Oleh : Ahmad Sastra
Sering kali ibadah dalam kehidupan sehari-hari berubah
menjadi rutinitas. Shalat dilakukan karena kewajiban, puasa dijalankan karena
kebiasaan, dan dzikir diucapkan tanpa kehadiran hati.
Ramadhan datang untuk mengubah rutinitas itu menjadi
kesadaran spiritual—menghidupkan kembali makna ibadah agar tidak sekadar
gerakan lahiriah, tetapi perjalanan batin menuju Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan dirikanlah
shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Taha: 14).
Ayat ini menunjukkan bahwa inti ibadah adalah kesadaran
mengingat Allah. Ketika ibadah kehilangan kesadaran tersebut, ia menjadi kosong
dari makna.
Ramadhan mengajak manusia memperlambat ritme hidup,
sehingga setiap amal memiliki ruang untuk direnungkan dan dihayati.
Puasa menjadi sarana yang kuat untuk membangunkan
kesadaran ini. Lapar dan dahaga membuat seseorang lebih peka terhadap dirinya
dan lingkungannya. Ia menjadi lebih sadar terhadap ucapan, perbuatan, dan
niatnya.
Rasulullah ï·º
bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan
buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya”
(HR. Sahih al-Bukhari).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar
aktivitas fisik, tetapi proses transformasi kesadaran.
Dalam pandangan ulama tasawuf, kesadaran spiritual
lahir ketika hati hadir dalam setiap amal. Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan
bahwa ibadah tanpa kehadiran hati seperti tubuh tanpa ruh.
Ramadhan melatih manusia untuk kembali menghadirkan
niat, merasakan makna doa, dan menyadari bahwa setiap ibadah adalah bentuk
komunikasi dengan Allah.
Perubahan dari rutinitas menuju kesadaran juga
mengubah cara memandang kehidupan. Aktivitas sehari-hari tidak lagi dipisahkan
dari nilai ibadah. Bekerja, membantu sesama, dan menahan amarah menjadi bagian
dari penghambaan kepada Allah.
Ketika kesadaran ini tumbuh, hidup terasa lebih
terarah dan penuh makna, karena setiap perbuatan memiliki tujuan spiritual.
Ramadhan pada akhirnya adalah momentum kebangkitan
jiwa. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban yang diulang, tetapi
kesempatan untuk mendekat kepada Allah dengan hati yang hidup.
Jika kesadaran spiritual ini mampu dijaga setelah
Ramadhan, maka kehidupan tidak lagi berjalan secara otomatis, melainkan
dijalani dengan kehadiran hati.
Dari sinilah lahir ketenangan—ketenangan yang muncul
ketika manusia sadar bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan dan kasih
sayang Allah.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1269/28/02/26 : 09.16
WIB)

