BIDEN DAN MASA DEPAN ISLAM DI AMERIKA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 09 November 2020

BIDEN DAN MASA DEPAN ISLAM DI AMERIKA


 

 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Joseph Robinette Biden Jr yang berusia 77 tahun adalah presiden terpilih Amerika setelah mengalahkan petahana Donald Trump. Ia seorang politikus kawakan  Amerika dari partai demokrat sekaligus senator senior dari Delaware dari 1973 hingga 2009. Bagaimana masa depan Islam di Amerika di tangan Biden yang akan dilantik pada Januari 2021 ini ?. 

 

Berdasarkan perhitungan Associated Press, Biden yang didampingi oleh cawapres Kamala Harris  telah mendapatkan 290 suara electoral. Sementara Trump mendapat suara 214. Ia juga unggul dalam perolehan suara populer. Biden mengumpulkan 75.196.516 suara (50,6 persen, sedangkan Trump menghimpun 70.803.881 suara (47,7 persen).

 

Biden dilahirkan di Scranton, Pennsylvania, dari keluarga Joseph R. Biden, Sr. dan Catherine Eugenia Finnegan. Ia anak sulung dari 4 bersaudara dan dibesarkan dengan agama Katolik Roma. Keluarga ini pindah ke Delaware ketika Joe Biden berusia 10 tahun. Pada 1961, ia lulus dari Archmere Academy di Claymont, dan pada 1965 dari University of Delaware di Newark. Ia kemudian meneruskan pendidikan ke Syracuse University College of Law, lulus pada 1968.

 

Beredar luas ucapan ‘insyaallah’ dan mengutip hadits tentang amar ma’ruf nahi munkar menjadikan Biden seolah akan memberikan harapan bagi kelangsungan Islam dan kaum muslimin di Amerika. Hal ini wajar, sebab selama kepemimpinan Donald Trump nasib Islam dan kaum muslimin terpojok dan terzalimi.

 

‘Rakyat negara ini telah berbicara. Mereka memberi kami kemenangan yang meyakinkan. Saya berjanji menjadi presiden yang berupaya untuk tidak memecah belah, tetapi untuk mempersatukan’, ujar Biden dalam pidato kemenangannya di Wilmington, Delaware.

 

Ucapan Biden ini berkaitan erat dengan konflik rasial yang beberapa kali terjadi di Amerika. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Biden selama masa kampanye. Biden mengkritik Trump bahwa dia telah menyalakan api perpecahan. Isu ras menguat selama kampanye Biden yang memungkinkan akan mendapat simpati dari banyak kalangan di Amerika.

 

Isu ras juga terkait dengan agama Islam dan kaum muslimin. Sejak Bush memimpin Amerika, Islam menjadi tertuduh sebagai agama radikalisme bahkan kaum muslimin menjadi sasaran berbagai bentuk persekusi dan intimidasi. Hancurnya menara kembar menjadi pencak islamophobia di Amerika. Barak Obama dan Donald Trump tidak jauh berbeda, keduanya juga begitu kuat memusuhi Islam.

 

Dengan tegas Donald Trump melarang imigran datang ke Amerika. Hal ini sebenarnya hanya melanjutkan misi Bush yang mengkaitkan Islam dan kaum muslimin dengan terorisme. Dari narasi terorisme yang berorientasi fisik hingga narasi radikalisme yang berorientasi kepada pemikiran. Ironisnya negeri-negeri muslim ikut larut dalam narasi anti Islam ala Amerika ini.

 

Amerika adalah negara super power dengan kapitalisme sekuler sebagai ideologinya. Amerika adalah negara yang memiliki blue print jelas, siapapun yang menjadi presidennya. Negara ideologis adalah negara yang memiliki konstitusi tetap sebagai kesepakatan yang tidak bisa diubah oleh presiden terpilih.

 

Kapitalisme sekuler ala Amerika memang sejak awal tidak memberikan ruang bagi tumbuh kembang Islam politik. Hal ini berlaku di seluruh negara yang menerapkan ideologi transnasional ini. Bahkan hingga negeri-negeri berpenduduk muslim sekalipun yang membebek kepada ideologi kapitalisme sekuler akan tetap diskriminatif atas Islam dan kaum muslimin.

 

Negeri-negeri corong Amerika akan menjadi pengikut setia atas visi misi yang dikembangkan. Sebagai contoh pasca pengeboman menara kembar WTC dan penegasan narasi terorisme dan radikalisme yang ditujukan kepada Islam, maka negeri-negeri muslim yang selama ini berkomplot dengan Amerika ikut mensukseskan proyek deradikalisasi yang digulirkan Amerika.

 

Namun umat Islam tetap harus cerdas dan membaca perkembangan politik secara ideologis. Amerika tetaplah Amerika, demokrasi tetaplah demokrasi, kapitalisme tetaplah kapitalisme yang memiliki cara pandang spesifik atas Islam dan kaum muslimin. Kampanye dalam pemilu demokrasi seringkali hanya menjadi jargon untuk meraup suara belaka.

 

Janji-janji politik dalam pemilu demokrasi adalah basa-basi yang selalu dilontarkan oleh para kandidat presiden dimanapun berada. Janji-janji pemilu justru seringkali tidak menjadi kenyataan saat mereka terpilih, inilah paradoks demokrasi. Oleh sebab itu terlalu berharap bahwa masa depan Islam di Amerika akan semakin membaik pasca terpilihnya Biden sebagai presiden adalah sebuah utopia bagi kaum muslimin di Amerika.

 

Umat Islam harus benar-benar bisa belajar dari setiap peristiwa politik di dunia. Kaum muslimin tidak boleh lengah dengan janji-janji manis demokrasi sekuler atas masa depan Islam. Demokrasi sekuler hanya akan menerima keberadaan Islam jika sesuai dengan timbangan mereka.

 

Kebangkitan umat Islam di seluruh dunia justru dianggap sebagai ancaman bagi demokrasi. Amerika sebagai kampium demokrasi sangat paham akan kekuatan Islam ideologis yang kini semakin menggeliat di seluruh penjuru dunia. Terlebih saat Rasulullah dihinakan oleh presiden Perancis, Emmanuel Macron beberapa waktu yang lalu.

 

Jika demikian, wajarkah jika umat Islam Amerika berharap akan ada cahaya cerah bagi masa depan Islam di Amerika pasca terpilihnya Biden setelah beberapa tahun Islam didiskriminasi ?.

 

( Ahmad Sastra,KotaHujan,09/11/20 : 09.15 WIB)  

  

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar