Oleh : Ahmad Sastra
Di tengah kehidupan yang sering mendorong manusia
untuk terus menambah dan mengejar, Ramadhan mengajarkan pelajaran yang berbeda:
kebahagiaan justru lahir dari rasa cukup.
Puasa melatih manusia merasakan keterbatasan secara
sadar, sehingga ia memahami bahwa ketenangan tidak selalu datang dari banyaknya
yang dimiliki, tetapi dari hati yang mampu menerima dengan syukur. Inilah makna
zuhud yang diajarkan dalam tradisi spiritual Islam.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: “Agar kamu
tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan kepadamu” (QS. Al-Hadid: 23).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan batin—tidak
berlebihan dalam kehilangan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan. Zuhud bukan
berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia pada posisi yang wajar,
sebagai sarana, bukan tujuan.
Puasa menjadi latihan nyata untuk menumbuhkan rasa
cukup tersebut. Ketika waktu makan dibatasi, manusia menyadari bahwa kebutuhan
sebenarnya tidak sebanyak yang dibayangkan.
Rasulullah ï·º
bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan
adalah hati yang merasa cukup” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari kondisi hati,
bukan dari kelimpahan materi.
Dalam pandangan ulama tasawuf, zuhud adalah kebebasan
batin dari ketergantungan pada dunia. Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa
hati yang terlalu mencintai dunia akan mudah gelisah, karena dunia selalu
berubah. Sebaliknya, hati yang merasa cukup akan lebih stabil dan tenang,
karena sandarannya adalah Allah yang tidak berubah.
Ramadhan mengajarkan kesederhanaan yang membebaskan.
Lapar mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa pertolongan Allah,
sementara berbuka mengajarkan rasa syukur atas nikmat yang sederhana.
Dalam pengalaman ini, seseorang belajar bahwa
kebahagiaan bukanlah hasil dari memiliki segalanya, tetapi dari kemampuan
menikmati apa yang ada dengan penuh kesadaran.
Pada akhirnya, pelajaran zuhud di bulan Ramadhan
adalah pelajaran tentang kebebasan. Ketika hati tidak lagi diperbudak oleh
keinginan tanpa batas, hidup terasa lebih ringan.
Manusia tetap bekerja dan berusaha, tetapi tidak
kehilangan ketenangan ketika hasil tidak sesuai harapan. Dari sinilah lahir
kebahagiaan yang sejati—bahagia karena cukup, dan cukup karena merasa dekat
dengan Allah.
Manusia tetap bekerja dan berusaha dengan
sungguh-sungguh, memaksimalkan ikhtiar sebagai bentuk tanggung jawab dan amanah
kehidupan. Ia menyadari bahwa usaha adalah kewajiban, sedangkan hasil adalah
ketetapan Allah.
Karena itu, ketika realitas tidak sesuai dengan
rencana atau harapan, ia tidak tenggelam dalam kekecewaan yang berlebihan.
Prinsip tawakal yang diajarkan dalam Al-Qur'an membentuk keseimbangan batin:
berikhtiar secara optimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh
kepercayaan.
Sikap ini melahirkan ketenangan eksistensial, karena
ukuran keberhasilan tidak semata ditentukan oleh capaian lahiriah, tetapi oleh
kesungguhan niat dan integritas usaha di hadapan-Nya.
Dari sinilah lahir kebahagiaan yang sejati—bahagia
karena cukup, dan cukup karena merasa dekat dengan Allah. Kebahagiaan tidak
lagi bergantung pada kelimpahan materi atau pengakuan sosial, melainkan pada
rasa qana’ah dan kedekatan spiritual yang menenteramkan hati.
Kedekatan itu menghadirkan rasa aman, makna, dan
keyakinan bahwa setiap takdir mengandung hikmah. Ketika hati terhubung dengan
sumber segala kebaikan, ia tidak mudah gelisah oleh kekurangan, dan tidak mudah
sombong oleh kelebihan.
Inilah kebahagiaan yang kokoh: kebahagiaan yang
berakar pada iman, tumbuh dari syukur, dan berbuah dalam ketenangan jiwa yang
berkesinambungan.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1271/03/02/26 : 10.25
WIB)

