RAMADHAN, MOMENTUM MENUJU TRANSFORMASI KAFFAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan adalah bulan yang senantiasa dirindukan. Bulan yang selalu diharap-harapkan kedatangannya. Bulan yang bahkan telah ditunggu-tunggu kehadirannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu oleh siapa saja yang beriman, yang meyakini keutamaan dan keistimewaannya. Setidaknya, begitulah sikap generasi Muslim terdahulu.

 

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, menukil pernyataan Mu’alla bin al-Fadhl, menggambarkan betapa kerinduan mereka terhadap Ramadhan sangat luar biasa. Dikatakan: Mereka (generasi dulu) biasa berdoa kepada Allah SWT selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Mereka pun berdoa enam bulan berikutnya agar amal-amal mereka  diterima (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).

 

Kerinduan generasi Muslim dulu yang luar biasa terhadap Bulan Ramadhan tentu didasarkan pada sejumlah keterangan dari Baginda Rasulullah saw. tentang keutamaan bulan tersebut.

 

Di antaranya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, adalah Hadis Nabi saw. yang menyatakan: Andai hamba-hamba Allah SWT tahu keutamaan yang ada pada Bulan Ramadhan, umatku pasti berangan-angan agar Ramadhan itu terjadi sepanjang tahun (HR Ibnu Abi ad-Dunya; Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).

 

Rasulullah saw. pun pernah menyampaikan kabar gembira kepada para Sahabat: Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadhan). Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada Bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Neraka Jahim ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

 

Sebagian ulama menyatakan hadis di atas sebagai dasar sebagian orang mengucapkan tahni’ah (selamat) kepada sebagian yang lain karena kedatangan Bulan Ramadhan. Bagaimana seorang Muslim tidak bergembira dengan pintu-pintu surga yang dibuka? Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira karena pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana pula orang berakal tidak bergembira saat setan-setan dibelenggu? (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).

 

Karena itulah Baginda Rasulullah saw. pun selalu merindukan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan beliau sampai berdoa sejak memasuki awal Bulan Rajab dengan doa:  Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban, serta sampaikanlah ke Bulan Ramadhan (Ibnu Rajab, Lathâ-if al-Ma’ ârif, 1/58).

 

Tak hanya dirindukan oleh Baginda Rasulullah saw., para Sahabat dan kaum Muslim yang hidup. Bahkan Imam Ibnu al-Jauzi berani bersumpah bahwa Ramadhan pun amat dirindukan oleh mereka yang sudah meninggal.

 

Dikatakan oleh beliau: Demi Allah, andai dikatakan kepada penghuni kubur, "Berangan-anganlah kalian!" Niscaya mereka berangan-angan agar dapat berjumpa dengan Ramadhan meski hanya satu hari saja (Ibnu al-Jauzi, At-Tabshirah, 2/78).

 

Menuju Ketakwaan Paripurna

 

Ramadhan selalu hadir membawa harapan. Harapan akan ampunan, perubahan dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

 

Takwa yang Allah SWT harapkan dari seorang Muslim tentu bukan takwa sesaat. Bukan takwa musiman. Bukan takwa yang hidup selama Ramadhan, lalu padam setelah Ramadhan berakhir. Yang diminta adalah takwa yang terus menyala hingga akhir hayat kita. Yang dituntut adalah takwa yang sebenarnya. Takwa yang paripurna.

 

Demikian sebagaimana yang Allah SWT firmankan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya  ketakwaan, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim (TQS Ali ‘Imran [3]: 102).

 

Para Sahabat memiliki pemahaman mendalam tentang takwa. Di antara definisi indah tentang takwa adalah yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra.: Takwa itu adalah: (1) Memiliki rasa takut kepada Zat Yang Mahaagung [Allah SWT]); (2) Mengamalkan apa yang telah Allah turunkan [al-Quran]); (3) Merasa cukup dengan [harta] yang sedikit); (4) Mempersiapkan bekal [amal] untuk menghadapi Hari Penggiringan [Hari Kiamat]) (Muhammad Shaqr, Dalîl al-Wâ’izh, 1/546).

 

Salah satu tanda takwa di atas adalah mengamalkan al-Quran. Tentu secara keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Allah SWT berfirman: Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari  sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang melakukan tindakan demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat keras. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Baqarah [2]: 85).

 

Tidak ada hak bagi seorang Muslim untuk membedakan hukum-hukum Allah. Semua wajib ditaati. Tidak boleh hanya menerima hukum shaum dan shalat saja; tetapi menolak hukum Allah dalam muamalah; politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan atau kehidupan sosial; termasuk hudûd.

 

Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

 

Ramadhan adalah madrasah takwa. Akan tetapi, shaum Ramadhan bisa sia-sia belaka jika dijalani tanpa kesungguhan, juga tanpa benar-benar meninggalkan segala dosa dan kemaksiatan. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah ï·º: Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali laparnya saja... (HR Ahmad  dan Ibn Majah).

 

Saat shaum Ramadhan tidak dijalani dengan penuh kesungguhan, apalagi di dalamnya banyak diwarnai dengan dosa kemaksiatan, maka Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan shaum yang demikian.

 

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:  Siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (keji), maka Allah tidak butuh upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya (HR al-Bukhari).

 

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah menahan diri dari segala maksiat dan dosa. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari tindakan merugikan orang lain. Menahan diri dari ragam transaksi haram. Menahan hati dari riya dan hasad. Termasuk menahan dari melakukan ragam kezaliman.

 

Salah satu tindakan zalim terbesar adalah saat manusia—terutama para penguasa sebagai pemilik kekuasaan—enggan berhukum dengan hukum Allah SWT. Demikian sebagaimana firman-Nya:  Siapa yang tidak berhukum dengan wahyu yang Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim (TQS al-Ma’idah [5]: 45).

 

Bahkan kita dilarang cenderung—apalagi memihak—kepada para pelaku kezaliman. Allah SWT berfirman: Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim sehingga kalian disentuh api neraka (TQS Hud [11]: 113).

 

Sebaliknya, takwa paripurna menuntut kita agar berlaku adil dan berpihak pada keadilan. Demikian sebagaimana yang Allah firmankan: Sesungguhnya Allah menyuruh (kita) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat; serta melarang dari perbuatan keji, mungkar dan lalim (TQS an-Nahl [16]:90).

Alhasil, mari kita isi Bulan Ramadhan dengan ragam amal kebajikan, selain shaum dan shalat tarawih. Di antaranya: memperbanyak membaca, menghafal dan mengamalkan al-Quran; menghadiri majelis-majelis ilmu; banyak bersedekah; meningkatkan kepedulian kepada sesama; menggiatkan dakwah Islam; dan makin bersemangat memperjuangkan syariah-Nya agar bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita.

 

Jangan lupa, tinggalkan segala dosa. Baik dosa kepada Allah SWT maupun dosa kepada sesama manusia. Baik dosa besar maupun dosa kecil yang sering dianggap tak seberapa. Semoga dengan itu Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang benar-benar bertakwa.

 

Ramadhan adalah momentum strategis menuju transformasi kaffah—transformasi yang menyentuh keseluruhan dimensi kehidupan manusia. Pada tingkat individu, puasa melatih disiplin diri, pengendalian hawa nafsu, serta kesadaran spiritual yang mendalam sehingga melahirkan pribadi yang bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 183.

 

Ketakwaan ini bukan sekadar pengalaman ritual, tetapi proses pembentukan karakter yang utuh: jujur, sabar, amanah, dan berorientasi pada nilai-nilai ilahiah. Ketika individu mengalami penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan peningkatan kualitas ibadah, maka lahirlah pribadi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

 

Transformasi tersebut kemudian meluas ke ranah keluarga, masyarakat, hingga negara. Dalam keluarga, Ramadhan menjadi ruang pendidikan nilai—tempat orang tua menanamkan keteladanan, kepedulian, dan kebersamaan dalam ibadah. Pada tingkat masyarakat, semangat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah memperkuat keadilan dan empati kolektif.

 

Sementara pada tingkat negara, nilai ketakwaan yang terinternalisasi mendorong tata kelola yang berintegritas, adil, dan berorientasi pada penerapan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspeknya.

 

Dengan demikian, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah personal, tetapi momentum rekonstruksi sistemik, membangun tatanan kehidupan yang selaras antara dimensi spiritual, sosial, dan struktural secara menyeluruh (kaffah). Tegaknya negara yang menerapkan syariah secara kaffah akan mendatangnya berbagai keberkahan hidup berbangsa dan bernegara.

 

Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS Al A’raf : 96)

 

Ayat ini menegaskan hubungan kausal antara iman dan takwa kolektif dengan turunnya keberkahan (barakah) pada suatu negeri. Keberkahan yang dimaksud mencakup kelapangan rezeki, keamanan, stabilitas sosial, dan kemakmuran yang berkelanjutan.

 

Secara konseptual, ayat ini menunjukkan bahwa kualitas spiritual masyarakat berimplikasi langsung pada kualitas kehidupan sosial dan politik suatu bangsa. Dalam perspektif pembangunan Islam, keberkahan negeri bukan hanya hasil kebijakan ekonomi, tetapi buah dari Integritas hukum dan ketakwaan warganya secara kolektif.

 

Dalam khasanah Islam, negeri bertaqwa adalah Daulah Islam Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah dan dilanjutkan daulah khilafah yang dipimpin oleh para khalifah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1263/22/02/26 : 20.15 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad