Oleh: Ahmad Sastra
Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam yang
memiliki akar sejarah panjang dalam membangun peradaban umat Islam di
Indonesia. Selama berabad-abad, pesantren telah menjadi pusat pendidikan,
dakwah, pembinaan moral, dan pemberdayaan masyarakat.
Keberhasilan pesantren bertahan hingga hari ini
menunjukkan bahwa lembaga ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap
perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Namun demikian, era globalisasi, revolusi industri
4.0, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), digitalisasi, dan
perubahan sosial yang sangat cepat menghadirkan tantangan baru bagi pesantren.
Di satu sisi, pesantren dituntut mempertahankan tradisi keilmuan Islam yang
menjadi identitas dan kekuatannya.
Di sisi lain, pesantren juga harus mampu merespons
tuntutan modernitas agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang
kompetitif. Dalam konteks inilah konsep Ambidextrous Leadership menjadi
relevan untuk dikaji sebagai paradigma kepemimpinan pesantren masa depan.
Konsep ambidextrous leadership pada dasarnya
merujuk pada kemampuan seorang pemimpin untuk menjalankan dua fungsi yang
tampak bertolak belakang secara bersamaan, yaitu menjaga stabilitas sekaligus
mendorong perubahan, mempertahankan tradisi sekaligus melakukan inovasi.
Dalam perspektif pesantren, konsep ini dapat
diterjemahkan sebagai kemampuan menjaga nilai-nilai dasar Islam (tsawabit)
sambil mengelola perubahan dan pembaruan (mutaghayyirat) secara
bijaksana.
Memahami Ambidextrous Leadership
Istilah ambidextrous berasal dari bahasa Latin
yang berarti mampu menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya. Dalam teori
organisasi modern, konsep ini diperkenalkan oleh para ahli manajemen seperti Michael
Tushman dan Charles O'Reilly yang menjelaskan bahwa organisasi yang sukses
adalah organisasi yang mampu melakukan dua hal sekaligus: exploitation
dan exploration.
Exploitation berarti
memanfaatkan kekuatan yang sudah dimiliki, menjaga kualitas, efisiensi, dan
kesinambungan organisasi. Sedangkan exploration berarti melakukan
inovasi, eksperimen, dan pencarian peluang baru untuk menghadapi masa depan.
Dalam konteks pesantren, exploitation dapat
berupa pelestarian tradisi pengajian kitab kuning, adab santri kepada kiai,
budaya keikhlasan, ukhuwah Islamiyah, serta sistem pendidikan berbasis
pembentukan karakter. Adapun exploration dapat berupa pengembangan
teknologi pendidikan, digitalisasi administrasi, penguatan sains dan teknologi,
kewirausahaan, hingga pengembangan ekonomi pesantren.
Pesantren yang hanya fokus pada tradisi tanpa inovasi
berpotensi mengalami stagnasi. Sebaliknya, pesantren yang terlalu mengejar
modernitas tanpa menjaga identitas berisiko kehilangan ruh dan jati dirinya.
Karena itu, diperlukan kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan keduanya.
Fondasi Ambidextrous Leadership Pesantren
Dalam khazanah pemikiran Islam, keseimbangan antara
tradisi dan perubahan sebenarnya bukan konsep baru. Para ulama telah lama
mengenal konsep tsawabit dan mutaghayyirat.
Tsawabit adalah
nilai-nilai yang bersifat tetap dan tidak berubah, seperti aqidah Islam, ibadah
mahdhah, akhlak, prinsip halal-haram, serta tujuan utama pendidikan Islam. Sementara
mutaghayyirat adalah aspek-aspek yang dapat berubah sesuai perkembangan
zaman, seperti metode pembelajaran, sistem administrasi, teknologi, strategi
dakwah, dan model pengelolaan organisasi.
Al-Qur'an memberikan landasan penting tentang
pentingnya perubahan melalui firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan merupakan bagian
dari sunnatullah. Namun perubahan tersebut harus tetap berada dalam koridor
nilai-nilai Islam yang benar. Dalam konteks pesantren, ambidextrous
leadership berarti kemampuan menjaga tsawabit sambil mengelola mutaghayyirat.
Seorang pemimpin pesantren harus mampu membedakan mana aspek yang harus
dipertahankan dan mana yang perlu diperbarui.
Pesantren dan Tantangan Modernitas
Modernitas membawa banyak peluang sekaligus tantangan.
Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital telah
mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Generasi muda saat
ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi santri
sebelumnya.
Menurut laporan UNESCO, pendidikan abad ke-21 menuntut
penguasaan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi,
serta literasi digital. Sementara itu, World Economic Forum menegaskan bahwa
sebagian besar pekerjaan masa depan akan membutuhkan keterampilan yang berbeda
dari generasi sebelumnya.
Jika pesantren mengabaikan perubahan ini, maka lulusan
pesantren berpotensi mengalami kesenjangan kompetensi. Sebaliknya, jika
pesantren mampu mengintegrasikan nilai Islam dengan kompetensi modern, maka
pesantren akan menjadi lembaga pendidikan yang sangat relevan.
Karena itu, banyak pesantren mulai mengembangkan
sekolah formal, laboratorium komputer, pembelajaran digital, bahasa asing,
kewirausahaan, bahkan inkubator bisnis berbasis pesantren. Langkah ini
merupakan bentuk implementasi exploration tanpa harus meninggalkan
identitas keislaman.
Kepemimpinan Ambidextrous
Kepemimpinan ambidextrous dalam pesantren memerlukan
sejumlah karakter penting. Pertama, visioner tetapi berakar pada nilai.
Pemimpin harus memiliki pandangan jauh ke depan sekaligus memahami tradisi
pesantren yang menjadi fondasi organisasi.
Kedua, adaptif terhadap perubahan. Pemimpin perlu
memahami perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan kebutuhan generasi muda
tanpa kehilangan komitmen terhadap nilai Islam.
Ketiga, mampu membangun sinergi lintas generasi. Dalam
banyak pesantren sering muncul ketegangan antara kelompok yang ingin
mempertahankan tradisi dan kelompok yang mendorong modernisasi. Pemimpin
ambidextrous berperan sebagai jembatan yang menyatukan kedua kelompok tersebut.
Keempat, berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan.
Pemimpin harus menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner)
agar mampu menghadapi perubahan yang semakin cepat.
Kelima, mengutamakan maslahat umat. Setiap inovasi
yang dilakukan harus diarahkan untuk memperkuat fungsi pendidikan, dakwah, dan
pelayanan sosial pesantren.
Implementasi
Penerapan kepemimpinan ambidextrous dapat dilakukan
dalam berbagai bidang. Pertama, Kurikulum Integratif. Pesantren perlu
mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum tanpa menghilangkan identitasnya.
Kajian kitab kuning tetap menjadi ciri khas, namun dilengkapi dengan sains,
teknologi, bahasa asing, dan kewirausahaan.
Kedua, Digitalisasi Manajemen. Administrasi pesantren
dapat memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan
data, keuangan, komunikasi, dan dokumentasi.
Ketiga, Dakwah Digital. Pesantren perlu hadir di ruang
digital melalui media sosial, podcast, video edukasi, dan platform pembelajaran
daring agar dakwah Islam menjangkau generasi muda.
Keempat, Penguatan Ekonomi Pesantren. Pesantren dapat
mengembangkan unit usaha produktif berbasis syariah yang mendukung kemandirian
lembaga sekaligus menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri.
Kelima, Pengembangan Sumber Daya Manusia. Guru, ustaz,
dan pengelola pesantren perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan agar mampu
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pesantren dan Masa Depan
Di tengah krisis moral global, meningkatnya
individualisme, hedonisme, dan disintegrasi sosial, pesantren memiliki modal
sosial yang sangat kuat. Nilai-nilai keikhlasan, ukhuwah, disiplin,
kesederhanaan, dan penghormatan kepada ilmu merupakan fondasi penting bagi
pembangunan peradaban yang berkelanjutan.
Justru di era modern inilah pesantren memiliki peluang
besar untuk menjadi model pendidikan masa depan. Dunia saat ini tidak hanya
membutuhkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang
memiliki integritas moral, kepedulian sosial, dan kedalaman spiritual.
Konsep ambidextrous leadership memungkinkan
pesantren menjawab tantangan tersebut. Dengan menjaga tradisi keilmuan Islam
sekaligus membuka diri terhadap inovasi, pesantren dapat menjadi lembaga yang
adaptif tanpa kehilangan jati dirinya.
Pesantren menghadapi tantangan besar di era
modernitas. Namun tantangan tersebut juga menghadirkan peluang untuk melakukan
transformasi yang lebih baik. Kunci keberhasilan transformasi tersebut terletak
pada kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.
Ambidextrous leadership berbasis pesantren merupakan model kepemimpinan yang mengintegrasikan
nilai-nilai tsawabit dengan kemampuan mengelola mutaghayyirat.
Melalui kepemimpinan seperti ini, pesantren dapat tetap menjadi pusat pendidikan,
dakwah, dan pemberdayaan masyarakat yang relevan dengan perkembangan zaman.
Jika mampu mengimplementasikan paradigma ini secara
konsisten, pesantren tidak hanya akan bertahan menghadapi perubahan, tetapi
juga berpotensi menjadi pelopor lahirnya peradaban Islam yang unggul,
berkarakter, dan berdaya saing global.
REFERENSI
Al-Attas, S. M. N. (1999). The concept of education
in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Al-Qur'an. (n.d.). Al-Qur'an al-Karim.
Azra, A. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan
modernisasi menuju milenium baru. Jakarta: Kencana.
Dhofier, Z. (2011). Tradisi pesantren: Studi
pandangan hidup kiai dan visinya mengenai masa depan Indonesia. Jakarta:
LP3ES.
Nata, A. (2012). Kapita selekta pendidikan Islam.
Jakarta: Rajawali Press.
O'Reilly, C. A., & Tushman, M. L. (2016). Lead
and disrupt: How to solve the innovator's dilemma. Stanford, CA: Stanford
University Press.
Tushman, M. L., & O'Reilly, C. A. (1996).
Ambidextrous organizations: Managing evolutionary and revolutionary change. California
Management Review, 38(4), 8–30.
UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A
new social contract for education. Paris: UNESCO.
World Economic Forum. (2023). The future of jobs
report 2023. Geneva: World Economic Forum.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1351/24/05/26 : 05.21
WIB)

