Oleh : Ahmad Sastra
Salah satu hikmah terbesar puasa di bulan Ramadhan
adalah menghadirkan kesadaran yang sering hilang dalam kenyamanan hidup. Lapar
dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, melainkan cara Allah mengingatkan manusia
akan hakikat dirinya: lemah, terbatas, dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.
Dalam keadaan lapar, manusia belajar bahwa kekuatan
sejati bukan berasal dari tubuh, tetapi dari hati yang terhubung dengan Allah.
Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa puasa
diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Ketakwaan
lahir dari kesadaran, dan kesadaran sering muncul ketika manusia merasakan
keterbatasannya.
Lapar mematahkan kesombongan, menumbuhkan empati
kepada mereka yang kekurangan, serta mengingatkan bahwa nikmat yang selama ini
dianggap biasa sesungguhnya adalah karunia besar.
Dari sinilah jiwa mulai terbangun—menyadari bahwa
hidup bukan sekadar mengejar kenikmatan, tetapi mencari kedekatan dengan Sang
Pemberi Nikmat.
Namun, kesadaran saja tidak cukup. Hati yang telah
tersentuh perlu dikuatkan agar tidak kembali lemah. Di sinilah dzikir mengambil
peran penting. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dzikir bukan sekadar lafaz di lisan, tetapi kehadiran
hati yang mengingat Allah dalam setiap keadaan. Ketika tubuh melemah karena
puasa, dzikir justru menguatkan batin, menghadirkan ketenangan yang tidak
bergantung pada kondisi fisik.
Rasulullah ï·º
mengajarkan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan
saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya (HR. Sahih
al-Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa mendidik manusia
untuk menunda kenikmatan sesaat demi kebahagiaan yang lebih dalam. Lapar
menjadi sarana penyadaran, sementara dzikir menjaga agar kesadaran itu tetap
hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kegelisahan lahir
karena hati terlalu bergantung pada hal-hal yang berubah. Dzikir mengembalikan
hati kepada sesuatu yang tetap dan abadi, yaitu Allah.
Ketika hati terbiasa berdzikir, kesulitan terasa lebih
ringan, dan ujian tidak lagi mematahkan harapan. Puasa dan dzikir akhirnya
menjadi dua sisi dari satu perjalanan: yang satu melemahkan dominasi nafsu,
yang lain menguatkan ruh.
Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari
kesadaran dan kedekatan. Lapar mengingatkan siapa kita, dan dzikir mengingatkan
kepada siapa kita bergantung. Jika keduanya dijaga, maka hati akan tumbuh lebih
tenang, lebih kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan dengan penuh makna,
bahkan setelah Ramadhan berlalu.
Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir
dari dominasi fisik atau material, melainkan dari kesadaran ruhani dan
kedekatan dengan Allah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi
sebuah latihan spiritual untuk membangun takwa, sebagaimana ditegaskan dalam
Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan “agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]:
183).
Para mufasir seperti Ibn Kathir menjelaskan bahwa
tujuan utama puasa adalah penyucian jiwa dan penguatan kontrol diri yang
menuntun manusia pada kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap dimensi
kehidupan (Ibn Kathir, 1999). Dengan demikian, kekuatan yang lahir dari
Ramadhan adalah kekuatan kesadaran—kesadaran akan identitas kehambaan dan
tanggung jawab moral sebagai makhluk yang terikat pada nilai-nilai ilahiah.
Lapar dalam puasa berfungsi sebagai pengingat
eksistensial tentang keterbatasan manusia. Ketika tubuh merasakan kelemahan,
jiwa diajak untuk menyadari bahwa ia bukanlah entitas yang otonom, melainkan
hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Kesadaran ini diperdalam melalui dzikir, yang dalam
Al-Qur’an disebut sebagai jalan menuju ketenangan hati: “Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28).
Dalam perspektif tasawuf klasik, seperti yang
diuraikan oleh Abu Hamid al-Ghazali, dzikir merupakan sarana tazkiyat al-nafs
(penyucian jiwa) yang menguatkan hubungan batin antara hamba dan Tuhannya
(Al-Ghazali, 2005).
Melalui kombinasi lapar yang menyadarkan dan dzikir
yang menenangkan, Ramadhan membentuk integrasi antara dimensi jasmani dan
ruhani dalam diri manusia.
Apabila kesadaran dan kedekatan ini dijaga secara
konsisten, maka hati akan tumbuh lebih tenang, lebih kokoh, dan lebih siap
menghadapi dinamika kehidupan. Ramadhan pada hakikatnya adalah madrasah
pembentukan karakter spiritual yang efeknya melampaui batas waktu satu bulan.
Fazlur Rahman menekankan bahwa ibadah dalam Islam
bertujuan membentuk transformasi etis yang berkelanjutan dalam kehidupan sosial
dan personal (Rahman, 1982).
Oleh karena itu, keberhasilan Ramadhan tidak diukur
hanya dari selesainya ritual, tetapi dari keberlanjutan nilai takwa, kesadaran,
dan kedekatan kepada Allah setelah bulan suci berlalu. Dalam kesinambungan
inilah makna sejati Ramadhan terpelihara sebagai sumber kekuatan batin yang
autentik dan transformatif.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulum al-din (Rev.
ed.). Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
Ibn Kathir. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘azim.
Riyadh: Dar Tayyibah.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity:
Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of
Chicago Press.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1261/21/02/26 : 08.41
WIB)

