Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan mengajarkan sebuah pelajaran yang sederhana
namun mendalam: terkadang ketenangan hidup tidak diperoleh dengan menambah,
tetapi dengan mengurangi.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa
lelah karena terlalu banyak mengejar—harta, pengakuan, kenyamanan, dan
kesibukan yang tidak pernah selesai. Puasa hadir untuk mengembalikan
keseimbangan itu, mengajarkan bahwa ketika dunia dikurangi dari hati, kehadiran
Allah justru semakin terasa.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Ketahuilah,
kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling
berbangga di antara kalian…” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat ini bukan melarang manusia menjalani kehidupan
dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama. Ketika hati
terlalu dipenuhi oleh urusan duniawi, ruang untuk merasakan kedekatan dengan
Allah menjadi sempit.
Puasa melatih manusia untuk mengurangi ketergantungan
tersebut. Dengan menahan makan, minum, dan berbagai keinginan, seseorang
belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kelimpahan.
Rasulullah ï·º
bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan
adalah hati yang merasa cukup” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa ketenangan lahir dari sikap qana’ah—merasa cukup
dengan apa yang Allah berikan.
Dalam tradisi tasawuf, mengurangi dunia dikenal
sebagai latihan zuhud, yaitu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang
terlalu sibuk dengan dunia akan sulit merasakan manisnya ibadah. Sebaliknya,
ketika keterikatan berlebihan dilepaskan, hati menjadi ringan dan mudah
menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas.
Ramadhan memberikan kesempatan untuk merasakan
kehidupan yang lebih sederhana. Waktu makan terbatas, aktivitas diperlambat,
dan malam dihidupkan dengan ibadah.
Dalam kesederhanaan itu, manusia menemukan kejernihan:
bahwa banyak hal yang selama ini dianggap kebutuhan ternyata hanyalah
kebiasaan. Ketika dunia tidak lagi mendominasi hati, dzikir terasa lebih hidup,
doa terasa lebih dekat, dan ibadah menjadi sumber ketenangan.
Pada akhirnya, mengurangi dunia bukan berarti
meninggalkan tanggung jawab kehidupan, tetapi mengubah orientasi hati. Dunia
tetap dijalani, namun tidak lagi menguasai.
Ramadhan mengajarkan bahwa semakin hati kosong dari
kelekatan dunia, semakin kuat kehadiran Allah di dalamnya. Dari sinilah lahir
ketenangan sejati—ketenangan yang tidak bergantung pada banyaknya yang
dimiliki, tetapi pada kedekatan dengan Sang Pemilik segala sesuatu.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1268/28/02/26 : 09.14
WIB)

