Oleh : Ahmad Sastra
Judul di atas penulis ambil dari sebuah caption dari
Euis Mulyanah yang sedang sedang berada di lokasi bencana Aceh untuk
menyalurkan bantuan untuk masyarakat Aceh yang terampak bencana. Dibawah tulisan
terdapat gambar masjid pesantren Darul Mukhlisihin yang terdampak bencana
ekologis yang hingga hari ini masih menyisakan derita mendalam bagi rakyat.
Bencana yang melanda Sumatera kembali menyisakan rasa
pilu yang mendalam. Ia tidak hanya merenggut harta benda, tetapi juga mengguncang
ruang-ruang kehidupan yang selama ini menjadi pusat ibadah dan pendidikan umat.
Namun bagi orang-orang beriman, musibah bukan sekadar peristiwa alam, melainkan
ujian dan peringatan dari Allah ï·» agar manusia kembali merenungi hakikat kehidupan.
Allah berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu
dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:
155)
Di antara lembaga yang terdampak bencana tersebut
adalah Pesantren Darul Mukhlishin di Aceh Tamiang, sebuah pesantren yang selama
ini menjadi tempat para santri menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan
meneguhkan tauhid. Banjir datang membawa lumpur, kayu-kayu besar, dan kerusakan
yang tidak ringan.
Bangunan pesantren banyak yang tertutup lumpur,
halaman berubah menjadi kubangan, dan aktivitas pendidikan terpaksa dihentikan.
Demi keselamatan jiwa, seluruh santri dipulangkan ke rumah masing-masing.
Keputusan memulangkan santri tentu bukan keputusan
mudah. Pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah ruhani bagi para
santri. Namun Islam mengajarkan bahwa menjaga jiwa adalah bagian dari tujuan
utama syariat (maqashid syariah).
Rasulullah ï·º bersabda: “Tidak boleh menimbulkan
bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah)
Di tengah suasana pilu itu, Allah ï·» menampakkan
satu pemandangan yang sangat menyentuh hati: masjid pesantren masih berdiri
tegak. Ketika bangunan lain tertutup lumpur dan rusak, masjid tetap kokoh,
seolah dijaga oleh kekuasaan-Nya. Masjid itu berdiri sunyi, namun kehadirannya
menyampaikan pesan tauhid yang dalam—bahwa iman tidak runtuh bersama bangunan,
dan bahwa sujud tidak pernah kehilangan tempatnya di hadapan Allah.
Masjid yang tetap berdiri itu menjadi simbol bahwa pesantren
dan masjid adalah benteng akidah umat. Allah ï·» berfirman: “Sesungguhnya yang
memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa masjid bukan sekadar
bangunan fisik, melainkan pusat kehidupan iman. Dalam sejarah Islam, masjid
selalu menjadi pusat pembinaan umat—tempat Rasulullah ï·º mendidik para sahabat, membangun
masyarakat, dan menegakkan nilai-nilai keadilan. Ketika musibah datang, masjid
kembali menjadi pengingat bahwa Allah adalah sandaran terakhir umat manusia.
Para santri yang dipulangkan membawa pulang lebih dari
sekadar pakaian dan barang seadanya. Mereka membawa pelajaran iman yang tidak
tertulis di kitab. Mereka belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai
rencana manusia, tetapi selalu berada dalam ketentuan Allah.
Allah ï·» berfirman: “Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,
padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Bencana ini menjadi madrasah kehidupan. Ia mengajarkan
makna sabar dan tawakal. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, dan tawakal
bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Keduanya berjalan beriringan. Rasulullah ï·º bersabda: “Jika
engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah
akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pergi pagi
dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR.
Tirmidzi)
Seiring waktu, proses pemulihan mulai dilakukan.
Bongkahan-bongkahan kayu besar yang sebelumnya menumpuk di area pesantren
akibat terjangan banjir telah diangkat satu per satu. Kayu-kayu itu menjadi
saksi bisu betapa dahsyatnya ujian yang Allah turunkan. Setelah dibersihkan,
tersisa lahan yang menyerupai rawa—basah, berlumpur, dan penuh tantangan. Namun
dalam Islam, membersihkan jalan kebaikan adalah bagian dari amal shalih.
Pemandangan pesantren yang kini tampak seperti rawa
mengingatkan kita pada hakikat dunia: tidak ada yang benar-benar kokoh kecuali
iman kepada Allah. Allah ï·»
berfirman: “Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda
gurau, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu.” (QS. Al-Hadid:
20)
Namun kehancuran fisik tidak berarti kehancuran iman.
Justru sering kali Allah menguji hamba-Nya agar hati kembali bersih dan
bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Rasulullah ï·º bersabda: “Apabila Allah mencintai
suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Harapan besar kini tertuju pada masa depan Pesantren
Darul Mukhlishin. Harapannya bukan semata bangunan berdiri kembali, tetapi
hidupnya kembali ruh pesantren: para santri kembali belajar, lantunan Al-Qur’an
kembali menggema, dan masjid kembali dipenuhi sujud dan doa. Harapan ini adalah
doa kolektif umat, karena pesantren bukan hanya milik satu lembaga, melainkan
milik seluruh umat Islam.
Membantu memulihkan pesantren adalah bagian dari
menjaga masa depan umat. Rasulullah ï·º bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dari Aceh Tamiang, Pesantren Darul Mukhlishin seolah
mengirim pesan tauhid yang lembut namun kuat: bahwa iman tidak hanyut oleh
banjir, dan harapan tidak tenggelam oleh lumpur. Selama masjid masih berdiri
dan doa masih dipanjatkan, pertolongan Allah selalu dekat. Allah ï·» berfirman: “Sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Pada akhirnya, bencana Sumatera memang menyisakan luka
dan pilu. Namun bagi orang-orang beriman, ia juga menghadirkan hikmah yang
mendalam. Ia meruntuhkan bangunan, tetapi menguatkan tauhid. Ia menutup jalan,
tetapi membuka pintu doa. Dan dari lumpur yang menutupi Pesantren Darul
Mukhlishin, semoga Allah ï·»
menumbuhkan kembali cahaya ilmu dan iman—menjadikannya bangkit sebagai benteng
akidah dan benteng masyarakat, yang lebih kuat, lebih bersih, dan lebih dekat
kepada Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡
وتعالى.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1228/06/01/26 : 10.50
WIB)

