Oleh : Ahmad Sastra
Salah satu sumber terbesar kecemasan manusia adalah
keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Manusia ingin hidup berjalan
sesuai rencana, ingin orang lain bersikap seperti yang diharapkan, ingin masa
depan selalu aman, dan ingin terhindar dari kegagalan maupun kehilangan. Namun
realitas kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Ada banyak hal yang bergerak di luar kuasa manusia:
perubahan keadaan, sikap orang lain, musibah, sakit, kehilangan, bahkan
kematian. Ketika manusia terlalu memaksakan kontrol terhadap segala sesuatu,
maka lahirlah kecemasan, frustrasi, kemarahan, dan kelelahan mental.
Karena itu, kemampuan melepaskan kendali terhadap
hal-hal yang memang berada di luar kuasa manusia merupakan salah satu bentuk
kedewasaan emosional dan spiritual. Melepaskan kendali bukan berarti pasrah
tanpa usaha, tetapi memahami batas kemampuan manusia dan menerima kenyataan
hidup dengan bijaksana.
Konsep ini dibahas dalam berbagai tradisi pemikiran
manusia, mulai dari filsafat Stoik, psikologi modern, hingga tasawuf Islam.
Ketiganya memiliki pendekatan berbeda, tetapi sama-sama mengajarkan pentingnya
menerima realitas dan membangun ketenangan batin.
Perspektif Filsafat Stoik: Fokus pada yang Bisa
Dikendalikan
Filsafat Stoik berkembang di Yunani dan Romawi kuno
melalui tokoh-tokoh seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius. Salah satu
prinsip paling terkenal dalam Stoisisme adalah dikotomi kendali (dichotomy
of control), yaitu membedakan antara hal yang berada dalam kendali manusia
dan yang tidak berada dalam kendalinya.
Menurut Epictetus, penderitaan manusia sering muncul
karena ia mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ia kuasai.
Manusia tidak dapat mengontrol cuaca, masa lalu, kematian, opini orang lain,
atau hasil akhir dari setiap usaha. Yang bisa dikendalikan hanyalah pikiran,
sikap, pilihan moral, dan respons terhadap keadaan.
Stoisisme mengajarkan bahwa manusia harus fokus pada
kualitas dirinya sendiri, bukan pada hasil eksternal yang tidak pasti. Ketika
seseorang terlalu terobsesi mengontrol hasil, ia akan mudah kecewa dan
kehilangan ketenangan. Sebaliknya, ketika ia fokus pada usaha terbaik dan
menerima hasil dengan lapang dada, maka batinnya menjadi lebih stabil.
Marcus Aurelius dalam Meditations menulis bahwa
manusia harus menerima segala sesuatu yang datang sebagai bagian dari
keteraturan alam. Dengan menerima kenyataan hidup, manusia dapat hidup lebih
tenang dan tidak terus-menerus dikuasai rasa takut atau marah.
Stoisisme bukan mengajarkan kepasrahan pasif, tetapi
pengendalian diri dan keberanian menghadapi kenyataan. Orang Stoik tetap
berusaha keras, tetapi tidak menghancurkan dirinya sendiri ketika hasil tidak
sesuai harapan. Dari sinilah lahir ketenangan batin dan kebebasan emosional.
Perspektif Psikologi Modern: Acceptance dan Kesehatan
Mental
Psikologi modern juga menemukan bahwa obsesi
mengontrol segala sesuatu dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental.
Banyak gangguan kecemasan muncul karena manusia terus memikirkan kemungkinan
buruk di masa depan atau mencoba memastikan semua hal berjalan sempurna.
Dalam psikologi, terdapat pendekatan yang disebut Acceptance
and Commitment Therapy (ACT), yang dikembangkan oleh Steven C. Hayes.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa manusia tidak harus mengontrol seluruh pikiran
dan emosinya, tetapi belajar menerima keberadaan emosi tersebut tanpa dikuasai
olehnya.
ACT menekankan pentingnya menerima kenyataan hidup
yang tidak sempurna. Semakin seseorang melawan rasa takut, sedih, atau cemas
secara berlebihan, sering kali emosi itu justru semakin kuat. Sebaliknya,
ketika manusia menerima bahwa hidup memang mengandung ketidakpastian, maka ia
menjadi lebih fleksibel secara psikologis.
Psikologi modern juga mengenal konsep locus of
control. Orang dengan internal locus of control memahami bahwa ia
bertanggung jawab atas sikap dan tindakannya sendiri, tetapi tidak memaksakan
kontrol terhadap seluruh keadaan eksternal. Sementara orang yang terlalu
obsesif terhadap kontrol sering mengalami stres kronis, perfeksionisme, dan
kelelahan emosional.
Brené Brown menjelaskan bahwa manusia perlu menerima
kerentanan sebagai bagian alami kehidupan. Tidak semua hal dapat diprediksi
atau dikendalikan. Ketika manusia menerima keterbatasannya, ia justru menjadi
lebih kuat secara emosional.
Selain itu, praktik mindfulness dalam psikologi
membantu manusia hadir pada momen saat ini tanpa terjebak kecemasan masa depan.
Kesadaran penuh terhadap realitas membuat manusia lebih mampu menerima hidup
sebagaimana adanya.
Namun demikian, psikologi modern umumnya bersifat
empiris dan sekuler. Ia mampu membantu manusia memahami mekanisme emosional,
tetapi sering kali belum memberikan jawaban spiritual mengenai makna
penderitaan dan keterbatasan hidup manusia.
Perspektif Tasawuf Islam: Tawakal dan Ridha
Tasawuf Islam memiliki pendekatan yang lebih mendalam
karena menghubungkan konsep melepaskan kendali dengan keimanan kepada Allah
Swt. Dalam Islam, manusia diwajibkan berusaha, tetapi hasil akhir sepenuhnya
berada dalam kekuasaan Allah. Karena itu, seorang muslim diajarkan untuk
memiliki sikap tawakal dan ridha.
Allah Swt. berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah.
Cukuplah Allah sebagai Penolong.” (QS. Al-Ahzab [33]: 3)
Tawakal bukan berarti pasif atau menyerah tanpa usaha.
Tawakal adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar
terbaik, sejak awal, saat melakukan dan akhir ikhtiar. Seorang muslim tetap
bekerja, belajar, berjuang, dan merencanakan masa depan, tetapi ia sadar bahwa
tidak semua hasil dapat dikendalikan manusia.
Rasulullah saw. bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian
bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan keseimbangan
antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah. Islam tidak mengajarkan
fatalisme, tetapi juga tidak membenarkan manusia hidup dalam obsesi mengontrol
segala sesuatu.
Tasawuf Islam juga mengenal konsep ridha, yaitu
menerima ketentuan Allah dengan lapang dada. Ridha bukan berarti tidak sedih
atau tidak kecewa, tetapi menerima bahwa Allah memiliki hikmah di balik setiap
peristiwa.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu sumber
kegelisahan manusia adalah ketergantungan berlebihan pada dunia dan keinginan
menguasai segala sesuatu. Menurutnya, hati manusia hanya akan tenang ketika
menyadari bahwa Allah adalah pengatur kehidupan yang paling sempurna.
Allah Swt. berfirman: “Boleh jadi kalian membenci
sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.”. (QS. Al-Baqarah [2]: 216). Ayat ini
mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan pengetahuan. Banyak hal yang
tampak buruk ternyata membawa kebaikan, dan sebaliknya. Karena itu, manusia
perlu belajar mempercayai hikmah Allah di balik setiap kejadian.
Tasawuf juga mengajarkan dzikir sebagai sarana
menenangkan hati. Ketika manusia terlalu ingin mengontrol hidup, pikirannya
mudah dipenuhi ketakutan. Dzikir mengingatkan manusia bahwa ada kekuatan yang
lebih besar daripada dirinya. Allah Swt. berfirman: “Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28).
Filsafat Stoik, psikologi modern, dan tasawuf Islam
memiliki titik temu dalam mengajarkan manusia agar tidak terobsesi mengontrol
segala sesuatu. Ketiganya menekankan pentingnya menerima kenyataan hidup dan
fokus pada hal-hal yang memang bisa dikelola manusia.
Stoisisme mengajarkan pengendalian diri dan penerimaan
rasional terhadap kehidupan. Psikologi modern menekankan penerimaan emosional
dan fleksibilitas psikologis. Sementara tasawuf Islam menambahkan dimensi
spiritual melalui tawakal dan ridha kepada Allah.
Perbedaannya terletak pada fondasi filosofisnya.
Stoisisme bertumpu pada rasionalitas manusia. Psikologi modern bertumpu pada
penelitian ilmiah dan empiris. Sedangkan tasawuf Islam berpijak pada wahyu dan
hubungan manusia dengan Allah SWT.
Dalam Islam, melepaskan kendali bukan hanya strategi
kesehatan mental, tetapi juga bentuk keimanan. Seorang muslim percaya bahwa
Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan, sementara manusia hanyalah makhluk
dengan kemampuan terbatas.
Relevansi bagi Kehidupan Modern
Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, manusia
semakin mudah mengalami kecemasan karena ingin mengontrol masa depan. Budaya
perfeksionisme membuat banyak orang takut gagal, takut kehilangan, dan takut
tidak diterima.
Media sosial juga memperburuk keadaan karena manusia
terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Akibatnya, banyak orang merasa
harus mengontrol citra dirinya secara sempurna di hadapan publik.
Belajar melepaskan kendali menjadi sangat penting agar
manusia tidak hancur oleh tekanan hidup. Orang yang mampu menerima keterbatasan
hidup cenderung lebih tenang, fleksibel, dan tahan menghadapi krisis.
Tasawuf Islam menawarkan pendekatan yang sangat
relevan karena mengajarkan keseimbangan antara usaha dan ketergantungan kepada
Allah. Manusia diajarkan bekerja keras, tetapi tidak menjadikan hasil dunia
sebagai sumber utama ketenangan hidup.
Keinginan mengontrol segala sesuatu sering menjadi
sumber utama kecemasan manusia. Filsafat Stoik mengajarkan manusia fokus pada
hal-hal yang berada dalam kendalinya. Psikologi modern menekankan penerimaan
emosional dan fleksibilitas psikologis. Sementara tasawuf Islam mengajarkan
tawakal dan ridha kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik.
Di tengah kehidupan modern yang penuh ketidakpastian,
manusia membutuhkan kemampuan menerima kenyataan dan melepaskan obsesi terhadap
kontrol berlebihan. Islam memberikan perspektif paling utuh dengan
menghubungkan ketenangan batin kepada keimanan dan kepercayaan penuh kepada
Allah Swt. Dengan demikian, manusia tidak hanya sehat secara mental, tetapi
juga kuat secara spiritual dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulum al-din. Beirut,
Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qur’an al-Karim.
American Psychological Association. (2023). Stress
and uncertainty in modern life. Washington, DC: APA Publishing.
Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays,
Trans.). New York, NY: Modern Library.
Brown, B. (2010). The gifts of imperfection.
Center City, MN: Hazelden Publishing.
Hayes, S. C. (2019). A liberated mind: How to pivot
toward what matters. New York, NY: Avery.
Pigliucci, M. (2017). How to be a Stoic: Using
ancient philosophy to live a modern life. New York, NY: Basic Books.
Tirmidhi, M. I. (2007). Jami‘ al-Tirmidhi.
Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1333/16/05/26 : 10.12
WIB)

