MENYOAL TEMA TENDENSIUS LOMBA ARTIKEL BPIP - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 14 Agustus 2021

MENYOAL TEMA TENDENSIUS LOMBA ARTIKEL BPIP



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Sejak dibentuk BPIP, lembaga ini sering menimbulkan keresahan masyarakat, terutama umat Islam di negeri ini. Ucapan ketua BPIP yang pernah menghebohkan adalah bahwa agama adalah musuh terbesar pancasila. Suara pembubaran BPIP langsung mencuat, sebab lembaga ini dianggap tidak terlalu banyak manfaatnya.

 

Masyarakat kembali dihebohkan oleh ajang lomba yang diadakan BPIP di tengah pandemi covod 19 dalam rangka memperingati hari santri Nasional. Pasalnya tema lomba karya ilmiah ini dianggap sangat tendensius dan berpotensi memecah belah umat Islam.

 

Ada dua tema yang diajukan dalam Kompetisi Penulisan Artikel Tingkat Nasional yang berhadiah jutaan rupiah ini, yakni hormat bendera menurut hukum Islam dan menyanyikan lagu kebangsaan menurut hukum Islam. Tendensius karena BPIP sudah masuk ke ranah hukum Islam, padahal kerja mereka kan soal pancasila. Tendensius karena tema ini bisa menimbulkan keributan di kalangan umat Islam.   


Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas mengkritik lomba penulisan artikel yang diadakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dia pun mendorong pembubaran BPIP jika lembaga itu tak ada manfaatnya. BPIP menggelar lomba dalam rangka Hari Santri. Tema yang diangkat yaitu 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' dan 'Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam'.


Busyro menilai tema yang diusung BPIP justru mengadu domba sekaligus penghinaan terhadap komunitas santri. Dia mengatakan Hari Santri bukan hanya milik warga Nahdlatul Ulama saja, tapi milik semua umat Islam.

 

"Apakah selama ini negara itu ada problem dengan penghormatan bendera Merah Putih? Problem lagu kebangsaan? Faktanya tidak ada. Kalau tidak ada, mengapa BPIP mencari-cari penyakit ini namanya," kata Busyro. Dia mengatakan BPIP perlu meninjau kembali rencana lomba tersebut dan segera mencabutnya. Sebab menurutnya, tema itu hanya akan mengusik umat Islam.

 

Ulama asal Sumatera Barat Anwar Abbas juga menyarankan agar BPIP dibubarkan. Dia menilai Lembaga pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak memiliki kepekaan sosial di tengah pandemi Covid-19. "Kesimpulan saya BPIP seharusnya dibubarkan saja. Bukannya apa, lombanya enggak kontekstual. Orang secara lagi Covid malah masalah hukum bendera," kata Anwar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/8).


Fadli Zon menuding tema lomba penulisan artikel nasional yang digelar BPIP itu merupakan produk Islamophobia akut. Lebih lanjut, Fadli Zon juga mengatakan bahwa tema lomba BPIP itu menunjukkan betapa dangkalnya BPIP dalam memahami Islam dan Pancasila.

 

Tentu saja masih akan banyak kritik kepada BPIP dengan mengangkat tema ini, sebab selain tidak penting, tema ini juga sama sekali tidak produktif. Mungkin Fahri benar, bahwa di negeri ini tengah terpapar islamophobia, dimana Islam dianggap sebagai agama yang membahayakan eksistensi negeri ini. Islamophobia sendiri adalah sebuah kelainan psikologi dimana sesuatu yang baik, tapi ditakuti secara berlebihan.

 

Islamophobia sendiri adalah ciptaan Barat yang tidak menginginkan Islam mengalami kebangkitan dan kembali menguasai peradaban dunia modern. Barat tak mungkin rela jika Islam mengalami sebuah kemajuan dan kebangkitan. Ini sunnatullah. Apapun akan dilakukan untuk mencoba memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Padahal cahaya Allah tidak mungkin padam karena makar mereka. Tuduhan Islam teroris hingga penyebaran pornografi dilakukan untuk melumpuhkan keimanan seorang muslim, hingga mengikuti pola hidup mereka. 

 

Ujung dari setiap usaha ini adalah monsterisasi Islam. Stigmatisasi Islam ini dimaksudkan untuk menimbulkan islamphobia di kalangan kaum muslim sendiri. Simbol-simbol keislaman dicurigai sebagai simbol terorisme dan digantikan dengan simbol-simbol modern ala Barat. Syiar-syiar Islam dianggap penghasutan. Tontonan-tontonan porno dianggap kewajaran dan hiburan.

 

Barat begitu sadar bahwa kesadaran Islam telah merebak di seluruh penjuru dunia. Kegalauan atas carut marut kehidupan ala sekulerisme telah mendorong kerinduan terhadap Islam rahmatan lil’alamin.             Ini dibuktikan oleh hasil sejumlah survei yang menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menginginkan Islam menjadi sumber nilai dan hukum di negeri ini. Lepas dari pemahaman syareat yang dipertanyakan oleh Salahudin Wahid.

 

Bahkan Amerika melalui National Intelligent Council (NIC) pada Desember 2004 merilis sebuah laporan berjudul Mapping the Global Future bahwa tahun 2020 dunia diprediksi dikuasai oleh A New Chaliphate. Lepas dari maksud prediksi itu, paling tidak, kembalinya khilafah islamiyah di kalangan analis dan intelejen barat telah diperhitungkan berdasarkan perkembangan Islam hari ini di seluruh penjuru dunia. Jadi ironis, jika seorang muslim malah tidak menghambat khilafah.

 

Narasi moderat dan radikal sejatinya adalah narasi Barat untuk menyerang Islam, tidak ada tujuan lain, selain itu. Dengan narasi radikal versus moderat, maka internal umat Islam akan terjadi perselisihan intelektual hingga ideologis. Dan benar, pada akhirnya, umat Islam terpecah, ada yang mendukung barat dan diberikan imbalan dan ada yang menentang Barat dan dituduh radikal.

 

Sketsa adu domba melalui dikotomi radikal dan moderat terus dijalankan oleh Barat dalam rangka melumpuhkan Islam dan kaum muslimin. Umat Islam yang sejatinya adalah satu dan bersatu dipecah belah oleh Barat melalui ghozwul fikr atau ghozwul mustalahat (perang istilah). Muslim yang sepakat dengan ide sekulerisme dan liberalisme diberikan predikat kaum moderat, sementara yang menolak disebut sebagai kaum radikal. Bahkan paham agama kaum yang anti sekulerisme ini dikaitkan dengan terorisme. Sementara kubu moderat yang kadang mendapat uang dari barat, tanpa menyadari telah mejadi proxy ideologis bagi Barat kafir untuk melawan saudaranya yang dituduh radikal.

 

Jika latar belakang tema yang diusung oleh BPIP adalah narasi moderat dan radikal, maka lomba ini harus segera dihentikan, karena hanya akan membuat kegaduhan sesama anak bangsa. Jika terbukti BPIP hanya membuat kegaduhan masyarakat, maka selayaknya dibubarkan, sebab tidak memberikan konstribusi kepada kemajuan negeri yang telah dimerdekakan oleh darah para ulama dan santri ini, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,14/08/21 : 11.35 WIB)  

 

 

 


 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar