Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang bukan
sekadar kembali ke rutinitas ibadah, tetapi kembali kepada Allah dan kepada
diri yang sejati—fitrah yang bersih, hati yang lembut, dan jiwa yang sadar akan
tujuan hidupnya.
Dalam kesibukan dunia, manusia sering kehilangan arah
dan terasing dari dirinya sendiri. Ramadhan hadir sebagai panggilan untuk
kembali. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Wahai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya” (QS. al-Fajr:
27–28).
Ayat ini menggambarkan puncak perjalanan ruhani: jiwa
yang menemukan ketenangan karena kembali kepada Allah. Ramadhan melatih hati
menuju keadaan itu melalui taubat, dzikir, dan pengendalian diri. Setiap lapar
yang ditahan, setiap doa yang dipanjatkan, adalah langkah kecil menuju
kepulangan tersebut.
Rasulullah ï·º
menegaskan bahwa setiap manusia memiliki fitrah yang suci. Dalam hadis riwayat
Sahih Muslim disebutkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Namun perjalanan hidup sering menodai
kejernihan itu dengan dosa, kelalaian, dan ambisi berlebihan. Ramadhan menjadi
momen pembersihan—mengikis noda yang menutupi cahaya hati agar fitrah itu
kembali bersinar.
Kembali kepada Allah juga berarti kembali kepada
nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ketika seseorang
memperbaiki shalatnya, menjaga lisannya, dan memperbanyak istighfar,
sesungguhnya ia sedang memperbaiki dirinya sendiri.
Ibadah bukan hanya kewajiban formal, tetapi proses
restorasi jiwa. Dalam kesunyian malam Ramadhan, seorang hamba menemukan dialog
paling jujur dengan Tuhannya—mengakui kelemahan dan memohon kekuatan untuk
menjadi lebih baik.
Sering kali manusia mencari jati diri di luar dirinya:
dalam pengakuan sosial, pencapaian materi, atau pujian manusia. Padahal diri
yang sejati ditemukan dalam kedekatan dengan Allah. Ketika hati terhubung
dengan-Nya, kegelisahan berkurang, arah hidup menjadi jelas, dan tujuan akhirat
kembali menjadi prioritas.
Ramadhan adalah undangan untuk
pulang—sebuah panggilan halus yang mengetuk kesadaran terdalam manusia. Pulang
dari kelalaian yang membuat hati kering menuju kesadaran yang menghidupkan
jiwa.
Dalam kesibukan dunia yang tak
pernah berhenti, manusia sering terseret arus rutinitas hingga lupa hakikat
dirinya sebagai hamba. Ramadhan hadir sebagai jeda suci, mengajak kita berhenti
sejenak, menengok ke dalam, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar mengejar
dunia, tetapi perjalanan kembali kepada Allah.
Pulang juga
berarti meninggalkan kesombongan yang selama ini diam-diam bersemayam dalam
diri. Kesombongan atas ilmu, harta, jabatan, bahkan amal ibadah. Di bulan ini,
semua dilatih untuk merendah—melalui lapar yang menyadarkan keterbatasan,
melalui ibadah yang menumbuhkan ketundukan, dan melalui doa yang melatih
ketergantungan hanya kepada-Nya.
Dari kegelisahan yang sering
menghantui, Ramadhan menuntun menuju ketenangan; karena hati yang dekat dengan
Allah akan menemukan damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Siapa yang benar-benar menjawab undangan pulang ini,
ia tidak hanya berubah sementara, tetapi menemukan dirinya yang sejati. Ia
kembali dengan jiwa yang lebih jernih, hati yang lebih hidup, dan iman yang
lebih matang.
Ramadhan bukan sekadar ritual
tahunan, melainkan titik balik—tempat manusia memulai lagi kehidupannya dengan
arah yang lebih benar. Dari sinilah lahir pribadi yang lebih kuat, lebih sabar,
dan lebih tulus dalam menjalani hidup sebagai hamba sekaligus khalifah di muka
bumi.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan,
No.1304/17/03/26 : 14.00 WIB)

