[3] Madrasah Jiwa MENGHIDUPKAN HATI YANG LAMA TERTIDUR



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Di tengah rutinitas hidup yang padat, hati sering kali tertidur tanpa kita sadari. Ia tetap berdetak, tetapi kehilangan kepekaan; ia hidup secara biologis, namun redup secara spiritual.

 

Ramadhan hadir sebagai panggilan lembut untuk membangunkan kembali hati yang lama terlelap oleh kesibukan dunia, ambisi, dan kelalaian.

 

Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…” (QS. Al-Hadid: 16).

 

Ayat ini seperti teguran penuh kasih—bahwa kekerasan hati bukanlah takdir, melainkan akibat dari jauhnya manusia dari dzikir dan refleksi. Ketika hati jarang disentuh oleh ayat-ayat Allah, ia menjadi kering. Ketika terlalu lama sibuk dengan dunia, ia kehilangan arah.

 

Puasa adalah salah satu cara Allah menghidupkan kembali sensitivitas ruhani itu. Dengan menahan lapar dan dahaga, manusia dipaksa berhenti sejenak dari dominasi fisik. Dalam keadaan lemah secara jasmani, hati justru memiliki peluang untuk menjadi kuat.

 

Rasulullah ï·º bersabda bahwa dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh—itulah hati (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa pusat kehidupan sejati manusia terletak pada kualitas hatinya.

 

Ramadhan juga mengajarkan keheningan. Malam-malam yang dihidupkan dengan qiyam, lantunan ayat suci, dan doa yang lirih adalah terapi bagi hati yang lama tidak diajak berbicara dengan Tuhannya.

 

Dalam tradisi para ulama seperti Ibn Qayyim al-Jawziyya, hati diibaratkan cermin: ia akan memantulkan cahaya jika dibersihkan, namun akan gelap jika tertutup debu dosa dan kelalaian. Dzikir, istighfar, dan tilawah adalah cara membersihkannya.

 

Menghidupkan hati bukan berarti menjadi manusia tanpa masalah, tetapi menjadi pribadi yang peka terhadap makna. Ia mudah bersyukur, cepat bertaubat, dan lembut terhadap sesama. Hati yang hidup mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa—baik dalam kelapangan maupun kesempitan.

 

Ramadhan adalah musim kebangkitan jiwa. Jika selama ini hati terasa keras, mudah gelisah, atau kehilangan arah, maka bulan ini adalah kesempatan untuk memulainya kembali. Dengan puasa, dzikir, dan taubat yang sungguh-sungguh, hati yang lama tertidur dapat bangkit—menjadi sumber cahaya yang menerangi perjalanan hidup menuju Allah.

 

Ramadhan adalah musim kebangkitan jiwa. Ia hadir bukan sekadar sebagai pergantian waktu dalam kalender hijriah, tetapi sebagai momentum ilahiah untuk memperbarui kesadaran batin manusia.

 

Jika selama ini hati terasa keras karena lalai, mudah gelisah karena terlalu lekat pada urusan dunia, atau kehilangan arah akibat kaburnya tujuan hidup, maka bulan ini adalah kesempatan untuk memulainya kembali.

 

Ramadhan mengetuk ruang terdalam diri, mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu menengok kembali siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali.

 

Melalui puasa, manusia belajar menata ulang relasi dengan dirinya dan dengan Tuhannya. Lapar dan dahaga bukan sekadar menahan kebutuhan fisik, melainkan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan menyucikan niat.

 

Dzikir yang dilantunkan menghadirkan kesadaran bahwa hidup tidak berjalan sendiri, melainkan berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah. Sementara taubat yang sungguh-sungguh membuka pintu harapan, membersihkan noda-noda dosa yang selama ini menutup kejernihan hati.

 

Dalam suasana Ramadhan, ibadah-ibadah itu berpadu menjadi proses tazkiyah—penyucian jiwa yang menghidupkan kembali nurani yang lama terpendam.

 

Dengan puasa, dzikir, dan taubat yang terus dirawat, hati yang lama tertidur dapat bangkit dan menemukan kembali cahayanya. Dari hati yang hidup itulah lahir ketenangan, keikhlasan, dan keteguhan dalam melangkah.

 

Cahaya itu tidak hanya menerangi hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga memancar dalam sikap sosial: lebih lembut kepada sesama, lebih jujur dalam amanah, dan lebih sabar dalam ujian.

 

Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan diri, melainkan tentang menumbuhkan kembali jiwa yang sadar akan tujuan tertinggi hidupnya—berjalan pulang menuju Allah dengan hati yang bersih dan bercahaya.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1260/20/02/26 : 19.16 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad