ISLAMISASI SAINS, SAINTIFIKASI ISLAM DAN SAINS ISLAM - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 30 September 2020

ISLAMISASI SAINS, SAINTIFIKASI ISLAM DAN SAINS ISLAM



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Mengapa saintis top dunia saat ini didominasi oleh ilmuwan ateis, bukan ilmuwan muslim ?. Mengapa umat Islam saat ini masih ada yang belum memahami, mana sains yang bebas nilai dan yang tidak bebas nilai. Apa solusi fundamental untuk kembali membangun peradaban Islam di abad ini ?. Apakah dengan langkah islamisasi sains, tradisi sains Islam atau saintifikasi Islam ?.

 

Islamisasi sains berbeda makna dengan sains Islam. Sains Islam juga berbeda dengan saintifikasi Islam. Paradigma islamisasi sains bermula dari sebuah  respons intelektual muslim atas kondisi tertentu. Sementara paradigma sains Islam bermula dari proses berfikir Islam.

 

Islamisasi sains merupakan cara membaca kondisi eksternal, sementara sains Islam merupakan kesadaran internal intelektualitas muslim. Sedangkan saintifikasi Islam adalah upaya intelektual untuk melakukan pembacaan saintifik atas berbagai aktivitas ibadah dalam Islam.

 

Banyak contoh paradigma saintifikasi Islam semisal gagasan korelatif antara sholat dengan kesehatan dan berwudhu dengan pencegahan virus corona. Banyak orang yang mengkaitkan ritual ibadah dengan dampaknya terhadap kesehatan fisik. Hal ini lumrah terjadi di kalangan masyarakat muslim.

 

Sementara, islamisasi sains berangkat dari cara pandang bahwa sains telah mengalami proses sekulerisasi, di mana nilai-nilai ketuhanan dipisahkan dari kehidupan. Istilah sekuler, oleh Naquib Al Attas disebut dengan istilah kedisinikinian. Ada latar belakang historis soal sekulerisasi ini. Dalam paradigma islamisasi sains, umat Islam kini tengah dihegemoni oleh sains sekuler, baik sains alam maupun sosial.

 

Peradaban Barat yang hari ini berkembang adalah bermula dari sebuah gagasan berbasis sekulerisme. Peradaban bermula dari cara pandang atas manusia, alam semesta dan kehidupan. Ilmu alam dan sosial yang dikembangkan oleh Barat bersifat destruktif karena pondasi sekulerisme ini.

 

Namun harus diakui bahwa metode pengembangan sains di dunia Islam hari ini sangat didominasi oleh pendekatan sekuleristik, bahkan di kampus-kampus Islam sekalipun. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang munculnya semangat kaum intelektual untuk melakukan langkah islamisasi sains.

 

Islamisasi sains sendiri mengalami berbagai hambatan dan kontroversi di kalangan intelektual muslim sendiri. Intelektual muslim yang kontra islamisasi sains berargumen bahwa sains atau ilmu itu bebas nilai, tidak perlu diislamisasi. Sementara yang pro islamisasi membangun argumen bahwa ilmu telah mengalami proses sekulerisasi, sehingga harus diislamkan.

 

Ada juga sebagian intelektual muslim yang membedakan antara tsaqafah tidak bebas nilai dengan ilmu yang bebas nilai. Tsaqafah dimaknai sebagai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehidupan seperti pendidikan, sosiologi, sejarah, ekonomi dan psikologi. Dalam perspektif ini, maka dibedakan antara tsaqafah Islam dan tsaqafah barat.

 

Konsekuensi dari pemilahan ini adalah bahwa seorang muslim haram hukumnya mengadopsi tsaqafah Barat seperti sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Sementara ilmu dana tau teknologi adalah bebas nilai, di mana seorang muslim boleh hukumnya menimba dari Barat, misalnya matematika atau teknologi sebagai alat.

 

Dalam pandangan mereka, tidaklah salah seorang muslim belajar membuat pesawat dari orang Barat. Bahkan seorang muslim harus lebih unggul di bidang teknologi dibandingkan orang Barat, sebab ilmu fardhu kifayah ini sangat penting bagi sempurnanya pelaksanaan fardhu ‘ain. Jadi, Barat tidak semua haram, tapi tidak semua halal.

 

Sifat destruktif peradaban Barat dalam paradigma islamisasi sains adalah sesuatu yang keliru. Sebab secara ontologi, epistemologi dan aksiologinya didasari oleh pandangan hidup sekuler. Aksiologi sains Barat terbukti menjadi alat penjajahan di dunia Islam yang sering disebut dengan istilah imperialisme epistemologi. Sementara paradigma pragmatisme sains Barat lebih banyak berorinetasi untuk mempertahankan dan mengembangkan kemaksiatan. 

 

Sementara sains Islam berangkat dari tradisi berfikir islami untuk membangun peradaban Islam baik terkait dengan manusia, kehidupan maupun alam semesta yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist. Dari berfikir islami terkait dengan tiga obyek inilah kemudian lahir tradisi literasi Islam dan sekaligus melahirkan berbagai ilmu berbasis aqidah Islam. Banyak sekali ayat yang berhubungan dengan sains Islam.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka [QS Ali Imran : 190-191]

 

Bahkan secara spesifik, budaya literasi telah disebutkan dalam al Qur’an, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.  [QS Al ‘Alaq : 1-5].

 

Sains Islam tentu sangat berbeda dengan sains sekuler. Umat Islam harus mampu membedakan keduanya agar mampu mengembalikan peradaban Islam dan tidak terjerumus kepada sekulerisme. Apakah berbandingan antara sains Islam dengan sains sekuler dari banyaknya ayat Al Qur’an yang dikutip ? Tentu saja tidak.

 

Membandingkan sains Islam dengan sains sekuler harus dengan parameter  aspek filsafat ilmu, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas tentang sebuah pertanyaan : mengapa penelitian atas suatu obyek harus dilakukan. Epistemologi merujuk kepada bagaimana tata cara penelitian harus dilakukan. Sementara aksiologi membahas tentang sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan dan bermanfaat.

 

Saintis muslim akan berontologi dengan tiga hal. Pertama, berkaitan dengan kebutuhan pokok (hajatul ‘udwiyah) atau kewajiban syariah. Suatu yang merupakan kebutuhan hidup dan merupakan kewajiban syariah adalah pantas diteliti. Untuk itulah Islam mendorong intelektual muslim untuk melakukan penelitian ilmu hingga ujung dunia, jika perlu.

 

Kedua, adalah segala sesuatu yang terinspirasi dari ayat Al Qur’an berupa pertanyaan yang bisa jadi tidak berhubungan dengan hajat hidup dan tidak terkait kewajiban syariah. Ketiga, termotivasi ayat Al Qur’an yang memberikan tantangan yang mau tidak mau menghajatkan pengembangan sains dan teknologi.

 

Sebagai contoh seorang saintis muslim akan meneliti yang berkaitan dengan kebutuhan pokok semisal sandang, pangan, papan, kesehatan agar semua kebutuhan itu terpenuhi dan seluruh kewajiban syar’iyah bisa terlaksana. Ada kaidah usul fikih yang menyatakan bahwa apa yang mutlak diperlukan untuk terpenuhinya sebuah kewajiban, maka hukumnya wajib pula.

 

Itulah mengapa Al Khawarizmi, sejarahnya mengembangkan ilmu aljabar karena suatu kebutuhan untuk menghitung pembagian waris secara akurat. Sebab hukum waris dalam Islam cukup rumit, tidak seperti hukum waris sekuler. Ada perhitungan yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an dalam hukum waris Islam, sementara hukum waris sekuler tergantung kepada pikiran manusia semata.

 

Ontologi kedua bagi saintis muslim adalah adanya ratusan ayat Al Qur’an yang menginspirasi riset di berbagai bidang. Semisal satu ayat saja yakni ayat di surat al Insan ayat 17 : Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (zanjabila). Maka timbul pertanyaan : ada apa dengan jahe ?. Lantas terdoronglah untuk melakukan riset khasiat jahe, apakah mengandung zat anti oksidan yang berkhasiat bikin awet muda ?.

 

Ketiga, ontologi saintis muslim tertantang dengan ayat-ayat Al Qur’an. Misalnya QS Ali Imran ayat 110 : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

 

Ayat ini menantang saintis muslim untuk menjadi umat terbaik yang punya kapabilitas untuk menggiring manusia kepada kebaikan dan mencegah serta menghalangi dari kemungkaran. Ayat ini sangat luas yang memberikan tantangan bagaimana mewujudkan umat terbaik.

 

Ada juga ayat tantangan dari Allah di QS Ar Rahman ayat 33 : Hai jama´ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthon). Tentu saja ayat ini menantang saintis muslim untuk melakukan penelitian ruang angkasa dengan peralatan canggih.

 

Allah menegaskan dalam firmanNya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS Ali Imran : 190 – 191).

 

(AhmadSastra,KotaHujan,30/09/20 : 01.50 WIB)

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar