TURBULENSI INTELEKTUAL - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 06 April 2021

TURBULENSI INTELEKTUAL



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Secara historis, peran kaum intelektual, meski jumlahnya sedikit, namun sangat strategis dalam menentukan hitam putihnya peradaban suatu bangsa. Negara berperadaban selalu   memberikan ruang ekspresi para ilmuwannya dalam melakukan transformasi sosial. Kaum intelektual mengisi setiap wajah peradaban sepanjang masa.

 

Plato, seorang pemikir Yunani, pernah mensyaratkan bahwa idealnya seorang pemimpin negara adalah dari kalangan intelektual atau filsuf.  Bagi Plato, bila kebajikan telah didapat, memimpin orang menuju kemaslahatan, bukanlah hal yang perlu diragukan. Intelektualitas, dalam pandangan Plato berbanding lurus dengan kebajikan peradaban. Aristoteles, murid setia Plato mensyaratkan satu kriteris lagi, yakni kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

 

Intelektualitas adalah energi kebaikan dan kemajuan peradaban bangsa. Sebab kaum intelektual adalah mereka yang memiliki potensi saintifik dan mengejawantahkan dalam hubungannya dengan lingkungan dan permasalahan yang timbul dalam kehidupan sekitarnya berdasar argumentasi rasional. Perkembangan filsafat Yunani yang berawal dari antitesis atas dominasi mitos dikarenakan adanya ruang berfikir yang dibuka lebar. Para filosof adalah mereka yang mencurahkan pemikiran untuk menunjukkan kebenaran dalam rangka meraih kebahagiaan.

 

Cattel (dalam Clark, 1983) menegaskan bahwa intelektualitas merupakan  kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.

 

Relasi intelektualitas dengan kemajuan peradaban sebuah bangsa adalah daya analitik dan problem solving. Bagi David Wechsler intelektualitas adalah totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

 

Konsepsi intelektualitas dalam Islam disebut ulil al baab, yakni mereka yang senantiasa berpikir tentang fakta empirik seperti manusia, kehidupan dan alam semesta yang direlasikan dengan eksistensi Allah. Peradaban ulil al baab tidak sebatas untuk meraih kemajuan santifik semata, namun juga untuk mewujudkan kemuliaan perilaku manusia.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran : 190-191).

 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana aia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan ?. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan ?. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan ?. (QS Al Ghaasyiah : 17-20)

 

Konsepsi intelektualitas dalam peradaban Islam bukan sebatas berfikir, namun juga memberikan peringatan kepada manusia. Sesungguhnya kami mengutusmu (wahai Muhammad) dengan haq sebagai pemberi kabar gembira (basyiran) dan peringatan (nadziran) (QS Al Baqarah : 119). Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (QS Al Ghaasyiyah : 21). Dan Kami tidak membinasakan satu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan (QS Asy Syu’araa : 208).

 

Transformasi peradaban Islam dilandasi oleh aqidah yang menghasilkan pancaran sistem aturan bagi kehidupan manusia dalam mengelola kehidupan dan alam semesta. dari paradigma tauhid inilah transformasi sosial berlangsung dalam kerangka peradaban Islam yang maju dna mulia. Peradaban Islam membawa kehidupan manusia menjadi kehidupan yang penuh kemajuan dan kemuliaan sekaligus. Transformasi sosial berbasis tauhid melahirkan masyarakat yang beriman, bertaqwa dan beradab yang melahirkan keberkahan di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz Dzariyat : 56). Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS Al Anbiyaa : 107). Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf : 96).

 

Sebaliknya, jika suatu bangsa, kaum intelektualnya tidak lagi berjalan di atas jalan ilmu yang lurus, namun sudah melakukan penyimpangan, berarti mereka tengah mengalami turbulensi intelektual. Turbulensi pesawat akan mengakibatkan kegoncangan di udara, sementara turbulensi intelektual akan menyebabkan kekacauan kehidupan sosial suatu bangsa. 

 

Ibarat pesawat yang mengalami turbulensi.  Turbulensi merupakan kondisi ketika kecepatan aliran udara berubah drastis. Hal ini membuat tubuh pesawat akan terguncang, baik itu guncangan ringan maupun guncangan yang kuat. Penyebab utama turbulensi yang terjadi pada umumnya adalah awan, yakni saat pesawat harus menembus awan.

 

Turbulensi pesawat setidaknya ada empat level, yakni kegoncangan kecil, sedang, parah dan ekstrim. Level pertama sama sekali tidak memiliki dampak, level dua mengakibatkan pergeseran benda dia tas meja, level tiga bisa mengakibatkan penumpang terlempar dari kursi jika tanpa sabuk pengaman, sementara level empat bisa menghilangkan kendali pilot.

 

Sementara turbulensi intelektual memiliki dampak lebih besar dari turbulensi pesawat. Kekacauan pemikiran para intelektual bisa mengakibatkan tranformasi sosial yang destruktif. Disorientasi intelektual akibat faktor internal berupa logical fallacy atau faktor eksternal berupa pragmatisme akan berdampak kerusakan fisis maupun non fisis.

 

Pemikiran kaum ateis yang berpaham materialisme telah melahirkan rusaknya peradaban manusia. Begitupun pemikiran sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan juga telah menimbulkan kerusakan sosial. Peradaban yang tidak tegak diatas nilai-nilai agama akan kehilangan esensi kehidupan, manusia dan alam semesta.  

 

Peradaban Barat dengan landasan epistemologi sekuleristik telah melahirkan bangsa yang kehilangan esensi kemanusiaannya. Paham psikoanalisa Freud dimana libido mendominasi pergerakan pemikiran telah menjadikan peradaban Barat mengalami kekacauan. Berbagai bentuk amoralitas terjadi dalam peradaban Barat.  

 

Dari paradigma sains sekuler inilah awal dari kerusakan bumi dengan  sumber daya alamnya hingga kerusakan manusia dengan pemikiran, jiwa dan perilakunya. Allah dengan tegas telah memberikan ilustrasi fakta ini dalam surat ar Ruum : 41, “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

 

Kaum intelektual muslim di Indonesia memiliki tugas besar dan mulia untuk mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang diridhoi Allah. Adalah musibah besar jika kaum intelektual muslim mengalami turbulensi intelektual akibat terpapar paham liberalisme, sekulerisme, pluralisme, komunisme dan isme-isme yang berasal dari filsafat Barat. Turbulensi intelektual juga bisa terjadi karena faktor eksternal, yakni ketika kaum intelektual telah menjadi budak kekuasaan yang zalim.

 

Dahulu kekuasaan fir’aun dan namrud ditopang oleh kaum intelektual yang membudak kepadanya demi mendapatkan sekerat duniawi. Pemikir yang menjual ilmunya demi membudak kepada kekuasaan zalim lebih hina dibandingkan seorang pelacur. Pelacur intelektual lebih berbahaya dibanding pelacur yang menjual dirinya. Sebab pelacur intelektual akan berdampak kepada kerusakan sosial yang lebih luas.

 

Jika kaum intelektual muslim Indonesia yang mestinya menjadi lentera pencerah bagi masa depan peradaban bangsa telah mengalami sesat pikir karena virus isme atau telah menjadi budak kekuasaan zalim, maka perjalanan peradaban negeri ini sesungguhnya tengah menuju kegelapan.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,06/04/21 : 09.37 WIB)

 

           

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar