[7] Madrasah Jiwa PUASA DAN LATIHAN MELEPASKAN EGO



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan spiritual manusia adalah ego—perasaan ingin diakui, merasa paling benar, dan sulit menerima kekurangan diri. Ego sering kali tumbuh tanpa disadari, menyusup dalam ibadah, pekerjaan, bahkan dalam hubungan sosial.

 

Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhani yang melatih manusia untuk menundukkan ego dan kembali kepada kerendahan hati sebagai seorang hamba.

 

Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak selalu harus mengikuti keinginannya. Ketika rasa lapar datang, seseorang belajar menahan diri; ketika emosi muncul, ia dilatih untuk bersabar. Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183).

 

Ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan ibadah lahiriah, tetapi juga kemampuan mengendalikan dorongan ego yang sering mendorong manusia pada kesombongan dan keinginan berlebihan.

 

Rasulullah ï·º bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah dominasi atas orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri. Puasa melatih kemampuan ini setiap hari, dari fajar hingga terbenam matahari, sehingga ego perlahan kehilangan kekuasaannya.

 

Dalam perspektif tasawuf, ego yang tidak terkendali menjadikan manusia sulit melihat kebenaran dan menerima nasihat. Para ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa penyucian jiwa dimulai dengan mengenali kelemahan diri dan menundukkan hawa nafsu. Puasa menjadi sarana efektif karena ia memutus kebiasaan memanjakan diri dan mengajarkan kesederhanaan.

 

Melepaskan ego bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menyadari bahwa segala kelebihan adalah karunia Allah. Ketika ego melemah, hati menjadi lebih lapang, mudah memaafkan, dan tidak haus pujian. Ibadah pun menjadi lebih tulus karena tidak lagi didorong oleh keinginan untuk dilihat manusia.

 

Ramadhan pada akhirnya mengajarkan bahwa kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri. Lapar, haus, dan kesabaran yang dilatih setiap hari adalah proses membebaskan jiwa dari dominasi ego.

 

Jika latihan ini terus dijaga setelah Ramadhan, maka manusia akan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, hubungan yang lebih sehat, dan ibadah yang lebih ikhlas. Puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi jalan untuk kembali menjadi hamba yang rendah hati di hadapan Allah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1265/24/02/26 : 06.07 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad