[11] Madrasah Jiwa DARI RUTINITAS MENUJU KESADARAN SPIRITUAL



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Sering kali ibadah dalam kehidupan sehari-hari berubah menjadi rutinitas. Shalat dilakukan karena kewajiban, puasa dijalankan karena kebiasaan, dan dzikir diucapkan tanpa kehadiran hati.

 

Ramadhan datang untuk mengubah rutinitas itu menjadi kesadaran spiritual—menghidupkan kembali makna ibadah agar tidak sekadar gerakan lahiriah, tetapi perjalanan batin menuju Allah.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Taha: 14).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa inti ibadah adalah kesadaran mengingat Allah. Ketika ibadah kehilangan kesadaran tersebut, ia menjadi kosong dari makna.

 

Ramadhan mengajak manusia memperlambat ritme hidup, sehingga setiap amal memiliki ruang untuk direnungkan dan dihayati.

 

Puasa menjadi sarana yang kuat untuk membangunkan kesadaran ini. Lapar dan dahaga membuat seseorang lebih peka terhadap dirinya dan lingkungannya. Ia menjadi lebih sadar terhadap ucapan, perbuatan, dan niatnya.

 

Rasulullah ï·º bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Sahih al-Bukhari).

 

Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi proses transformasi kesadaran.

 

Dalam pandangan ulama tasawuf, kesadaran spiritual lahir ketika hati hadir dalam setiap amal. Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa ibadah tanpa kehadiran hati seperti tubuh tanpa ruh.

 

Ramadhan melatih manusia untuk kembali menghadirkan niat, merasakan makna doa, dan menyadari bahwa setiap ibadah adalah bentuk komunikasi dengan Allah.

 

Perubahan dari rutinitas menuju kesadaran juga mengubah cara memandang kehidupan. Aktivitas sehari-hari tidak lagi dipisahkan dari nilai ibadah. Bekerja, membantu sesama, dan menahan amarah menjadi bagian dari penghambaan kepada Allah.

 

Ketika kesadaran ini tumbuh, hidup terasa lebih terarah dan penuh makna, karena setiap perbuatan memiliki tujuan spiritual.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah momentum kebangkitan jiwa. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban yang diulang, tetapi kesempatan untuk mendekat kepada Allah dengan hati yang hidup.

 

Jika kesadaran spiritual ini mampu dijaga setelah Ramadhan, maka kehidupan tidak lagi berjalan secara otomatis, melainkan dijalani dengan kehadiran hati.

 

Dari sinilah lahir ketenangan—ketenangan yang muncul ketika manusia sadar bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1269/28/02/26 : 09.16 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad