Oleh : Ahmad Sastra
Serangan AS dan Israel ke Iran adalah demi
menjamin keamanan Israel. Omong kosong soal perdamaian. AS begitu
berkepentingan menjaga sekutunya, Israel, dari berbagai gangguan keamanan.
Iran, meski sebenarnya sering bersekutu dengan AS, dianggap sebagai ancaman
dalam bentuk negara oleh AS-Israel.
Berikut adalah rangkaian peristiwa nyata dan konteks
terkini terkait serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan
Israel terhadap Iran yang benar-benar terjadi—bukan sekadar narasi tanpa dasar.
Pada 28 Februari 2026, United States Armed Forces
bersama dengan Israel Defense Forces melancarkan serangan udara besar-besaran
ke wilayah Republik Islam Iran, termasuk ibu kota Teheran dan fasilitas militer
strategis, yang menurut laporan telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali
Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Serangan ini dilaporkan sebagai bagian dari operasi
yang disebut oleh para pejabat kedua pihak sebagai upaya untuk “menghadapi
ancaman nuklir dan misil” dan menghancurkan kemampuan militer Iran, meskipun
klaim ancaman tersebut diperdebatkan dan kritik internasional menyebut tindakan
itu sebagai agresi pelanggaran hukum internasional.
Namun, narasi bahwa konflik ini semata-mata “untuk
menjamin keamanan Israel” dan bukan soal perdamaian tidak lepas dari berbagai interpretasi
dan kritik internasional yang luas. Pemerintah AS dan Israel menyatakan tujuan
militer mereka berkaitan dengan apa yang mereka gambarkan sebagai ancaman dari
program nuklir dan kemampuan militer Iran.
Pernyataan ini oleh banyak pemimpin dunia dan pakar hukum
internasional menilai serangan tersebut justru melanggar Piagam United Nations
dan memperburuk stabilitas regional, bukan mendukung perdamaian jangka panjang.
Kritik ini datang dari berbagai negara di Global South, akademisi, dan
organisasi internasional yang menyerukan diakhirinya kekerasan serta
dilanjutkannya jalur diplomasi.
Dalam realitas diplomasi global, hubungan antara AS
dan Iran tidak selalu bersifat permusuhan absolut; kedua negara sempat terlibat
dalam pembicaraan nuklir yang difasilitasi negara ketiga sebelum eskalasi
perang terbaru ini. Namun, ketegangan berkepanjangan, dipicu oleh sejarah
konflik regional, dukungan Iran terhadap kelompok militan di wilayah lainnya,
dan kemitraan keamanan antara AS-Israel membentuk narasi di mana keputusan militer
saat ini dipahami oleh sebagian pihak sebagai upaya untuk melindungi sekutu
strategis seperti Israel.
Walaupun begitu, banyak pengamat hubungan
internasional menilai bahwa tindakan militer yang intens dan berulang justru
mempersempit ruang diplomasi dan memperkeras siklus permusuhan. Setiap serangan
balasan melahirkan legitimasi baru untuk eskalasi berikutnya, sehingga logika
keamanan berubah menjadi logika pembalasan tanpa ujung.
Dalam konteks rivalitas antara Amerika Serikat, Israel,
dan Iran, penggunaan kekuatan militer sering kali dibaca bukan hanya sebagai
tindakan defensif, tetapi juga sebagai pesan geopolitik yang memperdalam
kecurigaan dan polarisasi kawasan. Akibatnya, peluang membangun kepercayaan
(confidence-building measures) menjadi semakin kecil, sementara aktor-aktor
non-negara ikut terseret dalam pusaran konflik.
Lebih jauh, eskalasi tersebut berpotensi memperluas
arena konflik di Timur Tengah yang memang telah rapuh oleh perang proksi,
rivalitas sektarian, dan perebutan pengaruh strategis. Ketegangan yang
meningkat dapat memicu instabilitas ekonomi, gangguan jalur energi global,
serta krisis kemanusiaan baru yang melibatkan masyarakat sipil.
Banyak analis menekankan bahwa perdamaian
berkelanjutan tidak mungkin dicapai hanya melalui superioritas militer,
melainkan melalui negosiasi yang inklusif, penghormatan terhadap hukum
internasional, dan rekonstruksi arsitektur keamanan kawasan yang lebih adil.
Tanpa pendekatan semacam itu, tindakan militer yang
dimaksudkan untuk menciptakan keamanan jangka pendek justru berisiko menanam
benih konflik jangka panjang yang lebih kompleks dan sulit diselesaikan.
REFERENSI
Byman, D. (2011). A high price: The triumphs and
failures of Israeli counterterrorism. Oxford University Press.
Cordesman, A. H. (2020). The changing military
balance in the Gulf. Center for Strategic and International Studies (CSIS).
https://www.csis.org
Gause, F. G. (2014). Beyond sectarianism: The new
Middle East Cold War. Brookings Institution Press.
International Crisis Group. (2023). Containing the
Israel–Iran shadow war. International Crisis Group. https://www.crisisgroup.org
Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2007). The
Israel lobby and U.S. foreign policy. Farrar, Straus and Giroux.
Parsi, T. (2017). Losing an enemy: Obama, Iran, and
the triumph of diplomacy. Yale University Press.
United Nations. (1945). Charter of the United
Nations. https://www.un.org/en/about-us/un-charter
Waltz, K. N. (1979). Theory of international
politics. McGraw-Hill.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1274/04/03/26 : 08.42
WIB)

