ISLAM DIRANCANG UNTUK MEMIMPIN PERADABAN DUNIA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 07 Desember 2021

ISLAM DIRANCANG UNTUK MEMIMPIN PERADABAN DUNIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Marilah kita meletakkan skenario hipotesis : jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan dan jika ekonomi negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam waktu 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton?. Model-model planetarium Ibn al-Shatir dan astronomer-astronomer muslim yang sekualitas  Copernicus dan  yang telah mendahului mereka 200 tahun membuktikan bahwa sistem Heliosentris dapat diproklamirkan oleh saintis muslim, jika komunitas mereka terus eksis di bawah skenario hipotesis ini. (Ahmad Y al- Hasan).

 

Peradaban Islam memiliki distingsi, yakni maju sekaligus membawa kebaikan dan kemuliaan. Hal ini karena para ilmuwan muslim adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang mendapatkan inspirasi dari syariah dalam mengkontruksi pemikiran dan sains. Secara aksiologi, peradaban Islam tidak untuk menjajah, namun justru untuk membebaskan segala macam penjajahan. Dua perangkat utama ini, yakni antara spiritual dan profesional inilah yang menunjukkan bahwa Islam dirancang untuk memimpin peradaban dunia.

 

Ajaran Islam bahkan mampu mentrsformasi ilmuwan non muslim menjadi muslim, sementara muslim berbakat didorong untuk menjadi ilmuwan. Sebaliknya, peradaban yang kini menghegemoni dunia justru melahirkan berbagai malapetaka sosiologis. Sebab secara aksiologis dilandasi oleh paham sekulerisme, dimana etika tuhan diabaikan dalam konstruksi pemikiran dan sains. Karena itu tidaklah mengherankan, jika peradaban Islam justru menjajah dan merugikan manusia dan kemanusiaan. Meskipun produk sains itu sifatnya netral, namun aksiologis sekulerisme inilah yang menjadikan peradaban barat dekonstruktif. 

 

Rasulullah oleh Michael D Hart digambarkan sebagai sosok paripurna peletak peradaban agung, " …kesatuan tunggal yang tidak ada bandingannya dalam mempengaruhi sektor keagamaan dan duniawi secara bersamaan, merupakan hal yang mampu menjadikan Muhammad untuk layak dianggap sebagai sosok tunggal yang mempengaruhi sejarah umat manusia.." 

 

Peradaban Islam yang dipelopori dan dipimpin oleh Rasulullah telah mampu melakukan transformasi besar bagi masyarakat saat itu. Peradaban sosial yang dibentuk oleh Rasulullah saw setelah hijrah benar-benar berbeda sama sekali dengan masyarakat jahiliyah sebelum hijrah. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari beberapa aspek.

 

Pertama, dari aspek akidah, masyarakat jahiliyah sebelum hijrah penuh dengan kemusyrikan, terutama penyembahan terhadap berhala. Penyembahan berhala zaman modern sekarang disebut hidup materialisme yang merupakan ajaran komunis. Tujuan hidup semata-mata hanya untuk menumpuk-numpuk materi. Padahal Allah melarangnya. Sementara masyarakat Islam setelah hijrah dibangun diatas asas akidah Islam. Akidah Islam menjadi satu-satunya asas negara dan masyarakat yang dipimpin langsung oleh Rasulullah sebagai kepala Negara Islam Madinah setelah hijrah.  Karena itu, meski saat itu terdapat kaum Yahudi dan Nasrani, aturan ketatanegaraan diterapkan di tengah-tengah masyarakat adalah syariah Islam.

Kedua, dari aspek sosial, masyarakat jahiliyah sebelum hijrah identik dengan kebobrokan prilaku yang luar biasa. Mabuk-mabukan, pelacuran dan kekejaman tersebar di mana-mana. Anak-anak perempuan yang baru lahir pun biasa dikubur hidup-hidup. Kehidupan jahiliyah yang mereka praktekkan jauh dari nilai-nilai agama. Jauhnya nilai agama dalam kehidupan disebut kehidupan yang sekuler, yakni memisahkan nilai agama dari perilaku hidup sehari-hari.

 

Transformasi peradaban sosial oleh Rasulullah memiliki pijakan aksiologis yang jelas yakni QS Ali Imran : 110 dan QS. Al Anbiyaa : 107. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

 

Tradisi ilmu adalah tradisi Islam. Peradaban Islam adalah peradaban berbasis iman, adab, ilmu dan amal. Allah dengan tegas melandasakan peradaban ilmu ini dalam QS Al ‘Alaq : 1-5. 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Peradaban Islam adalah peradaban yang rasional, bukan berdasarkan mitos. Karena itu Islam mencoba merohanikan peradaban sebelumnya agar para ilmuwan tidak menjadi ateis atau agnostik. Islam membersihkan peradaban sebelumnya dari orientasi mitos dan filsafat. Ilmu-ilmu seperti kimia, matematika dan fisika diruhanikan oleh ajaran Islam. Karena itu secara normatif, historis maupun empiris, peradaban Islam bukan hanya layak memimpin peradaban dunia, namun telah menjadi keharusan dalam rangka menyelamatkan dunia dari berbagai malapetaka dan penjajahan.

 

Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar mengutif beberapa landasan hukum Islam untuk memberkan gambaran karakteristik peradaban Islam. Pertama, penolakan peradaban atas tradisi mitos ditunjukkan oleh Rasulullah dengan ssabdanya : "Barang siapa mendatangi dukun  paranormal dan menanyakan sesuatu, lalu mengikuti /  membenarkan apa yang diucapkannya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari" (HR Muslim).

 

Kedua, rasionalitas peradaban Islam ditunjukkan oleh firman Allah berikut : Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami". Apakah mereka akan mengikuti juga, walau nenek moyang mereka itu tidak tahu suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?. (QS. 2:170).

 

Ketiga, pengakuan atas metode eksperimental dalam peradaban Islam ditunjukkan oleh kisah dimana sebagai muhajirin yang di Makkah tidak ada pertanian, Nabi pernah mempertanyakan cara orang Madinah memperlakukan kurma.  Mereka mengira itu sebagai teguran, sehingga perlakuan dihentikan, dan akibatnya gagal.  Lalu mereka protes. "Baginda telah mengatakan begini dan begitu".  Rasulullah bersabda: "Kalian lebih tahu urusan (teknik) dunia kalian".  (HR Muslim).

 

Keempat, Peradaban Islam juga punya spirit untuk selalu memetik segala sesuatu yang bermanfaat bagi kebaikan. Rasulullah bersabda: "Ilmu itu bagai binatang ternak milik orang mukmin yang sedang tersesat.  Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya"  (HR Tirmizi dan Ibnu Majah). Rasulullah meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam.  Beliau menjadikan dokter hadiah Raja Mesir sebagai dokter publik. Rasulullah juga menyuruh para sahabat ke berbagai penjuru untuk memungut hikmah, yakni sains dan teknologi yang terserak di mana-mana. Mereka ke Cina belajar membuat kertas, ke Mesir belajar astronomi, ke Yunani belajar kedokteran, ke Persia belajar persenjataan, ke India belajar aritmetika. Sambil berdakwah.

 

Fakta sejarah membuktikan telah dengan terang benderang bahwa Islam telah lama mampu memimpin dunia dunia. Pada masa-masa keemasan Islam, dari sistem pendidikan masa kejayaan telah berhasil melahirkan ulama yang ahli ilmu keagamaan bahkan hafal al Qur’an sekaligus ahli di bidang sains. Sebut saja diantaranya di bidang matematika ada Al Khawarizmi, Abu Kamil Suja', Al Khazin, Abu Al Banna, Abu Mansur Al Bagdadi, Al Khuyandi, Hajjaj bin Yusuf dan Al Kasaladi. Di bidang Fisika ada Ibnu Al Haytsam, Quthb Al Din Al Syirazi, Al Farisi dan Abdus Salam. Di bidang kimia ada Jabir bin Hayyan, Izzudin Al Jaldaki, dan Abul Qosim Al Majriti. Dalam bidang biologi ada Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari.

 

Dalam bidang kedokteran ada Ibn Sina, Zakariyya Ar Razi, Ibnu Masawayh, Ibnu Jazla, Al Halabi, Ibnu Hubal dan masih banyak lagi. Dalam bidang astronomi kita mengenal Al Farghani, Al Battani, Ibnu Rusta Ibnu Irak, Abdul rahman As Sufi, Al Biruni dan tokoh ilmuwan muslim lainnya. Dalam bidang geografi kita mengenal Ibnu Majid, Al Idrisi, Abu Fida', Al Balkhi, dan Yaqut al Hamawi. Dan dalam bidang sejarah kita mengenal Ibnu Khaldun, Ibnu Bathutah, Al Mas'udi, At Thabari, Al Maqrisi dan Ibnu Jubair.

 

Memang benar bahwa, umat Islam tidak menciptakan semuanya dari nol. Mengambil yang bermanfaat dari peradaban sebelumnya. Teknologi modern bukan karya umat Islam saja, atau orang Barat saja. Setiap zaman memberikan kontribusinyaJames Watt (1736-1819) mungkin akan kesulitan membangun mesin uapnya, bila sebelumnya Al Jazari (1136–1206) belum menemukan prinsip roda gigi yang mengubah gerakan translasi menjadi gerakan rotasi atau sebaliknya. Demikian juga Edward Jenner (1749 –1823) menciptakan vaksin cacar dengan mengembangkan teknik variolasi yang diperkenalkan ke Inggris oleh Lady Mary Montagu, yang mengenalnya dari Istanbul tahun 1721.

 

Thomas Edison (1847-1931), pencipta lebih dari 1000 patent terkait listrik, tentu tidak bisa memulai apapun bila sebelumnya prinsip elektrokimia belum ditemukan oleh Alessandro Volta (1745–1827).  Dan Volta beruntung mendapatkan ilmu kimia sudah “modern”, karena seribu tahun sebelumnya sudah dibersihkan dari mistik dan sihir oleh Jabir al Hayyan (721-815).  Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization jilid IV: “The Age of Faith” menulis: "Chemistry as a science was almost created by the Moslems; for in this field, where the Greeks were confined to industrial experience and vague hypothesis, the Saracens introduced precise observation, controlled experiment, and careful records..."

 

Paham sesat sekulerisme telah menjadi faktor utama keruntuhan peradaban Islam masal lalu hingga keruntuhan khilafah Turki Utsmani. Jika orang-orang Barat yang sekuleristik dan ateistik merusak bumi, itu lumrah adanya, memang sudah dari sononya. Ironisnya adalah jika kaum muslimin yang secara normatif  telah memiliki basis teologis kuat, justru ikut terjerembab dalam kubangan pemikiran sekuleristik ini. Pengaruh sekulerisme terhadap umat Islam telah melahirkan dua tipologi utama di kalangan umat Islam hari ini dalam memahami dan mengekspresikan  Islam. 

 

Pertama,  saintis  muslim anti Islam. Karakter pertama adalah seorang ilmuwan yang beragama Islam, menguasai sains seperti kimia, fisika, sosiologi, biologi namun minim pemahaman Islam. Karakter ini biasanya didapatkan dari proses pembelajaran sains dari Barat dan berasal dari kampus-kampus umum. Pada akhirnya ilmu yang dimiliki di bidang sains mumpuni, namun minus sentuhan teologis dari al Qur’an dan As Sunnah. Akibatnya lahirlah ilmuwan muslim sekuler yang hanya berorientasi duniawi semata.  

 

Kedua, ulama muslim anti sains. Karakter ini diakibatkan oleh proses pembelajaran di pesantren-pesantren tradisional yang konsentrasi bidang keagamaan an sich, tanpa ada sentuhan kosmologis dan saintifik. Akibatnya mereka berada di bilik-bilik peradaban dan iptek. Mereka asing dengan perkembangan sains seperti fisika, kimia, matematika. Padahal jika direnungkan Islam bukan hanya masalah teologis, melainkan mencakup juga masalah kajian kealam semestaan (kosmologi) dan juga sains teknologi. Ketiga dimensi keilmuwan ini seharusnya menyatu dalam diri seorang setiap muslim.

 

Bermula dari terpisahnya sains, kosmos dan teologi dari setiap diri muslim inilah mesti lahir kembali kesadaran ideologis pada setiap diri muslim sebagai energi kebangkitan peradaban Islam di era modern ini. Keprihatinan inilah yang kemudian memunculkan ide untuk menyiapkan kader-kader umat terbaik yang akan meneruskan penegakan kembali peradaban Islam yang telah lama runtuh. Kini umat sedang tidur, namun tidurnya terasa terlalu panjang. Mesti ada kader umat yang menjadi pelopor yang menggali dan mencari mutiara yang hilang. Pemikiran Islam yang dulu menguasai dunia adalah mutiara paling berharga yang harus 'direbut' kembali. Kader pelopor kebangkitan peradaban Islam inilah yang terus-menerus disiapkan.

 

Dengan seluruh perangkatnya yang sempurna, maka memang benar bahwa Islam dirancang untuk memimpin peradaban dunia, namun untuk kembali mewujudkan, tentu saja bukan perakara mudah. Kesadaran mendalam akan kebangkitan peradaban Islam yang mampu  memberikan arah dan pencerahan bagi seluruh alam semesta oleh ulama-ulama saintis inilah yang mesti menjadi kesadaran kolektif umat Islam. Peradaban kejayaan Islam masa lalu adalah cermin bagi generasi muslim hari ini. Jika para pendahulu telah berkarya, maka umat hari inipun harus bisa lebih baik lagi. Di pundak para ulama dan intelektual hari ini, amanah peradaban Islam ini dipertaruhkan. Sebab jika Islam tak memimpin peradaban dunia, maka umat Islam harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,07/12/21 : 08.36 WIB)   

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Categories