Oleh: Ahmad Sastra
Kepemimpinan merupakan salah satu amanah terbesar
dalam kehidupan manusia. Di tangan seorang pemimpin, nasib jutaan rakyat dapat
berubah menuju kesejahteraan atau justru terjerumus ke dalam penderitaan. Oleh
karena itu, hampir semua peradaban besar memberikan perhatian serius terhadap
kualitas moral seorang pemimpin.
Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah simbol kemuliaan
pribadi, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Jabatan bukanlah kehormatan yang boleh dibanggakan, tetapi beban yang harus
dipikul dengan penuh kejujuran, keadilan, dan pengabdian.
Dalam praktik politik modern, khususnya dalam sistem
demokrasi elektoral, proses memperoleh jabatan publik sering kali membutuhkan
biaya politik yang besar, kompetisi yang ketat, dan dukungan berbagai
kepentingan. Kondisi ini tidak jarang melahirkan orientasi kekuasaan yang
pragmatis.
Jabatan dipandang sebagai tujuan akhir, bukan sebagai
sarana untuk melayani masyarakat. Akibatnya, setelah terpilih, sebagian pejabat
justru mengalami disorientasi moral. Mereka lupa bahwa mandat yang diterima
berasal dari rakyat dan seharusnya digunakan untuk mengurus kepentingan rakyat.
Fenomena ini menjadi ironi dalam kehidupan berbangsa.
Di satu sisi rakyat memberikan kepercayaan kepada pemimpin, tetapi di sisi lain
sebagian pemimpin justru tampil arogan, sulit menerima kritik, hidup
bermewah-mewahan, bahkan terjerat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam
perspektif Islam, perilaku semacam ini bertentangan dengan hakikat kepemimpinan
sebagai amanah dan pelayanan.
Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Keistimewaan
Islam memandang kekuasaan sebagai amanah yang sangat
berat. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di
antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS.
An-Nisa': 58)
Ayat ini menegaskan bahwa inti kepemimpinan adalah
menjaga amanah dan menegakkan keadilan. Jabatan bukanlah hak milik pribadi yang
dapat digunakan sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijalankan sesuai
ketentuan Allah.
Rasulullah SAW juga mengingatkan beratnya tanggung
jawab seorang pemimpin melalui sabdanya: "Setiap kalian adalah pemimpin
dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak
akan dihisab berdasarkan lamanya menjabat atau besarnya kekuasaan yang dimiliki,
tetapi berdasarkan bagaimana ia menjalankan amanah tersebut.
Pemimpin adalah Pelayan Rakyat
Secara filosofis, hakikat kepemimpinan adalah
pelayanan (public service). Dalam ilmu administrasi publik modern,
konsep servant leadership yang dipopulerkan oleh Robert K. Greenleaf
menempatkan pemimpin sebagai pelayan yang mendahulukan kepentingan orang lain
sebelum kepentingan dirinya sendiri. Meskipun konsep tersebut berkembang dalam
literatur manajemen modern, nilai yang sama telah diajarkan Islam sejak lebih dari
empat belas abad yang lalu.
Rasulullah SAW adalah teladan utama seorang pemimpin
yang melayani umatnya. Beliau hidup sederhana, membantu pekerjaan rumah tangga,
mendengarkan keluhan masyarakat, dan tidak membangun jarak dengan rakyatnya.
Ketika menjadi kepala negara Madinah, Rasulullah tidak hidup dalam kemewahan.
Beliau tetap tidur di atas tikar sederhana hingga membekas di tubuhnya.
Kepemimpinan Islam bukanlah kepemimpinan yang meminta
dilayani, melainkan kepemimpinan yang siap berkorban demi kesejahteraan
masyarakat. Karena itu, rakyat bukanlah bawahan yang harus tunduk kepada
kesombongan pejabat, tetapi pihak yang memiliki hak untuk memperoleh pelayanan
terbaik.
Kesombongan : Penyakit Penguasa
Salah satu penyakit paling berbahaya bagi seorang
pemimpin adalah kesombongan. Ketika kekuasaan dipandang sebagai sumber
kemuliaan pribadi, maka lahirlah sikap congkak, antikritik, dan merasa paling
benar.
Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu
memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)
Kesombongan merupakan sifat yang dibenci Allah karena
membuat seseorang kehilangan kemampuan mendengar nasihat dan mengakui
kesalahan. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di
dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR.
Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar
persoalan etika, tetapi persoalan akidah dan akhlak yang dapat menghalangi
seseorang memperoleh keselamatan di akhirat.
Ketika Kekuasaan Melahirkan Disorientasi
Dalam praktik politik kontemporer, biaya politik yang
tinggi sering menjadi salah satu tantangan dalam tata kelola pemerintahan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kompetisi elektoral yang mahal dapat
menciptakan insentif bagi sebagian aktor politik untuk lebih berorientasi pada
kepentingan kekuasaan daripada pelayanan publik.
Samuel P. Huntington dalam Political Order in
Changing Societies mengingatkan bahwa institusi politik yang lemah dapat
mendorong berkembangnya praktik patronase dan penyalahgunaan kekuasaan.
Sementara Robert Klitgaard dalam Controlling Corruption menjelaskan
bahwa korupsi lebih mudah tumbuh ketika kekuasaan terkonsentrasi tanpa
akuntabilitas yang memadai.
Dalam konteks tersebut, tantangan terbesar bukan hanya
bagaimana memperoleh kekuasaan secara sah, tetapi bagaimana menggunakan
kekuasaan secara bertanggung jawab. Ketika orientasi pelayanan bergeser menjadi
orientasi mempertahankan jabatan atau memperkaya diri, maka lahirlah
disorientasi kepemimpinan.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa perilaku arogan
atau penyalahgunaan wewenang bukan merupakan konsekuensi yang melekat pada
sistem politik tertentu. Dalam berbagai bentuk sistem pemerintahan, kualitas
kepemimpinan tetap sangat dipengaruhi oleh integritas pribadi, budaya politik,
penegakan hukum, serta mekanisme akuntabilitas publik.
Belajar dari Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Sejarah Islam memberikan contoh kepemimpinan yang
sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan yang arogan. Ketika diangkat menjadi
khalifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menyampaikan pidato yang sangat terkenal: "Aku
telah dipilih memimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara
kalian. Jika aku benar, bantulah aku. Jika aku menyimpang, luruskanlah
aku."
Pidato tersebut menunjukkan kerendahan hati seorang
pemimpin. Jabatan tidak membuat Abu Bakar merasa lebih tinggi daripada
rakyatnya.
Demikian pula Umar bin Khattab RA yang terkenal sangat
dekat dengan rakyat. Beliau sering berkeliling pada malam hari untuk memastikan
tidak ada rakyat yang kelaparan. Ketika menemukan seorang ibu yang anak-anaknya
menangis karena tidak memiliki makanan, Umar memikul sendiri karung gandum dari
Baitul Mal tanpa membiarkan bawahannya menggantikan.
Kepemimpinan seperti inilah yang menjadikan
pemerintahan Islam awal dihormati karena keadilan dan keberpihakannya kepada
masyarakat.
Selain akuntabilitas hukum, Islam mengenal konsep
akuntabilitas moral di hadapan Allah SWT. Seorang pemimpin boleh saja berhasil
mempertahankan jabatannya, memperoleh pujian, atau menikmati berbagai fasilitas
duniawi. Namun seluruh kebijakan dan tindakannya akan dipertanggungjawabkan di
akhirat.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang hamba
yang diberi amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu
rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. al-Bukhari
dan Muslim)
Hadis ini memberikan peringatan yang sangat keras
bahwa pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan memiliki konsekuensi yang
sangat berat.
Berorientasi Pelayanan
Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, dibutuhkan
pemimpin yang memiliki beberapa karakter utama. Pertama, amanah, yaitu
memandang jabatan sebagai titipan Allah, bukan hak milik pribadi.
Kedua, rendah hati, yaitu bersedia mendengar kritik
dan tidak merasa paling benar. Ketiga, adil, yaitu memperlakukan seluruh rakyat
secara setara tanpa diskriminasi.
Keempat, empati, yaitu memahami penderitaan masyarakat
dan menjadikannya dasar dalam merumuskan kebijakan. Kelima, melayani, yaitu
menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai ukuran utama keberhasilan kepemimpinan.
Nilai-nilai tersebut bukan hanya sejalan dengan ajaran
Islam, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip good governance yang
menekankan akuntabilitas, transparansi, partisipasi, efektivitas, dan orientasi
pelayanan publik.
Kepemimpinan dalam Islam bukanlah jalan menuju
kemewahan, kesombongan, atau kekuasaan tanpa batas. Sebaliknya, kepemimpinan
adalah amanah yang menuntut kejujuran, keadilan, dan pengabdian kepada
masyarakat. Pemimpin yang baik adalah mereka yang hadir sebagai pelayan rakyat,
bukan sebagai penguasa yang meminta dilayani.
Kesombongan, kecongkakan, dan penyalahgunaan kekuasaan
merupakan penyakit yang dapat merusak kualitas kepemimpinan sekaligus menggerus
kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, setiap pemimpin perlu meneladani
Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin yang menjadikan pelayanan,
kesederhanaan, dan tanggung jawab sebagai inti dari kepemimpinan.
Pada akhirnya, kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur
dari banyaknya pengawal, megahnya kantor, atau lamanya menjabat. Kemuliaan
sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada rakyat serta
seberapa jujur ia mempertanggungjawabkan amanah tersebut di hadapan Allah SWT.
REFERENSI
Al-Qur'an al-Karim.
Organisation for Economic Co-operation and
Development. Principles of Good Public Governance.
Riyadhus Shalihin.
Robert K. Greenleaf. Servant Leadership.
Robert Klitgaard. Controlling Corruption.
Samuel P. Huntington. Political Order in Changing
Societies.
Shahih al-Bukhari.
Shahih Muslim.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1387/30/06/26 : 08.44
WIB)

