Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan bukan hanya momentum memperbaiki hubungan
dengan Allah, tetapi juga waktu yang tepat untuk berdamai dengan diri sendiri.
Banyak kegelisahan hidup sebenarnya lahir dari pertentangan batin, antara
harapan dan kenyataan, antara kesalahan masa lalu dan keinginan untuk menjadi
lebih baik.
Ramadhan hadir membawa pesan bahwa setiap manusia
selalu memiliki kesempatan untuk kembali, memperbaiki, dan memulai langkah baru
dengan hati yang lebih lapang. Ramadhan hadir membawa pesan spiritual
bahwa setiap manusia tidak pernah benar-benar tertutup dari kemungkinan untuk
kembali kepada fitrahnya; bulan ini menjadi ruang refleksi di mana kesalahan
masa lalu tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai titik tolak untuk
perbaikan diri.
Melalui puasa, manusia belajar menahan
diri dan menata ulang orientasi hidupnya, sementara ibadah seperti shalat,
tilawah Al-Qur’an, dan sedekah membuka jalan untuk memperhalus hati yang
mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia.
Dalam suasana penuh rahmat dan ampunan,
Ramadhan menanamkan kesadaran bahwa perubahan selalu mungkin selama ada kemauan
untuk bertobat dan memperbaiki diri; setiap fajar di bulan ini seakan menjadi
simbol permulaan baru.
Puasa mengajarkan bahwa hati yang lapang
lahir dari keberanian untuk mengakui kekurangan, memohon ampun, dan melangkah
kembali dengan niat yang lebih jernih serta tujuan hidup yang lebih terarah
kepada Allah.
Allah menegaskan dalam Al-Qur'an: “Katakanlah,
wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini menjadi dasar spiritual bahwa Islam tidak
menutup pintu bagi orang yang pernah jatuh dalam kesalahan. Berdamai dengan
diri sendiri berarti menerima kelemahan sebagai bagian dari kemanusiaan,
sekaligus memiliki keberanian untuk memperbaikinya melalui taubat dan amal
kebaikan.
Puasa mengajarkan kejujuran batin. Saat seseorang
menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, meskipun tidak ada manusia
yang melihat, ia sedang belajar jujur kepada dirinya sendiri.
Rasulullah ï·º
bersabda bahwa Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang
akan membalasnya” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini
menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang menumbuhkan kesadaran internal,
bukan sekadar penilaian lahiriah. Dari kesadaran inilah proses berdamai dengan
diri dimulai.
Sering kali manusia terlalu keras terhadap dirinya
sendiri, terus-menerus menyesali masa lalu tanpa memberi ruang bagi harapan. Sering
kali manusia terlalu keras terhadap dirinya sendiri, terjebak dalam lingkaran
penyesalan yang berkepanjangan sehingga masa lalu seakan menjadi beban permanen
yang menutup pandangan terhadap masa depan.
Kesalahan yang pernah terjadi terus
diingat dan diulang dalam pikiran, hingga melahirkan rasa bersalah berlebihan
yang justru melemahkan semangat untuk berubah. Padahal, penyesalan yang sehat
seharusnya menjadi jembatan menuju perbaikan, bukan tembok yang mengurung
harapan.
Ketika seseorang tidak memberi ruang bagi
dirinya untuk bangkit, ia tanpa sadar menolak potensi rahmat dan kesempatan
baru yang selalu tersedia. Oleh karena itu, belajar memaafkan diri sendiri, tanpa
mengabaikan tanggung jawab, adalah langkah penting agar hati dapat kembali
lapang, menerima masa lalu sebagai pelajaran, dan menatap masa depan dengan
keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.
Padahal dalam pandangan para ulama seperti Abu Hamid
al-Ghazali, taubat bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga menghidupkan
harapan dan memperbaiki arah hidup. Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara
penyesalan yang menyadarkan dan harapan yang menguatkan.
Berdamai dengan diri sendiri juga berarti menerima
proses. Tidak semua perubahan terjadi seketika. Puasa yang dijalani hari demi
hari melatih kesabaran, mengajarkan bahwa perbaikan adalah perjalanan, bukan
hasil instan. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan jujur di hadapan
Allah, hatinya menjadi lebih tenang, karena ia tidak lagi hidup dalam penolakan
terhadap kenyataan.
Ramadhan pada akhirnya adalah ruang rekonsiliasi
batin. Di dalamnya, manusia belajar memaafkan dirinya, memperbaiki kesalahan,
dan melangkah dengan harapan baru. Ketika hati berdamai dengan dirinya sendiri,
ia lebih mudah berdamai dengan orang lain dan lebih siap mendekat kepada Allah.
Dari sinilah ketenangan sejati tumbuh, bukan karena hidup tanpa kekurangan,
tetapi karena hati telah menemukan tempat kembali.
Ramadhan pada akhirnya adalah ruang rekonsiliasi
batin, sebuah fase spiritual di mana manusia diajak berhenti sejenak dari
hiruk-pikuk kehidupan untuk menengok ke dalam dirinya sendiri.
Dalam suasana ibadah yang intens—melalui puasa, doa,
tilawah, dan muhasabah—seseorang belajar memaafkan dirinya atas kekhilafan masa
lalu tanpa kehilangan kesadaran untuk memperbaikinya. Ia menyadari bahwa setiap
kesalahan bukanlah identitas yang melekat selamanya, melainkan bagian dari
proses menjadi pribadi yang lebih matang.
Dari kesadaran ini tumbuh harapan baru, bahwa selalu
ada kesempatan untuk memperbarui niat, memperbaiki hubungan, dan menata langkah
ke depan dengan hati yang lebih bersih dan lapang.
Ketika hati telah berdamai dengan dirinya sendiri, ia
tidak lagi dipenuhi oleh amarah tersembunyi, rasa bersalah berlebihan, atau
kekecewaan yang menumpuk. Kedamaian batin ini memudahkan seseorang untuk
berdamai dengan orang lain, karena ia tidak lagi memproyeksikan luka pribadinya
kepada sesama.
Lebih dari itu, hati yang telah menemukan keseimbangan
internal menjadi lebih siap untuk mendekat kepada Allah dengan kerendahan dan
keikhlasan.
Dari titik inilah ketenangan sejati tumbuh, bukan
karena hidup terbebas dari kekurangan atau ujian, tetapi karena hati telah
menemukan arah pulang dan tempat kembali yang memberi makna pada setiap
perjalanan hidup.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1262/22/02/26 : 10.30
WIB)

