BAHAGIA SAMBUT RAMADHAN, CIRI HAMBA BERIMAN - Ahmad Sastra.com

Breaking

Minggu, 11 April 2021

BAHAGIA SAMBUT RAMADHAN, CIRI HAMBA BERIMAN

 



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Kebahagiaan ada pada kesyukuran kita. Seringkali kita terlalu jauh mencarinya kemana-mana, padahal bahagia itu dekat. kebahagiaan ada di setiap hati orang yang senantiasa bersyukur, yaitu hati yang bisa melihat dengan jelas deretan karunia yang Allah limpahkan. Bukan hati yang sibuk menghitung apa yang tidak dimilikinya.

 

Orang-orang  yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya lantas mensyukurinya. Sesungguhnya riski telah ditentukan oleh Allah SWT, banyak maupun sedikit, bersyukurlah kepadaNya. Sedikitnya riski yang kita peroleh hari ini dan kemarin jangan pernah menjadi penghalang bagi kita untuk berbuat kebaikan.

 

Kebahagiaan ada dalam sikap qanaah kita. Mensyukuri nikmat Allah bermuara pada meningkatnya kualitas ketaatan kita kepada Allah SWT. Nikmat usia dan umur panjang selayaknya kita renungkan, apakah telah kita manfaatkan untuk ketaatan kepada Allah SWT.

 

Terkait sikap kita terhadap nikmat Allah Rasulullah bersabda : kaki anak adam tidak akan bisa bergeser dari Rabbnya pada hari kiamat nanti sebelum ditanya tentang lima perkara : umurnya bagaimana ia dilalui, masa mudanya, bagaimana ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan bagaimana ia belanjakan, serta amal apa yang telah ia lakukan dari ilmunya (HR Tirmizi)


Tanpa kita sadari waktu   begitu cepat  bergulir. Tentu kita masih sangat ingat, bulan suci Ramadhan tahun lalu seolah baru saja beranjak dari kehidupan kita, namun Ramadhan tahun kita sebentar lagi telah dating kembali. Bahkan masa ketika kita masih anak-anakpun masih sangat ingat, namun hari ini kita telah menginjak usia dewasa dan bahkan telah tua. Waktu begitu cepat berlalu. Adakah kita telah memanfaatkan waktu ini untuk taat kepada Allah SWT atau belum.

 

Hidup adalah sebuah perjalanan. Ibarat perjalanan ke kampung halaman, tentu kita membutuhkan bekal. Begitupun perjalanan hidup menuju kampung akherat. Sudahkah kita memiliki bekal untuk hari esuk. Hari esuk adalah kehidupan akherat yang kekal abadi. 

 

Hari esuk adalah hari kiamat, sebuah peristiwa hancurnya alam semesta sebagai titik awal menuju kehidupan di negeri akherat. Akherat  selain sebagai  ujung dari sebuah perjalanan hidup,di dunia  juga merupakan hari penentu dimana kita harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di hadapan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya :

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr : 18).

           

Kebanyakan  manusia menjalani hidup dengan bermain-main, tidak bersungguh-sungguh mencari bekal. Padahal umur manusia kini hanya berkisar antara 60 sampai 70 tahun. Kematian hanya persoalan waktu, kini kita hanya sedang menunggu giliran, dan waktunya dirahasiakan oleh Allah, agar kita senantiasa bersiap diri jika satu saat ajal itu menghampiri kita.

 

Di akheratlah nasib kita ditentukan : apakah bahagia nan abadi atau sengsara tiada henti , apakah sebagai penghuni syurga nan indah tiada tara ataukah neraka yang amat mengerikan. Nasib kita ditentukan oleh perjalanan usia kita yang sangat singkat di dunia sekarang ini.

 

Sisa usia kita hari ini hendaknya meningkatkan kesadaran kita yang paling dalam akan pentingnya bersungguh-sungguh membekali diri untuk menghadapi kematian dan pengadilan Allah sebagai penentu akhir dari nasib kita. Mestinya kita bisa berguru pada kesungguhan Allah SWT dalam menciptakan jagad raya, kesungguhan Rasulullah dan para sahabat dalam beribadah, bertobat, berdakwah dan berjihad, kesungguhan Imam Syafei, imam Maliki, imam Bukhori dalam menuntut dan menggali ilmu. Kesungguhan para pengemban dakwah dalam menyebarkan Islam dan memperjuangkan syariah Allah. 

 

Menjalani kehidupan ini memang melelahkan. Yang terpenting adalah apakah kelelahan kita dalam hidup ini mendatangkan cinta Allah atau laknat Allah. Setidaknya ada  delapan kelelahan yang dicintai Allah : lelah dalam dakwah, lelah dalam ibadah dan amal sholeh, lelah dalam mengandung, melahirkan dan menyusui, lelah dalam mencari nafkah, lelah dalam mengurus keluarga, lelah dalam belajar dan menuntut ilmu dan lelah dalam berjihad membela agama Allah. Nikmati setiap kelelahan dalam hidup ini, selama kelelahan itu untuk beribadah kepada Allah, sebab Allah akan memberikan balasan syurga.  

 

Hidup seringkali akan mengalami musibah dan ujian. Pribadi muslim adalah yang mampu menjadikan musibah menjadi hikmah, kesempitan menjadi kesempatan berbuat baik, hambatan menjadi jembatan, kesulitan menjadi kreativitas dan tekanan menjadi kekuatan. Sesungguhnya tragedi terbesar dalam hidup ini adalah kematian dari diri seseorang yang sesungguhnya masih hidup. Hidup merupakan perjalanan panjang tentang kerendahan hati dan perjuangan.

 

 

Sebelum dan setelah kedatangan bulan suci Ramadhan bukan berarti tanpa hambatan, rintangan dan ujian.  Karenanya kita perlu mempersiapkan bekal ilmu,  mental dan keimanan, agar bulan Ramadhan tahun ini kita bisa menjadi orang-orang beruntung di hadapan Allah kelak. Orang beruntung adalah orang yang semakin meningkat ketaqwaannya kepada Allah, baik sebelum, selama dan setelah bulan Ramadhan. Meski harus menghadapi ujian dan cobaan.

 

Tapi ingatlah, jika cobaan sepanjang sungai, seharusnya kesabaran seluas samudera. Jika harapan seluas hamparan, seharusnya ikhtiar itu seluas langit yang membentang. Jika pengorbanan sebesar bumi, seharusnya keikhlasan itu seluas jagad raya. Agar tak kecewa jika kita tak sampai. Agar tak sedih  ketika harapan tak tercapai. Hanya rencana Allah lah yang menentukan.  

 

Kita hanya mampu berdoa memohon kepada Allah SWT, Tuhan yang menggenggam hidup dan mati kita. Semoga usia kita masih dipanjangkan oleh Allah SWT sehingga kita masih bisa merasakan nikmatnya bulan suci Ramadhan tahun ini. Semoga percepatan perjalanan waktu ini menyadarkan kita untuk bisa memanfaatkan sisa kita untuk meningkatkan taat kepada Allah SWT sekaligus menyiapkan bekal untuk hari esuk.

 

Momentum Ramadahan adalah kesempatan emas bagi kita untuk lebih meningkatkan amal baik kita. Ramadhan adalah ladang untuk menanam ketakwaan. Berbahagialan atas kehadiran bulan suci Ramadhan, sebab inilah cirri hamba beriman. Sebelum kematian menyapa, semoga kita menjadi hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Sebab hari kematian itu amatlah dekat dan senantiasa mengejar kita, kemanpun kita pergi.  

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam (QS Ali Imran : 102)

 

(AhmadSastra,KotaHujan,111/04/21 : 08.50 WIB)  

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar