MERANCANG KEKUATAN GLOBAL NEGERI MUSLIM



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Serangan pertama AS dan  Israel terhadap Iran pada 28 Pebruari 2026 dengan target fasilitas militer, fasilitas pemerintahan dan fasilitas nukril menandai awal perang terbuka.  Iran melakukan balasan dengan melakukan serangan rudal dan drone ke berbagai lokasi strategis israel dan pangkalan militer di berbagai negara teluk sekutu AS. Iran bahkan melakukan penutupan Selat Selat Hormuz untuk kapal-kapal AS dan sekutunya. Sebab Selat Hormuz merupakan jalur minyak dunia saat ini.

 

Diluar dugaan, persenjataan AS yang dikatakan canggih dan mahal justru dapat ditundukkan Iran. AS sudah habiskan US$ 12 miliar setara Rp 203,8 triliun. Trump ajukan tambahan anggaran perang. AS juga ditinggalkan NATO/Eropa yang menolak membantu. Sinyal keretakan dalam hubungan AS-Uni Eropapun semakin menguat.

 

Memasuki pertengahan bulan April, kedua belah pihak sepakat memasuki tahap perundingan di Islamabad Pakistan. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh  Presiden AS, Donald Trump, perundingan itu gagal mencapai kesepakatan damai. Bahkan, Israel justru membombardir berbagai lokasi di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, dalam serangan dahsyat yang menurut pihak berwenang telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang.

 

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis 9 April 2026 Serangan tersebut digambarkan sebagai pengeboman Israel terberat di Lebanon sejak rezim tersebut memulai agresi terhadap negara Arab itu pada awal Maret. Akankah konflik kawasan teluk ini berakhir akan terus menjadi tanda tanya banyak pihak. 

 

Namun umat harus sadar bila Iran bukan representasi kaum muslimin. Klausul gencatan senjata yang diajukan tidak menyebut masalah Palestina dan Gaza. Iran fokus untuk kepentingan negeri mereka sendiri yakni mengakhiri embargo ekonomi dan pengembangan teknologi nuklir.

 

Saat Amerika mulai kelelahan menghadapi tekanan geopolitik, juga saat sekutunya terus terjebak dalam krisis berkepanjangan, tiba-tiba muncul “inisiatif damai” dari para penguasa negeri-negeri Muslim. Di antaranya dari rezim Pakistan. Bukan untuk menyelamatkan umat, tetapi untuk menyelamatkan musuh umat.

 

Ada permintaan penundaan perang. Ada ajakan membuka jalur strategis. Bahkan ada undangan perundingan. Semuanya tampak indah. Padahal realitasnya pahit. Ini bukan diplomasi untuk menghentikan kezaliman. Ini adalah evakuasi terhormat bagi kekuatan besar yang mulai terpojok.

 

Sejarah Afganistan telah membuktikan itu. Ketika Amerika gagal secara militer, siapa yang membantu mereka keluar dengan wajah terjaga? Siapa yang mengemas kekalahan menjadi “kesepakatan damai”? Jawabannya jelas: para penguasa Muslim sendiri. Hari ini, skenario itu sedang diulang.

 

Ini bukan peristiwa insidental. Ini adalah pola. Sejak keruntuhan institusi politik Islam global (Khilafah), umat ini tercerai-berai menjadi puluhan negara-bangsa yang lemah dan saling terikat kepentingan asing. Akibatnya, setiap negeri bergerak bukan atas dasar akidah, tetapi atas dasar tekanan geopolitik.

 

Potensi umat yang luar biasa seperti militer, ekonomi, sumberdaya alam serta sumber daya manusia tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Islam dan kaum Muslim. Sebaliknya, potensi itu justru dikooptasi untuk menjaga stabilitas sistem global yang didominasi oleh kekuatan kafir penjajah dibawah hegemoni Amerika. Inilah tragedi terbesar umat hari ini, bukan karena ketiadaan kekuatan, tetapi karena ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan.

 

Yang lebih menyakitkan bukan hanya pengkhianatan, tetapi diamnya kekuatan yang sebenarnya mampu mengubah keadaan. Pakistan bukan negeri kecil. Ia memiliki kekuatan militer besar. Ia memiliki senjata strategis yang mampu mengubah peta konflik dalam sekejap. Akan tetapi, kekuatan itu justru tidak pernah diarahkan untuk membela umat.

 

Di Palestina, kehormatan diinjak-injak. Al-Aqsa dipasung berbulan-bulan, bahkan selama bulan Ramadhan. Darah kaum Muslim mengalir tanpa henti. Akan tetapi, di mana kekuatan itu? Mengapa yang muncul justru diplomasi untuk menyelamatkan Amerika, bukan langkah nyata untuk menyelamatkan kaum Muslim Palestina?

 

Di sinilah kita menyaksikan paradoks terbesar. Kekuatan besar, tetapi kehendak lemah. Senjata dahsyat, tetapi keberpihakan lumpuh. Jika demikian faktanya maka pertanyaan mendasarnya sederhana : para penguasa ini sebenarnya melindungi siapa? Apakah mereka berdiri di barisan umat? Ataukah mereka menjadi perisai bagi kepentingan asing?.

 

Fakta berbicara dengan sangat terang. Yang mereka lindungi adalah stabilitas hegemoni Amerika. Yang mereka selamatkan adalah wajah imperium yang mulai retak. Sebaliknya, umat, sebagaimana biasa, dibiarkan menanggung luka. Benarlah apa yang ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya : Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At Taubah : 67)

 

Belajar dari penjajahan atas negeri muslim oleh imperialisme Barat  yang berkepanjangan akibat bercerai-berainya negeri-negeri muslim dalam ikatan sempit nasionalisme, maka tak ada jalan lain kecuali umat Islam menyadari akan pentingnya persatuan dan kebangkitan untuk melawan. Saatnya umat membangun kekuatan mandiri dengan semua potensi yang dimiliki.  

 

Haram hukumnya apa yang kini dilakukan oleh para penguasa Arab dan dunia Islam yang terus tunduk pada kepentingan Barat; membuka pangkalan militer untuk AS dan menyokong Israel. Sejarah telah mengajarkan satu hal penting: kebangkitan tidak pernah lahir dari penguasa yang tunduk, tetapi dari umat yang sadar. Kekuatan umat Islam sejatinya bukan kecil. Ia tersebar di berbagai negeri, menguasai jalur-jalur strategis dunia dan memiliki potensi yang tidak tertandingi.

 

Sesungguhnya umat Islam miliki potensi kekuatan yang besar yang tersebar di seluruh penjuru dunia, antara lain ; (1) kekuatan militer di berbagai negeri muslim, (2) SDA terutama migas yang dibutuhkan dunia. Cadangan migas di negeri-negeri muslim mencapai Timur Tengah menyimpan sekitar 48% cadangan minyak dunia dan sekitar 17% cadangan gas bumi, menjadikannya kawasan dengan pengaruh energi global yang sangat besar. Produksinya menyumbang sekitar 30% dari minyak dunia saat ini. (3) Geopolitik yang strategi; Selat Hormuz, Terusan Suez, Selat Malaka, dll. kawasan tersebut menjadi jalur strategis perdagangan dunia.

 

Penting disadari oleh umat Islam seluruh dunia, sebagai umat terbaik, bahwa yang hilang bukan kekuatan, tetapi kesatuan arah. Bayangkan jika seluruh potensi negeri-negeri muslim di seluruh dunia bersatu dan disatukan. Bayangkan jika kekuatan militer, ekonomi dan politik umat berada di bawah satu kepemimpinan yang independen. Saat itulah peta dunia akan berubah secara fundamental. Bukan lagi umat yang menjadi objek permainan kekuatan global, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah sejarah dunia saat ini.

 

Karena itu siklus lama harus diputus. Selama umat masih menyerahkan nasibnya kepada para penguasa yang terikat pada kepentingan asing, selama itu pula tragedi akan terus berulang. Sebaliknya, ketika umat mulai menyadari hakikat ini, bahwa kemuliaan tidak akan pernah lahir dari ketergantungan, maka saat itulah perubahan sejati akan dimulai. Agenda umat yang utama adalah menolong agama Allah dari semua bentuk gangguan kaum kafir, sebab disitulah keteguhan kedudukan dijamin oleh Allah. Allah SWT menegaskan: Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad: 7).

 

Agenda umat yang sangat strategis lainnya adalah menyatukan seluruh potensi negeri-negeri muslim menjadi satu kekuatan politik dalam bentuk khilafah Islamiyah. Sebab kepemimpinan global umat Islam ini akan menjadi perisai, pelindung sekaligus penyatuan arah perjuangan umat Islam seluruh dunia. Allah telah menegaskan pentingnya persatuan umat dan larangan bercerai berai, sebagaimana firmanNya :  Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS Ali Imran : 103)

 

Sejarah telah membuktikan bahwa saat negeri-negeri muslim bersatu dalam institusi khilafah dibawah kepemimpinan seorang khalifah, kaum muslimin di seluruh dunia merasakan perlindungan. Sebab fungsi khalifah adalah menjadi perisai bagi rakyatnya sekaligus penjaga agama. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah ï·º: Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Institusi khilafah bukan sekadar konsep politik. Ini adalah kewajiban syar’i yang menentukan masa depan dan kemuliaan umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam akan menjadi umat terbaik, jika memiliki institusi kuat sebagai pelindung, jika tak memilikinya, maka sebagaimana saat ini, umat akan terus terpuruk dan terzolimi. Inilah 'izzah yang telah lama hilang. 'Izzah yang hanya akan kembali dengan tegaknya kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang menaungi seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru dunia.

 

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa... (QS an-Nur: 55).

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1314/20/04/26 : 09.25 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad