[5] Madrasah Jiwa MEMULAI LANGKAH BARU DENGAN HATI YANG LEBIH LAPANG



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan bukan hanya momentum memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga waktu yang tepat untuk berdamai dengan diri sendiri. Banyak kegelisahan hidup sebenarnya lahir dari pertentangan batin, antara harapan dan kenyataan, antara kesalahan masa lalu dan keinginan untuk menjadi lebih baik.

 

Ramadhan hadir membawa pesan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali, memperbaiki, dan memulai langkah baru dengan hati yang lebih lapang. Ramadhan hadir membawa pesan spiritual bahwa setiap manusia tidak pernah benar-benar tertutup dari kemungkinan untuk kembali kepada fitrahnya; bulan ini menjadi ruang refleksi di mana kesalahan masa lalu tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai titik tolak untuk perbaikan diri.

 

Melalui puasa, manusia belajar menahan diri dan menata ulang orientasi hidupnya, sementara ibadah seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah membuka jalan untuk memperhalus hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia.

 

Dalam suasana penuh rahmat dan ampunan, Ramadhan menanamkan kesadaran bahwa perubahan selalu mungkin selama ada kemauan untuk bertobat dan memperbaiki diri; setiap fajar di bulan ini seakan menjadi simbol permulaan baru.

 

Puasa mengajarkan bahwa hati yang lapang lahir dari keberanian untuk mengakui kekurangan, memohon ampun, dan melangkah kembali dengan niat yang lebih jernih serta tujuan hidup yang lebih terarah kepada Allah.

 

Allah menegaskan dalam Al-Qur'an: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53).

 

Ayat ini menjadi dasar spiritual bahwa Islam tidak menutup pintu bagi orang yang pernah jatuh dalam kesalahan. Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima kelemahan sebagai bagian dari kemanusiaan, sekaligus memiliki keberanian untuk memperbaikinya melalui taubat dan amal kebaikan.

 

Puasa mengajarkan kejujuran batin. Saat seseorang menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, meskipun tidak ada manusia yang melihat, ia sedang belajar jujur kepada dirinya sendiri.

 

Rasulullah ï·º bersabda bahwa Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang menumbuhkan kesadaran internal, bukan sekadar penilaian lahiriah. Dari kesadaran inilah proses berdamai dengan diri dimulai.

 

Sering kali manusia terlalu keras terhadap dirinya sendiri, terus-menerus menyesali masa lalu tanpa memberi ruang bagi harapan. Sering kali manusia terlalu keras terhadap dirinya sendiri, terjebak dalam lingkaran penyesalan yang berkepanjangan sehingga masa lalu seakan menjadi beban permanen yang menutup pandangan terhadap masa depan.

 

Kesalahan yang pernah terjadi terus diingat dan diulang dalam pikiran, hingga melahirkan rasa bersalah berlebihan yang justru melemahkan semangat untuk berubah. Padahal, penyesalan yang sehat seharusnya menjadi jembatan menuju perbaikan, bukan tembok yang mengurung harapan.

 

Ketika seseorang tidak memberi ruang bagi dirinya untuk bangkit, ia tanpa sadar menolak potensi rahmat dan kesempatan baru yang selalu tersedia. Oleh karena itu, belajar memaafkan diri sendiri, tanpa mengabaikan tanggung jawab, adalah langkah penting agar hati dapat kembali lapang, menerima masa lalu sebagai pelajaran, dan menatap masa depan dengan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.

 

Padahal dalam pandangan para ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali, taubat bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga menghidupkan harapan dan memperbaiki arah hidup. Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara penyesalan yang menyadarkan dan harapan yang menguatkan.

 

Berdamai dengan diri sendiri juga berarti menerima proses. Tidak semua perubahan terjadi seketika. Puasa yang dijalani hari demi hari melatih kesabaran, mengajarkan bahwa perbaikan adalah perjalanan, bukan hasil instan. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan jujur di hadapan Allah, hatinya menjadi lebih tenang, karena ia tidak lagi hidup dalam penolakan terhadap kenyataan.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah ruang rekonsiliasi batin. Di dalamnya, manusia belajar memaafkan dirinya, memperbaiki kesalahan, dan melangkah dengan harapan baru. Ketika hati berdamai dengan dirinya sendiri, ia lebih mudah berdamai dengan orang lain dan lebih siap mendekat kepada Allah. Dari sinilah ketenangan sejati tumbuh, bukan karena hidup tanpa kekurangan, tetapi karena hati telah menemukan tempat kembali.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah ruang rekonsiliasi batin, sebuah fase spiritual di mana manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk menengok ke dalam dirinya sendiri.

 

Dalam suasana ibadah yang intens—melalui puasa, doa, tilawah, dan muhasabah—seseorang belajar memaafkan dirinya atas kekhilafan masa lalu tanpa kehilangan kesadaran untuk memperbaikinya. Ia menyadari bahwa setiap kesalahan bukanlah identitas yang melekat selamanya, melainkan bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih matang.

 

Dari kesadaran ini tumbuh harapan baru, bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbarui niat, memperbaiki hubungan, dan menata langkah ke depan dengan hati yang lebih bersih dan lapang.

 

Ketika hati telah berdamai dengan dirinya sendiri, ia tidak lagi dipenuhi oleh amarah tersembunyi, rasa bersalah berlebihan, atau kekecewaan yang menumpuk. Kedamaian batin ini memudahkan seseorang untuk berdamai dengan orang lain, karena ia tidak lagi memproyeksikan luka pribadinya kepada sesama.

 

Lebih dari itu, hati yang telah menemukan keseimbangan internal menjadi lebih siap untuk mendekat kepada Allah dengan kerendahan dan keikhlasan.

 

Dari titik inilah ketenangan sejati tumbuh, bukan karena hidup terbebas dari kekurangan atau ujian, tetapi karena hati telah menemukan arah pulang dan tempat kembali yang memberi makna pada setiap perjalanan hidup.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1262/22/02/26 : 10.30 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad