Oleh : Ahmad Sastra
Salah satu realitas yang tidak dapat dihindari manusia
adalah bahwa dunia bersifat sementara. Kehidupan manusia berjalan menuju batas
akhir bernama kematian. Harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan dunia pada
akhirnya akan ditinggalkan.
Namun, banyak manusia hidup seolah-olah dunia adalah
tujuan akhir, sehingga lahirlah kecemasan, kerakusan, kompetisi tidak sehat,
dan kehampaan spiritual. Dalam konteks inilah penting memahami konsep “kefanaan
dunia” atau kesementaraan hidup agar manusia memiliki orientasi hidup yang
lebih bijaksana.
Berbagai tradisi pemikiran telah membahas tema ini.
Filsafat Stoik mengajarkan pengendalian diri dan penerimaan terhadap realitas
hidup. Psikologi modern menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness)
dan penerimaan terhadap keterbatasan manusia untuk mencapai kesehatan mental.
Sementara itu, tasawuf Islam memandang dunia sebagai
tempat persinggahan sementara menuju kehidupan akhirat yang kekal. Ketiga
perspektif ini memiliki titik temu dalam mengajarkan manusia agar tidak
diperbudak oleh dunia, meskipun memiliki landasan filosofis dan spiritual yang
berbeda.
Dunia yang Sementara dalam Perspektif Filsafat Stoik
Filsafat Stoik berkembang di Yunani dan Romawi kuno
melalui tokoh-tokoh seperti Zeno of Citium, Seneca, Epictetus, dan Marcus
Aurelius. Stoisisme mengajarkan bahwa manusia harus hidup sesuai dengan alam
dan akal sehat. Hal-hal eksternal seperti kekayaan, pujian, maupun musibah
bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Karena itu,
manusia harus fokus pada apa yang dapat dikendalikan: pikiran, sikap, dan
respons terhadap kehidupan.
Dalam filsafat Stoik, dunia dipahami sebagai sesuatu
yang berubah dan tidak permanen. Karena itu, manusia dianjurkan untuk tidak
terlalu melekat pada hal-hal material. Marcus Aurelius dalam Meditations
menulis bahwa segala sesuatu di dunia akan berlalu, termasuk manusia itu
sendiri. Kesadaran terhadap kefanaan hidup melahirkan ketenangan batin dan kebijaksanaan.
Stoisisme juga mengenal konsep memento mori,
yaitu mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, manusia diharapkan hidup
lebih bermakna dan tidak tenggelam dalam ambisi duniawi yang berlebihan. Dalam
konteks modern, ajaran Stoik banyak digunakan dalam pengembangan diri dan
manajemen stres karena dianggap mampu membantu manusia menghadapi
ketidakpastian hidup.
Namun demikian, Stoisisme sangat bertumpu pada
rasionalitas manusia. Ia menekankan kekuatan akal dan pengendalian emosi,
tetapi tidak memiliki dimensi wahyu sebagaimana dalam Islam. Karena itu,
ketenangan dalam Stoisisme lebih bersifat filosofis dan psikologis, bukan
spiritual-transendental.
Kesementaraan Dunia dalam Perspektif Psikologi Modern
Psikologi modern juga membahas pentingnya memahami
keterbatasan dan ketidakkekalan hidup. Dalam psikologi eksistensial, manusia
dipandang sebagai makhluk yang terus berhadapan dengan kecemasan, kesendirian,
dan kematian. Tokoh seperti Viktor Frankl menegaskan bahwa manusia membutuhkan
makna hidup agar mampu bertahan menghadapi penderitaan.
Dalam bukunya Man’s Search for Meaning, Viktor
Frankl menjelaskan bahwa penderitaan akan terasa ringan jika manusia menemukan
makna di balik kehidupannya. Kesadaran bahwa dunia tidak kekal justru dapat
membuat manusia lebih menghargai waktu, relasi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Psikologi modern juga mengenal konsep mindfulness,
yaitu kesadaran penuh terhadap kondisi saat ini tanpa terjebak penyesalan masa
lalu atau kecemasan masa depan. Praktik ini terbukti membantu mengurangi stres,
kecemasan, dan depresi. Menurut penelitian American Psychological Association,
kesadaran diri dan penerimaan terhadap realitas hidup dapat meningkatkan
kesehatan mental seseorang.
Selain itu, teori hedonic adaptation menjelaskan
bahwa manusia cenderung cepat terbiasa dengan kenikmatan dunia. Harta, jabatan,
atau popularitas hanya memberikan kebahagiaan sementara. Setelah itu, manusia
akan kembali merasa kosong dan mencari kepuasan baru. Fenomena ini menunjukkan
bahwa kebahagiaan material tidak pernah benar-benar memuaskan jiwa manusia.
Meskipun demikian, psikologi modern umumnya bersifat
sekuler dan empiris. Ia mampu menjelaskan gejala psikologis manusia, tetapi
sering kali tidak memberikan jawaban spiritual mengenai tujuan akhir kehidupan.
Karena itu, banyak manusia modern tetap mengalami krisis makna meskipun hidup
di tengah kemajuan teknologi dan kemakmuran material.
Tasawuf Islam dan Kesadaran akan Kefanaan Dunia
Tasawuf Islam memiliki pandangan yang lebih komprehensif
mengenai kesementaraan dunia. Dalam Islam, dunia dipahami sebagai tempat ujian
dan persinggahan sementara menuju akhirat. Kehidupan dunia bukan tujuan akhir,
melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya
kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling
berbangga di antara kalian serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS.
Al-Hadid [57]: 20)
Ayat ini menggambarkan bahwa dunia bersifat fana dan
menipu jika dijadikan tujuan utama kehidupan. Islam tidak melarang manusia
mencari harta atau menikmati kehidupan, tetapi semuanya harus ditempatkan
secara proporsional dan tidak melalaikan akhirat.
Tasawuf mengajarkan konsep zuhud, yaitu tidak
menjadikan dunia sebagai pusat hati. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia
sepenuhnya, melainkan tidak diperbudak oleh dunia. Seorang sufi dapat kaya,
tetapi hatinya tidak bergantung pada kekayaan tersebut.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta dunia yang
berlebihan adalah sumber berbagai penyakit hati seperti iri, sombong, rakus,
dan tamak. Menurutnya, manusia harus membersihkan hati melalui dzikir, ibadah,
dan muhasabah agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia.
Allah Swt. berfirman: “Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185). Rasulullah
saw. juga bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang
musafir.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menggambarkan bahwa seorang muslim
seharusnya tidak terlalu melekat pada dunia. Seorang musafir hanya singgah
sementara dan selalu bersiap melanjutkan perjalanan. Demikian pula kehidupan
manusia di dunia.
Tasawuf Islam juga mengajarkan pentingnya mengingat
kematian (dzikrul maut). Mengingat kematian bukan untuk menimbulkan
ketakutan berlebihan, tetapi agar manusia hidup lebih sadar, rendah hati, dan
fokus pada amal saleh.
Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah mengingat
pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Dalam tasawuf, kesadaran akan kefanaan dunia justru
melahirkan ketenangan jiwa. Orang yang memahami bahwa dunia hanya sementara
tidak akan terlalu larut dalam kesedihan ketika kehilangan sesuatu, dan tidak
pula sombong ketika mendapatkan kenikmatan.
Titik Temu dan Perbedaan Ketiga Perspektif
Filsafat Stoik, psikologi modern, dan tasawuf Islam
memiliki titik temu dalam mengajarkan manusia agar tidak diperbudak oleh dunia.
Ketiganya menekankan pentingnya pengendalian diri, penerimaan terhadap realitas
hidup, dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Stoisisme mengajarkan ketenangan melalui rasionalitas
dan pengendalian emosi. Psikologi modern menekankan kesehatan mental melalui
kesadaran diri dan pencarian makna hidup. Sedangkan tasawuf Islam menempatkan
seluruh pengalaman hidup dalam hubungan spiritual dengan Allah Swt.
Perbedaan utamanya terletak pada landasan
filosofisnya. Stoisisme bertumpu pada akal manusia. Psikologi modern bertumpu
pada observasi empiris dan pengalaman psikologis. Sementara tasawuf Islam berpijak
pada wahyu ilahi yang menghubungkan dunia dengan akhirat.
Dalam Islam, kesementaraan dunia bukan sekadar fakta
filosofis atau psikologis, tetapi bagian dari ujian keimanan. Dunia dipandang
bernilai jika digunakan sebagai jalan menuju ridha Allah. Karena itu, Islam
tidak mengajarkan pelarian dari dunia, tetapi pengelolaan dunia secara
bijaksana dan spiritual.
Di era modern, manusia menghadapi tekanan hidup yang
semakin kompleks. Budaya materialisme dan hedonisme membuat banyak orang
mengukur kebahagiaan berdasarkan harta, jabatan, dan popularitas. Akibatnya,
muncul kecemasan, depresi, krisis identitas, dan kehampaan spiritual.
Kesadaran akan kesementaraan dunia menjadi sangat
penting untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual manusia modern. Dengan
memahami bahwa dunia tidak kekal, manusia dapat hidup lebih sederhana,
bersyukur, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna.
Tasawuf Islam menawarkan solusi yang lebih utuh karena
tidak hanya menenangkan jiwa secara psikologis, tetapi juga memberikan
orientasi spiritual yang jelas. Ketenangan sejati bukan hanya berasal dari
pengendalian pikiran, tetapi juga dari kedekatan dengan Allah Swt.
Allah Swt. berfirman: “Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28). Ayat ini
menunjukkan bahwa ketenangan hakiki tidak cukup diperoleh melalui rasionalitas
atau terapi psikologis semata, tetapi melalui hubungan spiritual dengan Sang
Pencipta.
Kesementaraan dunia adalah realitas yang diakui oleh
filsafat, psikologi, dan agama. Filsafat Stoik mengajarkan ketenangan melalui
pengendalian diri dan penerimaan terhadap realitas hidup. Psikologi modern
menekankan pentingnya kesadaran diri dan makna hidup untuk menjaga kesehatan
mental. Sementara itu, tasawuf Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah
persinggahan sementara menuju akhirat yang kekal.
Di tengah krisis moral dan spiritual masyarakat
modern, pemahaman tentang kefanaan dunia menjadi sangat penting agar manusia
tidak diperbudak oleh materi dan ambisi duniawi. Islam memberikan perspektif
paling komprehensif dengan menempatkan dunia secara proporsional: bukan untuk
ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga bukan untuk dijadikan tujuan akhir
kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulum al-din. Beirut,
Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qur’an al-Karim.
American Psychological Association. (2023). Stress
effects on the body. Washington, DC: APA Publishing.
Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays,
Trans.). New York, NY: Modern Library.
Bukhari, M. I. (2002). Sahih al-Bukhari.
Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.
Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning.
Boston, MA: Beacon Press.
Hadot, P. (1998). The inner citadel: The
meditations of Marcus Aurelius. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Syed Muhammad Naquib al-Attas. (1995). Prolegomena
to the metaphysics of Islam. Kuala Lumpur, Malaysia: ISTAC.
Tirmidhi, M. I. (2007). Jami‘ al-Tirmidhi.
Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1327/12/05/26 : 16.23
WIB)

