Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan menghadirkan banyak momen ibadah yang
dilakukan dalam kesunyian: doa yang lirih di penghujung malam, dzikir yang
hanya terdengar oleh diri sendiri, dan puasa yang tidak diketahui orang lain
kecuali Allah.
Di dalam kesunyian inilah manusia belajar tentang
makna ikhlas—sebuah amal yang bersih dari keinginan dipuji dan diakui. Ikhlas
bukan sekadar niat di awal ibadah, tetapi keadaan hati yang terus dijaga agar
tetap hanya mengharap ridha Allah.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Padahal mereka
tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah bukan pada
banyaknya amal, melainkan pada kemurnian tujuan. Ramadhan menjadi waktu terbaik
untuk melatih hal ini, karena sebagian besar ibadahnya bersifat personal dan
tersembunyi dari penilaian manusia.
Rasulullah ï·º
menyampaikan bahwa Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya
kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan
istimewa karena sangat terkait dengan keikhlasan. Tidak ada yang benar-benar
mengetahui apakah seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh selain Allah.
Karena itu, puasa menjadi latihan membersihkan niat dari riya dan keinginan mendapatkan
pujian.
Dalam tradisi tasawuf, ikhlas sering diibaratkan
seperti akar pohon yang tersembunyi. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan
kekuatan dan keberkahan amal.
Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa amal yang
sedikit namun ikhlas lebih bernilai daripada amal besar yang dicampuri
keinginan duniawi. Kesunyian ibadah di bulan Ramadhan membantu manusia kembali
merasakan kehadiran Allah tanpa perantara penilaian manusia.
Ikhlas juga melahirkan ketenangan. Ketika seseorang
tidak lagi sibuk memikirkan bagaimana dirinya dilihat orang lain, hatinya
menjadi ringan. Ia beribadah karena kebutuhan ruhani, bukan karena tuntutan
sosial. Dari sinilah muncul kebahagiaan yang sederhana namun
mendalam—kebahagiaan karena merasa dekat dengan Allah.
Ramadhan pada akhirnya mengajarkan bahwa ibadah yang
paling berharga sering kali terjadi dalam keheningan. Di saat tidak ada yang
melihat, justru kejujuran hati diuji.
Jika keikhlasan tumbuh dalam ibadah yang sunyi, maka
ia akan memancar dalam seluruh kehidupan. Amal menjadi lebih tulus, hubungan
menjadi lebih lembut, dan hidup terasa lebih bermakna karena dijalani
semata-mata untuk Allah.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1266/25/02/26 : 06.12
WIB)

