BERATNYA COBAAN SEBAGAI KONSEKUENSI BAGI KONSISTENSI DAKWAH ISLAM - Ahmad Sastra.com

Breaking

Minggu, 18 April 2021

BERATNYA COBAAN SEBAGAI KONSEKUENSI BAGI KONSISTENSI DAKWAH ISLAM



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat (QS Al Baqarah : 214).

 

Memilih menjadi seorang muslim memiliki konsekuensi internal yakni patuh tunduk kepada Allah dan tidak berbuat syirik. Secara bahasa kata muslim maknanya adalah ketundukan atau pasrah. Disebut sebagai muslim adalah karena ketundukan dalam arti melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Sementara kata kepasrahan kepada Allah maknanya hanya menjadikan Allah sebagai Tuhan yang disembah.

 

Konsekuensi lain sebagai muslim adalah memiliki pemahaman tentang Islam sebagai agama yang dibawa oleh Rasulullah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Seorang muslim juga adalah yang punya kesadaran atas dorongan iman terhadap berbagai hukum perbuatan dalam Islam. Hukum perbuatan dalam Islam yang harus dijadikan sebagai timbangan adalah wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

 

Seorang muslim juga adalah yang mengamalkan apa yang yang telah dipahami dan disadari. Amal perbuatan seorang muslim dinamakan ibadah atau amal sholih, baik ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh. Hal mendasar yang wajib diamalkan seorang muslim adalah rukun Islam, yakni membaca syahadah, mendirikan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa dan melaksanakan haji jika berkemampuan.

 

Tidak hanya sampai disitu, seorang muslim juga berkewajiban untuk menuntut ilmu dna berdakwah. Pemahaman islam hanya bisa diwujudkan dengan menuntut ilmu, sementara dakwah adalah kewajiban setiap muslim untuk mengajak manusia kepada jalan Allah. Dakwah bisa juga disebut sebagai amar ma;ruf nahi munkar. Amar ma’ruf maknanya mengajak kepada Islam, sementara nahi munkar maknanya mencegah kemunkaran. Ma'ruf bisa juga bermakna segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri ?" (QS Fushilat : 33). Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al Imran : 104).

 

Di saat seorang muslim dengan keimananannya mengambil jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar secara konsisten, disaat itulah berbagai ujian dan cobaan akan silih berganti menyapanya, baik secara internal maupun eksternal. Ujian akan terus mendera para pengemban dakwah yang istiqomah sebagai konsekuensi dari Allah, bahkan sebagai bentuk kecintaan Allah. Cinta memang perlu diuji. Sebab untuk masuk surga itu tidaklah mudah, namun harus melewati berbagai rintangan yang telah Allah tebarkan.

 

Sesungguhnya Allah Azza wajalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barangsiapa marah, maka dia pun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya. (Telah dikeluarkan oleh Ahmad melalui jalur Mahmud bin Labid)

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al Baqarah : 155 – 157).

 

Bahkan jika merujuk kepada kisah para Nabi, sahabat dan orang-orang sholih di masa lalu yang istiqomah menyampaikan kebenaran Islam akan didapati berbagai ujian, godaan, cobaan, rintangan, penganiayaan, penyiksaan, pemenjaraan dan bahkan pembunuhan. Hal ini terjadi sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad dan seterusnya hingga hari kiamat. Oleh sebab itu mengambil jalan dakwah harus siap dengan seluruh konsekuensinya, termasuk kematian sekalipun.

 

Level cobaan dalam dakwah dan perjuangan berbanding lurus dengan level keimanan seseorang. Artinya semakin tinggi iman seseorang, maka cobaan yang menimpanya juga akan semakin berat. Telah jamak diketahui bahwa para Nabi dan Rasul adalah orang yang paling tinggi keimanannya, maka otomatis merekalah yang paling berat mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah. Leveling cobaan ini telah dinyatakan dalam salah satu hadis Nabi.

 

Ahmad telah mengeluarkan dengan jalan Mus’ab bin Sa'id dari ayahnya, ia berkata, Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Rasulullah saw. bersabda: Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian generasi setelahnya, dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-henti ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun.

Lihatlah bagaimana ujian dan cobaan yang diterima oleh para nabi dan Rasul sepanjang perjalanan menyampaikan Islam kepada umat dan pengauasa saat itu. Deraan sakit menahun yang dirasakan oleh Nabi Ayyub, godaan iblis yang dialami oleh nabi Adam, ujian ditelan ikan yang dialami nabi Yunus, celaan dan hinaan serta permusuhan  yang dialami oleh Nabi Nuh, penyiksaan berat yang dialami Nabi Ibrahim dan nabi Musa, perintah penyembelihan yang dialami oleh nabi Ismail, sementara Nabi Yusuf harus dipenjara oleh penguasa. Sementara Nabi Muhammad mengalami semua bentuk ujian dan cobaan itu. Semua bentuk cobaan itu tidak hanya dialami oleh para nabi, namun juga para pengikutnya yang setia dan istiqomah.

 

Fase dakwah yang dijalani Rasulullah ada dua, yakni fase makkah yang belum ada daulah Islam dan fase madinah yang telah ada daulah Islam. Maknanya dakwah bisa jadi terjadi di darul kufr maupun darul Islam. Pengemban dakwah adakalanya berada di Dârul Islam (Daulah Islamiyah) dengan  aktif melaksanakan muhasabah (melakukan kritik dan koreksi) dan amar makruf nahyi munkar.

 

Muslim umumnya dan pengemban dakwah khususnya tengah hidup di negara kufur. Para pengemban dakwah yang akan melakukan perubahan mendasar saat ini, kondisinya serupa dengan kondisi kaum muslim yang ada di Makkah. Bahkan lebih dari itu, kaum Muslim saat ini juga harus terikat dengan hukum-hukum yang telah diturunkan setelah hijrah.

 

Kaum Kafir di Makkah telah memaksa kaum Muslim agar mengingkari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan keluar dari Islam menuju kekufuran. Mereka pun menuntut agar kaum Muslim saat itu meninggalkan aktivitas mengemban dakwah Islam, dan supaya mereka tidak menampakkan ibadahnya di hadapan orang banyak.

 

Tuntutan semacam ini dilakukan pula oleh para penguasa zalim saat ini. Bahkan lebih dari itu, para penguasa tersebut juga meminta para pengemban dakwah untuk bekerjasama dengan mereka, apakah menjadi intel (mata-mata) atau menjadi agen pemikiran (âmilan fikriyan) yang mempropagandakan berbagai pemikiran untuk melayani kepentingan penguasa bodoh. Pemikiran liberalisme, pluralisme dan sekulerisme hakikatnya adalah pemikiran jahiliah yang kini kembali disebarakan oleh kaum kafir dibantu oleh para pengkhianat agama dari kalangan muslim.

 

Berbagai bentuk cobaan yang dialami oleh Rasulullah telah banyak digambarkan dalam berbagai kabar sirah dan hadis. Inilah beberapa cobaan yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat hanya karena istiqomah dalam keimanan dan dakwah Islam.

 

Pertama, pemukulan. Al-Hâkim dalam al-Mustadrak telah mengeluarkan sebuah hadits, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya memenuhi syarat Muslim, dan Imam Muslim pun menyetujui hadits ini dalam al-Talkhîsh.” Dari Anas ra., ia berkata : Kafir Quraisy telah memukuli Rasullullah saw. hingga beliau pingsan. Kemudian Abû Bakar ra. berdiri dan berteriak, “Binasa kalian!, Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan, ‘Tuhanku adalah Allah?’” Mereka berkata, “Siapa orang ini?.” Mereka berkata lagi, “Orang ini adalah anak Abi Kuhafah yang gila.”

 

Kedua, mengikat. Al-Bukhâri meriwayatkan dari Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail dari Masjid Kufah, ia berkata : Demi Allah, aku melihat diriku sendiri, ketika Umar telah mengikatku karena keislamanku, sebelum dia masuk Islam. Andai saja gunung Uhud hilang dari tempatnya, disebabkan oleh apa yang kalian lakukan terhadap ‘Utsmân, pasti dia pun akan tetap konsisten seperti itu. Dalam riwayat al-Hâkim dikatakan, “Ia mengikatku dan ibuku.” Ia berkata, “Hadits ini shahih memenuhi syarat Muslim.”

 

Ketiga, tekanan dari ibu. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Mus’ab bin Sa’ad dari bapaknya, berkata, “…. Berkata Ummu Sa’ad, “Bukankah Allah telah memerintahkanmu untuk berbuat baik kepada orang tua? Demi Allah, aku tidak akan makan dan tidak akan minum hingga aku mati atau engkau kufur (dari agama Muhammad).” Sa'ad berkata, “Jika mereka hendak memberi  makan kepadanya, maka mereka membuka mulutnya dengan paksa.” Kemudian turunlah ayat : Dan Aku telah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuannya (TQS. al-Ankabut [29]: 8)

 

Keempat, dijemur di bawah terik matahari.  Dari Abdullah, ia berkata, “Sesunguhnya yang pertama kali menampakkan keislamannya ada tujuh orang, yaitu Rasulullah saw., maka Allah meberikan perlindungan kepada beliau dengan pamannya, Abû Thalib. Kemudian Abû Bakar, maka Allah melindunginya dengan kaumnya. Sedangkan yang lainnya, mereka disiksa oleh kaum Musyrik. Mereka dipaksa memakai baju besi, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Maka tidak ada seorang pun kecuali melakukan apa yang diinginkan oleh kafir Quraisy, kecuali Bilal. Karena ia telah mampu menundukkan perasaannya karena Allah semata. Hingga ia menganggap sepele terhadap kaumnya. Akibatnya mereka semakin marah dan menyuruh anakanak untuk mengarak Bilal di lembah-lembah Makkah. Ketika itu Bilal mengatakan, ‘Ahad-Ahad.’” (HR. al-Hâkim dalam al- Mustadrak. Ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhâri Muslim.” Dalam at-Tarikh, adz-Dzahabi menyetujuinya).

 

Kelima, Melarang Tampil dan Menyerukan (Dakwah) secara Terbuka.  Al-Bukhâri telah mengeluarkan dari hadits yang cukup panjang, dari ‘Aisyah ra. Ia berkata: “…Mereka (kafir Quraisy) berkata, ‘Sesungguhnya kami menjamin Abu Bakar karena jaminanmu agar beribadah kepada Tuhannya di rumahnya saja, tapi ia telah melanggarnya. Ia membangun Masjid di halaman rumahnya, kemudian secara terang-terangan shalat dan membaca al-Quran di Masjidnya itu. Kami sangat khawatir istri-istri dan anak-anak kami tergoda olehnya. Cegahlah ia ! Jika ia memilih untuk menyembah Tuhannya di rumahnya, maka biarkan ia melakukannya. Tapi jika menolak dan ia tetap akan menyembah Tuhanya secara terang-terangan, maka mintalah kepadanya agar mengembalikan jaminanmu. Karena kami tidak ingin mempermalukanmu, dan kami tidak mengizinkan Abû Bakar beribadah secara terang-terangan….’”

 

Keenam, melempari dengan batu. Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah telah mengeluarkan hadits dalam kitab Shahih-nya dari Thariq al-Muharibi, ia berkata; Aku melihat Rasulullah saw. lewat pasar Dzil Majaz. Ia memakai jubah berwarna merah. Beliau bersabda : Wahai manusia, katakanlah Lâ Illâha Illallâh, niscaya kalian akan berbahagia.

 

Pada saat itu ada seorang laki-laki yang mengikuti Rasulullah saw. sambil melemparinya dengan batu. Akibatnya tumit dan betis beliau berdarah. Orang itu berkata, “Wahai manusia!, Jangan mengikutinya karena ia adalah pendusta.” Aku berkata, “Siapa orang itu?” Mereka berkata, “Ia adalah anak muda dari bani Abdil Muthalib.” Aku berkata lagi, “Lalu siapa orang yang mengikutinya sambil melemparinya dengan batu?” Mereka berkata, “Abdul Uzza”, Abû Lahab.

 

Ketujuh, dilempari kotoran hewan. Imam al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Abdullah ra., ia berkata; Ketika Nabi saw. sedang sujud dan di sekitarnya terdapat sekelompok orang Quraisy, datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith dengan membawa kotoran unta yang telah disembelih dan melemparkannya ke punggung Nabi saw; maka Nabi tidak mengangkat kepalanya. Kemudian Fatimah datang dan mengambil kotoran itu dari punggung Nabi saw. Beliau membiarkan apa yang dilakukan orang-orang Quraisy itu kemudian bersabda : Ya Allah, binasakanlah segolongan orang Quraisy, yaitu Abû Jahal bin Hisyam, Uthbah bin Rabî’ah, Syaibah Ibnu Rabî’ah, Umayah Bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf, (dua nama yang terakhir merupakan keraguan dari perawi hadits ini).

 

Kedelapan, Berusaha Menginjak Leher dan Menaburkan Tanah ke Wajah.  Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abû Hurairah, ia berkata; Abû Jahal pernah berkata, “Apakah Muhammad ditaburi wajahnya dengan tanah di depan kalian?” Kemudian ada yang menjawab, “Benar.” Abû Jahal berkata, “Demi Latta dan Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, maka aku akan menginjak lehernya atau akan menaburkan tanah ke wajahnya.” Abû Hurairah berkata, “Kemudian Abû Jahal mendatangi Nabi saw., ketika beliau sedang shalat. Ia bermaksud menginjak leher Nabi saw. Maka, tidak ada yang mengagetkan mereka, kecuali saat dia berjalan di belakangnya dan menahan tangannya. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apa yang terjadi padamu?’ Abû Jahal berkata, ‘Antara aku dan Muhammad benar-benar ada parit api, monster yang menakutkan, dipenuhi dengan sayap-sayap.’” Rasulullah saw. Bersabda : Andai kata (Abû Jahal) mendekatiku, maka pasti ia akan disambar anggota tubuhnya satu persatu oleh Malaikat.

 

Kesembilan, Penyiksaan Tanpa Diceritakan Uslubnya.  Adz-Dzahabi meriwayatkan dalam at-Tarikh, al-Baihaqi dalam asy-Sya’bi, Ibnu Hisyam dalam as-Sirah, dan Ahmad dalam Fadhail Shahabah dari Urwah, ia berkata; Ketika Bilal sedang disiksa dan mengatakan Ahad, Ahad, Waraqah Bin Naufal berjalan melewatinya, seraya berkata: Ahad, Ahad, Allah! wahai Bilal. Kemudian Waraqah menemui Umayah bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jamuh yang telah menyiksa Bilal. Ia berkata; Umayah berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuhnya dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadikannya sebagai orang yang senantiasa dikenal.”

 

Kesepuluh, Membuat Kelaparan.  Ibnu Hibban telah mengeluarkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas, ia bekata; Rasulullah saw. Bersabda : Aku telah disiksa karena Allah, dan tidak ada seorang pun yang dianiaya. Aku telah ditakut-takuti karena Allah, dan tidak ada seorang pun yang ditakut-takuti. Aku telah diboikot selama tiga hari tiga malam, dan aku tidak melihat makanan sedikit pun kecuali yang tersembunyi di balik ketiak Bilal.

 

Kesebelas, Pemboikotan.  Ibnu Sa'ad telah meriwayatkan dalam ath-Thabaqat dari al-Waqidi… dari Ibnu Abbas, dan Abû Bakar bin Abdurrahman bin al-Haris bin Hisyam, dan Utsman bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im, hadits sebagian mereka masuk kepada sebagian yang lain: … Orang Quraisy telah menulis surat kepada Bani Hasyim agar mereka tidak menikah, berjual-beli dan bergaul dengan kaum Quraisy… Mereka telah memutuskan bantuan barang dagangan dari Bani Hasyim. Bani Hasyim tidak keluar kecuali dari satu musim ke musim yang lain hingga ditimpa kepayahan dan terdengar suara tangisan anak-anak mereka dari balik lembah. Di antara orang Quraisy ada yang senang melihat hal itu dan ada yang tidak senang… Mereka tinggal di lembah itu selama tiga tahun… Adz- Dzahabi dalam at-Tarikh telah menceritakan kabar pemboikotan ini dari Musa bin Uqbah dari Az-Zuhri.

 

Keduabelas, Mengolok-olok dan Mengejek.  Ibnu Hisyam berkata dalam Sirah, Ibnu Ishaq berkata; Aku telah dikabari Yazid bin Ziad dari Muhammad bin Ka’ab al-Karzi, setibanya di Thaif, Rasulullah saw. pergi menemui beberapa penduduk Tsaqif. Mereka adalah para pemimpin dan tokoh-tokoh Tsaqif. Mereka ada tiga orang bersaudara… Kemudian Rasulullah saw. duduk bersama mereka dan mengajak kepada agama Allah. Rasulullah saw. menyampaikan kepada mereka tentang tujuan kedatangannya, yaitu mencari orang yang siap menolongnya, dan berjuang bersama beliau menghadapi siapa saja di antara kaumnya yang menentang beliau. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku siap mencabut kain Ka’bah dan membuangnya jika Allah memang mengutusmu sebagai Nabi.” Yang lain berkata, “Apakah Allah tidak mendapatkan yang lain untuk diutus selain engkau?” ...Kemudian mereka memprovokasi orang-orang pandir dan hamba sahaya untuk mencaci-maki Rasulullah saw. Dan meneriakinya dengan kata-kata kotor...

 

Ketigabelas, Memutuskan Hubungan antara Pimpinan dan Pengikut.  Imam Muslim telah meriwayatkan dari Sa'ad, ia berkata; kami pernah bersama Nabi saw., jumlah kami ada enam orang. Kemudian kaum Musyrik berkata kepada Nabi, “Usirlah mereka itu agar tidak lancang kepada kami.” Sa'ad berkata; Sahabat Rasul saw. pada saat itu adalah aku, Ibnu Mas’ud, seorang lelaki dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lelaki yang tidak aku kenali namanya Kemudian ucapan kaum Musyrik itu mempengaruhi diri Nabi saw., dengan izin Allah. Sehingga Nabi saw. berbicara di dalam hatinya, kemudian turunlah Firman Allah : Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. (TQS. al-An’am[6]: 52)

 

Keempatbelas, Tawar-menawar antara Mabda (Ideologi) dengan Tahta, Harta, dan Wanita. Kemudian Utbah mendatangi Nabi saw., dan berkata, “Wahai Muhammad!, siapa yang lebih baik, apakah engkau atau kah Hasyim? Siapakah yang lebih baik, apakah engkau atau Abdul Muthalib? Siapakah yang lebih baik, apakah engkau atau Abdullah?” Maka Nabi tidak menjawabnya. Utbah berkata, “Lalu kenapa engkau mencaci tuhan-tuhan kami dan menyesatkan nenek moyang kami? Jika engkau melakukan hal itu karena ingin tahta, maka kami akan mengikat panji-panji kami kepada engkau sehingga engkau jadi pemimpin kami; jika engkau inginkan wanita maka kami akan menikahkan engkau dengan sepuluh wanita yang bisa engkau pilih dari wanita Quraisy sekehendakmu; dan jika engkau menginginkan harta, maka kami akan mengumpulkan harta-harta kami untukmu yang bisa mencukupimu dan keturunanmu.”

 

Rasulullah saw. diam tidak berbicara. Ketika Utbah selesai bicara, Rasulullah saw. membaca : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hâ Mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (TQS. Fushilat [41] : 1-3); hingga sampai ayat ketiga belas : Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkankamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud. (TQS. Fushilat [41]: 13)

 

Kelimabelas, mencaci-maki. Ibnu Abbas berkata ayat ini (QS Al Isra’ : 110) diturunkan ketika Rasulullah saw. sedang dakwah secara sembunyi-sembunyi di Makkah. Rasulullah saw. ketika shalat bersama para sahabat, suka mengeraskan suaranya ketika membaca al-Quran. Jika orang-orang musyrik mendengarnya, maka mereka akan mencaci maki al-Quran, mencaci maki yang menurunkannya dan yang membawanya. Allah berfirman kepada nabi-Nya : Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (TQS. al-Isra’ [17]: 110).

 

Keenambelas, Mendustakan. Al-Bukhâri dan Muslim telah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : Ketika orang-orang Quraisy mendustakanku (tentang berita Isra Mi’raj), aku berdiri di Hijr (Ismail), maka Allah menampakkan (Baitul Maqdis); (Dalam riwayat lain), maka Allah menampakkan Baitul Maqdis kepadaku. Maka aku mulai memberitahukan kepada mereka tentang tanda-tandanya, sambil melihatnya.”

 

Ketujuhbelas, Propaganda Negatif dan Perlawanan.  Ibnu Hibban telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika Ka’ab bin al-Asyraf datang ke Makkah, mereka (kafir Makkah) mendatanginya dan berkata, “Kami adalah ahli Siqayah (pengelola minuman di Ka’bah, penj.) dan Sadanah (pemelihara Ka’bah, penj.) dan engkau adalah pemimpin penduduk Yatsrib. Siapakah yang lebih baik, kami atau orang yang hina ini, yang terpisah dari kaumnya (maksudnya Nabi Muhammad saw. penj.). Ia menganggap dirinya lebih baik dari kami.” Kemudian Ka’ab berkata, “Kalian lebih baik darinya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasulullah saw.: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (TQS. al-Kautsar [108]: 3), Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang orang yang beriman. (TQS. an-Nisa [4]: 51).

 

Kedelapanbelas, Menghalangi Hijrah.  Al-Hâkim meriwayatkan dalam al-Mustadrak, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhâri Muslim.” Hadits ini disepakati adz-Dzahabi dari Suhaib, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda : Aku telah diperlihatkan pada tempat hijrah kalian yang subur di antara balik Harrah. Tempat itu bisa jadi Hajran atau Yatsrib. Suhaib berkata, Rasulullah saw. keluar menuju Madinah bersama Abû Bakar. Aku bermaksud keluar bersamanya, tapi dihalangi dua pemuda Quraisy, maka aku pun menjadikan malamku itu dengan terus-menerus berdiri, tidak duduk. Mereka berkata, “Allah telah menghalangi kalian darinya dengan kekuasan-Nya, dan aku pun tidak mengeluh.”

 

Keduapuluh, Berusaha Membunuh dan Mengancam Nabi.  Al-Bukhâri meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr tentang kekejian yang paling parah, yang dilakukan oleh kaum Musyrik kepada Nabi saw. Abdullah bin Amr berkata; Aku pernah melihat Uqbah bin Abi Mu’ith datang menuju Nabi saw. ketika beliau sedang shalat. Kemudian ia meletakkan selendangnya ke leher Rasulullah saw. dan mencekiknya. Kemudian datanglah Abû Bakar hingga ia melindungi Rasulullah saw. dari kekejian Uqbah, seraya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang manusia yang mengatakan bahwa Tuhanku adalah Allah? Padahal ia telah datang kepadamu dengan membawa penjelasan-penjelasan dari Tuhannya?”

 

Keseluruhan ujian dan cobaan itu akan berlangsung sampai akhir zaman. Maknanya setiap umat nabi Muhammad yang mengikuti jejak dakwah yang dicontohkan Rasulullah, maka akan mendapatkan ujian dan cobaan, dari mulai dicaci, didustakan, dihina, dikriminalisasi, dipenjara, dibubarkan, hingga dibunuh oleh kaum kafir dan munafik. Meski demikian, Allah dengan tegas agar para pembawa dakwah tetap istiqomah dan sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan di jalan perjuangan Islam ini. banyak ayat dan hadis tentang kesabaran :

 

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.(QS Ali Imran : 200). Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. az-Zumar [39] : 10). Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (TQS. al-Baqarah [2]: 153). Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (TQS. al-Baqarah [2]: 155)

 

Rasulullah bersabda : Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahankesalahannya karena musibah itu, sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih).

 

Hadits yang lain adalah dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw. Bersabda : Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih).

 

Hadits dari Abû Hurairah dan Abû Sa’id, dari Nabi saw., bersabda: Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih).

 

Akhirnya, marilah kita renungkan perkataan Imam Syafi’i berikut : jika kita telah yakin berjalan di atas jalan Allah, maka berlarilah. Jika tak mampu berlari, maka berjalan cepatlah. Jika tak mampu berjalan cepat, maka merangkaklah. Jangan pernah berhenti, apalagi balik arah.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,18/04/21 : 10.40 WIB)

 

 

 

 

  

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar