[8] Madrasah Jiwa MENEMUKAN MAKNA IKHLAS DI BALIK IBADAH YANG SUNYI



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan menghadirkan banyak momen ibadah yang dilakukan dalam kesunyian: doa yang lirih di penghujung malam, dzikir yang hanya terdengar oleh diri sendiri, dan puasa yang tidak diketahui orang lain kecuali Allah.

 

Di dalam kesunyian inilah manusia belajar tentang makna ikhlas—sebuah amal yang bersih dari keinginan dipuji dan diakui. Ikhlas bukan sekadar niat di awal ibadah, tetapi keadaan hati yang terus dijaga agar tetap hanya mengharap ridha Allah.

 

Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5).

 

Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah bukan pada banyaknya amal, melainkan pada kemurnian tujuan. Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk melatih hal ini, karena sebagian besar ibadahnya bersifat personal dan tersembunyi dari penilaian manusia.

 

Rasulullah ï·º menyampaikan bahwa Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa karena sangat terkait dengan keikhlasan. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh selain Allah. Karena itu, puasa menjadi latihan membersihkan niat dari riya dan keinginan mendapatkan pujian.

 

Dalam tradisi tasawuf, ikhlas sering diibaratkan seperti akar pohon yang tersembunyi. Ia tidak terlihat, tetapi menentukan kekuatan dan keberkahan amal.

 

Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa amal yang sedikit namun ikhlas lebih bernilai daripada amal besar yang dicampuri keinginan duniawi. Kesunyian ibadah di bulan Ramadhan membantu manusia kembali merasakan kehadiran Allah tanpa perantara penilaian manusia.

 

Ikhlas juga melahirkan ketenangan. Ketika seseorang tidak lagi sibuk memikirkan bagaimana dirinya dilihat orang lain, hatinya menjadi ringan. Ia beribadah karena kebutuhan ruhani, bukan karena tuntutan sosial. Dari sinilah muncul kebahagiaan yang sederhana namun mendalam—kebahagiaan karena merasa dekat dengan Allah.

 

Ramadhan pada akhirnya mengajarkan bahwa ibadah yang paling berharga sering kali terjadi dalam keheningan. Di saat tidak ada yang melihat, justru kejujuran hati diuji.

 

Jika keikhlasan tumbuh dalam ibadah yang sunyi, maka ia akan memancar dalam seluruh kehidupan. Amal menjadi lebih tulus, hubungan menjadi lebih lembut, dan hidup terasa lebih bermakna karena dijalani semata-mata untuk Allah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1266/25/02/26 : 06.12 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad