RAMADHAN, PANDEMI DAN OPTIMASI PENDIDIKAN KELUARGA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 15 April 2021

RAMADHAN, PANDEMI DAN OPTIMASI PENDIDIKAN KELUARGA

 



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Jika tahun ini kita masih diberikan usia dan dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat, maka bersyukurlah. Ramadhan adalah anugerah besar dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang beriman.

 

Pandemi di bulan Ramadhan tidak boleh menjadi penghalang bagi peningkatan ibadah kaum muslimin. Pandemi adalah bagian dari ujian bagi manusia, apakah tetap bersabar dan ikhtiar atau putus asa. Musibah adalah bagian dari cara Allah untuk menegur manusia akibat kesalahan perilakunya di dunia.  

 

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30).

 

Ramadhan di tengah pandemi akan banyak memberikan kepada keluarga waktu untuk tinggal di rumah. Karena itu memaksimalkan waktu-waktu di rumah (stay at home) untuk mengoptimalkan pendidikan keluarga adalah pilihan paling bijak dalam mengisi bulan suci Ramadhan 1442 H ini. Pendidikan keluarga memiliki tujuan penting yakni mewujudkan keluarga yang sholih dan selamat dari siksa api neraka.

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At Tahrim : 6)

 

Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh putus asa hanya karena musibah pandemi covid 19. Sebab bagi seorang mukmin, ujian dan musibah adalah semata-mata datangnya dari Allah untuk menguji keimanan, kesabaran dan kesyukurannya. Apakah dengan adanya musibah semakin bertambah yakin akan kekuasaan Allah. Apakah dengan musibah bisa bersabar menghadapinya dan bersyukur seraya mencari hikmahnya. Inilah indahnya seorang muslim, selalu bersyukur dan bersabar.

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah : 155). Apakah manusia menyangka akan dibiarkan berkata kami beriman, padahal mereka belum diuji. Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelummu”. (Qs. Al Ankabut : 2).

 

Nah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan yang bisa diisi dengan berbagai program ibadah selama berada di rumah. Selama terjadi wabah seperti ini, sebagaimana terjadi di masa lalu, Rasulullah dan para sabahat menganjurkan umat Islam untuk menjauhi tempat-tempat terjadi wabah tersebut. Kebijakan lock down, social distancing dan stay at home adalah cara-cara yang tidak bertentangan dengan Islam.

 

Hal ini sejalan dengan sebuah hadist, “ Keselamatan seseorang di tengah-tengah fitnah adalah berlindung di rumahnya (HR Ad Dailami dari Abu Musa ra). Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku (Rasulullah) orang yang terbaik diantara kalian kepada keluargaku.

 

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS Al Ahzab : 33).  

 

Nah selama bulan Ramadhan dan tinggal di rumah (stay at home), keluarga muslim harus tetap menjaga rasa syukur kepada Allah, seraya berfikir bagaimana mengoptimasi fungsi keluarga yang selama ini tereduksi dengan penguatan tarbiyah islamiyah. Jika selama ini ayah dan ibu sibuk bekerja, anak-anak dititipkan di sekolah atau pesantren, maka Ramadhan di tengah pandemi, rumahlah yang  kini menjadi lembaga pendidikan. Ayah dan ibulah yang kini menjadi seorang pendidik, sebab guru yang sesungguhnya adalah ayah dan ibu di rumah.

 

Menurut Prof Hamka, kepala rumah tangga atau ayah memiliki tanggungjawab besar dan sosok penting bagi kesuksesan pendidikan istri dan anak-anaknya di rumah. Selama Ramadhan di rumah, seorang kepala rumah tangga harus melakukan tarbiyah untuk menanamkan tauhid, ibadah dan akhlak agar menjadi keluarga beriman dan bertakwa demi menghindarkan dari siksa api neraka. Kini saatnya ayah dan ibu melakukan program perubahan pendidikan di rumah yang sebelumnya diserahkan ke sekolah.

 

 Seorang muslim tidak akan pernah putus ada atas kondisi seperti apapun. Sebab perubahan kondisi sangat bergantung kepada usaha dan ikhtiar kita sendiri. Allah berfirman : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS Ar Ra’d : 11).

 

Menurut Prof. Sofyan Sauri pendidikan di keluarga harus mencakup empat  aspek : akal, hati, fisik dan ruhaniah. Sementara Abdullah Nashih Ulawan memberikan cakupan pendidikan lebih luas yakni pendidikan iman, akhlak, intelektual, fisik, sosial, psikis, dan seksual. Nah, selama di rumah, orang tua sebagai guru harus memahami aspek pendidikan ini secara matang dan membuat program pembelajaran untuk mengoptimalkan aspek-aspek tersebut.

 

Orang tua harus memahami fungsi keluarga menurut Islam agar bisa menyusun program pendidikan berbasis keluarga, terutama saat bulan Ramadhan di tengan pandemi. Adapun fungsi keluarga menurut Sofyan Sauri setidaknya adalah delapan, diantaranya adalah : edukatif, sosial, protektif, rekreatif, ekonomis, afeksi, biologis, ekologis, reproduksi dan fungsi religius. Kesemua fungsi ini harus dipahami dengan baik oleh kedua orang tua di rumah sebagai landasan untuk melaksanakan pendidikan keluarga.

 

Karena itu ada beberapa pendekatan pendidikan yang bisa dilakukan oleh kedua orang tua selama anak-anak di rumah, sebab kewajiban utama pendidikan terhadap anak adalah kedua orang tuanya. Setidaknya ada tujuh pendekatan pendidikan di rumah sebagai berikut :  Pertama, keimanan yakni dengan memberikan pengajaran masalah aqidah islam kepada anak-anak. Aqidah inilah yang akan menjadi ikatan dasar kehidupan anak. Kedua, pengamalan yakni mengajarkan anak bagaimana mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan.

 

Ketiga, pembiasaan, memberikan pengalaman kepada anak dengan membiasakan sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam. Keempat, rasional yakni usaha memberikan peranan pada pemikiran (intelektual) anak dalam memahami segala sesuatu yang diciptakan Allah. Kelima, emosional yakni orang tua berupaya menggugah perasaan (emosi) anak berdasarkan pemikiran Islam  yang telah diajarkan. Keenam, fungsional yakni memberikan pemahaman kepada ana atas menfaat semua yang diajarkan di rumah bagi dirinya dan orang lain. Semua ini bisa berjalan jika dan hanya jika orang tua menjadi teladan.

 

Muhaimin dan Abdul Mujib menawarkan berbagai metode dalam pendidikan Islam. Setidaknya ada enam metode pendidikan Islam menurut keduanya, yaitu : Metode diskronis, yaitu metode pendidikan Islam yang menonjolkan aspek sejarah. Orang tua bisa memberikan pelajaran aspek-aspek pendidikan di rumah dengan mengedepankan kisah-kisah.

 

Kedua, metode sinkronik analitik, yaitu metode pendidikan Islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelektual anak. Ketiga, metode problem solving, yaitu model pendidikan yang mengedepankan masalah untuk dicarikan solusi bersama.

 

Keempat, metode empiris, yaitu metode mengajar yang memungkinkan anak di rumah mempelajari ajaran Islam melalui proses realisasi, aktualisasi, serta internalisasi nilai Islam melalui suatu proses aplikasi yang menimbulkan interaksi sosial.

 

Kelima, metode induktif, yaitu metode yang dilakukan oleh orang tua  dengan cara mengajarkan materi yang khusus menuju pada kesimpulan yang umum. Ketujuh, metode deduktif, yaitu metode yang digunakan orang tua mengajar ajaran Islam  melalui cara menampilkan kaidah umum kemudian disimpulkan secara khusus.

 

Nah apapun yang terjadi, keluarga muslim harus siap untuk menjadikan rumah berfungsi optimal, baik edukatif maupun rekreatif selama wabah corona menjangkit. Ini adalah kesempatan emas untuk orang tua menyadari pentingnya belajar lagi menjadi orang tua yang ideal. Orang tua ideal adalah yang berfungsi sebagai pemimpin, pengayom dan sahabat atau mitra bagi anggota keluarga yang lain.

 

Semoga badai corona segera akan berlalu atas pertolongan Allah dengan hadirnya bulan suci Ramadhan tahun ini. Semoga dengan adanya corona, kita semua semakin meningkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Dengan ketaqwaan, maka Allah akan memberikan jalan keluar atas segala persoalan. Semoga manusia-manusia yang selama ini sombong dengan banyaknya harta dan tingginya tahta segera bertobat menuju Allah semata.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,15/04/21 : 08.19 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar