[1] Catatan Konflik Timur Tengah OMONG KOSONG SOAL PERDAMAIAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Serangan AS dan Israel ke Iran adalah demi menjamin keamanan Israel. Omong kosong soal perdamaian. AS begitu berkepentingan menjaga sekutunya, Israel, dari berbagai gangguan keamanan. Iran, meski sebenarnya sering bersekutu dengan AS, dianggap sebagai ancaman dalam bentuk negara oleh AS-Israel.

 

Berikut adalah rangkaian peristiwa nyata dan konteks terkini terkait serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang benar-benar terjadi—bukan sekadar narasi tanpa dasar.

 

Pada 28 Februari 2026, United States Armed Forces bersama dengan Israel Defense Forces melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Republik Islam Iran, termasuk ibu kota Teheran dan fasilitas militer strategis, yang menurut laporan telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.

 

Serangan ini dilaporkan sebagai bagian dari operasi yang disebut oleh para pejabat kedua pihak sebagai upaya untuk “menghadapi ancaman nuklir dan misil” dan menghancurkan kemampuan militer Iran, meskipun klaim ancaman tersebut diperdebatkan dan kritik internasional menyebut tindakan itu sebagai agresi pelanggaran hukum internasional.

 

Namun, narasi bahwa konflik ini semata-mata “untuk menjamin keamanan Israel” dan bukan soal perdamaian tidak lepas dari berbagai interpretasi dan kritik internasional yang luas. Pemerintah AS dan Israel menyatakan tujuan militer mereka berkaitan dengan apa yang mereka gambarkan sebagai ancaman dari program nuklir dan kemampuan militer Iran.

 

Pernyataan ini oleh  banyak pemimpin dunia dan pakar hukum internasional menilai serangan tersebut justru melanggar Piagam United Nations dan memperburuk stabilitas regional, bukan mendukung perdamaian jangka panjang. Kritik ini datang dari berbagai negara di Global South, akademisi, dan organisasi internasional yang menyerukan diakhirinya kekerasan serta dilanjutkannya jalur diplomasi.

 

Dalam realitas diplomasi global, hubungan antara AS dan Iran tidak selalu bersifat permusuhan absolut; kedua negara sempat terlibat dalam pembicaraan nuklir yang difasilitasi negara ketiga sebelum eskalasi perang terbaru ini. Namun, ketegangan berkepanjangan, dipicu oleh sejarah konflik regional, dukungan Iran terhadap kelompok militan di wilayah lainnya, dan kemitraan keamanan antara AS-Israel membentuk narasi di mana keputusan militer saat ini dipahami oleh sebagian pihak sebagai upaya untuk melindungi sekutu strategis seperti Israel.

 

Walaupun begitu, banyak pengamat hubungan internasional menilai bahwa tindakan militer yang intens dan berulang justru mempersempit ruang diplomasi dan memperkeras siklus permusuhan. Setiap serangan balasan melahirkan legitimasi baru untuk eskalasi berikutnya, sehingga logika keamanan berubah menjadi logika pembalasan tanpa ujung.

 

Dalam konteks rivalitas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, penggunaan kekuatan militer sering kali dibaca bukan hanya sebagai tindakan defensif, tetapi juga sebagai pesan geopolitik yang memperdalam kecurigaan dan polarisasi kawasan. Akibatnya, peluang membangun kepercayaan (confidence-building measures) menjadi semakin kecil, sementara aktor-aktor non-negara ikut terseret dalam pusaran konflik.

 

Lebih jauh, eskalasi tersebut berpotensi memperluas arena konflik di Timur Tengah yang memang telah rapuh oleh perang proksi, rivalitas sektarian, dan perebutan pengaruh strategis. Ketegangan yang meningkat dapat memicu instabilitas ekonomi, gangguan jalur energi global, serta krisis kemanusiaan baru yang melibatkan masyarakat sipil.

 

Banyak analis menekankan bahwa perdamaian berkelanjutan tidak mungkin dicapai hanya melalui superioritas militer, melainkan melalui negosiasi yang inklusif, penghormatan terhadap hukum internasional, dan rekonstruksi arsitektur keamanan kawasan yang lebih adil.

 

Tanpa pendekatan semacam itu, tindakan militer yang dimaksudkan untuk menciptakan keamanan jangka pendek justru berisiko menanam benih konflik jangka panjang yang lebih kompleks dan sulit diselesaikan.

 

REFERENSI

 

Byman, D. (2011). A high price: The triumphs and failures of Israeli counterterrorism. Oxford University Press.

Cordesman, A. H. (2020). The changing military balance in the Gulf. Center for Strategic and International Studies (CSIS). https://www.csis.org

Gause, F. G. (2014). Beyond sectarianism: The new Middle East Cold War. Brookings Institution Press.

International Crisis Group. (2023). Containing the Israel–Iran shadow war. International Crisis Group. https://www.crisisgroup.org

Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2007). The Israel lobby and U.S. foreign policy. Farrar, Straus and Giroux.

Parsi, T. (2017). Losing an enemy: Obama, Iran, and the triumph of diplomacy. Yale University Press.

United Nations. (1945). Charter of the United Nations. https://www.un.org/en/about-us/un-charter

Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. McGraw-Hill.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1274/04/03/26 : 08.42 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad