JANGAN JADI SANTRI PALSU - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 26 Oktober 2020

JANGAN JADI SANTRI PALSU



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Kalimat tauhid adalah nilai paling esensial bagi seorang muslim, sebab tauhid adalah penentu antara keimanan dan kekafiran. Tauhid adalah esensi dakwah para Nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.  Semua Nabi dan Rasul adalah seorang muslim yang bertauhid.

 

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami semua adalah muslim [hanya tunduk patuh kepada-Nya]" [QS Al Baqarah : 136]

 

Para nabi adalah utusan Allah yang menyuruh manusia untuk menyembah Allah dan meninggikan kalimat tauhid ini. Seluruh nabi adalah muslim dan menyeru kepada penghambaan kepada Allah semata. Terkait dengan panji dan bendera sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani yang menyatakan bahwa panji (rayah) Rasulullah SAW berwarna hitam dan benderanya berwarna putih tertulis padanya laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.

 

Kalimat tauhid juga merupakan ikrar bagi kemusliman seseorang dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bentuk kesaksian diri sebagai muslim. Kalimat tauhid juga telah menjadi hiasan di berbagai tempat, baik rumah, masjid, dan tempat-tempat khusus bagi kaum muslimin. Terlebih saat seorang muslim meninggal dunia, maka keranda yang membawa jasadnya tertulis kalimat agung ini.

 

Maka jika ada seorang yang mengaku muslim, namun justru anti tauhid, baik esensi maupun simbol, maka tidak bisa lagi dikatakan sebagai muslim. Jika ada santri yang justru anti tauhid, maka itu pasti santri palsu. Adalah paradoks, jika ada santri yang mengaku muslim, namun hatinya justru membenci simbol tauhid, simbol Islam dan bahkan benci kepada muslim, namun berteman akrab dengan kaum kafir.

 

Bagi kaum muslimin di dunia, kalimat tauhid bukan lagi sekedar simbol, namun sebagai sebuah kalimat agung yang didalamnya tersimpan komitmen keimanan dalam perilaku dan sikap. Kalimat tauhid bukan hanya diucapkan dalam dalam acara-acara ritual, namun telah mendarah daging dalam setiap jiwa seorang muslim. Kalimat inilah yang telah menjadi energi dakwah dan perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya serta para nabi-nabi sebelumnya.

 

Tak mengherankan jika hari ini, di tengah gelombang perpecahan umat, kalimat ini kembali lahir dalam bentuk panji-panji dengan harapan kaum muslimin mengenal dan sadar akan pentingnya kembali kepada persatuan kaum muslimin. Dengan tegas Allah menyatakan bahwa umat Islam adalah umat yang satu, bertuhan satu Allah SWT.

Islam sesungguhnya memproklamirkan tauhid dalam arti pembebasan manusia secara umum di muka bumi dari penghambaan kepada manusia dengan cara memproklamirkan ketuhanan Allah semata dan kekuasaanNya untuk mengatur seluruh alam yang berarti revolusi total terhadap kedaulatan manusia dalam segala wajah, bentuk, sistem dan suasananya, serta perbaikan yang sempurna terhadap semua keadaan di muka bumi, ketika hukum di sana berada di tangan manusia dalam wajah apapun atau dengan ungkapan lain ketika di sana terjadi duplikasi ketuhanan manusia dalam berbagai bentuk.

 

Konsekuensi kalimat tauhid bagi kaum muslimin ini dipertegas  oleh firman Allah bahwa sesungguhnya kedaulatan hukum hanya milik Allah. Sesungguhnya hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS Yusuf : 40).

 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS Al An’am : 116).

 

Karena itu tidak mengherankan jika kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara menjadikan panji tauhid ini sebagai simbol sekaligus pusaka yang menegaskan akan identitas keislaman masyarakat dan institusi pada saat itu. Sebagai salah satu bukti adalah apa yang diungkapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada pembukaan kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta 8-11 Februari 2015 yang lalu.

 

Dalam pidato pembukaannya, Sri Sultan menyatakan bahwa pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam Turki untuk Tanah Jawa, dengan menyerahkan bendera laa ilaaha illah Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

 

Tahun 1479 berarti 466 tahun sebelum Indonesia merdeka. Itulah sebabnya banyak dibuktikan dalam sejarah bangsa ini bahwa para ulama dan santri dengan semangat jihad fi sabilillah mampu mengusir para penjajah dan menggapai kemerdekaan. Resolusi Jihad dalam mengusir penjajah adalah penguat argumentasi ini. Karena itu kalimat Tauhid sesungguhnya adalah identitas dan ruh perjuangan bangsa ini. Nama Jakarta yang semula bernama Jaya Karta adalah hasil perjuangan seorang ulama bernama Fatahillah dalam melawan penjajah.

 

Para ulama yang telah menjadi pahlawan bangsa ini pasti paham betul akan seruan Allah dalam Al Qur’an, Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(QS An Nisaa : 135).

 

Karena itu jika hari ini dan seterusnya panji-panji Islam berkibar, tak perlu ditakuti apalagi diperkarakan. Kalimat tauhid adalah ajakan kepada kaum muslimin untuk kembali kepada jati dirinya sebagai pembela kebenaran dan saksi perjuangan atas segala bentuk kezaliman dan penjajahan.

 

Bukankah negara ini harus diselamatkan dari berbagai bentuk penjajahan yang akan menghancurkan dan memecah belah umat dan bangsa. Sebaliknya, gelora kebangkitan umat ini mestinya disambut dengan gembira penuh kesyukuran. Sebab suasana ini mengindikasikan bahwa umat Islam telah bangun dari tidur panjangnya.

 

Oleh sebab itu, di hari santri Nasional dan peringatan maulid Nabi ini, saya mengajak kepada seluruh santri di seluruh Indonesia, jadilah pejuang-pejuang tauhid. Santri adalah para pejuang Islam yang tangguh dan kokoh dalam iman dan taqwa, tidak mudah digoda oleh kepentingan duniawi, apalagi kepentingan kaum kafir penjajah, jika akhirnya harus mengkhianati agama.

 

Jadilah santri sejati, jangan jadi santri palsu. Santri palsu adalah santri yang mengkhianati Islam dengan menjual agama demi keuntungan duniawi dari kaum kafir. Santri palsu adalah santri yang justru anti tauhid dan anti Islam serta anti simbol - simbol islam. Santri palsu adalah santri yang memuja thoghut seperti liberalisme, sekulerisme dan pluralisme. Santri palsu adalah santri anti syariah Islam. Jadilah santri sejati, jangan jadi santri palsu. Jadilah santri sejati pejuang tauhid, bukan santri liberal, pejuang kesesatan.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,26/10/20 : 11.20 )

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar