[10] Madrasah Jiwa MENGURANGI DUNIA, MENAMBAH KEHADIRAN ALLAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan mengajarkan sebuah pelajaran yang sederhana namun mendalam: terkadang ketenangan hidup tidak diperoleh dengan menambah, tetapi dengan mengurangi.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa lelah karena terlalu banyak mengejar—harta, pengakuan, kenyamanan, dan kesibukan yang tidak pernah selesai. Puasa hadir untuk mengembalikan keseimbangan itu, mengajarkan bahwa ketika dunia dikurangi dari hati, kehadiran Allah justru semakin terasa.

 

Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Ketahuilah, kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian…” (QS. Al-Hadid: 20).

 

Ayat ini bukan melarang manusia menjalani kehidupan dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama. Ketika hati terlalu dipenuhi oleh urusan duniawi, ruang untuk merasakan kedekatan dengan Allah menjadi sempit.

 

Puasa melatih manusia untuk mengurangi ketergantungan tersebut. Dengan menahan makan, minum, dan berbagai keinginan, seseorang belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kelimpahan.

 

Rasulullah ï·º bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ketenangan lahir dari sikap qana’ah—merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

 

Dalam tradisi tasawuf, mengurangi dunia dikenal sebagai latihan zuhud, yaitu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

 

Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang terlalu sibuk dengan dunia akan sulit merasakan manisnya ibadah. Sebaliknya, ketika keterikatan berlebihan dilepaskan, hati menjadi ringan dan mudah menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas.

 

Ramadhan memberikan kesempatan untuk merasakan kehidupan yang lebih sederhana. Waktu makan terbatas, aktivitas diperlambat, dan malam dihidupkan dengan ibadah.

 

Dalam kesederhanaan itu, manusia menemukan kejernihan: bahwa banyak hal yang selama ini dianggap kebutuhan ternyata hanyalah kebiasaan. Ketika dunia tidak lagi mendominasi hati, dzikir terasa lebih hidup, doa terasa lebih dekat, dan ibadah menjadi sumber ketenangan.

 

Pada akhirnya, mengurangi dunia bukan berarti meninggalkan tanggung jawab kehidupan, tetapi mengubah orientasi hati. Dunia tetap dijalani, namun tidak lagi menguasai.

 

Ramadhan mengajarkan bahwa semakin hati kosong dari kelekatan dunia, semakin kuat kehadiran Allah di dalamnya. Dari sinilah lahir ketenangan sejati—ketenangan yang tidak bergantung pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada kedekatan dengan Sang Pemilik segala sesuatu.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1268/28/02/26 : 09.14 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad