[6] Renungan Maulid Nabi KISAH MENGHARUKAN KEHIDUPAN RASULULLAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Nabi Muhammad adalah sosok yang tidak hanya menjadi panutan umat Islam dalam aspek ibadah dan akhlak, tetapi juga dalam menghadapi ujian kehidupan. Salah satu ujian paling berat yang beliau alami adalah kehilangan hampir semua anak-anaknya semasa hidupnya. Dari tujuh anak yang beliau miliki, hanya Fatimah az-Zahra yang hidup lebih lama setelah wafatnya beliau — itupun hanya sekitar enam bulan.

 

Peristiwa-peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan menjadi sumber hikmah yang mendalam bagi umat Islam dalam menghadapi musibah, terutama ketika berkaitan dengan kehilangan orang tercinta.

 

Qasim adalah anak laki-laki pertama Nabi Muhammad dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia wafat ketika masih kecil, bahkan sebelum masa kenabian. Abdullah, yang juga dikenal dengan julukan "ath-Thayyib" atau "ath-Thahir", juga wafat saat masih kecil. Kedua anak ini meninggal di masa awal kehidupan Rasulullah, di mana beliau belum sepenuhnya memikul beban kenabian, tetapi tetap merasakan kesedihan mendalam sebagai seorang ayah.

 

Ibrahim adalah putra Rasulullah dari Maria al-Qibtiyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh penguasa Mesir. Ibrahim lahir pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah dan wafat pada usia sekitar 18 bulan. Wafatnya Ibrahim sangat mengguncang hati Rasulullah. Dalam satu riwayat sahih disebutkan, beliau menangis dan bersabda: "Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati merasa sedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami. Sungguh, wahai Ibrahim, kami sangat bersedih atas kepergianmu." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Ketiga putri Rasulullah ini wafat sebelum beliau sendiri wafat. Ruqayyah meninggal saat Perang Badar berlangsung, Ummu Kultsum wafat setelah menikah dengan Utsman bin Affan, dan Zainab meninggal dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah akibat luka-luka yang dideritanya.

 

Wafatnya mereka adalah cobaan luar biasa bagi Rasulullah yang tengah menjalankan dakwah dengan segala tantangan dan tekanan dari kaum musyrikin. Namun, beliau tetap menunjukkan kesabaran dan tawakal yang luar biasa.

 

Fatimah adalah satu-satunya anak Rasulullah yang hidup setelah beliau wafat. Namun, tak lama setelah itu, yakni sekitar enam bulan kemudian, Fatimah menyusul ayahandanya. Rasulullah sendiri pernah mengabarkan hal ini kepadanya menjelang wafat: "Wahai Fatimah, tidakkah engkau rela menjadi pemimpin wanita penghuni surga?"
Dan beliau juga berkata: "Engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hikmah di balik ujian kehilangan anak,diantaranya adalah :

 

Pertama, Teladan Kesabaran dan Keteguhan Iman. Rasulullah adalah manusia paling mulia, yang doanya tidak tertolak, namun beliau tetap diuji dengan kehilangan anak-anaknya. Ini menjadi pelajaran bahwa musibah tidak selalu berarti murka Allah, tetapi bisa jadi bentuk kasih sayang dan pengangkat derajat. Kesabaran Rasulullah dalam menerima takdir menjadi contoh nyata bagi umat Islam untuk bersabar dan tetap bertawakal dalam menghadapi ujian hidup.

 

Kedua, Menyingkap Hakikat Dunia. Dengan kehilangan anak-anak yang sangat dicintainya, Rasulullah mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Anak, harta, dan kedudukan adalah titipan yang bisa diambil kapan saja. Ini menjadi pengingat agar kita tidak terlalu terikat dengan dunia dan lebih memprioritaskan akhirat.

 

Ketiga, Mendidik Umat untuk Tidak Larut dalam Kesedihan. Rasulullah tidak pernah meratapi kematian anak-anaknya secara berlebihan. Beliau menangis — karena itu fitrah — tetapi tidak meratap. Dalam Islam, meratap dan menyalahkan takdir adalah bentuk ketidaksabaran. Rasulullah mencontohkan bahwa kesedihan boleh dirasakan, namun harus tetap dalam batas syariat.

 

Keempat, Pembersih Dosa dan Pengangkat Derajat. Dalam beberapa hadis, disebutkan bahwa seorang Muslim yang bersabar atas kematian anaknya akan mendapatkan pahala besar dan bahkan dijanjikan surga. Kehilangan tersebut menjadi pembersih dosa dan pengangkat derajat di sisi Allah. Dalam konteks Rasulullah, ini juga menjadi bentuk pensucian dan penegasan bahwa kedekatan dengan Allah tidak menjamin hidup bebas dari ujian.

 

Kehilangan putra-putri tercinta merupakan salah satu ujian berat dalam hidup Nabi Muhammad . Namun, dari peristiwa itu, umat Islam belajar tentang makna sabar, tawakal, dan pengharapan hanya kepada Allah. Rasulullah bukan hanya menyampaikan wahyu, tapi juga menghidupkannya melalui pengalaman nyata dalam hidupnya.

 

Bagi setiap orang tua yang kehilangan anak, kisah Rasulullah ini bisa menjadi pelipur lara dan pengingat bahwa di balik setiap musibah, Allah menyimpan hikmah yang dalam. Seperti Rasulullah yang tetap mulia meski kehilangan anak-anaknya, setiap Muslim pun dapat meraih kedudukan mulia di sisi Allah jika tetap sabar dan ikhlas dalam menerima takdir-Nya.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 1110/26/08/25 : 19.35 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.