Oleh: Ahmad Sastra
Dunia saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat
cepat. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence),
globalisasi ekonomi, perubahan sosial, dan disrupsi teknologi telah mengubah
cara manusia bekerja, belajar, berorganisasi, bahkan memimpin.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut,
model kepemimpinan konvensional yang hanya berfokus pada stabilitas organisasi
sering kali tidak lagi memadai. Sebaliknya, kepemimpinan yang terlalu
berorientasi pada perubahan dan inovasi juga dapat menimbulkan instabilitas
serta kehilangan arah organisasi.
Oleh karena itu, diperlukan paradigma kepemimpinan
yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan perubahan. Salah satu
konsep yang banyak dibahas dalam literatur manajemen modern adalah Ambidextrous
Leadership.
Istilah ambidextrous berasal dari bahasa Latin ambi
(dua) dan dexter (tangan kanan), yang secara harfiah berarti kemampuan
menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya. Dalam konteks organisasi, konsep
ini merujuk pada kemampuan seorang pemimpin untuk menjalankan dua fungsi yang
tampaknya bertentangan secara bersamaan.
Fungsi pertama, mempertahankan kekuatan yang sudah ada
sekaligus fungsi kedua, mendorong inovasi untuk masa depan. Dengan kata lain,
seorang pemimpin ambidextrous mampu mengelola kontinuitas dan perubahan secara
seimbang.
Paradigma ini menjadi semakin relevan di era modern
karena organisasi tidak lagi cukup hanya mempertahankan keberhasilan masa lalu.
Organisasi harus terus berinovasi agar mampu bertahan dalam lingkungan yang
dinamis dan kompetitif.
Namun inovasi yang tidak memiliki pijakan nilai dan
identitas yang kuat juga dapat membawa organisasi kehilangan arah. Oleh karena
itu, ambidextrous leadership menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan
keduanya.
Fislosofi Dasar
Konsep ambidextrous leadership berkembang dari
teori organisasi yang dikembangkan oleh para ahli manajemen seperti Michael
Tushman dan Charles O'Reilly. Mereka menjelaskan bahwa organisasi yang sukses
dalam jangka panjang adalah organisasi yang mampu menjalankan dua aktivitas
utama secara bersamaan, yaitu exploitation dan exploration.
Exploitation adalah kemampuan
memanfaatkan sumber daya, pengetahuan, pengalaman, dan sistem yang sudah
dimiliki organisasi secara optimal. Fokusnya adalah efisiensi, kualitas,
stabilitas, dan produktivitas. Sebaliknya, exploration adalah kemampuan
mencari peluang baru, melakukan eksperimen, mengembangkan inovasi, dan
beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Sebagian besar organisasi cenderung unggul hanya pada
salah satu aspek. Organisasi yang terlalu fokus pada exploitation
biasanya menjadi birokratis, konservatif, dan sulit beradaptasi. Sebaliknya,
organisasi yang terlalu fokus pada exploration sering kali kehilangan
stabilitas dan arah strategis. Ambidextrous leadership hadir sebagai solusi
untuk mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut.
Dalam perspektif kepemimpinan, seorang pemimpin
ambidextrous harus mampu menjadi penjaga tradisi sekaligus agen perubahan. Ia
harus mampu menjaga identitas organisasi sambil membuka ruang inovasi yang
diperlukan untuk menghadapi masa depan.
Secara filosofis, ambidextrous leadership
dibangun di atas prinsip keseimbangan (balance). Dalam hampir seluruh
peradaban besar dunia, keseimbangan dipandang sebagai syarat utama
keberlangsungan kehidupan. Alam semesta berjalan berdasarkan keseimbangan.
Kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara
kebebasan dan tanggung jawab, serta antara material dan spiritual.
Dalam tradisi filsafat klasik, Aristotle
memperkenalkan konsep golden mean atau jalan tengah sebagai bentuk
kebajikan tertinggi. Menurutnya, kebajikan terletak pada kemampuan menghindari
dua kutub ekstrem dan menemukan titik keseimbangan yang tepat.
Dalam perspektif Islam, konsep keseimbangan dikenal
dengan istilah wasathiyah. Allah SWT berfirman: “Dan demikian pula Kami
telah menjadikan kamu umat yang wasath.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menunjukkan bahwa keseimbangan merupakan
karakter utama umat Islam. Prinsip ini dapat menjadi landasan filosofis bagi
kepemimpinan ambidextrous, yaitu kemampuan menempatkan segala sesuatu secara
proporsional sesuai kebutuhan dan konteksnya secara adil dan sejalan dengan
aturan Allah.
Karena itu, ambidextrous leadership bukan sekadar
teknik manajemen, tetapi juga paradigma berpikir yang melihat perubahan dan
stabilitas sebagai dua elemen yang harus berjalan bersama.
Stabilitas dan Perubahan
Salah satu kesalahan umum dalam memahami kepemimpinan
adalah menganggap stabilitas dan perubahan sebagai dua hal yang saling
bertentangan. Padahal keduanya saling melengkapi.
Stabilitas memberikan identitas, arah, budaya
organisasi, dan rasa aman bagi anggota organisasi. Tanpa stabilitas, organisasi
akan kehilangan fondasi yang menjadi sumber kekuatannya. Sebaliknya, perubahan
memungkinkan organisasi bertahan menghadapi tantangan baru. Tanpa perubahan,
organisasi akan mengalami stagnasi dan akhirnya tertinggal.
Pemimpin ambidextrous memahami bahwa tidak semua hal
harus diubah dan tidak semua hal harus dipertahankan. Kemampuan membedakan mana
yang harus dijaga dan mana yang harus diperbarui merupakan inti dari
kepemimpinan ini.
Dalam dunia pendidikan misalnya, nilai-nilai moral,
integritas, dan tujuan pendidikan merupakan aspek yang harus dipertahankan.
Namun metode pembelajaran, teknologi pendidikan, dan strategi komunikasi dapat
terus diperbarui sesuai perkembangan zaman.
Karakteristik
Terdapat beberapa karakteristik utama yang dimiliki
pemimpin ambidextrous. Pertama, Visioner dan Adaptif. Pemimpin harus memiliki
visi jangka panjang sekaligus kemampuan merespons perubahan yang terjadi secara
cepat. Ia mampu melihat peluang di tengah tantangan dan mengubah krisis menjadi
kesempatan.
Kedua, Menjaga Nilai dan Mendorong Inovasi. Pemimpin
ambidextrous tidak terjebak pada konservatisme maupun liberalisme organisasi.
Ia menjaga nilai-nilai inti sambil mendorong pembaruan yang diperlukan.
Ketiga, Berpikir Sistemik. Pemimpin melihat organisasi
sebagai sebuah sistem yang saling terhubung. Setiap keputusan dipertimbangkan
dampaknya terhadap keseluruhan organisasi.
Keempat, Mendorong Pembelajaran Berkelanjutan. Organisasi
yang dipimpin secara ambidextrous adalah organisasi pembelajar (learning
organization). Kesalahan dipandang sebagai sumber pembelajaran, bukan
sekadar kegagalan.
Kelima, Membangun Kolaborasi. Pemimpin ambidextrous
mampu menyatukan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda dalam satu tujuan
bersama.
Disrupsi
Era disrupsi menuntut organisasi untuk bergerak lebih
cepat dibanding sebelumnya. Menurut laporan World Economic Forum, perubahan
teknologi akan mengubah sebagian besar pekerjaan yang ada saat ini. Organisasi
yang tidak mampu beradaptasi akan mengalami kesulitan bertahan.
Namun perubahan yang terlalu cepat tanpa fondasi nilai
juga dapat menimbulkan krisis identitas. Banyak organisasi mengalami kegagalan
bukan karena tidak berinovasi, tetapi karena kehilangan jati diri ketika
melakukan inovasi.
Karena itu, pemimpin masa depan harus mampu memadukan
kemampuan manajerial, kepemimpinan strategis, dan kecerdasan moral.
Ambidextrous leadership menawarkan kerangka yang memungkinkan ketiga aspek
tersebut berjalan secara harmonis.
Dalam konteks pendidikan, bisnis, pemerintahan, organisasi
sosial, maupun lembaga keagamaan, paradigma ini menjadi sangat relevan.
Organisasi perlu bertransformasi, tetapi transformasi tersebut harus tetap
berpijak pada nilai-nilai yang menjadi fondasi keberadaannya.
Perspektif Islam
Jika ditelaah lebih mendalam, banyak prinsip
ambidextrous leadership yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dalam sejarah
Islam, Rasulullah ï·º merupakan
teladan kepemimpinan yang mampu menjaga prinsip-prinsip wahyu sekaligus sangat
adaptif terhadap perubahan sosial.
Beliau mempertahankan aqidah dan nilai-nilai Islam
sebagai prinsip yang tidak berubah, tetapi menggunakan berbagai strategi yang
fleksibel dalam dakwah, diplomasi, pendidikan, dan pembangunan masyarakat. Para
ulama kemudian mengembangkan konsep tsawabit (nilai tetap) dan mutaghayyirat
(aspek yang dapat berubah) sebagai kerangka berpikir dalam menghadapi perubahan
zaman.
Dalam konteks ini, ambidextrous leadership dapat
dipahami sebagai kemampuan menjaga tsawabit sambil mengelola mutaghayyirat.
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu membedakan mana prinsip yang
tidak boleh berubah dan mana aspek yang perlu diperbarui demi kemaslahatan
umat.
Ambidextrous leadership merupakan paradigma
kepemimpinan yang sangat relevan bagi organisasi modern yang menghadapi
perubahan cepat dan kompleks. Filosofinya bertumpu pada keseimbangan antara
stabilitas dan perubahan, antara tradisi dan inovasi, antara menjaga identitas
dan merespons tantangan masa depan.
Paradigma ini mengajarkan bahwa keberhasilan
organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan kekuatan
yang sudah dimiliki, tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan masa depan
melalui inovasi yang berkelanjutan. Pemimpin ambidextrous adalah pemimpin yang
mampu mengelola keduanya secara harmonis.
Dalam dunia yang terus berubah, organisasi yang mampu
menjaga nilai-nilai fundamental sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman
akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang, dan memberikan
manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan demikian, ambidextrous leadership bukan sekadar
teori kepemimpinan modern, tetapi sebuah paradigma strategis untuk membangun
organisasi yang tangguh, adaptif, dan berorientasi masa depan.
REFERENSI
Al-Qur'an. (n.d.). Al-Qur'an al-Karim.
Aristotle. (2004). Nicomachean ethics (R.
Crisp, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press
March, J. G. (1991). Exploration and exploitation in
organizational learning. Organization Science, 2(1), 71–87.
O'Reilly, C. A., & Tushman, M. L. (2016). Lead
and disrupt: How to solve the innovator's dilemma. Stanford, CA: Stanford
University Press.
Rosing, K., Frese, M., & Bausch, A. (2011).
Explaining the heterogeneity of the leadership-innovation relationship:
Ambidextrous leadership. The Leadership Quarterly, 22(5), 956–974.
Tushman, M. L., & O'Reilly, C. A. (1996).
Ambidextrous organizations: Managing evolutionary and revolutionary change. California
Management Review, 38(4), 8–30.
World Economic Forum. (2023). The future of jobs
report 2023. Geneva: World Economic Forum.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1352/24/05/26 : 05.38
WIB)

