[2] Madrasah Jiwa PUASA SEBAGAI JALAN MEMBERSIHKAN JIWA DARI KELEKATAN DUNIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan menghadirkan sebuah latihan spiritual yang unik dalam kehidupan seorang Muslim. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah proses pendidikan jiwa untuk melepaskan diri dari keterikatan berlebihan terhadap dunia. Dalam keseharian, manusia sering tanpa sadar menjadikan kenikmatan materi, kenyamanan, dan pengakuan sebagai pusat kebahagiaan.

 

Puasa datang untuk mengembalikan keseimbangan itu, mengajarkan bahwa manusia tidak hidup hanya untuk memenuhi keinginan jasmani, melainkan untuk menumbuhkan kedekatan dengan Allah.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Ketakwaan di sini bukan hanya ketaatan formal, tetapi kesadaran batin yang membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya.

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah : 183)

 

Ketika seseorang menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal, ia sedang belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan pemenuhan keinginan. Dari latihan inilah jiwa perlahan terbebas dari ketergantungan pada hal-hal duniawi.

 

Dalam perspektif tasawuf, keterikatan terhadap dunia bukan berarti memiliki harta atau menjalani kehidupan sosial, tetapi ketika hati bergantung kepadanya. Puasa melatih manusia untuk merasakan kekurangan secara sadar, sehingga muncul kesadaran bahwa segala kenikmatan hanyalah titipan.

 

Rasulullah ï·º bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya (HR. Sahih al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah penyucian jiwa, bukan sekadar perubahan pola makan.

 

Lapar yang dirasakan selama puasa menjadi sarana melembutkan hati. Ia mematahkan kesombongan, menumbuhkan empati kepada sesama, dan mengingatkan manusia akan keterbatasannya.

 

Dalam keadaan lapar, manusia menyadari bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan Allah. Kesadaran inilah yang membuka pintu kerendahan hati, salah satu kunci kebersihan jiwa.

 

Para ulama tasawuf, seperti Abu Hamid al-Ghazali, menjelaskan bahwa pengendalian syahwat melalui puasa membantu menundukkan dominasi nafsu, sehingga hati lebih mudah menerima cahaya kebenaran.

 

Membersihkan jiwa dari kelekatan dunia bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar. Dunia menjadi sarana, bukan tujuan.

 

Ketika hati tidak lagi diperbudak oleh keinginan, seseorang merasakan kebebasan batin yang melahirkan ketenangan. Ia bekerja, berinteraksi, dan berusaha, namun hatinya tetap terikat kepada Allah sebagai tujuan akhir.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah kesempatan untuk mengembalikan arah hidup. Puasa mengajarkan bahwa kesederhanaan justru menghadirkan kejernihan, dan pengendalian diri melahirkan kekuatan batin.

 

Jika latihan ini dijaga setelah Ramadhan, maka manusia tidak hanya keluar dari bulan suci dengan tubuh yang menahan lapar, tetapi dengan jiwa yang lebih ringan, hati yang lebih bersih, dan kehidupan yang lebih bermakna.

 

Puasa menjadi jalan pulang, membebaskan manusia dari belenggu dunia, agar ia kembali kepada ketenangan yang sejati dalam kedekatan dengan Allah. Dalam praktiknya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah latihan spiritual yang mengikis keterikatan berlebihan pada kenikmatan materi, ambisi, dan hiruk-pikuk kehidupan duniawi.

 

Ketika seseorang menahan diri dari yang halal sekalipun, ia sedang dididik untuk mengendalikan yang haram dan syubhat. Jiwa yang sebelumnya dipenuhi kegelisahan perlahan menjadi lebih jernih, karena ia belajar bahwa sumber kebahagiaan bukan terletak pada kepemilikan, melainkan pada kesadaran akan kehadiran Tuhan.

 

Di situlah puasa berfungsi sebagai proses tazkiyatun nafs, penyucian diri, yang menuntun manusia mengenali kembali fitrahnya sebagai hamba.

 

Dalam suasana hening lapar dan doa, manusia menemukan ruang untuk berdialog dengan batinnya sendiri. Ia menyadari betapa rapuh dirinya tanpa pertolongan Allah, dan betapa luas kasih sayang-Nya yang senantiasa membuka pintu taubat.

 

Puasa mengajarkan kesabaran, keikhlasan, serta rasa cukup, sehingga hati tidak lagi diperbudak oleh keinginan yang tak bertepi. Dengan demikian, puasa menjadi perjalanan ruhani menuju ketenangan yang sejati, ketenangan yang lahir dari kedekatan dengan Allah, ketika hati merasa cukup bersama-Nya dan menemukan makna terdalam dari keberadaan hidupnya.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1258/19/02/26 : 08.14 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad