[4] Madrasah Jiwa LAPAR YANG MENYADARKAN, DZIKIR YANG MENGUATKAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Salah satu hikmah terbesar puasa di bulan Ramadhan adalah menghadirkan kesadaran yang sering hilang dalam kenyamanan hidup. Lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, melainkan cara Allah mengingatkan manusia akan hakikat dirinya: lemah, terbatas, dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

 

Dalam keadaan lapar, manusia belajar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari tubuh, tetapi dari hati yang terhubung dengan Allah.

 

Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Ketakwaan lahir dari kesadaran, dan kesadaran sering muncul ketika manusia merasakan keterbatasannya.

 

Lapar mematahkan kesombongan, menumbuhkan empati kepada mereka yang kekurangan, serta mengingatkan bahwa nikmat yang selama ini dianggap biasa sesungguhnya adalah karunia besar.

 

Dari sinilah jiwa mulai terbangun—menyadari bahwa hidup bukan sekadar mengejar kenikmatan, tetapi mencari kedekatan dengan Sang Pemberi Nikmat.

 

Namun, kesadaran saja tidak cukup. Hati yang telah tersentuh perlu dikuatkan agar tidak kembali lemah. Di sinilah dzikir mengambil peran penting. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

 

Dzikir bukan sekadar lafaz di lisan, tetapi kehadiran hati yang mengingat Allah dalam setiap keadaan. Ketika tubuh melemah karena puasa, dzikir justru menguatkan batin, menghadirkan ketenangan yang tidak bergantung pada kondisi fisik.

 

Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya (HR. Sahih al-Bukhari).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa mendidik manusia untuk menunda kenikmatan sesaat demi kebahagiaan yang lebih dalam. Lapar menjadi sarana penyadaran, sementara dzikir menjaga agar kesadaran itu tetap hidup.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kegelisahan lahir karena hati terlalu bergantung pada hal-hal yang berubah. Dzikir mengembalikan hati kepada sesuatu yang tetap dan abadi, yaitu Allah.

 

Ketika hati terbiasa berdzikir, kesulitan terasa lebih ringan, dan ujian tidak lagi mematahkan harapan. Puasa dan dzikir akhirnya menjadi dua sisi dari satu perjalanan: yang satu melemahkan dominasi nafsu, yang lain menguatkan ruh.

 

Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kesadaran dan kedekatan. Lapar mengingatkan siapa kita, dan dzikir mengingatkan kepada siapa kita bergantung. Jika keduanya dijaga, maka hati akan tumbuh lebih tenang, lebih kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan dengan penuh makna, bahkan setelah Ramadhan berlalu.

 

Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari dominasi fisik atau material, melainkan dari kesadaran ruhani dan kedekatan dengan Allah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah latihan spiritual untuk membangun takwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan “agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

 

Para mufasir seperti Ibn Kathir menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah penyucian jiwa dan penguatan kontrol diri yang menuntun manusia pada kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap dimensi kehidupan (Ibn Kathir, 1999). Dengan demikian, kekuatan yang lahir dari Ramadhan adalah kekuatan kesadaran—kesadaran akan identitas kehambaan dan tanggung jawab moral sebagai makhluk yang terikat pada nilai-nilai ilahiah.

 

Lapar dalam puasa berfungsi sebagai pengingat eksistensial tentang keterbatasan manusia. Ketika tubuh merasakan kelemahan, jiwa diajak untuk menyadari bahwa ia bukanlah entitas yang otonom, melainkan hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.

 

Kesadaran ini diperdalam melalui dzikir, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai jalan menuju ketenangan hati: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28).

 

Dalam perspektif tasawuf klasik, seperti yang diuraikan oleh Abu Hamid al-Ghazali, dzikir merupakan sarana tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) yang menguatkan hubungan batin antara hamba dan Tuhannya (Al-Ghazali, 2005).

 

Melalui kombinasi lapar yang menyadarkan dan dzikir yang menenangkan, Ramadhan membentuk integrasi antara dimensi jasmani dan ruhani dalam diri manusia.

 

Apabila kesadaran dan kedekatan ini dijaga secara konsisten, maka hati akan tumbuh lebih tenang, lebih kokoh, dan lebih siap menghadapi dinamika kehidupan. Ramadhan pada hakikatnya adalah madrasah pembentukan karakter spiritual yang efeknya melampaui batas waktu satu bulan.

 

Fazlur Rahman menekankan bahwa ibadah dalam Islam bertujuan membentuk transformasi etis yang berkelanjutan dalam kehidupan sosial dan personal (Rahman, 1982).

 

Oleh karena itu, keberhasilan Ramadhan tidak diukur hanya dari selesainya ritual, tetapi dari keberlanjutan nilai takwa, kesadaran, dan kedekatan kepada Allah setelah bulan suci berlalu. Dalam kesinambungan inilah makna sejati Ramadhan terpelihara sebagai sumber kekuatan batin yang autentik dan transformatif.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulum al-din (Rev. ed.). Beirut: Dar al-Ma‘rifah.

Ibn Kathir. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of Chicago Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1261/21/02/26 : 08.41 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad