bahagia dan selamat dunia akhirat. Ibarat mobil rongsok, maka sistem ini harus diganti dengan sistem yang lebih baik.

Karena sudah sangat nyata kegagalan, kebobrokan, dan kebiadaban sistem sekuler kapitalis demokrasi, maka umat Islam tidak boleh membiarkan semua kerusakan ini terus terjadi. Tidak ada jalan lain, bahwa sistem ini harus diganti dengan sistem Islam yang membawa rahmat dan berkah.

Sebab syariah Islam berasal dari Allah Yang Maha Adil. Keberkahan akan Allah limpahkan jika rakyat tunduk dan patuh kepada hukum Allah secara kaffah, jika membangkang maka kesempitan hidup yang akan didapatkan.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS Thahaa : 124).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf : 96)

(AhmadSastra,KotaHujan,24/06/20 : 22.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar