SEPANJANG JALAN MENDENGAR KISAH PENYINTAS BANJIR



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Judul di atas penulis ambil dari sebuah caption dari Euis Mulyanah yang sedang sedang berada di lokasi bencana Aceh untuk menyalurkan bantuan untuk masyarakat Aceh yang terampak bencana. Dibawah tulisan terdapat gambar salah satu jalan menuju Aceh yang hingga hari ini masih menyisakan derita mendalam bagi rakyat.

 

Jalan panjang membentang dari Jawa menuju Sumatra. Kami melewati kota demi kota, menyeberangi pelabuhan, dan melanjutkan perjalanan darat berjam-jam lamanya. Rasa lelah tentu ada, tetapi niat untuk membantu membuat semua itu terasa ringan. Di sela perjalanan, kami mulai bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita tentang banjir di Aceh, cerita yang pelan-pelan mengisi ruang batin kami.

 

Seorang sopir truk yang kami temui di rest area bercerita tentang desanya yang terendam air setinggi dada orang dewasa. Ia selamat, tetapi sawah dan ternaknya hilang. “Yang penting masih bisa hidup,” katanya. Kalimat itu sederhana, tetapi menghentak kesadaran kami. Di tengah kehilangan besar, ia masih menemukan alasan untuk bersyukur.

 

Semakin mendekati Aceh, semakin banyak kisah penyintas yang kami dengar. Ada nelayan yang harus meninggalkan rumahnya di tengah malam, ada petani yang melihat hasil panennya hanyut dalam sekejap, dan ada pedagang kecil yang kehilangan seluruh barang dagangannya. Namun dari semua kisah itu, hampir tidak ada keluhan berlebihan. Yang ada justru ketegaran dan penerimaan.

 

Salah seorang bapak yang kami temui di perjalanan berkata, “Banjir ini ujian. Kalau kita saling bantu, insyaallah bisa dilewati.” Kalimat itu terasa seperti nasihat yang menenangkan. Ia tidak menyalahkan siapa pun, tidak larut dalam amarah. Ia memilih berdamai dengan keadaan dan fokus pada langkah ke depan.

 

Aceh: Luka yang Dalam, Hati yang Kuat

 

Saat akhirnya tiba di wilayah terdampak banjir di Aceh, kami disambut oleh pemandangan yang menyentuh hati. Rumah-rumah berlumpur, perabotan rusak, dan tumpukan kayu berserakan di mana-mana. Namun di balik semua itu, kami melihat wajah-wajah yang penuh keteguhan. Senyum kecil yang tulus, ucapan terima kasih yang hangat, dan tatapan mata yang sarat harapan.

 

Seorang ibu bercerita bagaimana ia menyelamatkan anak-anaknya dengan naik ke atap rumah saat air terus meninggi. “Takut, tapi harus kuat,” katanya. Ia kehilangan banyak hal, tetapi tidak kehilangan semangat untuk bertahan. Ketangguhan para ibu di Aceh menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati sering lahir dari cinta dan tanggung jawab.

 

Di tengah tenda pengungsian, anak-anak tetap bermain. Mereka berlarian, tertawa, dan saling bercanda, seolah ingin membuktikan bahwa bencana tidak mampu merampas masa kanak-kanak mereka sepenuhnya. Seorang anak bertanya kepada kami, “Kak, kapan sekolah mulai lagi?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengandung harapan besar.

 

Anak-anak penyintas banjir ini mengajarkan bahwa mimpi tidak bisa dihanyutkan oleh air. Mereka mungkin kehilangan buku dan seragam, tetapi tidak kehilangan cita-cita. Dari mereka, kami belajar bahwa masa depan selalu layak diperjuangkan, betapapun berat kondisi hari ini.

 

Bagi kami yang membawa bantuan dari Bogor, perjalanan ini justru menjadi pelajaran tentang kerendahan hati. Kami datang dengan niat membantu, tetapi justru merasa menerima lebih banyak. Mendengar kisah para penyintas membuat kami merenungkan betapa seringnya kita mengeluh atas hal-hal kecil: macet, cuaca, atau keterlambatan kecil dalam hidup.

 

Di Aceh, kami belajar bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menyikapi kehilangan. Para penyintas mengajarkan bahwa kesabaran dan kebersamaan adalah kekuatan yang tidak bisa diukur dengan materi.

 

Perjalanan ini juga menunjukkan betapa kuatnya solidaritas masyarakat Indonesia. Bantuan datang dari berbagai daerah, relawan bekerja tanpa mengenal lelah, dan warga saling membantu tanpa melihat perbedaan. Di tengah bencana, sekat-sekat sosial runtuh. Yang tersisa hanyalah rasa kemanusiaan.

 

Kami menyadari bahwa bencana memang menyakitkan, tetapi juga membuka ruang bagi nilai-nilai terbaik dalam diri manusia: empati, kepedulian, dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kuat untuk bangkit bersama.

 

Saat perjalanan kembali ke Bogor dimulai, kendaraan kami terasa lebih ringan. Logistik telah disalurkan, tetapi hati kami terasa penuh. Sepanjang jalan pulang, kami terus mengingat cerita-cerita yang kami dengar: keberanian para penyintas, keteguhan para ibu, dan mimpi anak-anak Aceh.

 

Perjalanan ini mengajarkan bahwa memberi bukan tentang jumlah bantuan, melainkan tentang kehadiran dan kepedulian. Bahwa mendengarkan adalah bentuk empati yang paling tulus. Dan bahwa dari mereka yang tertimpa bencana, kita justru belajar tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.

 

Perjalanan yang Tak Akan Dilupakan

 

Kisah perjalanan dari Bogor membawa bantuan ke Aceh akan selalu tinggal dalam ingatan. Ia bukan sekadar cerita tentang jarak dan logistik, tetapi tentang perjumpaan manusia dengan manusia. Tentang luka yang dibalut harapan, dan tentang duka yang dipeluk dengan kebersamaan.

 

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di mana pun kita berada, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Karena terkadang, yang paling dibutuhkan oleh mereka yang terluka bukan hanya bantuan, tetapi keyakinan bahwa mereka tidak sendirian. Dan sepanjang jalan menuju Aceh, melalui kisah para penyintas banjir, kami menemukan kembali makna menjadi manusia.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1227/06/01/26 : 10.26 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad