[1] Madrasah Jiwa RAMADHAN DAN PERJALANAN PULANG MENUJU HATI YANG TENANG



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan sering dipahami sebagai kewajiban ritual tahunan, padahal hakikatnya ia adalah perjalanan pulang—pulang menuju hati yang jernih dan jiwa yang tenang. Dalam kesibukan hidup yang sering membuat manusia terpisah dari dirinya sendiri. 

 

Ramadhan menghadirkan ruang untuk berhenti, merenung, dan mengingat kembali tujuan penciptaan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan untuk menata ulang hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

 

Allah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa tujuan puasa adalah agar manusia mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

 

Ketakwaan dalam perspektif spiritual bukan hanya kepatuhan lahiriah, tetapi kesadaran batin yang membuat hati menjadi hidup.

 

Ketika seseorang menahan diri dari yang halal sekalipun, ia sedang belajar mengendalikan keinginan, menenangkan gejolak nafsu, dan membuka ruang bagi cahaya kesadaran ilahiah. Dari sinilah ketenangan mulai tumbuh, karena hati tidak lagi dikuasai oleh dorongan duniawi yang tak pernah selesai.

 

Dalam tradisi tasawuf, kegelisahan manusia sering lahir dari keterputusan dengan sumber ketenangan itu sendiri. Manusia mencari kebahagiaan melalui pencapaian luar, sementara hatinya tetap kosong.

 

Ramadhan mengajarkan sebaliknya: ketenangan lahir dari kedekatan dengan Allah. Rasulullah ï·º bersabda bahwa orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya karena Allah, dan Allah sendiri yang akan membalasnya (HR. Sahih al-Bukhari).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat personal—sebuah dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya, yang perlahan membersihkan hati dari riya dan kepura-puraan.

 

Ketenangan hati juga lahir dari kesadaran menerima kehidupan apa adanya. Lapar mengajarkan empati, dahaga menumbuhkan syukur, dan kelelahan ibadah malam melatih kesabaran. Semua pengalaman itu adalah proses pelembutan jiwa.

 

Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menghadirkan hati di hadapan Allah. Ketika hati hadir, ibadah tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi kebutuhan ruhani yang menenangkan.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah perjalanan kembali—kembali kepada fitrah, kepada kesederhanaan, dan kepada kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba yang sedang berjalan menuju-Nya.

 

Hati yang tenang bukanlah hati tanpa masalah, melainkan hati yang yakin bahwa setiap ujian memiliki makna dan setiap kesulitan berada dalam pengawasan Allah. Karena itu, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari banyaknya amal semata, tetapi dari sejauh mana hati menjadi lebih lembut, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada-Nya.

 

Semoga Ramadhan menjadi momentum untuk menemukan kembali rumah batin yang lama terlupakan—sebuah hati yang tenang karena selalu ingat kepada Allah, dan kehidupan yang lebih ringan karena dijalani dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah bagian dari perjalanan pulang.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No. 12571 Ramadhan 1447 H : 19.18 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad