Oleh : Ahmad Sastra
Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang tidak hanya menjadi panutan umat Islam dalam
aspek ibadah dan akhlak, tetapi juga dalam menghadapi ujian kehidupan. Salah
satu ujian paling berat yang beliau alami adalah kehilangan hampir semua
anak-anaknya semasa hidupnya. Dari tujuh anak yang beliau miliki, hanya Fatimah
az-Zahra yang hidup lebih lama setelah wafatnya beliau — itupun hanya sekitar
enam bulan.
Peristiwa-peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah,
melainkan menjadi sumber hikmah yang mendalam bagi umat Islam dalam menghadapi
musibah, terutama ketika berkaitan dengan kehilangan orang tercinta.
Qasim adalah anak laki-laki pertama Nabi Muhammad ﷺ dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia wafat
ketika masih kecil, bahkan sebelum masa kenabian. Abdullah, yang juga dikenal
dengan julukan "ath-Thayyib" atau "ath-Thahir", juga wafat
saat masih kecil. Kedua anak ini meninggal di masa awal kehidupan Rasulullah,
di mana beliau belum sepenuhnya memikul beban kenabian, tetapi tetap merasakan
kesedihan mendalam sebagai seorang ayah.
Ibrahim adalah putra Rasulullah ﷺ dari Maria al-Qibtiyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh
penguasa Mesir. Ibrahim lahir pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah
dan wafat pada usia sekitar 18 bulan. Wafatnya Ibrahim sangat mengguncang hati
Rasulullah. Dalam satu riwayat sahih disebutkan, beliau menangis dan bersabda: "Sesungguhnya
mata meneteskan air mata, hati merasa sedih, tetapi kami tidak mengatakan
kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami. Sungguh, wahai Ibrahim, kami sangat
bersedih atas kepergianmu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga putri Rasulullah ini wafat sebelum beliau
sendiri wafat. Ruqayyah meninggal saat Perang Badar berlangsung, Ummu Kultsum
wafat setelah menikah dengan Utsman bin Affan, dan Zainab meninggal dalam
perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah akibat luka-luka yang dideritanya.
Wafatnya mereka adalah cobaan luar biasa bagi
Rasulullah yang tengah menjalankan dakwah dengan segala tantangan dan tekanan
dari kaum musyrikin. Namun, beliau tetap menunjukkan kesabaran dan tawakal yang
luar biasa.
Fatimah adalah satu-satunya anak Rasulullah ﷺ yang hidup setelah beliau wafat. Namun, tak lama setelah itu,
yakni sekitar enam bulan kemudian, Fatimah menyusul ayahandanya. Rasulullah
sendiri pernah mengabarkan hal ini kepadanya menjelang wafat: "Wahai Fatimah,
tidakkah engkau rela menjadi pemimpin wanita penghuni surga?"
Dan beliau juga berkata: "Engkau adalah orang pertama dari keluargaku
yang akan menyusulku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hikmah di balik ujian kehilangan anak,diantaranya
adalah :
Pertama, Teladan Kesabaran dan Keteguhan Iman. Rasulullah
ﷺ adalah manusia paling mulia, yang doanya tidak tertolak, namun
beliau tetap diuji dengan kehilangan anak-anaknya. Ini menjadi pelajaran bahwa
musibah tidak selalu berarti murka Allah, tetapi bisa jadi bentuk kasih sayang
dan pengangkat derajat. Kesabaran Rasulullah dalam menerima takdir menjadi
contoh nyata bagi umat Islam untuk bersabar dan tetap bertawakal dalam
menghadapi ujian hidup.
Kedua, Menyingkap Hakikat Dunia. Dengan kehilangan
anak-anak yang sangat dicintainya, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Anak,
harta, dan kedudukan adalah titipan yang bisa diambil kapan saja. Ini menjadi
pengingat agar kita tidak terlalu terikat dengan dunia dan lebih
memprioritaskan akhirat.
Ketiga, Mendidik Umat untuk Tidak Larut dalam
Kesedihan. Rasulullah tidak pernah meratapi kematian anak-anaknya secara
berlebihan. Beliau menangis — karena itu fitrah — tetapi tidak meratap. Dalam
Islam, meratap dan menyalahkan takdir adalah bentuk ketidaksabaran. Rasulullah
mencontohkan bahwa kesedihan boleh dirasakan, namun harus tetap dalam batas
syariat.
Keempat, Pembersih Dosa dan Pengangkat Derajat. Dalam
beberapa hadis, disebutkan bahwa seorang Muslim yang bersabar atas kematian
anaknya akan mendapatkan pahala besar dan bahkan dijanjikan surga. Kehilangan
tersebut menjadi pembersih dosa dan pengangkat derajat di sisi Allah. Dalam
konteks Rasulullah, ini juga menjadi bentuk pensucian dan penegasan bahwa
kedekatan dengan Allah tidak menjamin hidup bebas dari ujian.
Kehilangan putra-putri tercinta merupakan salah satu
ujian berat dalam hidup Nabi Muhammad ﷺ. Namun, dari peristiwa itu, umat Islam belajar tentang makna
sabar, tawakal, dan pengharapan hanya kepada Allah. Rasulullah bukan hanya
menyampaikan wahyu, tapi juga menghidupkannya melalui pengalaman nyata dalam
hidupnya.
Bagi setiap orang tua yang kehilangan anak, kisah
Rasulullah ini bisa menjadi pelipur lara dan pengingat bahwa di balik setiap
musibah, Allah menyimpan hikmah yang dalam. Seperti Rasulullah yang tetap mulia
meski kehilangan anak-anaknya, setiap Muslim pun dapat meraih kedudukan mulia
di sisi Allah jika tetap sabar dan ikhlas dalam menerima takdir-Nya.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 1110/26/08/25 : 19.35 WIB)