Oleh : Ahmad Sastra
Di tengah rutinitas hidup yang padat, hati sering kali
tertidur tanpa kita sadari. Ia tetap berdetak, tetapi kehilangan kepekaan; ia
hidup secara biologis, namun redup secara spiritual.
Ramadhan hadir sebagai panggilan lembut untuk
membangunkan kembali hati yang lama terlelap oleh kesibukan dunia, ambisi, dan
kelalaian.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah…” (QS. Al-Hadid: 16).
Ayat ini seperti teguran penuh kasih—bahwa kekerasan
hati bukanlah takdir, melainkan akibat dari jauhnya manusia dari dzikir dan
refleksi. Ketika hati jarang disentuh oleh ayat-ayat Allah, ia menjadi kering.
Ketika terlalu lama sibuk dengan dunia, ia kehilangan arah.
Puasa adalah salah satu cara Allah menghidupkan
kembali sensitivitas ruhani itu. Dengan menahan lapar dan dahaga, manusia
dipaksa berhenti sejenak dari dominasi fisik. Dalam keadaan lemah secara
jasmani, hati justru memiliki peluang untuk menjadi kuat.
Rasulullah ï·º bersabda bahwa dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik,
maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh
tubuh—itulah hati (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini menegaskan
bahwa pusat kehidupan sejati manusia terletak pada kualitas hatinya.
Ramadhan juga mengajarkan keheningan. Malam-malam yang
dihidupkan dengan qiyam, lantunan ayat suci, dan doa yang lirih adalah terapi
bagi hati yang lama tidak diajak berbicara dengan Tuhannya.
Dalam tradisi para ulama seperti Ibn Qayyim
al-Jawziyya, hati diibaratkan cermin: ia akan memantulkan cahaya jika
dibersihkan, namun akan gelap jika tertutup debu dosa dan kelalaian. Dzikir,
istighfar, dan tilawah adalah cara membersihkannya.
Menghidupkan hati bukan berarti menjadi manusia tanpa
masalah, tetapi menjadi pribadi yang peka terhadap makna. Ia mudah bersyukur,
cepat bertaubat, dan lembut terhadap sesama. Hati yang hidup mampu merasakan
kehadiran Allah dalam setiap peristiwa—baik dalam kelapangan maupun kesempitan.
Ramadhan adalah musim kebangkitan jiwa. Jika selama
ini hati terasa keras, mudah gelisah, atau kehilangan arah, maka bulan ini
adalah kesempatan untuk memulainya kembali. Dengan puasa, dzikir, dan taubat
yang sungguh-sungguh, hati yang lama tertidur dapat bangkit—menjadi sumber
cahaya yang menerangi perjalanan hidup menuju Allah.
Ramadhan adalah musim kebangkitan jiwa. Ia hadir bukan
sekadar sebagai pergantian waktu dalam kalender hijriah, tetapi sebagai
momentum ilahiah untuk memperbarui kesadaran batin manusia.
Jika selama ini hati terasa keras karena lalai, mudah
gelisah karena terlalu lekat pada urusan dunia, atau kehilangan arah akibat
kaburnya tujuan hidup, maka bulan ini adalah kesempatan untuk memulainya
kembali.
Ramadhan mengetuk ruang terdalam diri, mengajak
manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu menengok kembali
siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali.
Melalui puasa, manusia belajar menata ulang relasi
dengan dirinya dan dengan Tuhannya. Lapar dan dahaga bukan sekadar menahan
kebutuhan fisik, melainkan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan
menyucikan niat.
Dzikir yang dilantunkan menghadirkan kesadaran bahwa
hidup tidak berjalan sendiri, melainkan berada dalam pengawasan dan kasih
sayang Allah. Sementara taubat yang sungguh-sungguh membuka pintu harapan,
membersihkan noda-noda dosa yang selama ini menutup kejernihan hati.
Dalam suasana Ramadhan, ibadah-ibadah itu berpadu
menjadi proses tazkiyah—penyucian jiwa yang menghidupkan kembali nurani yang
lama terpendam.
Dengan puasa, dzikir, dan taubat yang terus dirawat,
hati yang lama tertidur dapat bangkit dan menemukan kembali cahayanya. Dari
hati yang hidup itulah lahir ketenangan, keikhlasan, dan keteguhan dalam
melangkah.
Cahaya itu tidak hanya menerangi hubungan vertikal
dengan Allah, tetapi juga memancar dalam sikap sosial: lebih lembut kepada
sesama, lebih jujur dalam amanah, dan lebih sabar dalam ujian.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan
diri, melainkan tentang menumbuhkan kembali jiwa yang sadar akan tujuan
tertinggi hidupnya—berjalan pulang menuju Allah dengan hati yang bersih dan
bercahaya.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1260/20/02/26 : 19.16
WIB)

