MACRON DAN BUSUKNYA DEMOKRASI DI PERANCIS - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 28 Oktober 2020

MACRON DAN BUSUKNYA DEMOKRASI DI PERANCIS



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Jika demokrasi benar-benar menghargai keragaman, maka mestinya tidak ada penghinaan atas keyakinan agama lain. Sebab sesungguhnya demokrasi adalah kebusukan sekaligus kejahatan,  penghinaan Rasulullah yang terjadi di perancis adalah salah satu indikasinya.

 

Demokrasi itu ibarat kendaraan yang mengalami rem blong, sopir demokrasi adalah orang mabok yang tidak tahu arah jalan, kondekturnya seorang penipu dan kernetnya orang yang mengalami gangguan jiwa. Jika demikian, kemana kendaraan itu tengah berjalan dan siapakah yang rela jadi penumpangnya ?.

 

Demokrasi adalah jalan setan yang akan berujung kepada malapetaka kehidupan. Demokrasi adalah puncak malapetaka masyarakat modern yang harus segera dilempar ke jurang peradaban. Prinsip kebebasan demokrasi yang destruktif telah sampai kepada puncak amoralitas manusia di dunia. Seluruh amoralitas di zaman para nabi, kini semua dilegitimasi oleh demokrasi sekuler. 

 

Atas nama kebebasan berekspresi, presiden Perancis, Emmanuel Macron laknatullah telah dengan sangaja menghina Rasulullah dengan sengaja menayangkan Kantun Nabi di dinding gedung pemerintah daerah di negera itu. Sontak kelakuan bejat Macron menuai banyak kecaman dari dunia.

 

Bukan hanya kecaman, bahkan Timur Tengah juga menyuarakan boikot atas produk Perancis. Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menilai Macron telah 'menyerang Islam. Ini terjadi pasca pemimpin Eropa itu mengkritik kelompok Islam dan membela penerbit kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

 

Hal ini akibat pernyataan Macron pekan lalu, setelah seorang guru di Prancis dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang ia pimpin, seraya berbicara soal kebebasan. Macron berujar sang guru 'dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita'.

 

Dalam cuitannya di Twitter, ia menilai Macron amat tidak bijak. Langkahnya menimbulkan perpecahan. "Ini adalah saat di mana Presiden Macron bisa memberi penyembuhan dan menyangkal ruang bagi para ekstremis daripada menciptakan polarisasi & marginalisasi lebih lanjut yang mengarah ke radikalisasi," tulis Khan, dikutip AFP, Senin (26/10/2020).

 

"Sangat disayangkan bahwa dia telah memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih atau ideolog Nazi." Macron telah memicu kontroversi sejak awal bulan ini. Ia mengatakan 'Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia'.

 

"Dengan menyerang Islam, jelas tanpa memahaminya, Presiden Macron telah menyerang dan melukai sentimen jutaan Muslim di Eropa dan di seluruh dunia," kata Khan lagi. Dalam Islam karikatur atau gambar yang menggambarkan nabi dilarang. Itu dianggap menghina dan menghadapi hukuman mati di Pakistan.

 

Kecaman serupa juga datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia menilai Eropa, termasuk Prancis, harus menyingkirkan Islamofobia. Erdogan mempertanyakan masalah Macron dengan Islam. Bahkan ia menilai Macron butuh perawatan mental. "Dia butuh perawatan mental. Apalagi yang bisa kita katakan kepada seorang presiden yang tidak memahami kebebesan berkeyakinan," katanya.

 

Begitupun prinsip kebebasan tanpa batas nilai yang dibawa demokrasi telah memporakporandakan pilar-pilar kehidupan dan kemanusiaan. Kebebasan berpendapat telah melahirkan berbagai aliran pemikiran sesat dan menyesatkan. Kebebasan kepemilikan telah melahirkan kolonialisme dan imperialisme negara-negara penjajah terhadap negara dunia ketiga.

 

Kebebasan berperilaku telah melahirkan budaya amoral yang lebih menjijikkan dari perilaku hewan. Budaya LGBT, free sex, pelacuran, dan legalisasi minuman keras hanyalah segelintir perilaku binatang yang dilahirkan dari rahim demokrasi. Demokratisasi bermakna binatangisasi.

 

Dengan demikian dari perspektif kebebasan berpendapat, demokrasi  tak ubahnya sebagai racun yang merusak dan melumpuhkan sendi-sendi nilai agama. Dari perspektif kebebasan kepemilikina, demokrasi tak ubahnya sebagai monster jahat yang menjajah negara dan rakyatnya yang mengakibatkan kemiskinan tiada tara. Dari perspektif kebebasan perilaku, demokrasi tak ubahnya sebagai gerakan binatangisasi yang melahirkan ras manusia dengan karakter binatang.

 

Penghinaan kepada Rasulullah yang dilakukan oleh Marcon memperkuat konfirmasi bahwa betapa busuknya sistem demokrasi ini. Jargon kebebasan justru menjadikan sistem demokrasi sebagai sistem terburuk yang anti Islam. Berbagai penjajahan di belahan dunia Islam adalah akibat demokrasi ini.

 

Namun demikian,  patut disayangkan bahwa meski demokrasi hakekatnya adalah ideologi busuk penyebab malapetaka peradaban dan kemanusiaan, tapi  kini ideologi ini telah menjelma menjadi sebuah paham, bahkan semacam ‘agama’ yang nyaris tanpa koreksi. Lebih disayangkan lagi banyak dari kaum muslimin yang masuk dan menikmati ideologi busuk ini, seolah tak ada alternatif ideologi yang lebih baik.

 

Dengan pemahaman yang benar, seharusnya seluruh kaum muslimin di dunia menolak demokrasi, kecuali mereka gagal paham atau pahamnya gagal. Demokrasi adalah jalan setan penyebab malapetaka kehidupan manusia.

 

Dunia muslim idealnya kompak memberikan pelajaran kepada presiden Perancis serta kompak menolak demokrasi sebagai sistem politik. Negeri-negeri muslim mestinya mulai sadar untuk kembali bersatu padu menegakkan kekuatan politik global yang mampu membentengi umat dari berbagai serangan dan permusuhan. Sebab, selain karena jahatnya demokrasi, penghinaan kepada Islam adalah karena umat Islam lemah dan tidak memiliki pemimpin global sebagai bentengnya. Jika ada khilafah, maka tidak mungkin ada orang kafir berani menghina Islam.

 

Semoga dengan adanya upaya kaum kafir dan munafik terus menerus menghina Islam, kaum muslimin di dunia semakin sadar akan pentingnya persatuan politik dan kepemimpinan dengan tegaknya daulah Islam. Sebab, jika seorang muslim agamanya dihina, wajib hukumnya marah. Jika tak marah maka kemungkinan telah terpapar sifat kemunafikan. Semoga persatuan umat sedunia segera terwujud dan mampu meluluhlantakkan peradaban demokrasi sekuler di seluruh dunia.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,28/10/20 : 14.10 WIB).

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar