SAATNYA UMAT ISLAM BERSATU BOIKOT DEMOKRASI SEKULER - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 31 Oktober 2020

SAATNYA UMAT ISLAM BERSATU BOIKOT DEMOKRASI SEKULER

 


 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Demokrasi terkonfirmasi sebagai sistem busuk yang anti Islam. Pelecehan Rasulullah oleh presiden Perancis memperkuat tesis ini. Atas nama kebebasan, oleh demokrasi orang kafir boleh menghina Islam dengan dalih kebebasan berekspresi. Sementara jika orang muslim membela Islam dan RasulNya atas nama hak justru disebut intoleran, bahkan radikal.   

 

Ada ironi lain di negeri ini, di tengah suara dan teriakan demokrasi yang menjujung tinggi kebebasan berpendapat, namun faktanya masih banyak terjadi tindakan persekusi. Akhir-akhir ini rasanya hampir tak ada lagi kebebasan di negeri ini. Perbedaan pendapat justru sering kali dianggap sebagai sebuah ancaman.

 

Demokrasi secara diametral memang bertentangan dengan Islam. Perbedaan mendasar antara demokrasi dan Islam terletak pada asas paradigma dimana dua ideologi ini tegak berdiri. Pijakan demokrasi adalah konsensus mayoritas, sementara Islam berpijak kepada otoritas wahyu.

 

Demokrasi adalah sistem destruktif karena membuka ruang kebebasan hampir tak terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan Islam. Islam adalah agama yang mengajarkan adab dan kebajikan dalam setiap aspek kehidupan. Nilai-nilai Islam membatasi setiap pemikiran dan sikap manusia. Karena itu kedua ideologi ini akan menemukan pertentangannya di lapangan. Sebab pada dasarnya demokrasi menolak Islam.

 

Penolakan demokrasi terhadap Islam adalah bentuk inkonsistensi yang selama ini dibangun diatasnya paradigma kebebasan. Namun sebagaimana ideologi yang lain seperti komunisme, maka setiap ideologi pasti menyimpan pertentangan satu dengan lainnya. Clash of ideologies adalah sebuah keniscayaan.

 

Itulah mengapa, meski slogan demokrasi adalah kebebasan berpendapat, namun jika umat Islam mulai bangkit dan sadar dengan agamanya, oleh demokrasi justru dihadang dan dilumpuhkan. Jika ada seruan umat Islam untuk bersatu, maka demokrasi langsung bereaksi memecah belahnya. Maka adu domba, fitnah, kriminalisasi hingga persekusi terhadap Islam dan ulama telah menjadi fenomena umum belakangan ini.

 

Yang dimaui oleh kebebasan demokrasi adalah kebebasan yang sesuai dengan paradigmanya. Hak asasi manusia yang digaungkan oleh demokrasi adalah hak asasi untuk melakukan perbuatan maksiat. Jika yang dilakukan oleh umat Islam adalah mendakwahkan Islam, maka demokrasi akan menuduh radikal dan intoleran. Sementara perilaku maksiat dibiarkan tumbuh subur.

 

Adalah benar jika disebutkan bahwa demokrasi bisa berubah menjadi sebuah tirani, jika kondisi sosial politik yang diinginkan demokrasi tidak terjadi. Eksistensi Islam adalah sebuah ancaman bagi demokrasi, maka persekusi adalah salah satu cara untuk menghentikan pergerakan pemikiran dan kebangkitan Islam. Demokrasi bisa berubah menjadi tirani.

 

Dalam buku Diktator karya Jules Archer disebutkan bahwa karena populernya demokrasi di seluruh dunia, maka tak segan-segan para pemimpin diktatorpun berbohong dan mengaku dirinya sebagai penganut demokrasi. Ulbricht dari Jerman Timur memberi cap bagi negara komunisme dengan istilah Republik Demokrasi Jerman. Bahkan Stalin menyebut kekuasaannya dengan istilah Demokrasi Terpusat.

 

Padahal pada faktanya mereka adalah manusia-manusia diktator anti agama. Namanya Joseph Vissarionovich Jugashvili Stalin dari Rusia, figur  misterius dan atheis, bekas agen rahasia Tsar. Dari seorang ayah yang pemabok dan sering memukulinya. Terinspirasi oleh karya-karya revolusioner sosialis marxis. Baginya agama adalah sebuah penipuan.

 

Tiga prinsip utama demokrasi yakni kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan dan kebebasan berserikat adalah paradigma utama yang justru menjadi metode untuk menguasai bangsa lain. Demokrasi, sebagaimana ideologi komunisme adalah bentuk imperialisme dengan cara yang lain. Kebebasan demokrasi Barat justru menjadi jeratan bagi bangsa lain.

 

Kebebasan kepemilikan ala demokrasi dimaksudkan untuk melakukan imperialisme dan kolonialisme terhadap sumber daya alam negeri-negeri muslim. Sementara Islam mengharamkan privatisasi atas sumber daya milik umum. Dengan dalih privatisasi, demokrasi sejatinya adalah penjajahan itu sendiri. Akibatnya negeri-negeri muslim terjerat hutang ribawi dan mengalami kebangkrutan, meski kaya akan sumber daya alam.

 

Itulah mengapa demokrasi tidak menginginkan kebangkitan Islam atau membenci gerakan rakyat yang dianggap merugikan hegemoni yang sedang mereka bangun. Hingga tak jarang kita temukan kaum muslimin yang justru berlomba ikut mendeskriditkan Islam dan kaum muslimin yang ingin memperjuangkan Islam. Tak segan mereka membebek barat dengan membangun narasi radikal atas segala upaya kaum muslimin menegakkan Islam.

 

Padahal Al Qur’an telah mengingatkan bahwa hanya Islam yang benar dan harus berhati-hati terhadap informasi yang [tabayun] terhadap proposisi yang berasal dari kaum fasik. Jangan sebaliknya, mencurigai perjuangan Islam dan membanggakan demokrasi sekuler. Lebih celaka lagi jika ada muslim yang memilih demokrasi dan menolak Islam.

 

Padahal secara genealogis sudah jelas, bahwa Islam tidak mungkin bisa dicampurkan dengan demokrasi. Keduanya memiliki asas dan paradigma yang berbeda terhadap manusia, alam semesta dan kehidupan. Apakah mungkin menyamakan demokrasi ala Barat dengan Islam ?. 

 

Keduanya berbeda, maka Islam melarang mencampur aduk antara haq dan bathil. “Dan janganlah kamu campur aduk kebenaran dan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”. [QS Al Baqarah : 42]

 

Karena itu Islam telah mengingatkan bahwa kebenaran adalah dari Allah semata, bukan ditentukan oleh suara mayoritas. Allah mengingatkan,”Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS Al An’am : 116).

 

Saat Rasulullah mengalami berbagai persekusi dalam dakwahnya oleh rezim berkuasa, maka Allah mengingatkan agar tetap tawakal. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakalah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (QS Al Ahzab : 48).

 

Nah oleh karena itu selain kecaman dunia kepada Perancis dengan seruan memboikot produk-produk Perancis, umat Islam juga mesti sadar bahwa demokrasi destruktif juga merupakan produk Perancis. Saatnya umat Islam mengambil hikmah dibalik penghinaan Rasulullah dengan lebih memahami betapa busuknya demokrasi. Saatnya umat Islam bersatu padu dan memboikot demokrasi sekuler.

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar