Oleh : Ahmad Sastra
Dalam perjalanan hidup, manusia sering lebih mudah
mengeluh daripada bersyukur. Ketika harapan tidak sesuai kenyataan, hati
cenderung fokus pada kekurangan daripada nikmat yang masih dimiliki.
Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhani yang
mengajarkan perubahan cara pandang itu—mengubah keluhan menjadi syukur, dan
kegelisahan menjadi ketenangan batin. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim:
7).
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar
ucapan, tetapi sikap hati yang mengakui bahwa setiap kebaikan berasal dari
Allah.
Ketika seseorang belajar bersyukur, ia tidak lagi
terjebak pada apa yang kurang, melainkan melihat apa yang telah diberikan. Dari
sinilah lahir ketenangan, karena hati tidak terus-menerus membandingkan dirinya
dengan orang lain.
Puasa menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan rasa
syukur. Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari membuat manusia
menyadari betapa berharganya nikmat sederhana yang sering diabaikan.
Rasulullah ï·º
bersabda, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan
melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih pantas agar
kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Sahih Muslim).
Hadis ini mengajarkan perspektif yang sehat dalam
memandang kehidupan, sehingga hati lebih mudah bersyukur daripada mengeluh. Dalam
tradisi tasawuf, syukur dipahami sebagai bentuk pengakuan hati atas kasih
sayang Allah dalam setiap keadaan.
Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa syukur
menjadikan nikmat terasa cukup, sementara keluhan membuat nikmat terasa kurang.
Orang yang bersyukur tidak berarti hidup tanpa ujian, tetapi ia mampu melihat
hikmah di balik setiap peristiwa.
Ramadhan mengajarkan bahwa banyak keluhan lahir dari
hati yang terlalu terburu-buru menilai keadaan. Ketika ritme hidup diperlambat
melalui puasa dan ibadah, manusia belajar merenung dan menyadari bahwa masih banyak
karunia yang terlewatkan. Berbuka dengan makanan sederhana pun terasa istimewa,
karena hati hadir dalam rasa syukur.
Pada akhirnya, mengubah keluhan menjadi syukur adalah
perubahan cara melihat kehidupan. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak
selalu datang dari berubahnya keadaan, tetapi dari berubahnya hati.
Ketika hati terbiasa bersyukur, hidup terasa lebih
ringan, hubungan dengan sesama menjadi lebih hangat, dan kedekatan dengan Allah
semakin terasa. Dari syukurlah lahir ketenangan yang tidak mudah hilang oleh
keadaan apa pun.
Ketika hati terbiasa bersyukur, cara pandang terhadap
hidup pun berubah secara mendasar. Ia tidak lagi terfokus pada apa yang kurang,
melainkan pada nikmat yang telah Allah limpahkan, sekecil apa pun itu.
Kesadaran ini menumbuhkan kelapangan jiwa; beban terasa lebih ringan karena
hati tidak dipenuhi keluhan.
Dalam Al-Qur'an ditegaskan bahwa siapa yang bersyukur
akan ditambah nikmatnya (QS. Ibrahim: 7), dan janji ini bukan semata tambahan
materi, tetapi juga ketenangan batin dan kejernihan pandangan.
Rasa syukur juga melembutkan sikap kepada sesama—ia
lebih mudah menghargai, memaafkan, dan berbagi—sebab ia menyadari bahwa dirinya
pun hidup oleh limpahan rahmat yang tak terhitung.
Dari syukurlah lahir ketenangan yang tidak mudah
hilang oleh keadaan apa pun. Ketenangan itu bukan karena hidup tanpa masalah,
melainkan karena hati telah terlatih melihat hikmah di balik setiap peristiwa.
Dalam suka ia tidak lalai, dalam duka ia tidak putus
asa. Kedekatan dengan Allah semakin terasa karena syukur menghadirkan kesadaran
terus-menerus akan kehadiran-Nya dalam setiap detail kehidupan.
Hati yang bersyukur menjadi kokoh; ia tidak mudah
goyah oleh perubahan situasi, sebab sumber kebahagiaannya bukanlah keadaan,
melainkan hubungan spiritual yang hidup dan terjaga dengan Tuhannya.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1272/03/02/26 : 10.28
WIB)

